LOGINLangkah-langkah berat bersenjata yang semula dikira sebagai ancaman kudeta atau serangan mendadak, rupanya hanyalah bagian dari protokoler berlebihan yang melekat pada sosok Mateo. Pria itu melangkah masuk ke dalam kediaman megah Lee Jae Won dengan tawa renyah yang menggema di langit-langit koridor. Kedatangannya yang sengaja dibuat tanpa pemberitahuan itu sukses memicu kepanikan singkat di lantai bawah. Namun, bagi Mateo, kejutan kecil seperti ini adalah seni dalam menjaga dinamika persahabatan lama mereka sejak masa-masa liar di Amerika Serikat.
Mateo mengumbar senyuman ramah kepada setiap pelayan yang membungkuk hormat, walau kilat di sepasang matanya tetap menyimpan misteri yang tak mudah ditebak. Bagaimanapun, dia adalah serigala berbulu domba yang cerdas.
Tak lama berselang setelah Mateo dipersilakan duduk, pintu ganda ruang tamu eksekutif di lantai tiga terbuka. Lee Jae Won muncul dengan pembawaan yang tenang namun sarat akan wibawa yang menuntut kepatuhan. Jas biru mudanya tampak licin tanpa cela.
Mereka berdua akhirnya duduk berhadapan di sebuah ruangan tamu khusus yang tertutup bagi publik. Ruangan itu kedap suara, berlantai marmer hitam, dan hanya diterangi oleh lampu gantung kristal yang temaram.
Jae Won menuangkan cairan merah pekat dari botol wine berumur puluhan tahun ke dalam dua gelas kristal. Matanya menatap lurus pada sang tamu. "Kenapa kau memilih datang ke rumahku, Mateo? Bukankah Alex sudah menyiapkan hotel terbaik di pusat kota?"
Mateo menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, lalu tertawa lepas. "Karena hotel terlalu membosankan untuk didatangi, Jae Won. Kamar-kamar di luar sana terasa dingin dan seragam. Lagipula, harus kuakui, rumahmu di Indonesia ini jauh lebih mewah dan aman daripada hotel bintang lima mana pun di kota ini."
Jae Won hanya mendengus pelan, lalu menyodorkan salah satu gelas kristal ke hadapan sahabat lamanya. Mereka melakukan dentingan kecil—bersulang demi sebuah pertemuan yang jarang terjadi.
Mateo meletakkan gelasnya kembali ke meja kaca, lalu merogoh bagian dalam mantel tebalnya. Ia mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam formal. Di dalamnya, bersemayam beberapa lembar sertifikat tanah yang tampak asli dan sah secara hukum. Ia menggeser map itu ke hadapan Jae Won.
"Aku membawa apa yang sangat kau inginkan selama ini, Kawan," kata Mateo dengan nada berbisik yang konspiratif. "Kau bebas membuat pusat destinasi wisata, resort rahasia, atau apa pun di pulau kecil itu sekarang. Semuanya sudah bersih."
Melihat lembaran-lembaran kertas itu, seulas senyum miring terukir di sudut bibir Jae Won. Pulau kecil yang dimaksud Mateo adalah wilayah strategis yang sudah bertahun-tahun diincar oleh ayahnya. Bagi Jae Won, dokumen-dokumen di dalam map ini adalah hadiah yang paling tepat untuk diberikan kepada sang ayah. Mengingat selama ini, sang ayah terus-menerus menyebutkan pulau tersebut—sebuah wilayah yang sempat dikelola secara ilegal dan terisolasi dari radar pemerintah.
Jae Won menutup kembali map tersebut dengan ketukan jarinya yang ritmis. "Kerja bagus. Aku akan mengirimkan 'barang' yang kau minta sebagai gantinya malam ini juga ke dermaga. Kau pasti akan sangat menyukainya."
Mateo mengangkat alis sebelah, merasa puas. "Sempurna."
Pembicaraan mengenai transaksi pulau ini sebenarnya sudah bergulir sangat lama sejak mereka masih berada di luar negeri. Namun, titik temu baru fungsional hari ini karena Mateo baru saja berhasil merebut dan melegalkan sertifikat resmi tersebut. Dokumen berharga itu sempat hilang, atau lebih tepatnya, sengaja disembunyikan oleh pihak tepercaya yang dulunya diamanahkan untuk menjaga rahasia tersebut sebelum akhirnya "dilenyapkan" oleh jaringan Mateo.
