Home / Romansa / Annora with Mr.Lee / Bab 7 Dua Pria Aneh

Share

Bab 7 Dua Pria Aneh

Author: Alna Selviata
last update publish date: 2026-05-20 20:53:48

Jae Won menoleh sesaat, namun pandangannya sengaja dialihkan dari Annora. Ia hanya mengangkat alisnya ke arah Mateo, memberi kode bahwa subjek di depan mereka adalah barang yang dijanjikannya.

​Mateo seketika bersiul nyaring, matanya berbinar lapar saat menatap siluet tubuh Annora yang dibalut gaun halter hitam. Sementara itu, Annora terus menunduk ketakutan. Sepuluh jarinya saling meremas dengan gelisah di depan perut—sebuah gestur kecemasan yang amat kentara, yang langsung terbaca oleh mata jeli Mateo.

​"Kemari, gadis manis," panggil Mateo, menepuk sisi sofa yang kosong.

Alex menoleh pada Annora, memberikan isyarat dengan matanya agar gadis itu melangkah maju menyapa Mateo. Annora menelan ludah, tenggorokannya terasa sekering gurun. Ia mulai melangkah dengan sangat gugup. Sepasang heels tinggi yang baru pertama kali dipakainya hari ini terasa asing, membuatnya harus berjuang keras menjaga keseimbangan tubuh agar tidak limbung di atas lantai marmer yang licin.

​Sampai akhirnya, langkah kaku Annora berhenti tepat di hadapan Mateo, berdiri beberapa jengkal di samping posisi duduk Lee Jae Won.

​Mateo menopang dagunya dengan tangan, menunggu sapaan ramah dari Annora. Atau setidaknya, berharap gadis itu bersedia mengangkat kepalanya agar wajah cantiknya bisa dinikmati di bawah cahaya lampu. Namun, Annora tetap bergeming, menyembunyikan wajahnya.

​Dari lirikan di ujung matanya yang tajam, Jae Won bisa merasakan dengan jelas jika gadis yang dibawa oleh Robert ini masih memiliki jiwa liar yang sulit dijinakkan. Ketakutan dan penolakan yang terpancar dari tubuh Annora justru merusak estetika dari sebuah "hadiah" yang seharusnya menyenangkan.

​"Hei, Gadis," ucap Mateo dengan suara yang sengaja diperberat, terdengar menuntut. "Angkat wajahmu. Aku ingin melihat apa yang disembunyikan oleh kain hitam Robert."

Annora menuruti perintah itu dengan sangat perlahan. Ia mengangkat wajahnya yang pucat. Namun, paras cantiknya belum sepenuhnya terlihat benderang karena gerai rambut hitam panjangnya sengaja dibiarkan jatuh menjuntai, menutupi sebagian besar pipi dan tulang rahangnya yang tegas. Mata almond-nya yang indah tampak berkaca-kaca, memancarkan kepasrahan yang muram.

​Jae Won, yang memperhatikan setiap detail dari posisi samping, tidak bisa lagi menyembunyikan ketidaknyamanannya atas sikap tidak profesional yang ditunjukkan oleh Annora. Baginya, hadiah yang cacat dalam penyajian hanya akan menurunkan reputasinya di hadapan Mateo.

​Jae Won meletakkan gelas wine-nya ke meja dengan ketukan yang cukup keras hingga menimbulkan bunyi ting yang menegangkan seisi ruangan. Pria itu menoleh pada Mateo dengan ekspresi bosan yang dibuat-buat.

​"Sepertinya kau akan cepat bosan dengan hadiah ini, Mateo," ucap Jae Won dengan nada meremehkan yang sengaja ditujukan untuk menyindir Annora. "Dia terlalu kaku seperti mayat. Jika kau sama sekali tidak tertarik pada barang amatir seperti ini, katakan saja. Aku bisa menyuruh Alex untuk menggantinya dengan yang jauh lebih berpengalaman sekarang juga."

​Mendengar kata "diganti", jantung Annora mencelos. Di dalam kepalanya, kata diganti berarti sebuah konsekuensi mengerikan yang sempat diucapkan Robert bawah mereka akan dilenyapkan karena tidak berguna. Mata almond gadis itu seketika melebar, menatap Jae Won dengan kepanikan yang luar biasa, sementara Mateo justru tersenyum miring, melihat sebuah drama baru yang jauh lebih menarik untuk dimainkan.

Mateo tidak langsung menjawab. Ia justru menegakkan posisi duduknya, menumpukan kedua siku di atas lutut sembari menatap Annora dengan binar mata yang kian penasaran. Seringai tipis terukir di wajahnya yang flamboyan.

