Share

Bab 7

Author: Aline
Hari-hari berikutnya, Denise hidup di rumahnya sendiri seperti orang asing.

Dia menyaksikan Hernan setiap hari mencari berbagai cara untuk menyenangkan Keiko. Dia melihat Hernan merebus obat untuk Keiko dengan tangannya sendiri. Dia melihat Hernan bahkan menunda rapat hanya demi membuat Keiko tersenyum.

Hari itu, saat Hernan tidak ada di rumah, Keiko mengadangnya dengan angkuh untuk pamer.

"Memangnya kenapa kalau kamu sudah nikah sama Kak Hernan?" katanya dengan nada sombong. "Dia sudah janji, anak ini akan diperbolehkan memakai marganya dan akan jadi satu-satunya pewaris Grup Saswita! Anak yang ada di perutmu itu cuma anak haram!"

Denise hendak turun untuk mengambil air minum. Mendengar itu, dia bahkan tidak melirik Keiko. Dia hanya memiringkan tubuh dan hendak pergi.

Sikap itu benar-benar membuat Keiko murka. "Denise, kamu sudah jatuh sehina ini, masih saja bisa sombong!"

Tiba-tiba, dia berlari maju dan mendorong Denise. Denise sama sekali tidak siap. Tubuhnya langsung terjatuh.

Di tengah pandangan yang berputar, dia mendengar suara benturan tumpul saat bagian belakang kepalanya menghantam pegangan tangga. Kemudian, dunia berubah menjadi gelap gulita.

Saat membuka mata lagi, dia sudah berada di rumah sakit. Hernan berdiri di depan ranjangnya. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah tuduhan keras.

"Masih belum cukup setelah buat orang tua Keiko terluka, sekarang kamu juga mendorongnya dari tangga? Kamu nggak tahu dia lagi hamil?"

Setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk jantungnya.

Tiba-tiba, Denise tertawa sampai tubuhnya bergetar.

"Hernan," panggilnya dengan suara serak. "Menurutmu aku terlihat seperti orang bodoh?"

"Apa maksudmu?"

"Kalau memang aku ingin mencelakainya, kenapa yang sekarang terbaring di rumah sakit justru aku?" katanya sambil perlahan menopang tubuh untuk duduk.

"Karena setelah mendorongnya, kamu takut ketahuan, lalu sengaja menjatuhkan diri dari tangga untuk biar bisa memutarbalikkan fakta!" Mata Hernan dipenuhi kekecewaan.

"Denise, aku makin nggak ngerti sama kamu. Kamu jelas sudah setuju membiarkan Keiko tinggal di rumah ini, lalu kenapa masih menggunakan cara sekotor ini?"

Dia berbalik menuju pintu. "Aku nggak akan datang menjengukmu lagi. Renungkan sendiri perbuatanmu."

Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi. Pintu ruang rawat ditutup dengan keras.

Denise perlahan membuka mata dan menatap langit-langit. Air matanya mengalir tanpa suara. Dia menarik napas pelan dan hanya bisa terus-menerus mengingatkan dirinya sendiri, 'Sebentar lagi, sebentar lagi semuanya akan berakhir.'

Hari dia keluar dari rumah sakit bertepatan dengan berakhirnya masa tunggu perceraian. Denise langsung pergi ke pengadilan negeri dan mengambil akta cerai mereka.

Setelah pulang ke rumah, dia membereskan barang-barangnya, bersiap meninggalkan tempat ini untuk selamanya. Baru saja menyeret koper ke lantai bawah, Hernan tiba-tiba pulang.

"Kamu mau ngapain?" Dia mengernyit melihat koper di tangan Denise. "Baru keluar dari rumah sakit sudah mau nyumbang barang lagi?"

Dia mengira Denise hendak kembali menyumbangkan barang-barang mewah yang dahulu pernah dia berikan.

Denise tidak menjelaskan. Hernan mendekat beberapa langkah, lalu mengeluarkan sebuah undangan berlapis emas dari saku dalam jasnya.

"Keiko itu gadis baik. Dia nggak mempermasalahkan kejadian sebelumnya. Hari ini ulang tahunnya. Siapkan hadiah yang layak dan ikut aku ke pesta."

