Share

7. Kepergian

Author: Alexa Rd
last update publish date: 2026-04-17 15:45:59

Saka POV

Semester 2 sudah berakhir. Di sini aku bukanlah murid terbaik seperti di kampung, tapi setidaknya aku termasuk mahasiswa dengan pencapaian di atas rata-rata. Selain itu, dengan bekerja, aku bisa menabung.

Setelah memiliki laptop, aku bisa menyisihkan uangku untuk kebutuhan lainnya. Kadang, Arjuna membiarkanku membayar makanan yang kami pesan saat kami pergi bersama, meski tetap saja dia yang lebih banyak melakukannya.

Aku sudah memberitahu Ayah kalau liburan semester 2 nanti aku akan pulang terlambat. Kami, mahasiswa junior, akhirnya akan merasakan naik gunung bersama anggota pecinta alam lainnya.

Gunung Magelung kali ini. Gunung dengan ketinggian 1.745 mdpl itu akan menjadi gunung pertama yang didaki Arjuna dan para pendaki pemula lainnya yang akan ikut serta. Magelung sengaja dipilih karena jalur pendakian yang tidak terlalu terjal dan relatif lebih aman.

Aku sendiri sudah sering mendaki gunung yang lebih tinggi dan menantang dari Magelung, tapi tetap saja, ini adalah pengalamanku pertama mendaki sebagai mahasiswa bersama sahabatku Arjuna.

Beberapa perlengkapan mendakiku sudah aku bawa ke sini saat aku pulang liburan semester kemarin. Sisanya akan aku beli menggunakan tabunganku sembari menemani Arjuna membeli perlengkapan untuknya sendiri.

Lusa adalah hari yang kami tunggu. Tas gunungku sudah siap sejak kemarin, begitu juga dengan milik Arjuna di kosnya. Kami akan berangkat sebelum fajar menggunakan bus universitas menuju Desa Magelung, melakukan pendakian sekitar 5 jam lalu kembali setelah camping semalam di puncaknya.

Setelah sampai di Sibaru, keesokan harinya baru aku akan pulang ke Winota, begitu juga dengan Arjuna dan Saskia yang menunggunya di kos untuk pulang bersama ke Palagan.

Aku merebahkan tubuhku di kasur sambil melihat sekeliling kamar kosku. Sudah lebih terisi jika dibandingkan pertama kali aku ke sini. Selain laptop dan printer di meja, aku bisa membeli dua pasang sepatu yang kini menghiasi rak sepatu di depan pintu.

Ada rak kabinet kecil untuk tempat menyimpan buku dan perlengkapan lainnya. Ya, hidup merantau memang mengajariku banyak hal. Aku harus pintar membagi waktuku antara kuliah, belajar, bekerja, mengerjakan pekerjaan lain seperti mencuci dan menyetrika baju serta pergi keluar.

Sejauh ini aku menikmatinya, meski tak jarang aku rindu suasana di rumah.

Dering telepon membuyarkan lamunanku. Nama adikku, Sita, di sana.

“Halo...”

"..............................."

“Apa? Kapan? ... Lalu bagaimana Ayah sekarang? Ibu?”

"............................."

Aku mengganti panggilan suara menjadi panggilan video. Tampak ayahku sedang berbaring di tempat tidur rumah sakit. Wajahnya terlihat lemas namun tetap tersenyum.

Ayah baru saja kecelakaan. Tidak parah, kata Sita, tapi kakinya retak dan perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ada memar yang aku lihat di bagian wajahnya.

Ayah berkata untuk tidak khawatir, namun Ibu memintaku untuk pulang. Tentu aku akan pulang. Aku akan lebih berguna di rumah.

Setelah berbicara dengan Ayah dan Ibu, aku menutup telepon. Hal pertama yang aku lakukan adalah memesan tiket kereta api untuk pulang ke Winota. Kereta paling cepat akan berangkat esok hari pukul 4 pagi. Itu yang aku pilih.

Setelah mendapatkan tiket elektronik, aku meletakkan ponselku, menuju lemari, mengeluarkan tas ransel dan mulai mengepak baju. Aku harus segera pulang ke rumah. Ayah jarang sekali sakit, apalagi sampai harus rawat inap di rumah sakit. Ibu dan Sita pasti panik tadi.

