LOGINLima belas tahun kemudian...
Langkah gadis itu kian gesit, membelah lorong panjang yang gelap dan senyap. Lorong setapak itu merupakan akses utama warga desa, asri di siang hari namun berubah mencekam saat malam tiba karena minimnya pencahayaan. Rasa takut sering kali mendera, namun inilah rute yang harus Annora lalui setiap malam sepulang bekerja dari restoran di kota. Tak ada pilihan lain; ia harus pulang demi tanggung jawabnya di rumah.
Tiba-tiba, sebuah gerak membayang di belakangnya. Annora mematung sesaat. Ia menarik napas panjang, lalu menoleh cepat. Kosong. Tak ada siapapun di sana.
Ah, sial. Rasa parno ini memang sulit hilang, batinnya mencoba menenangkan diri.
Kring!
Suara kaleng terinjak memecah keheningan. Annora tersentak, kembali menoleh dengan pandangan menyisir tiap sudut gelap. Tetap nihil. Tak ada sosok yang menampakkan diri.
"Sial! Ada yang menguntitku," gumamnya cemas. Tanpa pikir panjang, ia berlari sekencang mungkin menuju rumah kontrakannya.
Setibanya di depan pintu, Annora mengatur napas yang memburu. Ia mengedarkan pandangan ke jalanan sepi, memastikan sosok misterius tadi tidak mengikutinya sampai ke sana. Saat hendak mengetuk, ia menyadari pintu rumahnya sudah sedikit terbuka, menampakkan celah gelap dari dalam.
"Ibu? Apa Ibu keluar?" gumamnya heran.
Annora bergegas masuk dan langsung menuju kamar ibunya. Kosong. Tempat tidur itu masih rapi, persis seperti saat ia tinggalkan tadi pagi.
"Ibu! Ibu di mana?" Annora mulai mengelilingi rumah. Dapur, halaman belakang, hingga kamarnya sendiri diperiksa, namun nihil. Ibunya benar-benar tidak ada. "Ibu!" kepanikan mulai menjalar di dadanya.
Ia berlari ke rumah tetangga terdekat dan mengetuk pintu berkali-kali dengan tidak sabar. Seorang wanita paruh baya muncul dengan wajah tertekuk, tampak terusik dari istirahatnya.
"Maaf, Bibi Ida. Apa Bibi melihat Ibu saya? Ibu tidak ada di rumah," tanya Annora terengah-engah.
"Lah, itu kan ibumu sendiri, mana saya tahu!" ketus Bu Ida.
"Mungkin Bibi melihatnya tadi siang atau sore hari?" Annora masih menggantungkan harapannya.
"Annora, ibumu itu gila! Bagaimana mungkin kami mau repot-repot memperhatikan gelagat orang tidak waras setiap hari?"
Annora mengepalkan kedua tangan. Dadanya sesak mendengar hinaan itu, apalagi keluar dari mulut wanita yang sebenarnya masih memiliki ikatan saudara dengannya.
"Jangan mengatai Ibu saya, Bi! Ibu hanya trauma, bukan gila!"
"Dih, ya sudah cari saja sendiri. Paling juga dia mengamuk di rumah makan lagi," cibir Bu Ida sebelum membanting pintu di depan wajah Annora.
Annora mengusap dada, mencoba menelan pahitnya cacian yang sudah menjadi makanan sehari-harinya. Sejak kecil, hidup telah memaksanya untuk berdiri di atas kaki sendiri. Ia kembali menyusuri lorong, keluar menuju pemukiman yang lebih padat. Di pos ronda, ia bertanya pada hansip yang berjaga, namun tak satu pun melihat ibunya. Setelah melaporkan kehilangan tersebut ke pihak berwajib dengan harapan tipis, ia memutuskan kembali ke desa.
Namun, pemandangan di depannya seketika meruntuhkan dunianya.
Bara api merah menyala sudah melalap rumahnya. Para tetangga berkerumun; sebagian hanya menonton, sebagian lagi sibuk menyiramkan air seadanya. Annora menjerit histeris.