Denise baru saja hendak menolak ketika ponsel Hernan berdering.

Suara manja Keiko terdengar dari seberang telepon. "Kak Hernan, kenapa belum sampai juga? Semua orang sudah nunggu kamu lho ...."

"Sebentar lagi," jawab Hernan dengan lembut.

Kemudian, dia menoleh kepada Denise. "Aku pergi dulu. Kalau kamu masih ingin nyumbang barang, selesaikan saja dulu, terus nyusul ke sana. Jangan lupa bawa hadiah."

Setelah berkata demikian, dia berbalik dan pergi.

Denise memandangi punggungnya yang menjauh. Tiba-tiba, dia tersenyum. Dia memang akan memberikan hadiah besar. Hadiah besar yang tidak akan pernah dilupakan siapa pun.

Dia memasukkan akta cerai dan surat keterangan aborsi ke sebuah kotak hadiah, lalu memanggil kurir.

"Antarkan ke alamat ini," katanya dengan tenang. "Pastikan dibuka di depan semua orang."

Setelah kurir pergi, Denise menyeret kopernya dan melangkah ke luar. Vila yang dahulu dia kira akan menjadi rumahnya seumur hidup itu dia tinggalkan tanpa menoleh sedikit pun.

Di luar, sinar matahari terasa hangat. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju kehidupan yang baru.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 23

    Setelah terdengar sedikit suara berisik dari rekaman, suara Declan yang hati-hati terdengar."Jadi kamu benar-benar sudah melupakannya?"Begitu kalimat itu terdengar, tubuh Hernan yang berada di atas ranjang rumah sakit langsung menegang. Dia bahkan menahan napas, takut melewatkan satu kata saja.Tak lama kemudian, suara Denise yang tegas dan mantap masuk ke telinganya. "Ya."Satu kata itu bagaikan petir yang menyambar dari langit. Darah di seluruh tubuh Hernan seolah membeku seketika.Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram seprai erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuhnya seperti dipaku di atas ranjang, tak mampu bergerak sedikit pun.Pikirannya kosong. Semua kesadarannya seakan tersedot habis dalam sekejap, seolah seluruh dunianya runtuh tepat pada saat itu.Bunyi denging yang makin nyaring di telinga membuatnya hampir tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Denise setelah itu.Namun, dia sebenarnya tidak perlu mendengar lebih jauh. Satu kata itu saja sudah memberinya jawaban.

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 22

    Hingga pameran lukisan berakhir, Hernan tetap tidak berhasil mengucapkan sepatah kata pun kepada Denise.Saat dia hendak mengejar Denise keluar, ponselnya tiba-tiba berdering. Melihat tulisan "Ayah" di layar, Hernan akhirnya memilih mengangkat telepon itu.Tak ada satu pun dari mereka yang langsung berbicara. Mereka hanya diam mendengarkan napas satu sama lain.Akhirnya, ayah Hernan yang lebih dahulu memecah kesunyian. "Waktumu hampir habis. Kamu masih nggak mau pulang?"Hubungan Hernan dan ayahnya sebenarnya biasa saja. Ditambah lagi, sejak kecil ayahnya jarang menemaninya, sehingga mereka hampir tidak memiliki topik pembicaraan bersama.Ayah Hernan juga sosok yang keras dan tidak suka berinisiatif berkomunikasi dengan anaknya. Jurang di antara ayah dan anak itu pun makin lama makin lebar.Karena itu, mendengar ayahnya tiba-tiba bertanya seperti ini membuat Hernan sedikit tidak terbiasa.Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Aku akan pulang. Tapi aku ingin menemukan jawaba

