Share

4. Gadis Kota

Penulis: Alexa Rd
last update Tanggal publikasi: 2026-04-17 15:23:39

Saka POV

“Kemana kita akan pergi?” tanyaku pada Arjuna yang memberiku sebuah helm. Dia sendiri sudah siap di atas motor sport berwarna merah.

“Ayo naik. Kita akan mengambil mobil dulu di rumah pamanku, lalu menjemput Saskia dan temannya. Sudah ikut saja, pasti lebih seru dibandingkan diam di dalam kos sendirian.”

Saskia... nama pacar Arjuna kah itu? Aku menuruti perintahnya. Motor merah membawa kami keluar pelataran parkir kampus lalu meninggalkannya jauh di belakang.

Rumah paman Arjuna besar dan mewah. Aku menunggu di garasi mobil saat Arjuna memarkir motor lalu masuk ke dalam. Ada banyak atribut bertuliskan merek sebuah kendaraan roda tiga dan motor listrik buatan Indonesia di rumah pamannya. Mungkin pamannya salah satu pimpinan di sana.

Dia bilang tak akan lama, dan seperti yang dia katakan, tak lama kemudian Arjuna sudah keluar kembali. Tak ada orang yang mengikutinya dari dalam. Arjuna lalu masuk dalam sebuah city car berwarna putih, menghidupkan mesinnya tanpa menutup pintu, lalu kepalanya terlihat keluar melihatku dan sedikit berteriak.

“Ayo!” Aku mengikuti perintahnya.

“Pamanmu bekerja di Xavier?” Tanyaku ketika mobil sudah melaju di jalan raya.

“Ya,” jawab Arjuna. “Kalau kau mau membeli motor listrik atau motor niaga, katakan saja padaku, aku akan bantu mendapat harga terbaik.” Aku mengangguk.

Motor bukan kebutuhan utamaku saat ini. Kalau mau aku bisa meminta ayah mengirim motorku ke Sibaru ini. Tapi itu berarti Sita akan kehilangan transportasi hariannya ke sekolah.

Ternyata kos Saskia tidak terlalu jauh dari kos Arjuna. Aku pernah ke kos Juna 2 kali. Hanya berbeda satu blok tepatnya. Arjuna mengajakku keluar dan menunggu di teras sementara dirinya menelfon Saskia.

Tak lama dua orang perempuan keluar dari dalam. Tak perlu dikenalkan yang mana pacar Arjuna, gadis bernama Saskia itu langsung mendekat pada Juna. Tangan terangkat yang langsung disambut dengan tangan Juna, mereka bergandengan.

“Kenalkan, ini Saskia pacarku. Kia, ini Saka sahabatku.”

“Hai Saka,” sapa Saskia sambil tersenyum.

“Hai Saskia.” Dia tidak memberikan tangannya untuk bersalaman, jadi aku hanya memberinya senyum.

“Panggil Kia saja. Ini temanku Winda. Winda ini Saka.” Saskia mengenalkan perempuan yang berdiri di sampingku. Aku menoleh padanya.

“Halo Winda.” Berbeda dengan Kia, Winda mengajakku bersalaman, aku menyambutnya.

“Saka, akuntansi juga?” tanya Winda ramah.

“Iya.”

“Oke. Aku masuk, kita berangkat.” Seru Arjuna. Kita mengikutinya menuju mobil putih tadi.

Tentu posisi dudukku berubah di belakang bersama Winda. Kalau Arjuna dan Saskia terlihat sangat nyaman saling berbicara dan bercanda di depan, aku dan Winda tampak sebaliknya, atau setidaknya itu yang aku rasakan.

Winda adalah gadis yang ramah, dia banyak bertanya soal diriku, dari mana asalku, tentang kuliah dan sebagainya. Hal yang justru sebenarnya ingin aku hindari. Aku berusaha mengimbanginya dengan bertanya kembali, tapi selebihnya aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku betul-betul payah sebagai laki-laki.