Aku menatap tas ranselku, pikiranku kosong, apa lagi yang harus aku bawa pulang? Kenapa aku bawa banyak sekali baju, di rumah toh bajuku masih banyak. Aku keluarkan lagi sebagian isinya, menatanya dengan asal kembali ke lemari.

Apa lagi? Ah... laptop. Aku menuju meja lalu melihat beberapa peralatan lain. Kumasukkan laptop, charger, dan beberapa buku. Kututup kembali ranselku lalu kuletakkan di atas meja. Saat itulah aku melihat ransel gunungku di pojokan.

Aku harus menelepon Arjuna.

“Ar... aku tidak bisa ikut ke Magelung besok lusa. Ayahku kecelakaan.”

"............................."

“Kakinya retak. Aku harus pulang ke rumah, Ibu dan adikku memerlukanku.”

"...................................."

“Apa kau akan tetap ikut ke Magelung? Kau bisa ikut bersamaku di pendakian berikutnya?”

".................................."

“Kau yakin?”

"................................"

“Baik kalau begitu. Hati-hati ya... maaf aku tidak jadi mendaki bersamamu.”

"..........................."

“Aku akan berangkat besok pagi. Terima kasih Ar... Hati-hati.”

Hanya itu saja percakapanku malam itu dengan Arjuna. Andai saja aku tahu ini akan menjadi percakapan terakhirku dengannya.

= = = = = = = = = = = 

Aku sedang duduk menonton televisi di kamar rawat inap Ayah saat hari sudah hampir siang. Mungkin teman-temanku sudah hampir sampai di puncak, pasti ada banyak foto yang dikirimkan mereka ke grup W******p.

Bagaimana Arjuna? Pastinya dia senang sekali. Akan ada banyak foto untuk Saskia yang bisa dia pakai untuk referensi melukis. Aku mengambil ponselku dari atas meja dan mencari grup Pecinta Alam di aplikasi W******p-ku.

Ada banyak foto memang, tapi disertai dengan berita yang simpang siur. Aku menggulir sambil membaca satu per satu pesan yang sudah menumpuk. Keringat dingin keluar dari dahi dan tengkukku. Ada mahasiswa yang tergelincir bernama Arjuna Atma Widjaya.

Aku menggulir sampai bawah namun belum ada kejelasan. Aku mengirim pesan yang segera dibalas oleh beberapa orang dan mereka semua mengonfirmasi kalau yang tergelincir itu memang Arjuna dan saat ini mereka sedang mengupayakan proses evakuasi.

Pendakian dibatalkan, bahkan mereka baru setengah perjalanan menuju puncak Magelung. Tubuhku limbung, untung aku sedang duduk di kursi yang memiliki sandaran. Tanganku bergetar saat aku mencari nomor Arjuna dan memanggilnya.

Tak ada nada sambung padahal teman-teman yang lain masih mendapatkan sinyal. Aku mencoba menelepon teman yang lain, kebanyakan tak diangkat, hanya Dodit yang menjawab dengan suara putus-putus akibat sinyal buruk.

Ya, Saka... Arjuna jatuh... keluar dari track pendakian... tergelincir. Aku tidak yakin... semoga baik-baik saja.”

Hanya itu yang bisa aku dengar dengan jelas. Aku tidak tahu seberapa lama aku terdiam hingga ada yang masuk ke ruangan, seorang perawat yang akan mengukur tekanan darah Ayahku. Aku bergeser ke sofa lalu merebahkan diri. Semoga Ayah kembali tertidur karena pikiranku sedang tak berada di sini.

Kenapa Arjuna keluar dari track pendakian? Seharusnya aku mencegahnya ikut, apa tak ada orang lain yang bersamanya? Mengingatkannya? Bukankah seharusnya orang lain itu adalah aku? Pikiranku semakin penuh.

Semoga bukan dia... semoga itu hanyalah berita tidak benar. Semoga dia baik-baik saja. Lalu aku teringat sesuatu yang membuat tubuhku kembali dingin, lebih dingin dari sebelumnya.

Saskia. Apa dia sudah tahu? Apa aku harus meneleponnya? Apa yang harus aku katakan padanya? Berita ini belum pasti. Aku harus menunggu kabar selanjutnya.