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 21

    Menjelang malam, kembang api mulai bermekaran di seluruh penjuru kota. Cahaya berwarna-warni menerangi separuh langit.Di balkon vila keluarga Denise, dia menjadi pusat perhatian para tamu yang mengelilinginya.Dari dalam mobil yang terparkir jauh di sana, Hernan hanya bisa samar-samar melihat senyuman di wajah Denise. Senyum itu masih sama seperti dahulu. Masih memiliki pesona yang mampu menular kepada orang lain.Dia pun diam-diam ikut tersenyum."Selamat ulang tahun."'Denise-ku ....'Ketika kembang api terakhir menghilang di langit malam, para tamu mulai berpamitan dan pulang.Mobil-mobil mewah satu demi satu melaju meninggalkan vila. Rumah yang semula ramai kembali menjadi lengang. Hanya tersisa beberapa pelayan yang masih membersihkan aula.Namun, mobil Hernan tetap tidak bergerak. Baru setelah lampu terakhir di vila itu dipadamkan, Hernan menyuruh asistennya menyalakan mesin mobil.Namun, tepat saat itu seseorang mengetuk pelan jendela di sampingnya. Orang yang datang adalah kep

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 20

    Kalau Denise bilang dia tidak kecewa saat mengetahui hal itu, tentu itu bohong. Namun, dia tetap memaksakan senyuman dan berkata kepadanya tidak apa-apa.Karena merasa bersalah, Hernan segera memeluknya dan membujuknya dengan lembut. Dia mengatakan bahwa pada ulang tahunnya yang berikutnya, dia akan membuatkan kalung yang lebih indah untuknya.Kemudian, dia benar-benar membuatnya. Kalung bernama Cinta Sejati itu akhirnya selesai dibuat. Sayangnya, pemilik yang seharusnya mengenakannya sudah tidak berada di sisinya lagi.Hernan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tangan dan mengetuk jendela mobil.Tak lama kemudian, jendela perlahan turun dan seorang pria berwajah asing segera menjulurkan kepala dengan sikap penuh hormat. "Pak Hernan."Hernan menyerahkan hadiah di tangannya kepada pria itu sambil tersenyum. "Maaf merepotkanmu."Hari ini Keluarga Andora mengundang banyak tamu. Kebetulan di antara mereka ada seseorang yang masih dikenalnya dan belum memutus hubungan dengannya. Kare

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 19

    Sambil menelepon, ibu Denise berjalan makin jauh.Di dalam kamar, Denise menutup mulutnya erat-erat agar isaknya tidak terdengar. Dia tahu kedua orang tuanya sangat mencintainya.Meskipun saat itu mereka tidak mengatakan apa pun di toko, dia tahu mereka pasti akan membelanya dan membalaskan semua ketidakadilan yang pernah dialaminya.Setelah itu, semua orang secara diam-diam sepakat untuk tidak lagi membicarakan masalah itu.Baru setelah puas berlibur di Kota Sudan bersama kedua orang tuanya, Denise kembali naik pesawat menuju Kota Hadil.Pada hari kedua setelah kepulangannya, tibalah ulang tahunnya yang ke-26. Sebagai putri Keluarga Andora yang sejak kecil selalu dimanjakan dan disayangi, setiap kali ulang tahunnya tiba, seluruh kota akan menyalakan kembang api untuk merayakannya.Kali ini, Keluarga Andora mengadakan pesta ulang tahun yang jauh lebih meriah dari biasanya.Pada hari pesta, tokoh-tokoh ternama dari berbagai kalangan datang untuk memberikan ucapan selamat. Mobil-mobil me

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 18

    Mungkin karena menyadari suasana hati Denise sedang kurang baik, Declan langsung mengambil keputusan dan mengirim Denise serta kedua orang tuanya ke kampung halaman ibu mereka untuk berlibur dan menenangkan diri.Awalnya dia juga ingin meminta istrinya untuk menemani mereka. Namun, istrinya mendadak kurang sehat sehingga terpaksa beristirahat di rumah.Declan sendiri tentu tidak bisa ikut karena harus merawat istrinya. Meski begitu, dia tetap berusaha menghalangi Hernan yang terus mencari Denise.Karena informasi dari asistennya terlambat, Hernan kembali pergi ke berbagai tempat yang sebelumnya biasa didatangi Denise.Pertama, dia menunggu semalaman di alun-alun sambil diterpa angin dingin. Alih-alih bertemu Denise yang katanya akan datang menonton kembang api, dia justru kehujanan hingga seluruh tubuhnya basah kuyup.Seperti yang diduga, Hernan jatuh sakit. Namun, kali ini tidak ada lagi wanita yang dengan sabar menjaga dan mengelap tubuhnya sepanjang malam.Kedua kalinya, dia pergi k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status