​"Menggantinya?" Mateo terkekeh pelan, matanya tidak lepas dari sosok Annora yang masih berdiri gemetar. "Tidak, tidak, Jae Won. Justru yang seperti ini yang sudah lama tidak kulihat. Gadis-gadis yang kau sebut profesional itu membosankan. Mereka bergerak seperti mesin yang sudah diatur. Tapi yang satu ini... dia punya nyawa. Ada api yang bersembunyi di balik ketakutannya."

​Jae Won mendecih pelan, ia meraih gelas kristalnya lalu menyesap wine merah itu perlahan. Tatapannya beralih pada Alex yang berdiri kokoh di dekat pintu.

​"Kau mendengarnya sendiri, Alex. Tamu kita menyukai barang mentah," ujar Jae Won dingin. Kalimatnya terdengar santai, namun bagi Annora, kata 'barang mentah' itu terasa seperti belati yang mengiris harga dirinya.

​"Hei, Gadis," panggil Mateo lagi, suaranya melembut namun tetap menuntut. "Kemari. Duduk di sebelahku."

​Annora membeku. Kakinya seolah terpaku pada lantai marmer yang dingin. Di dalam benaknya, wajah ibunya yang malang kembali terbayang, disusul kepulan asap dari rumahnya yang hangus terbakar. Ia tahu ia butuh uang sepuluh juta di dalam tasnya, ia tahu ia harus bertahan hidup, tetapi menyerahkan dirinya pada pria asing ini terasa begitu menjijikkan.

​Melihat Annora yang mengabaikan perintah Mateo, suasana di ruangan itu kembali menegang. Alex bahkan sudah mengambil satu langkah maju, bersiap untuk bertindak tegas jika gadis itu berulah lagi.

​"Annora," suara bariton Jae Won mengintervensi. Tidak keras, namun getaran dingin dari suaranya sanggup membuat bulu kuduk Annora berdiri. "Aku tidak suka mengulang perintah di rumahku sendiri. Duduk."

​Annora menelan ludah yang terasa segetir empedu. Dengan langkah yang terhuyung akibat sepatu heels yang terlalu tinggi, ia melangkah mendekati sofa tempat Mateo duduk. Ia memilih duduk di ujung sofa, memberikan jarak sejauh mungkin dari pria Amerika itu.

​Mateo tertawa melihat tingkah defensif Annora. "Hahaha! Lihat dia, Jae Won. Dia memperlakukanku seolah aku ini monster yang akan memakannya hidup-hidup." Mateo kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Annora, aroma parfumnya yang kuat langsung menyengat indra penciuman gadis itu. "Siapa namamu tadi? Annora? Nama yang indah untuk gadis yang memikat."

​"Terima kasih, Tuan," jawab Annora nyaris berbisik. Matanya menatap lurus ke lantai, enggan menatap wajah Mateo.

​"Kau tahu siapa aku?" tanya Mateo lagi, mencoba memancing percakapan.

​"Tidak, Tuan."

​"Aku Mateo. Sahabat pria dingin di sebelahmu ini," kata Mateo sambil menunjuk Jae Won dengan dagunya. "Dan mulai malam ini, kau adalah milikku. Kau akan ikut denganku ke Seoul, atau mungkin kembali ke Amerika. Bagaimana? Kau suka bepergian?"

​Mendengar kata 'milikku' dan 'Seoul', dada Annora bergemuruh hebat. Kepanikan yang sempat ia tekan kini mendesak keluar. Ia langsung menoleh ke arah Jae Won, menatap pria Asia Timur itu dengan sorot mata memohon yang amat sangat.

​"Tuan Lee... tolong," ucap Annora terbata-bata, mengabaikan Mateo. "Anda bilang... Anda tahu aku dipaksa. Aku hanya ingin mencari ibuku. Tolong jangan biarkan aku dibawa pergi dari negara ini."

​Mateo mengernyitkan alis, ia melirik Jae Won dengan tatapan bingung sekaligus tertarik. "Dipaksa? Apa maksudnya ini, Jae Won? Kau menculiknya?"

​Jae Won meletakkan gelas wine-nya ke atas meja dengan ketukan yang cukup keras, menciptakan bunyi klang yang membuat Annora tersentak. Ia menatap Annora dengan pandangan yang begitu menusuk, seolah sedang menatap seekor serangga yang mengganggu ketenangannya.

​"Robert selalu menggunakan cara-cara kelas dua untuk mendapatkan apa yang kuinginkan," jawab Jae Won tenang kepada Mateo, mengabaikan sepenuhnya permohonan Annora. Kemudian, pandangannya beralih sepenuhnya pada Annora. "Dan kaau sudah menerima uang dari Robert, bukan?"