Suasana bisnis yang kaku perlahan mencair. Kedua pria berkuasa itu mulai bernostalgia, melempar gurauan tentang masa-masa kuliah dan bisnis awal mereka di Amerika Serikat. Namun, atmosfer hangat itu mendadak menguap ketika Mateo menatap gelas wine-nya dan melontarkan pertanyaan yang salah.
"Omong-omong, bagaimana kabar Yumi?" tanya Mateo tanpa dosa. "Aku dengar dia menetap di New York sekarang. Kadang aku masih tidak percaya kalian berdua putus."
Gerakan tangan Jae Won yang hendak meraih gelasnya langsung terhenti di udara. Matanya menggelap. Nama Yumi adalah luka lama yang tabu untuk diperbincangkan. Wanita cantik itu terpaksa pergi dari hidup Jae Won karena tidak sanggup menerima kenyataan tentang pekerjaan ayah Jae Won, yang memimpin kartel obat-obatan terlarang terbesar di wilayah Asia-Pasifik.
Saat itu, Jae Won dihadapkan pada persimpangan paling kejam dalam hidupnya: memilih cinta sejatinya atau memilih kesetiaan pada sang ayah. Namun, Jae Won sangat menyayangi ayahnya. Pria paruh baya itu adalah satu-satunya keluarga kandung yang ia miliki di dunia ini setelah ibunya tiada. Demi melindungi sang ayah dan dinastinya, Jae Won memilih melepaskan Yumi begitu saja, mengubur perasaannya dalam-dalam meskipun hingga detik ini bayang-bayang wanita itu belum sepenuhnya sirna.
Mateo, yang langsung menangkap perubahan drastis pada gurat wajah Jae Won, segera berdehem canggung. Ia mengutuk kelancaran lidahnya sendiri karena telah merusak suasana hati sang Bos Besar.
"Ah, maafkan aku, Jae Won. Aku tidak bermaksud mengungkit masa lalu," kata Mateo cepat, berusaha mengalihkan pembicaraan agar suasana hati Jae Won tidak semakin memburuk. Ia mencondongkan badannya ke depan dengan binar mata yang kembali nakal. "Jadi... mana hadiah yang kau katakan tadi di telepon? Kau berjanji memberiku sesuatu yang segar di Indonesia."
Jae Won menarik sudut bibirnya, mengeluarkan senyum miring yang dingin seraya berdecih pelan. "Soal hadiah, kau selalu menagih dengan cepat seperti lintah darat."
Jae Won menegakkan tubuhnya, lalu menekan tombol interkom di bawah meja. "Alex, bawa masuk hadiahnya."
Di luar ruangan, tepatnya di depan koridor lift lantai tiga, Alex baru saja menutup sambungan teleponnya dengan Robert yang berada di lantai bawah.
Sebelumnya, di dalam lift, Robert terus-menerus memegangi bahu Annora dengan tangan yang berkeringat dingin. Pria Afrika itu tidak henti-hentinya mewanti-wanti Annora agar tidak membuat kekacauan di atas.
"Kau mendengar aku, kan, Annora?" bisik Robert dengan suara yang gemetar, seolah-olah seluruh sisa umurnya kini digantungkan pada helai rambut gadis itu. "Kau memberontak atau berteriak di dalam sana pun, kau tidak akan pernah bisa lolos. Ingat itu. Justru jika kau berulah, kita berdua akan mati bersama di tempat ini. Di lantai tiga itu, tidak ada yang namanya hati nurani yang bisa mengasihani nasib malang orang-orang seperti kita."
Annora hanya bisa mengangguk paham dengan bibir yang terkatung rapat. Rasa takutnya sudah sampai ke ubun-ubun, membekukan seluruh saraf suaranya.
Ketika pintu lift berdenting terbuka di lantai tiga, dua bodyguard berbadan tegap menuntun Annora keluar. Robert sendiri tidak diizinkan melangkah lebih jauh dari batas lift. Sebelum pintu lift tertutup kembali dan membawanya turun, Robert mengangkat wajahnya ke atas langit-langit lorong, menutup mata rapat-rapat seraya berkomat-kamit merapalkan doa demi keselamatan mereka, menyebut nama "Bapak" sesuai dengan keyakinan agamanya.
Alex sudah berdiri menyambut mereka di depan lift dengan raut wajah yang sedingin es. Tak ada senyuman, tak ada keramahan. Dengan lambaian tangan yang efisien, ia mengarahkan jalan bagi Annora yang mengekor kaku di belakangnya.
Mereka berdua berjalan menyusuri selasar panjang sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam ruang tamu eksekutif yang sangat mewah. Ruangan itu didominasi oleh desain interior bernuansa luxury, perpaduan kontras antara warna hitam legam dan sepuhan emas murni yang berkilau di bawah lampu temaram.