"Rumah saya! Kenapa bisa kebakaran, Pak?!" teriaknya dengan suara bergetar hebat.
"Tidak tahu, Neng. Tiba-tiba api sudah besar. Mungkin arus pendek," sahut hansip yang tadi ia temui di pos ronda.
Annora nekat hendak menerobos masuk. "Mau ke mana, Neng?!" Dua warga menahan lengannya kuat-kuat dari belakang.
"Lepaskan! Ijazah dan barang-barang saya ada di dalam!" Annora meronta, namun tenaga warga lebih kuat.
"Jangan! Apinya sudah sampai atap, kau bisa mati konyol. Sudah, sabar saja!"
Tubuh Annora merosot ke tanah. Ia berjongkok, menangis meraung-raung menyaksikan satu-satunya tempat bernaung rata dengan tanah. Rumah peninggalan neneknya itu kini hanya menyisakan jelaga. Sejak ayahnya tewas dalam insiden tragis lima belas tahun lalu, hanya rumah ini dan ibunya yang ia punya.
"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi... Ibu juga hilang..." isaknya parau.
Hingga fajar menyingsing, warga mulai bubar satu per satu. Ucapan "sabar, ya" terdengar hambar di telinganya. Sanak saudara yang tinggal berdekatan pun enggan mengulurkan tangan, pemandangan yang tak asing bagi Annora yang selama ini dikucilkan.
"Annora!" Sebuah tangan menepuk pundaknya lembut.
Annora tersentak dan mendapati Andra sudah duduk di sampingnya. Andra adalah satu-satunya pria yang selalu berdiri di pihak Annora.
"Yang sabar, ya. Aku baru tahu kejadian ini dari Bapak," ucap Andra tulus.
Gadis itu hanya mengangguk lemah. Wajahnya pucat pasi. Semalaman ia tidak tidur, menangis hingga energinya habis, ditambah perut yang kosong dan pikiran yang terpecah memikirkan keberadaan ibunya.
"Annora, ayo ke rumahku dulu. Kamu butuh istirahat," ajak Andra khawatir.
"Tidak usah, Ndra. Aku tunggu Ibu di sini saja."
"Tapi kamu lemas sekali, aku takut kamu pingsan."
Pandangan Annora mulai buram. Telinganya berdengung hebat. Dalam sekejap, kesadarannya hilang. Ia ambruk ke pelukan Andra yang langsung panik memanggil warga.
"Ngapain sih, kamu bawa dia ke sini?" tanya Ibu Ria, ibu kandung Andra, dengan nada tidak suka.
"Annora butuh bantuan, Bu! Masa aku harus membiarkannya pingsan di atas puing rumahnya sendiri?" jawab Andra sambil menyiapkan air hangat untuk mengompres Annora di kamar tamu.
Ibu Ria bersungut-sungut. Kehadiran Annora di sana sebenarnya atas izin suaminya, Pak Deni, yang menaruh simpati. Namun, itu tidak mengurangi rasa benci di hati Ibu Ria. Ia menarik lengan baju putranya saat pria itu hendak kembali ke kamar tamu.
"Ingat, ya, begitu dia sadar, suruh dia pergi! Tetangga nanti gunjingan. Semua orang tahu kamu naksir anak orang gila itu!" bisik Ibu Ria dengan mata melotot tajam.
Andra bungkam, menepis tangan ibunya dengan sopan namun tegas. Ia tidak peduli pada desas-desus. Menolong Annora adalah caranya membuktikan perasaan yang telah ia pendam selama tiga tahun terakhir.
Di dalam kamar, Andra dengan telaten mengompres dahi Annora. "Ayo bangun, Annora... Aku akan bantu kamu," bisiknya.
Setelah beberapa saat, Annora mulai siuman. Matanya mengerjap, bibirnya bergumam lirih, "Ibu..."
"Annora, ini aku, Andra," ucapnya sembari memberanikan diri menggenggam tangan gadis itu.
Annora masih terlalu lemas untuk merespons sepenuhnya. Pandangannya masih berkunang-kunang.
