Beranda / Romansa / Annora with Mr.Lee / Bab 5 Sang Penguasa dan Bidak Almond

Share

Bab 5 Sang Penguasa dan Bidak Almond

Penulis: Alna Selviata
last update Tanggal publikasi: 2025-08-10 14:57:22

​

​Pagi itu, Lee Jae Won telah rapi dengan kemeja biru muda yang melekat sempurna di tubuh kekarnya. Aroma parfum kayu cendana yang elegan menguar, memenuhi setiap sudut kamar yang luas dan minimalis. Alunan musik beat bertempo sedang mengiringi aktivitasnya, menandakan suasana hati pria itu sedang cukup baik.

​Lee Jae Won adalah definisi kesempurnaan fisik. Wajah khas Asia Timur dengan kulit putih bersih, hidung lancip yang tegas, serta mata yang meski tidak terlalu sipit, memiliki tatapan yang mampu mengintimidasi siapa pun. Tuhan seolah mengukir setiap inci wajahnya dengan ketelitian luar biasa.

​Saat Jae Won melangkah keluar sembari menyampirkan jas di lengannya, Alex sudah berdiri tegap menunggu. Sebagai asisten pribadi sekaligus tangan kanan, pria berdarah Korea-Filipina itu memastikan setiap jengkal pergerakan Jae Won aman terkendali.

​"Bos, Robert menunggu di bawah," lapor Alex singkat.

​Jae Won menghentikan langkah. Ia melirik Alex dari sudut mata. Sebenarnya, ia sedang malas berurusan dengan "komoditas" baru, namun malam nanti ia punya agenda besar. Mateo, rekan bisnisnya dari Amerika, akan datang. Jae Won butuh "hadiah" yang cukup mengesankan untuk melicinkan kesepakatan mereka.

​"Baiklah. Sisanya, kau yang urus," ujar Jae Won dingin.

​Keduanya menuruni tangga menuju lantai dua. Di sana, Robert sudah berdiri dengan cengkeraman tangan yang kuat pada bahu seorang gadis bergaun hitam—Annora. Dari kejauhan, Jae Won belum bisa menangkap jelas wajah gadis itu karena tertutup gerai rambut panjangnya.

​"Hei, Bos. Selamat pagi," sapa Robert dengan senyum lebar yang dipaksakan.

​Jae Won tidak membalas. Ia berdiri tegak, memancarkan aura otoritas yang membuat ruangan terasa menyempit.

​"Sesuai janji saya, Bos. Ini dia hadiahnya," ucap Robert sembari menarik Annora maju.

​Robert menunggu Annora memperkenalkan diri atau setidaknya memberikan senyum menggoda sesuai instruksi. Namun, Annora hanya mematung. Gadis desa itu gemetar hebat, pikirannya buntu menghadapi situasi yang jauh dari nalar sederhananya.

​"Hei, girl..." bisik Robert tajam di telinga Annora. Suaranya penuh peringatan.

​Annora tetap menunduk. Tangannya yang dingin saling meremas di balik gaun. Robert mulai berkeringat dingin; ia tahu Jae Won benci membuang waktu.

​"Ayolah, jangan membuatku mati hari ini. Kita sudah sepakat, kan?" desis Robert lagi, kali ini terdengar seperti permohonan yang dibalut ancaman.

​Perlahan, Annora mengangkat wajahnya. Saat itulah mata almond miliknya bertemu langsung dengan tatapan es milik Jae Won. Pria itu diam, mempelajari setiap lekuk wajah Annora dengan ekspresi datar yang mustahil dibaca.

​"Bos, maaf. Dia sedikit kaku. Maklum, dia... polos dan naif," Robert mencoba mencairkan suasana yang kian membeku.

​Annora segera membuang muka. Ia tak sanggup menatap Jae Won lebih lama. Suara bariton Jae Won akhirnya memecah keheningan. "Kau berada di sini karena ingin bekerja denganku?"

​Annora tercekat. Ia melirik Robert yang menatapnya penuh harap sekaligus ancaman. Jae Won menyadari bahasa tubuh itu. Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana, melangkah satu tapak lebih dekat.

​"Atau kau terpaksa?" tanya Jae Won, nadanya rendah namun menuntut jawaban jujur.

​Robert kelimpungan. Ia melirik Alex, meminta bantuan lewat mata, namun Alex memilih menatap lurus ke depan—mencari aman.

​"Apa yang membuatmu merasa terpaksa memilih tempat ini?" tanya Jae Won lagi.

​Merasa ini adalah celah untuk selamat, keberanian nekat muncul dalam diri Annora. "A-aku dipaksa pria ini, Tuan! Aku hanya ingin mencari Ibuku yang hilang, tapi—"

​Sret! Robert langsung membekap mulut Annora dengan telapak tangannya yang besar dan kasar. Robert tertawa hambar ke arah Jae Won. "Maaf, Bos! Dia meracau, efek stres sepertinya."