Annora masuk dengan kepala yang tertunduk sedalam-dalamnya. Ia sempat berusaha mengangkat wajahnya untuk melihat situasi, tetapi otot-otot di lehernya terasa begitu kaku dan berat akibat rasa paranoid yang mendera.
Alex melangkah maju dua baris, membungkuk sedikit ke arah sofa tempat Jae Won dan Mateo duduk. "Bos, hadiah Anda sudah tiba."
Follow akun IG baruku ya @alna.selviata_ atau akun tiktok ku ALNA HAPPY READING GUYS
Annora menarik napas panjang, meredam debar jantungnya yang sejak tadi berlalu-lalang tidak keruan. Meski kehadiran Mateo di ambang pintu sempat mendatangkan teror masa lalu, sorot mata pria itu kali ini sama sekali tidak menyiratkan ancaman. Tidak ada seringai dingin atau paksaan kasar. Yang ada hanyalah sebuah kelelahan batin yang terpancar jelas dari raut wajah Mateo.Dengan dada yang masih bergemuruh, Annora memilih membuka jalan. Ia mengangguk pelan, menampilkan kelapangan dada yang luar biasa untuk ukuran seorang wanita yang sedang hamil muda dan diliputi kecemasan."Silakan masuk, Mateo," ucap Annora dengan suara parau namun tegas.Mateo tertegun sejenak, menatap wanita di depannya dengan rasa kagum yang bercampur penyesalan. Ia mengangguk hormat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah minimalis yang hangat itu, menutup pintu perlahan di belakangnya.Begitu mereka duduk di sofa ruang tamu yang berhadapan langsung dengan perapian, Annora tidak langsung mencecarnya dengan perta
Perpisahan Paling SunyiKeesokan sorenya, cahaya matahari musim gugur memancarkan rona kemerahan yang redup di atas hamparan salju abadi Pegunungan Alpen. Udara terasa dingin, namun kehangatan palsu yang coba diciptakan di dalam rumah itu jauh lebih menyesakkan dada. Di ruang depan, Jae Won berdiri di samping kopernya dengan mantel tebal yang membalut tubuh tegapnya. Wajahnya pucat, menyisakan jejak kelam dari malam panjang yang dilewatinya tanpa tidur.Annora berdiri di hadapannya, mengenakan cardigan wol rajut berwarna krem. Ia berusaha keras menampilkan senyuman paling manis di bibirnya, menahan gelombang sesak dan air mata yang mendesak hendak tumpah. Annora tahu, jika ia menangis, Jae Won akan semakin berat melangkah."Kau benar-benar harus pergi sekarang, Jae Won?" tanya Annora pelan, suaranya bergetar halus meskipun ia mencoba membuatnya terdengar tegar.Jae Won mengangguk kaku. Ia melangkah mendekat, lalu merengkuh tubuh Annora ke dalam pelukannya. Hangat, erat, dan begit
Foto Usang dan Telepon MisteriusMateo masih ingin mencecarnya dengan rentetan pertanyaan lain. Ada begitu banyak celah kosong dalam teka-teki pembunuhan berantai lima belas tahun lalu yang belum terisi. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan berikutnya, Hyori mengangkat tangannya, memberi gestur menyuruh pemuda itu berhenti.Bukan karena wanita itu berniat menyembunyikan kebenaran demi melindungi para pelaku, melainkan gelombang ketakutan dan trauma masa lalu yang luar biasa besar telah melumpuhkannya. Hyori terdiam rapat, bibirnya terkatup kaku. Ada nyawa seseorang yang sangat ia kasihi—putri kandungnya sendiri—yang harus ia lindungi dari cengkeraman monster-monster berdasi jika rahasia ini bocor terlalu jauh kepada orang asing seperti Mateo.Melihat keputusasaan dan teror nyata yang tergambar jelas di mata wanita paruh baya itu, Mateo akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tahu, memaksa Hyori lebih jauh tidak akan menghasilkan apa-apa selain menghancurkan