"Kamu istirahat ya. Kamu aman di rumahku. Bapak juga yang menyuruhmu dibawa ke sini. Aku akan lanjut mencari ibumu, kamu tidur saja," ujar Andra lembut.
Setelah memastikan Annora kembali terlelap, Andra keluar dari kamar. Namun, Ibu Ria sudah menunggu di depan pintu dengan tangan bersedekap.
"Pokoknya kalau dia sudah bisa jalan, bawa dia pergi!" tegas Ibu Ria.
"Ibu, jangan jahat begitu. Kita wajib menolong sesama," balas Andra lelah.
"Halah! Menolong sesama atau karena cinta buta? Ibu tidak mau punya menantu anak orang gila!"
Andra enggan berdebat lebih jauh. Ia memilih keluar rumah untuk membeli makanan di warung, tahu betul ibunya tidak akan rela jika masakannya dimakan oleh Annora.
"Andra, kamu bawa Annora ke rumahmu?" tanya pemilik warung saat ia tiba di sana.
"Iya, Bi. Memang kenapa?"
"Ya... hati-hati saja. Ibumu kan sedang sibuk menyiapkan perjodohanmu dengan anak Pak Kades. Kabarnya sudah menyebar ke seluruh kampung."
Andra tertegun. Pantas saja ibunya begitu murka. Isu perjodohan itu ternyata sudah menyebar luas tanpa persetujuannya.
Ibu benar-benar keterlaluan! gerutunya dalam hati sambil mengepalkan tangan.
Malam kian larut ketika iring-iringan mobil mewah itu kembali memasuki gerbang besi raksasa kediaman keluarga Lee. Setelah menyelesaikan urusan bisnis di pulau, Mark Yong memilih kembali ke distrik pusat, sementara Mateo merayakan kesepakatan satu ton obat terlarang gratis itu dengan berpesta pora di salah satu klub elite paling eksklusif di kawasan Gangnam.Limosin kedua berhenti di depan lobi paviliun barat. Pintu mobil terbuka, menampilkan Mateo yang keluar dengan langkah sempoyongan akibat pengaruh alkohol yang pekat. Setelan jasnya sudah berantakan, dan lengannya merangkul mesra seorang wanita lokal berpakaian minim yang terus tertawa manja di ceruk lehernya."Tuan Mateo, Anda butuh bantuan?" tanya salah seorang pengawal yang berjaga di lobi."Tidak perlu," racik Mateo dengan suara serak, melambaikan tangannya dengan kasar sembari menuntun wanita itu masuk ke kamarnya. "Urus saja urusan kalian sendiri."Sementara itu, di lobi utama bangunan pusat, Lee Jae Won melangkah masuk
Transaksi di PulauPagi hari di paviliun timur kediaman keluarga Lee dimulai dengan sunyi yang mencekam. Annora duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela besar yang tertutup rapat. Dua orang pelayan paruh baya masuk tanpa suara, meletakkan nampan berisi sarapan hangat di atas meja nakas."Anda dilarang keluar dari kamar ini, Nona," ucap salah satu pelayan dengan nada datar, melipat kedua tangannya di depan tubuh. "Ini perintah langsung dari Tuan Muda Jae Won. Sarapan Anda akan selalu diantar ke sini."Annora hanya mengangguk pelan tanpa berniat menyentuh makanan tersebut. "Sampai kapan saya harus dikurung di sini?""Kami hanya menjalankan tugas. Silakan habiskan makanan Anda," sahut pelayan itu dingin sebelum melangkah keluar dan mengunci kembali pintu kayu tebal itu dari luar dengan bunyi klik yang solid. Annora mengembuskan napas berat, meremas tunik navy yang melekat di tubuhnya. Kamar mewah ini setidaknya jauh lebih aman daripada paviliun barat tempat Mateo berada,