Dari pembicaraan Arjuna dan Saskia, aku baru tahu kalau kami akan menonton film. Tapi sebelum itu kami akan makan terlebih dahulu di mall yang sama. Kami berjalan seperti 2 pasangan, Arjuna dan Saskia di depan lalu aku dan Winda. Selama perjalanan Winda tetap ramah, mungkin dalam hatinya dia sudah mengutuk kenapa harus berpasangan denganku.

Saat makan, aku dan Winda duduk berseberangan dengan Arjuna dan Saskia. Mau tak mau aku jadi lebih banyak melihat wajah Saskia. Kecantikannya berbeda dengan Winda.

Winda juga cantik, namun wajah Saskia memancarkan kelembutan. Cara bicaranya sopan, senyumnya tidak dipaksakan. Beruntung sekali Arjuna.

“Saka sudah punya pacar?” Pertanyaan Winda mengagetkanku.

“Belum.” Aku buru-buru menjawab lalu mengambil makananku.

“Kenapa? Kata Arjuna, banyak yang suka padamu di fakultas akuntansi.” Aku memandang Arjuna. Apa saja yang diceritakannya pada Winda.... atau Saskia.

“Aku tidak tahu. Bisa saja Arjuna salah.”

“Arjuna mana mungkin salah,” lanjutnya. “Dia itu sangat berpengalaman, tapi sudah punya pawang saja.” Winda tersenyum sambil melihat ke arah Saskia yang dibalasnya dengan candaan pelan.

“Saka masih malu-malu saja Win. Nanti kalau dia sudah terbiasa dengan kehidupan mahasiswa kota, pasti banyak yang rela antri. Ganteng, rajin lagi. Tinggal Saka mau pilih yang mana, ya kan bro?”

“Bisa saja kamu.” Kenapa mereka jadi membicarakan aku. Tapi melihat Saskia yang melempar senyum manisnya, rasa canggungku sedikit menghilang. Setidaknya aku bisa membuatnya tersenyum padaku.

“Nanti kalau sudah tidak malu, kabari aku ya. Aku akan mengantri di depan.” Omongan Winda mengagetkanku. Begini kah gadis kota? Atau aku saja yang terlalu kampungan.

Tapi aku tak ingin menjadi mahasiswa kampungan terus menerus. Kuberanikan diri menjawan Winda dengan percaya diri. “Deal.” Semua tertawa kecil sebelum melanjutkan makan.

Saat semua sudah selesai dengan makanannya, Arjuna berdiri terlebih dahulu. Kami pun beranjak untuk meninggalkan restoran. Arjuna berhenti di depan kasir lalu menyebut nomer meja kami.

Sejumlah nominal disebutkan oleh karyawan kasir yang kemudian dibayar Arjuna menggunakan debet. Aku kembali merasa kecil, meski aku memilih makanan yang paling murah tadi, jumlah nominalnya melebihi gajiku bekerja 3 shift di akhir pekan.

Setelah dari restoran kami langsung menuju theater. Di sana Arjuna kembali berdiri di depan untuk membeli tiket dan makanan kecil. Dua buah popcorn berukuran medium dan 4 buah soft drink sudah dia pesan.

Aku tak tahu nominal tepatnya kali ini, tapi dari daftar harga makanan yang terpampang di atas bar saja, aku sudah bisa menebak kalau jumlah semuanya melebihi total harga makanan kami tadi di restoran. Tengkukku tiba-tiba terasa dingin. Memang laki-laki seperti Arjunalah yang menjadi idaman para gadis untuk dijadikan pacar.

Aku melirik ke arah Saskia, melihat lengannya mengamit mesra Arjuna. Aku juga melihat ke arah Winda yang sepertinya melihat Arjuna dengan tatapan iri. Mungkin dia telah lupa pada apa yang dikatakannya padaku di meja restoran, atau memang dia hanya bercanda tadi, pastinya dia hanya bercanda.

Di dalam theater, pikiranku tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada film yang diputar. Aku bahkan tidak menyentuh sama sekali popcorn yang diletakkan diantara aku dan Winda. Hanya soft drink yang sesekali aku minum untuk menghilangkan rasa haus atau kering di tenggorokan. Perutku masih penuh.