​Annora tercekat. Jemarinya meremas clutch hitam di pangkuannya, tempat uang sepuluh juta itu disimpan. "I-iya, tapi—"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Annora with Mr.Lee   Bab 58 Pelarian Menembus Batas dan Tempat Persembunyian Baru

    Pelarian Menembus Batas dan Tempat Persembunyian Baru​Udara dingin malam di Swiss menusuk hingga ke tulang, namun angin malam yang membekukan itu tidak sedikit pun menyurutkan langkah Mateo dan Annora. Setelah menyelesaikan seluruh persiapan kepindahan dalam waktu yang sangat singkat, keduanya keluar dari rumah sewaan yang selama ini menjadi saksi bisu kebahagiaan singkat Annora bersama Jae Won.​Di halaman depan, sebuah mobil hitam berbadan besar dengan pelat nomor diplomatik sudah menunggu dengan mesin yang menyala pelan. Mateo membuka pintu belakang dengan hati-hati, mempersilakan Annora masuk terlebih dahulu. Wanita itu melangkah gontai, mengenakan mantel wol tebal yang menutup tubuhnya yang kini tengah berbadan dua. Sebelum masuk, Annora sempat menoleh sekilas ke arah jendela kamar di lantai dua—tempat di mana ia dan Jae Won sering menghabiskan waktu bersama di depan perapian. Tenggorokannya kembali tercekat, dan air matanya hampir menetes, namun ia segera menepisnya, sadar bahw

  • Annora with Mr.Lee   Bab 57 Bayangan Singa Tua dan Pelarian Baru

    Bayangan Singa Tua dan Pelarian Baru​Roda-roda jet pribadi berdecit keras saat menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Incheon. Udara malam Seoul menyambut kedatangan Jae Won dengan embusan angin dingin yang menusuk tulang. Namun, dinginnya cuaca malam itu sama sekali tidak sebanding dengan bara api yang bergolak di dalam dada pria tersebut.​Begitu mobil jemputan resmi keluarga Young memasuki pekarangan rumah utama—sebuah mansion megah berarsitektur klasik Eropa yang berdiri di atas tanah seluas hektare—Jae Won langsung melangkah turun. Langkah kakinya lebar, tegas, dan menyiratkan aura kemarahan yang tertahan rapat di balik rahangnya yang mengeras.​Di ruang depan utama, ibu tirinya berdiri menyambut dengan gestur tenang namun waspada. Wanita paruh baya itu sangat paham betul tabiat Jae Won. Ia tahu anak tiri kesayangan suaminya itu bisa meledak kapan saja jika ada yang mencoba memancing emosinya atau memberondongnya dengan pertanyaan basa-basi.​"Selamat datang kembali, Jae

  • Annora with Mr.Lee   Bab 56 Keputusan Pahit di Balik Langit Malam

    ​Annora menarik napas panjang, meredam debar jantungnya yang sejak tadi berlalu-lalang tidak keruan. Meski kehadiran Mateo di ambang pintu sempat mendatangkan teror masa lalu, sorot mata pria itu kali ini sama sekali tidak menyiratkan ancaman. Tidak ada seringai dingin atau paksaan kasar. Yang ada hanyalah sebuah kelelahan batin yang terpancar jelas dari raut wajah Mateo.​Dengan dada yang masih bergemuruh, Annora memilih membuka jalan. Ia mengangguk pelan, menampilkan kelapangan dada yang luar biasa untuk ukuran seorang wanita yang sedang hamil muda dan diliputi kecemasan.​"Silakan masuk, Mateo," ucap Annora dengan suara parau namun tegas.​Mateo tertegun sejenak, menatap wanita di depannya dengan rasa kagum yang bercampur penyesalan. Ia mengangguk hormat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah minimalis yang hangat itu, menutup pintu perlahan di belakangnya.​Begitu mereka duduk di sofa ruang tamu yang berhadapan langsung dengan perapian, Annora tidak langsung mencecarnya dengan perta

  • Annora with Mr.Lee   Bab 55 Perpisahan Paling Sunyi

    Perpisahan Paling Sunyi​Keesokan sorenya, cahaya matahari musim gugur memancarkan rona kemerahan yang redup di atas hamparan salju abadi Pegunungan Alpen. Udara terasa dingin, namun kehangatan palsu yang coba diciptakan di dalam rumah itu jauh lebih menyesakkan dada. Di ruang depan, Jae Won berdiri di samping kopernya dengan mantel tebal yang membalut tubuh tegapnya. Wajahnya pucat, menyisakan jejak kelam dari malam panjang yang dilewatinya tanpa tidur.​Annora berdiri di hadapannya, mengenakan cardigan wol rajut berwarna krem. Ia berusaha keras menampilkan senyuman paling manis di bibirnya, menahan gelombang sesak dan air mata yang mendesak hendak tumpah. Annora tahu, jika ia menangis, Jae Won akan semakin berat melangkah.​"Kau benar-benar harus pergi sekarang, Jae Won?" tanya Annora pelan, suaranya bergetar halus meskipun ia mencoba membuatnya terdengar tegar.​Jae Won mengangguk kaku. Ia melangkah mendekat, lalu merengkuh tubuh Annora ke dalam pelukannya. Hangat, erat, dan begit