​Jae Won hanya menatap datar adegan itu. Ia tahu Robert pasti berulah, tapi ia tidak peduli pada prosesnya. Baginya, Annora cukup menawan untuk dijadikan pancingan bisnis.

​"Robert, urus dia dalam satu jam. Aku tidak suka tingkah membosankan dan keluhan yang tidak berguna. Aku akan kembali setelah bertemu Mateo," titah Jae Won mutlak.

​"Siap, Bos!"

​Jae Won menatap Annora sekali lagi—sebuah tatapan penuh peringatan—sebelum ia dan Alex beranjak pergi. Begitu pintu depan tertutup, Robert melepaskan bekapannya dan meledak.

​"Kau gila?! Kau nyaris membuat kita semua meledak tadi!" bentak Robert.

​Annora terengah, air mata mulai menggenang lagi. "Kalian bilang ini pekerjaan, tapi kenapa rasanya seperti penjara?"

​Robert mengusap wajah kasar. "Dengar, girl. Anggap saja kita ini rekan kerja sekarang. Kau lakukan perintah Bos, dan kau akan dapat uang. Uang itu yang akan membawamu pada ibumu. Paham?"

​Annora terdiam. Ia sadar ia tak punya daya untuk lari. "Berapa lama aku harus di sini?"

​Robert tersenyum miring melihat Annora mulai melunak. "Ikuti saja arusnya. Ini, ambil sepuluh juta dulu sebagai uang muka. Jangan buat Bos marah saat dia kembali dari Seoul nanti. Jika dia senang, hidupmu akan jauh lebih mudah."

​Annora menerima segepok uang itu, memasukkannya ke dalam clutch dengan tangan gemetar. Ia memutuskan untuk patuh demi sebuah tujuan, meski ia tak tahu lubang hitam apa yang menantinya di lantai atas.

​Di lantai bawah, Irene duduk menyandarkan punggungnya di sofa mewah. Kepulan asap rokok menyembur dari bibirnya yang dipulas merah menyala. Rambut pirangnya tergerai seksi, membingkai wajah blasteran Indonesia-Jepang yang dingin.

​"Miss Irene, apa kau yakin gadis desa itu bisa menjadi bagian dari tim kita?" tanya Sarah dengan nada dengki yang kentara.

​Irene menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu membiarkan asapnya menari di udara. "Dia lugu, Sarah. Dan orang lugu di tempat seperti ini biasanya membahayakan semua orang. Jangan beri dia hati."

​Lili, yang duduk tak jauh dari mereka, tetap bungkam sambil menggulir layar ponselnya. Ia merasa Irene dan Sarah terlalu berlebihan.

​"Lili! Kau dengar tidak? Jangan terlalu baik padanya!" bentak Sarah.

​Lili hanya mengangkat bahu, mengabaikan kebencian rekan-rekannya.

​"Apa dia akan tinggal di sini atau dipindahkan ke tempat lain, Miss?" tanya Sarah lagi pada Irene.

​Irene mematikan puntung rokoknya di asbak kristal. Matanya menatap tajam ke arah tangga. "Bos Besar tidak akan tertarik pada gadis semacam itu untuk jangka panjang. Paling-paling dia hanya jadi 'umpan' sementara."

​Namun, di balik kata-katanya, ada kegelisahan yang Irene sembunyikan. Ia tahu tatapan Jae Won pada Annora tadi sedikit berbeda dari biasanya.

​"Tapi Sarah..." Irene menjeda kalimatnya, membuat suasana mendadak mencekam. "Jika malam ini dia berhasil memikat Mateo, atau justru membuat Jae Won kehilangan kendali... kita semua yang akan menanggung akibatnya."

​Tiba-tiba, suara deru mobil Jae Won terdengar kembali di halaman. Bukan satu mobil, tapi tiga mobil hitam legam. Robert berlari turun dengan wajah pucat pasi.

​"Irene! Sembunyikan Annora! Mateo datang lebih cepat dari jadwal, dan dia membawa orang-orang bersenjata!"

​Irene berdiri tegak, wajahnya mengeras. "Apa katamu? Bukankah seharusnya mereka bertemu di restoran?"

​"Rencana berubah! Mateo ingin melihat 'hadiahnya' sekarang juga!"

​Sarah dan Lili saling berpandangan dengan wajah penuh ketakutan. Suara pintu depan yang didobrak paksa mengejutkan seisi rumah. Malam yang seharusnya menjadi transaksi bisnis biasa, mendadak berubah menjadi situasi hidup dan mati yang tidak diprediksi siapa pun.