Aku merasa bersalah. Aku seharusnya berada di kos untuk mengerjakan tugas. Ada laptop Arjuna yang bisa aku manfaatkan sebelum hari Kamis. Aku bisa menyalin catatan lainnya, tapi aku malah disini.

Menghabiskan gaji 2 kali akhir pekan, jika aku yang membayarnya. Memang aku tak kehilangan satu sen pun, tapi aku tetap merasa bersalah.

Diperjalanan pulang, aku dan Winda bertukar nomer handphone. Aku dan Saskia hampir tidak terlibat komunikasi sama sekali kecuali saat kita sama-sama menimpali guyonan Arjuna. Arjuna mengantarkan Saskia dan Winda pulang lalu kami mengembalikan mobil di rumah paman Arjuna dan mengambil motor.

Tak seperti saat kami mengambil mobil, kali ini ada paman Arjuna yang menemui kami. Mereka terlibat pembicaraan sebentar soal kuliah Arjuna sebelum kami berpamitan pulang.

“Terima kasih Juna. Berapa aku harus mengganti makan dan tiket filmnya?” tanyaku. Aku tahu Arjuna tak akan meminta, tapi harga diriku menyuruhku untuk tetap bertanya.

“Tidak perlu. Sudah aku bilang tidak usah memikirkan apa-apa. Aku pulang dulu Saka. Selamat malam.”

“Selamat malam. Hati-hati.” Motor Arjuna meraung meninggalkan tempat aku berdiri.

Pukul 9 lebih 10 ketika aku sudah selesai mandi dan masuk kembali ke dalam kamar kosku. Aku sudah bersiap di atas tempat tidur saat suara notifikasi handphone terdengar.

“Sepertinya Winda menyukaimu,” pesan dari Arjuna.

Aku yakin dia hanya bersikap ramah.”

Bagaimana kalau dia benar menyukaimu?”

Aku tidak tahu. Aku tidak pandai dengan para gadis.”

Mungkin sifatmu yang seperti itulah yang dia suka, siapa tahu.”

“Entahlah Juna. Aku tidak mau memikirkannya.”

Baiklah. Kalau Saskia mengajak Winda lagi, apa kau mau menemani? Kia sering jalan dengan Winda, kalau ada kau, aku tak menjadi satu-satunya laki-laki dengan 2 gadis.”

Perlu beberapa waktu untuk menjawab pesan Arjuna. Untuk langsung menolaknya, rasanya keterlaluan, apalagi Arjuna selalu baik padaku dan aku tidak mengeluarkan uang jika aku pergi dengannya. Namun itulah yang tidak aku suka, aku tidak nyaman.

Kita lihat nanti. Kalau tak ada tugas dan kerja, aku akan menemani kalian.” Hanya itu yang bisa aku berikan sebagai jawaban.

Winda tertarik padaku? Betulkah? Kenapa rasanya biasa saja. Bahkan aku tak percaya. Apa yang membuat seorang gadis bisa tertarik padaku diantara banyak mahasiswa lain yang jauh lebih baik.

Saat masih di Winota dulu, memang ada teman perempuan yang menyukaiku, ada beberapa yang menyatakan perasaannya bahkan. Tapi itu di kampung, aku lebih menonjol dibanding teman laki-lakiku yang lain karena aku siswa terbaik.

Aku tidak jelek, selain itu ada motor yang sehari-hari aku pakai untuk bersekolah. Kadang ada teman perempuan yang dengan malu-malu minta untuk dibonceng sampai jalan tertentu. Ada yang menggoda dengan mengirim chat atau menitip salam pada teman laki-lakiku. Tapi tak pernah ada yang aku anggap serius.

Hingga saat ini aku tak pernah merasa tertarik secara khusus dengan perempuan tertentu. Aku sibuk dengan belajar untuk beasiswa tahunan, membantu ayah di toko, dan kalau ada waktu libur, aku akan naik gunung bersama teman-teman. Itu saja rutinitasku, dan aku sudah cukup senang.