Batas Sabar"Tangkap dia!" Teriakan Mateo kembali menggema, memecah ketegangan di koridor paviliun barat yang kini dipenuhi oleh derap langkah kaki para pengawal bersenjata.Annora yang masih meringkuk di lantai marmer yang dingin kian menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. Tangannya mencengkeram erat ujung handuk putih yang melilit tubuhnya, membiarkan rambut hitam panjangnya yang basah jatuh menjuntai menyentuh lantai. Tubuhnya bergetar hebat didera rasa takut dan dingin yang teramat sangat. Setiap derap sepatu bot para pengawal terasa seperti ketukan lonceng kematian di telinganya.Langkah kaki yang lambat namun memiliki ritme yang sangat berat tiba-tiba terdengar dari arah tangga penghubung lantai dua. Kehadiran sosok baru itu seketika membuat para pengawal yang semula bising langsung membungkam mulut mereka dan mundur teratur, memberikan jalan dengan kepala tertunduk hormat.Lee Jae Won melangkah maju, didampingi oleh Alex di sisinya. Pria Asia Timur itu menatap kekaca
Malam yang PecahSuara gemericik air di kamar mandi paviliun barat akhirnya mereda. Annora melangkah keluar dengan tubuh yang terasa sedikit lebih ringan setelah membersihkan diri, meski rasa lelah dan tekanan mental masih menggelayuti pundaknya. Rambut hitam panjangnya yang basah digelung asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa helai yang menempel di lehernya yang jenjang.Ia berjalan mendekati lemari pakaian besar di sudut kamar, hanya berbalut selembar handuk putih yang melilit tubuhnya dari dada hingga sebatas paha. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Annora membuka pintu lemari, bersiap mengambil pakaian tidur yang lebih layak.Klek.Bunyi slot kunci digital yang terbuka tiba-tiba memecah keheningan kamar. Annora tersentak hebat, langsung membalikkan badannya dengan wajah memucat. Sebelum ia sempat berteriak atau menyembunyikan diri, pintu kayu tebal itu sudah terbuka lebar.Mateo melangkah masuk dengan gaya flamboyan yang khas, namun kedua matanya langsung melebar sa
Ruang kerja utama di kediaman pusat keluarga Lee terletak di ujung lantai dua, terisolasi oleh pintu ganda berbahan kayu ek hitam yang tebal. Di dalam ruangan itu, aroma cerutu premium berbaur dengan wangi kopi arabika yang pekat. Pencahayaan sengaja dibuat temaram, hanya bertumpu pada sebuah lampu meja klasik berkaki kuningan yang menerangi permukaan meja kerja mahoni yang luas.Lee Jae Won duduk di kursi kulitnya yang tinggi, bersandar dengan santai namun tetap memancarkan ketegasan yang mutlak. Di seberang meja, Mateo duduk sembari menyilangkan kaki, memutar-mutar gelas berisi wiski dengan ekspresi yang jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih namun memiliki tatapan mata yang sama persis dengan Jae Won melangkah masuk. Aura kepemimpinan yang kejam dan dominan langsung memenuhi ruangan. Ayah Jae Won berjalan mendekati meja, mengabaikan formalitas bersalaman, dan langsung melemparka
Suasana di dalam mobil limosin hitam yang membawa mereka kembali menuju kediaman utama keluarga Lee terasa jauh lebih mencekam daripada perjalanan dari bandara kemarin. Mateo duduk di seberang Annora, melipat kedua tangannya di dada dengan rahang yang mengeras. Ketegangan yang tersisa dari insiden di G-Labyrinth masih membekas jelas di wajah flamboyannya yang kini tampak gusar.Di sudut kursi seberang, Annora duduk menyusut, merapatkan tubuhnya ke pintu mobil. Rambut hitam panjangnya yang sempat dirapikan seadanya dengan jemari masih terlihat sedikit acak-acakan. Ia menatap lurus ke arah lantai mobil, tidak berani mengangkat wajah, apalagi menatap Mateo. Cengkeraman tangannya pada clutch hitam di pangkuannya kian mengerat, seolah benda itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki di dunia yang asing ini."Kau benar-benar tidak bisa diberi kelonggaran sedikit pun, bukan?" Suara Mateo memecah keheningan, terdengar dingin dan tajam menembus kesunyian kabin mobil.Annora tersentak