Aku tak ingin Saskia bersedih untuk hal-hal yang belum tentu terjadi. Aku menutup mataku, berharap ini hanya mimpi.

Saat aku membuka mata, jam dinding rumah sakit menunjukkan pukul 11.45. Aku tertidur selama hampir satu jam. Aku ingat aku bermimpi, naik gunung bersama Arjuna dan Saskia. Saskia memeluk kanvasnya, melukis seperti biasa, kali ini dia melukis awan dengan melihatnya secara langsung.

Aku dan Arjuna duduk sambil bermain rumput di hadapan kami. Semuanya menyenangkan di pikiranku hingga aku teringat kejadian tadi. Itu bukan mimpi. Bagaimana aku bisa tertidur di tengah hal seperti ini.

Aku duduk lalu melihat layar ponselku yang masih gelap, antara ragu dan khawatir aku menghidupkan ponselku. Ada banyak notifikasi, aku membuka satu pesan chat yang dikirim Dodit. Sebuah foto proses evakuasi, ada kantung jenazah yang sedang dibawa oleh para petugas evakuasi.

Arjuna ditemukan meninggal dunia... Masih tak mau percaya, aku membuka semua pesan yang masuk dalam ponselku hingga tanganku tak bisa lagi memegang ponsel dengan benar. Benar Arjuna, satu foto memperlihatkan sepatunya, aku ingat dia senang sekali membeli sepatu itu bersamaku beberapa hari lalu. Sepatu khusus untuk mendaki, mahal sekali harganya, seharusnya bisa melindungi dari hal-hal seperti ini.

Kupandangi Ayahku yang masih tertidur, sebentar lagi jam makan siang, lalu biasanya Ibu akan datang menggantikanku. Kenapa belum datang sekarang? Aku ingin pulang, aku ingin... aku tak tahu apa yang aku inginkan, yang pasti aku tak ingin di sini bersama Ayah.

Kenapa aku tak menangis, aku hanya merasa mual. Aku ingat Saskia, tapi aku tak bisa meneleponnya, mungkin nanti di rumah. Apa dia sudah tahu berita ini?

Hingga malam harinya di rumah, aku tidak menelepon Saskia. Aku berhenti melihat ponselku yang terus menerus menerima notifikasi pesan. Semua temanku tahu Arjuna adalah sahabatku dan aku yang mengajaknya ikut mendaki ke Magelung.

Mereka mengucapkan bela sungkawa, tapi aku tidak menangis, aku ingin menangis, tapi aku tidak bisa. Lebih baik mereka mengirim pesan itu untuk keluarga Arjuna. Apa Arjuna sudah sampai di rumahnya? Bagaimana keluarganya? Bagaimana Saskia? Saskia...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antara Hati dan Janji   9. Di Balik Bayang-Bayang

    Saka POVBangku kananku masih selalu kosong seperti biasa, apalagi jika aku duduk di depan, tempat yang biasa aku dan Arjuna pakai. Namun di luar jam kuliah, aku tidak selalu sendirian. Aku pergi ke kantin bersama Rio dan ketiga teman kami lainnya.Aku tertawa jauh lebih sering dibandingkan saat bersama Arjuna. Kami terlihat biasa saja seperti kebanyakan mahasiswa lainnya, tapi sebenarnya aku merasa kesepian. Kehilangan Arjuna baru aku rasakan akhir-akhir ini, membuatku bertanya apa sebenarnya perannya dalam hidupku.Semakin aku tertawa, semakin aku merasa kesepian. Mungkin dengan Arjuna aku tidak perlu mencoba tertawa, menjadi orang lain. Mungkin dia bisa menerimaku apa adanya, sama seperti dia menerima Saskia.Saskia.Winda dan beberapa teman sefakultasnya akan berkunjung ke rumahnya, menjenguk. Winda janji akan memberi kabar setelah bertemu Saskia. Harusnya sore ini mereka sudah tiba kembali ke Sibaru