​Di lantai atas, Annora yang masih memegang uang sepuluh juta itu membeku di depan cermin, saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka kasar oleh seorang pria asing dengan senapan di tangan.

​

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Annora with Mr.Lee   Bab 58 Pelarian Menembus Batas dan Tempat Persembunyian Baru

    Pelarian Menembus Batas dan Tempat Persembunyian Baru​Udara dingin malam di Swiss menusuk hingga ke tulang, namun angin malam yang membekukan itu tidak sedikit pun menyurutkan langkah Mateo dan Annora. Setelah menyelesaikan seluruh persiapan kepindahan dalam waktu yang sangat singkat, keduanya keluar dari rumah sewaan yang selama ini menjadi saksi bisu kebahagiaan singkat Annora bersama Jae Won.​Di halaman depan, sebuah mobil hitam berbadan besar dengan pelat nomor diplomatik sudah menunggu dengan mesin yang menyala pelan. Mateo membuka pintu belakang dengan hati-hati, mempersilakan Annora masuk terlebih dahulu. Wanita itu melangkah gontai, mengenakan mantel wol tebal yang menutup tubuhnya yang kini tengah berbadan dua. Sebelum masuk, Annora sempat menoleh sekilas ke arah jendela kamar di lantai dua—tempat di mana ia dan Jae Won sering menghabiskan waktu bersama di depan perapian. Tenggorokannya kembali tercekat, dan air matanya hampir menetes, namun ia segera menepisnya, sadar bahw

  • Annora with Mr.Lee   Bab 57 Bayangan Singa Tua dan Pelarian Baru

    Bayangan Singa Tua dan Pelarian Baru​Roda-roda jet pribadi berdecit keras saat menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Incheon. Udara malam Seoul menyambut kedatangan Jae Won dengan embusan angin dingin yang menusuk tulang. Namun, dinginnya cuaca malam itu sama sekali tidak sebanding dengan bara api yang bergolak di dalam dada pria tersebut.​Begitu mobil jemputan resmi keluarga Young memasuki pekarangan rumah utama—sebuah mansion megah berarsitektur klasik Eropa yang berdiri di atas tanah seluas hektare—Jae Won langsung melangkah turun. Langkah kakinya lebar, tegas, dan menyiratkan aura kemarahan yang tertahan rapat di balik rahangnya yang mengeras.​Di ruang depan utama, ibu tirinya berdiri menyambut dengan gestur tenang namun waspada. Wanita paruh baya itu sangat paham betul tabiat Jae Won. Ia tahu anak tiri kesayangan suaminya itu bisa meledak kapan saja jika ada yang mencoba memancing emosinya atau memberondongnya dengan pertanyaan basa-basi.​"Selamat datang kembali, Jae

  • Annora with Mr.Lee   Bab 56 Keputusan Pahit di Balik Langit Malam

    ​Annora menarik napas panjang, meredam debar jantungnya yang sejak tadi berlalu-lalang tidak keruan. Meski kehadiran Mateo di ambang pintu sempat mendatangkan teror masa lalu, sorot mata pria itu kali ini sama sekali tidak menyiratkan ancaman. Tidak ada seringai dingin atau paksaan kasar. Yang ada hanyalah sebuah kelelahan batin yang terpancar jelas dari raut wajah Mateo.​Dengan dada yang masih bergemuruh, Annora memilih membuka jalan. Ia mengangguk pelan, menampilkan kelapangan dada yang luar biasa untuk ukuran seorang wanita yang sedang hamil muda dan diliputi kecemasan.​"Silakan masuk, Mateo," ucap Annora dengan suara parau namun tegas.​Mateo tertegun sejenak, menatap wanita di depannya dengan rasa kagum yang bercampur penyesalan. Ia mengangguk hormat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah minimalis yang hangat itu, menutup pintu perlahan di belakangnya.​Begitu mereka duduk di sofa ruang tamu yang berhadapan langsung dengan perapian, Annora tidak langsung mencecarnya dengan perta

  • Annora with Mr.Lee   Bab 55 Perpisahan Paling Sunyi

    Perpisahan Paling Sunyi​Keesokan sorenya, cahaya matahari musim gugur memancarkan rona kemerahan yang redup di atas hamparan salju abadi Pegunungan Alpen. Udara terasa dingin, namun kehangatan palsu yang coba diciptakan di dalam rumah itu jauh lebih menyesakkan dada. Di ruang depan, Jae Won berdiri di samping kopernya dengan mantel tebal yang membalut tubuh tegapnya. Wajahnya pucat, menyisakan jejak kelam dari malam panjang yang dilewatinya tanpa tidur.​Annora berdiri di hadapannya, mengenakan cardigan wol rajut berwarna krem. Ia berusaha keras menampilkan senyuman paling manis di bibirnya, menahan gelombang sesak dan air mata yang mendesak hendak tumpah. Annora tahu, jika ia menangis, Jae Won akan semakin berat melangkah.​"Kau benar-benar harus pergi sekarang, Jae Won?" tanya Annora pelan, suaranya bergetar halus meskipun ia mencoba membuatnya terdengar tegar.​Jae Won mengangguk kaku. Ia melangkah mendekat, lalu merengkuh tubuh Annora ke dalam pelukannya. Hangat, erat, dan begit