Naik gunung... sudah lama rasanya. Aku sudah menjadi anggota Pecinta Alam di kampus ini, namun kegiatan naik gunung paling cepat akan diadakan akhir semester nanti, tentu agar tidak mengganggu jadwal belajar. Tak sabar rasanya. Aku akan mengajak Arjuna nanti.

Bunyi handphone kembali berbunyi.

Selamat malam Saka, selamat beristirahat. Winda

Winda.... aggressive juga orangnya. Betulkah dia suka padaku.

Selamat malam Winda.”

Setelah meletakkan kembali handphoneku, pikiranku justru melayang pada Saskia. Dari pembicaraan mereka tadi, aku tahu kalau Arjuna dan Saskia sudah berpacaran dari SMA. Mereka dari kota yang sama, Palagan, sebuah kota besar.

Tapi Saskia tidak seperti Winda. Dia lebih pendiam, atau pemalu, lembut? Meski dengan pacarnya pun, Saskia tidak terlihat agresive. Ah kenapa aku jadi memikirkan pacar orang lain.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Antara Hati dan Janji   42. Langkah Terakhir Untuk Masa Lalu

    Author POVLangit biru cerah dengan angin yang semilir di ibu kota Kotabaru sore ini membuat banyak orang memilih berjalan-jalan di sekitar taman kota. Sebuah taman yang cukup besar dengan sungai buatan di tepinya menyuguhkan suasana alami di tengah hiruk pikuk ibu kota yang selalu ramai.Jalur setapak yang lebar memungkinkan pengunjungnya bermain sepeda, sepatu roda, atau berjalan kaki di bawah pepohonan yang rindang.Di antara para pengunjung yang ingin menikmati taman sore itu, terlihat sepasang pria dan wanita berjalan beriringan sambil mengamit lengan satu sama lain. Mereka terlihat mesra dengan sepasang cincin yang melingkar di jari manis."Tali sepatumu lepas," kata sang pria pada istrinya. Tak menunggu lama, dia lalu membungkukkan badannya untuk membetulkan ikatan tali sepatu tanpa hak milik istrinya. Kepalanya mendongak. "Sudah nyaman?" tanyanya."Iya, terima kasih," kata sang istri.

  • Antara Hati dan Janji   41C. Di Ujung Harapan Saskia

    Saka POVSaskia diam saja, namun air matanya terus turun. Setelah ayahnya menjauh sambil merangkul istrinya, aku mendekati tempat tidur Saskia.“Kia,” sapaku sambil menggenggam tangannya.“Saka,” jawabnya dengan suara parau. “Maaf aku merepotkanmu lagi sampai kau harus datang ke sini. Padahal aku sudah berkata tidak akan mengganggumu.” Tatapan matanya lurus padaku , lemah dan pilu.Aku mengangguk. “Sudah, jangan berpikir terlalu berat. Istirahat saja, ya,” pintaku.Saskia menggeleng. “Aku malu bertemu, Saka. Kenapa aku masih di sini?” Saskia menangis lagi.Ibu Saskia yang mendengar ucapannya ikut menangis dalam pelukan suaminya.“Kia, jangan berpikir begitu. Ada Ayah dan Ibu yang begitu menyayangimu. Kami ingin kau sehat, bahagia,” Hatiku seperti teriris. sudah betul-betul hilangkah semangatnya untuk hidup?“Tapi aku han

  • Antara Hati dan Janji   41B. Di Ujung Harapan Saskia

    Saka POV“Bagaimana Saskia, Bu?” sudah tak ada basa-basi lagi. Semua di sini berkumpul untuk Saskia.“Masuk, Nak,” jawab Ibu Saskia sambil memberi ruang untuk aku masuk ke dalam.Di dalam, ada kakak perempuan Saskia yang segera berdiri setelah melihatku. Dia tersenyum sayu. Aku membalas senyumnya sambil mengangguk. Di tengah ruangan, Saskia tampak lelap tertidur. Di lengannya terpasang selang infus dan selang transfusi darah.Aku ingat ayah Saskia berkata Kia memotong nadinya. Pandanganku berpindah ke lengan kirinya yang diperban.“Dia sudah sadar, tapi saat ini tertidur karena pengaruh obat,” kata kakak Saskia , aku tidak ingat namanya. Aku hanya mengangguk.Aku duduk di satu kursi yang paling dekat dengan tempat tidur Saskia, tak mau mengganggunya. Kami terdiam dalam keheningan hingga pintu kamar dibuka dari luar. Ayah