  • Annora with Mr.Lee   Bab 54 Foto Usang dan Telepon Misteriuss

    Foto Usang dan Telepon Misterius​Mateo masih ingin mencecarnya dengan rentetan pertanyaan lain. Ada begitu banyak celah kosong dalam teka-teki pembunuhan berantai lima belas tahun lalu yang belum terisi. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan berikutnya, Hyori mengangkat tangannya, memberi gestur menyuruh pemuda itu berhenti.​Bukan karena wanita itu berniat menyembunyikan kebenaran demi melindungi para pelaku, melainkan gelombang ketakutan dan trauma masa lalu yang luar biasa besar telah melumpuhkannya. Hyori terdiam rapat, bibirnya terkatup kaku. Ada nyawa seseorang yang sangat ia kasihi—putri kandungnya sendiri—yang harus ia lindungi dari cengkeraman monster-monster berdasi jika rahasia ini bocor terlalu jauh kepada orang asing seperti Mateo.​Melihat keputusasaan dan teror nyata yang tergambar jelas di mata wanita paruh baya itu, Mateo akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tahu, memaksa Hyori lebih jauh tidak akan menghasilkan apa-apa selain menghancurkan

  • Annora with Mr.Lee   Bab 53 Bayangan Masa Lalu dan Rahasia Putra Lee Soman

    Bayangan Masa Lalu dan Rahasia Putra Lee Soman​Napas Hyori masih tersengal-sengal di atas lantai semen beton yang dingin. Air matanya terus meleleh, membasahi pipinya yang keriput. Mateo berdiri kaku di sampingnya, kepalanya berputar cepat mencerna setiap potongan informasi yang baru saja dilontarkan. Rasa penasaran yang membara mendesaknya untuk tidak membiarkan wanita itu terdiam terlalu lama.​"Tunggu dulu," potong Mateo dengan suara tegas namun tetap berhati-hati. "Jika keluarga Arif berada di Seoul saat itu, bagaimana bisa mereka tidak melakukan tindakan apa pun untuk menuntut keadilan? Kenapa keluarga mendiang suamimu seolah menerima takdir itu begitu saja?"​Hyori perlahan mendongakkan kepalanya. Ia menyeka sisa air mata di wajahnya dengan punggung tangan yang bergetar hebat. Senyum getir terukir di bibirnya yang pucat, menampakkan kepedihan yang teramat dalam akibat masa lalu yang kelam.​"Kau pikir mereka tinggal diam, Nak?" suara Hyori terdengar parau. "Istri pertama Arif—R

  • Annora with Mr.Lee   Bab 6 Secangkir Wine

    ​Langkah-langkah berat bersenjata yang semula dikira sebagai ancaman kudeta atau serangan mendadak, rupanya hanyalah bagian dari protokoler berlebihan yang melekat pada sosok Mateo. Pria itu melangkah masuk ke dalam kediaman megah Lee Jae Won dengan tawa renyah yang menggema di langit-langit koridor

  • Annora with Mr.Lee   Bab 5 Sang Penguasa dan Bidak Almond

    ​​Pagi itu, Lee Jae Won telah rapi dengan kemeja biru muda yang melekat sempurna di tubuh kekarnya. Aroma parfum kayu cendana yang elegan menguar, memenuhi setiap sudut kamar yang luas dan minimalis. Alunan musik beat bertempo sedang mengiringi aktivitasnya, menandakan suasana hati pria itu sedang

  • Annora with Mr.Lee   Bab 4 Komoditas dalam Sangkar Emas

    ​Pagi masih buta ketika Robert melangkah masuk ke dalam kamar pengap tempat Annora disekap. Suasana di dalam ruangan itu kacau. Annora, dengan sisa tenaga yang ia miliki, terus memberontak. Teriakan minta tolongnya menggema, memantul di dinding-dinding marmer rumah mewah itu. Robert mendecit panik;

  • Annora with Mr.Lee   Bab 3 Jebakan di Balik Pagar Mewah

    ​Keesokan harinya, kondisi fisik Annora berangsur pulih. Namun, sejak ia siuman, atmosfer di rumah itu terasa mencekik. Ibu Ria terus-menerus melontarkan kata-kata ketus yang menyakitkan hati. Dari dalam kamar tamu, Annora bisa mendengar dengan jelas perdebatan sengit antara Andra dan ibunya.​"And

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status