  • Annora with Mr.Lee   Bab 54 Foto Usang dan Telepon Misteriuss

    Foto Usang dan Telepon Misterius​Mateo masih ingin mencecarnya dengan rentetan pertanyaan lain. Ada begitu banyak celah kosong dalam teka-teki pembunuhan berantai lima belas tahun lalu yang belum terisi. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan berikutnya, Hyori mengangkat tangannya, memberi gestur menyuruh pemuda itu berhenti.​Bukan karena wanita itu berniat menyembunyikan kebenaran demi melindungi para pelaku, melainkan gelombang ketakutan dan trauma masa lalu yang luar biasa besar telah melumpuhkannya. Hyori terdiam rapat, bibirnya terkatup kaku. Ada nyawa seseorang yang sangat ia kasihi—putri kandungnya sendiri—yang harus ia lindungi dari cengkeraman monster-monster berdasi jika rahasia ini bocor terlalu jauh kepada orang asing seperti Mateo.​Melihat keputusasaan dan teror nyata yang tergambar jelas di mata wanita paruh baya itu, Mateo akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tahu, memaksa Hyori lebih jauh tidak akan menghasilkan apa-apa selain menghancurkan

  • Annora with Mr.Lee   Bab 53 Bayangan Masa Lalu dan Rahasia Putra Lee Soman

    Bayangan Masa Lalu dan Rahasia Putra Lee Soman​Napas Hyori masih tersengal-sengal di atas lantai semen beton yang dingin. Air matanya terus meleleh, membasahi pipinya yang keriput. Mateo berdiri kaku di sampingnya, kepalanya berputar cepat mencerna setiap potongan informasi yang baru saja dilontarkan. Rasa penasaran yang membara mendesaknya untuk tidak membiarkan wanita itu terdiam terlalu lama.​"Tunggu dulu," potong Mateo dengan suara tegas namun tetap berhati-hati. "Jika keluarga Arif berada di Seoul saat itu, bagaimana bisa mereka tidak melakukan tindakan apa pun untuk menuntut keadilan? Kenapa keluarga mendiang suamimu seolah menerima takdir itu begitu saja?"​Hyori perlahan mendongakkan kepalanya. Ia menyeka sisa air mata di wajahnya dengan punggung tangan yang bergetar hebat. Senyum getir terukir di bibirnya yang pucat, menampakkan kepedihan yang teramat dalam akibat masa lalu yang kelam.​"Kau pikir mereka tinggal diam, Nak?" suara Hyori terdengar parau. "Istri pertama Arif—R

  • Annora with Mr.Lee   Bab 7 Dua Pria Aneh

    Jae Won menoleh sesaat, namun pandangannya sengaja dialihkan dari Annora. Ia hanya mengangkat alisnya ke arah Mateo, memberi kode bahwa subjek di depan mereka adalah barang yang dijanjikannya.​Mateo seketika bersiul nyaring, matanya berbinar lapar saat menatap siluet tubuh Annora yang dibalut gaun

  • Annora with Mr.Lee   Bab 6 Secangkir Wine

    ​Langkah-langkah berat bersenjata yang semula dikira sebagai ancaman kudeta atau serangan mendadak, rupanya hanyalah bagian dari protokoler berlebihan yang melekat pada sosok Mateo. Pria itu melangkah masuk ke dalam kediaman megah Lee Jae Won dengan tawa renyah yang menggema di langit-langit koridor

  • Annora with Mr.Lee   Bab 4 Komoditas dalam Sangkar Emas

    ​Pagi masih buta ketika Robert melangkah masuk ke dalam kamar pengap tempat Annora disekap. Suasana di dalam ruangan itu kacau. Annora, dengan sisa tenaga yang ia miliki, terus memberontak. Teriakan minta tolongnya menggema, memantul di dinding-dinding marmer rumah mewah itu. Robert mendecit panik;

  • Annora with Mr.Lee   Bab 3 Jebakan di Balik Pagar Mewah

    ​Keesokan harinya, kondisi fisik Annora berangsur pulih. Namun, sejak ia siuman, atmosfer di rumah itu terasa mencekik. Ibu Ria terus-menerus melontarkan kata-kata ketus yang menyakitkan hati. Dari dalam kamar tamu, Annora bisa mendengar dengan jelas perdebatan sengit antara Andra dan ibunya.​"And

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status