  • Antara Hati dan Janji   41. Di Ujung Harapan Saskia

    Saka POVSetelah mendapatkan kabar mengenai Saskia, aku memutuskan untuk kembali ke kos. Meski Agnia pulang pun, sepertinya aku tak bisa menemuinya tanpa memperlihatkan emosi yang aku sendiri tak mengerti saat ini.Aku tak ingin Agnia tahu mengenai apa yang terjadi dengan Saskia. Mungkin dia akan merasa bersalah, meski tak ada kesalahan pada diri Agnia sedikit pun. Ini sepenuhnya salahku.Sesampainya di kos, aku langsung mandi. Aku butuh air segar untuk membilas tubuh dan emosiku. Selain itu, aku berharap waktu bisa lebih cepat berlalu. Aku berharap Agnia sudah mau menghubungiku, meski hanya untuk memberi tahu di mana dia saat ini dan apakah dia baik-baik saja.Setelah selesai mandi, akhirnya kudapatkan kabar itu dari pesan yang dia kirim.Aku sudah di rumah. Aku ke Narama tadi. Aku butuh waktu, Saka.Aku mengambil napas panjang. Dia ke Narama sendirian. Agnia, pacarku, ke air terjun Narama seorang diri. Mengendarai motornya, naik turun jurang sendirian.Seharusnya aku bersamanya, men

  • Antara Hati dan Janji   40B. Dua Hati yang Patah

    Gambaran Agnia menungguku tak bisa aku usir dari kepala. Tapi permintaan Saskia ini, aku tak bisa mengabaikannya. Mengapa dia terus bicara soal yang terakhir.Apa dia selama ini masih ingin aku menemaninya? Lalu kali ini, dia benar-benar ingin melepaskan diri dari keinginan itu? "Aku harus mengabari Agnia dulu kalau aku akan terlambat," kataku akhirnya."Baiklah. Kabari dia, tapi jangan menutup teleponnya. Aku takut kau tak akan kembali," kata Saskia perlahan."Baiklah."Aku mengetik pesan untuk Agnia, mengatakan aku akan terlambat. Aku tahu bagaimana nanti reaksinya, dia akan khawatir lalu meneleponku.Tapi aku tidak bisa menerima teleponnya tanpa menutup telepon Saskia. Sebaiknya aku tuliskan saja alasannya, aku pun tak ingin berbohong padanya.Aku akan terlambat. Saskia menelepon. Dia ingin aku menemaninya untuk yang terakhir kali. Aku tidak tahu maksudnya, tapi aku khawatir.

  • Antara Hati dan Janji   40. Dua Hati yang Patah

    Saka POVSemakin dekat ke sidang akhir, semakin sibuk kami. Saskia tak pernah menelepon lagi, aku pun semakin jarang memikirkannya seiring dengan persiapan sidang akhirku.Agnia sama sibuknya, apalagi ayahnya akan pulang setelah Agnia sidang akhir. Ayahnya yakin Agnia bisa lulus dan dia ingin hadir di acara wisuda anaknya.Meski hingga kini dia tidak pernah menceritakan soal diriku pada ayahnya, namun Agnia sudah berencana untuk mengenalkan kami secara langsung nanti. Aku tidak keberatan.Agnia mendapatkan jadwal sidang akhir terlebih dahulu. Aku menungguinya hingga selesai. Begitu juga saat aku sidang akhir dua hari kemudian.Agnia datang ke kampus untuk menemani dan memberi semangat. Kami berdua dinyatakan lulus tahun ini. Sebuah kabar yang menggembirakan untuk kami dan keluarga. Saat-saat di kampus tinggal menghitung minggu. Saat-saat kami menjadi mahasiswa sudah hampir berakhir.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status