Bayangan Masa Lalu dan Rahasia Putra Lee SomanNapas Hyori masih tersengal-sengal di atas lantai semen beton yang dingin. Air matanya terus meleleh, membasahi pipinya yang keriput. Mateo berdiri kaku di sampingnya, kepalanya berputar cepat mencerna setiap potongan informasi yang baru saja dilontarkan. Rasa penasaran yang membara mendesaknya untuk tidak membiarkan wanita itu terdiam terlalu lama."Tunggu dulu," potong Mateo dengan suara tegas namun tetap berhati-hati. "Jika keluarga Arif berada di Seoul saat itu, bagaimana bisa mereka tidak melakukan tindakan apa pun untuk menuntut keadilan? Kenapa keluarga mendiang suamimu seolah menerima takdir itu begitu saja?"Hyori perlahan mendongakkan kepalanya. Ia menyeka sisa air mata di wajahnya dengan punggung tangan yang bergetar hebat. Senyum getir terukir di bibirnya yang pucat, menampakkan kepedihan yang teramat dalam akibat masa lalu yang kelam."Kau pikir mereka tinggal diam, Nak?" suara Hyori terdengar parau. "Istri pertama Arif—R
Air Mata di Balik Nama ArifSuasana di dalam kabin mobil mendadak terasa begitu pengap. Hawa dingin dari pendingin ruangan berpadu dengan ketegangan yang kian mencengkeram. Wanita paruh baya itu menatap Mateo dengan sorot mata berkaca-kaca, namun dalam hitungan detik, ia kembali mengeraskan rahangnya, mencoba menegakkan kembali topeng pertahanan yang hampir runtuh."Jangan berasumsi sembarangan, anak muda," ucap wanita itu dengan suara parau yang berusaha dibuat setegas mungkin. "Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku. Hubunganku dengannya... itu bukan urusanmu. Dan berhenti mengikutiku!"Ia hendak mendorong pintu mobil untuk keluar, namun Mateo dengan sigap menahan pegangan pintu tersebut, mencegah wanita itu pergi sebelum mendapatkan jawaban yang ia pertaruhkan nyawa untuk mencarinya."Jangan berbohong lagi!" suara Mateo meninggi, penuh desakan emosi yang tak tertahankan. "Aku melihat caramu menatap mangkuk bubur itu setiap bulan. Aku melihat bagaimana pundakmu bergetar menahan
Topeng yang Retak di Depan Pintu PagarTanpa membuang waktu semenit pun, Mateo bangkit dari kursinya setelah berpamitan singkat kepada sang kakek tua pemilik kedai bubur. Langkahnya tergesa-gesa menerobos rintik hujan yang mulai mereda di luar. Begitu ia tiba di mobilnya, matanya langsung menangkap sedan mewah yang dikendarai oleh wanita paruh baya itu baru saja melaju meninggalkan area parkir."Jangan sampai lepas," geram Mateo pada dirinya sendiri.Ia segera menyalakan mesin dan mengikuti kendaraan itu dari jarak yang cukup aman. Perjalanan menuju distrik perumahan di pinggiran kota cukup panjang dan melelahkan. Mateo harus pintar menjaga jarak, membiarkan dua mobil lain menyelip di antara mereka agar kehadirannya tidak disadari oleh wanita yang sedang ia buru.Setelah hampir satu jam berkendara melewati jalanan yang semakin sepi, mobil wanita itu akhirnya berbelok memasuki halaman sebuah rumah bergaya klasik modern. Kendaraan tersebut berhenti sempurna di balik pagar besi yang
Jae Won menoleh sesaat, namun pandangannya sengaja dialihkan dari Annora. Ia hanya mengangkat alisnya ke arah Mateo, memberi kode bahwa subjek di depan mereka adalah barang yang dijanjikannya.Mateo seketika bersiul nyaring, matanya berbinar lapar saat menatap siluet tubuh Annora yang dibalut gaun
Pagi itu, Lee Jae Won telah rapi dengan kemeja biru muda yang melekat sempurna di tubuh kekarnya. Aroma parfum kayu cendana yang elegan menguar, memenuhi setiap sudut kamar yang luas dan minimalis. Alunan musik beat bertempo sedang mengiringi aktivitasnya, menandakan suasana hati pria itu sedang
Pagi masih buta ketika Robert melangkah masuk ke dalam kamar pengap tempat Annora disekap. Suasana di dalam ruangan itu kacau. Annora, dengan sisa tenaga yang ia miliki, terus memberontak. Teriakan minta tolongnya menggema, memantul di dinding-dinding marmer rumah mewah itu. Robert mendecit panik;
Keesokan harinya, kondisi fisik Annora berangsur pulih. Namun, sejak ia siuman, atmosfer di rumah itu terasa mencekik. Ibu Ria terus-menerus melontarkan kata-kata ketus yang menyakitkan hati. Dari dalam kamar tamu, Annora bisa mendengar dengan jelas perdebatan sengit antara Andra dan ibunya."And