  • Antara Hati dan Janji   8. Jejak yang Hilang

    Saka POVHari pertama di semester 3. Hari pertama di kampus tanpa Arjuna. Semua temanku tersenyum lalu memelukku, menepuk-nepuk punggungku, mengucapkan bela sungkawa secara langsung. Aku tidak merasa berhak menerimanya.Sebagian besar tidak datang ke pemakaman Arjuna karena sedang liburan di rumah-rumah mereka. Hanya perwakilan dari fakultas dan komunitas pecinta alam yang hadir. Aku sendiri tidak datang. Aku terus meyakinkan diriku kalau aku tidak bisa datang.Ayahku memerlukanku, begitu juga dengan ibu dan Sita. Toko kami sudah dibuka dan mereka kekurangan orang karena ayah di rumah sakit. Aku tidak bisa datang. Tapi jika saja aku mau meminta izin pada keluargaku, menceritakan yang sebenarnya, pasti mereka menyuruhku datang. Namun aku tidak melakukannya.Selain bangku kananku yang kosong, semua berjalan seperti biasa. Teman-temanku hanya lebih pendiam jika dekat denganku namun selebihnya semua tertawa seperti biasanya. Aku ingin tertawa seperti mereka, namun aku tidak tahu apa yang

  • Antara Hati dan Janji   7. Kepergian

    Saka POVSemester 2 sudah berakhir. Di sini aku bukanlah murid terbaik seperti di kampung, tapi setidaknya aku termasuk mahasiswa dengan pencapaian di atas rata-rata. Selain itu, dengan bekerja, aku bisa menabung.Setelah memiliki laptop, aku bisa menyisihkan uangku untuk kebutuhan lainnya. Kadang, Arjuna membiarkanku membayar makanan yang kami pesan saat kami pergi bersama, meski tetap saja dia yang lebih banyak melakukannya.Aku sudah memberitahu Ayah kalau liburan semester 2 nanti aku akan pulang terlambat. Kami, mahasiswa junior, akhirnya akan merasakan naik gunung bersama anggota pecinta alam lainnya.Gunung Magelung kali ini. Gunung dengan ketinggian 1.745 mdpl itu akan menjadi gunung pertama yang didaki Arjuna dan para pendaki pemula lainnya yang akan ikut serta. Magelung sengaja dipilih karena jalur pendakian yang tidak terlalu terjal dan relatif lebih aman.Aku sendiri sudah sering mendaki gunung yang lebih tinggi dan menantang dari Magelung, tapi tetap saja, ini adalah penga

  • Antara Hati dan Janji   6. Janji di Ketinggian

    Saka POVLiburan semester lalu, aku pulang ke rumah. Itu adalah pulang kampung pertama sejak aku kuliah di Sibaru. Menghemat uang adalah alasan utama aku tak banyak bepergian. Kini di semester dua, aku sudah bisa membeli laptop. Bukan hanya dari uang hasil bekerja, ayah juga memberiku uang sebelum aku kembali.Meski aku tidak bercerita apa-apa, rupanya ayahku tahu apa yang aku butuhkan. Dia memberiku uang sehingga dengan ditambah seluruh uang tabunganku, aku bisa memiliki laptop dan sebuah printer paling murah. Kini aku tak perlu merepotkan Arjuna atau ke persewaan komputer untuk mencari materi kuliah atau mengerjakan tugas.Kabar menggembirakan lainnya datang dari komunitas pecinta alam yang aku ikuti. Kami akhirnya akan naik gunung akhir semester ini. Tentu berita ini aku sampaikan pada Arjuna karena dia ingin ikut ketika aku naik gunung.Arjuna sendiri bukan anggota komunitas, tapi acara ini tidak tertutup untuk mahasiswa lain asalkan mau menaati peraturan yang ada. Arjuna menyambu

  • Antara Hati dan Janji   5. Berdebar Dalam Diam

    Saka POVSudah lebih dari dua minggu sejak pertemuanku dengan Saskia dan Winda yang pertama. Sore ini, setelah kuliah, Arjuna mengajakku untuk menemaninya lagi bersama Saskia dan Winda. Ini adalah ajakan Arjuna yang ketiga setelah sebelumnya aku tolak dengan berbagai alasan.Selama itu, Winda dan aku kadang bertukar pesan. Selalu Winda yang memulai lebih dulu. Pernah satu kali kami bertemu di kantin kampus. Winda bertanya mengapa aku tidak ikut main bersama Arjuna kala itu.Akhirnya, aku menceritakan padanya bahwa aku harus membagi waktu dan tenagaku antara kuliah dan bekerja sehingga tak banyak waktu dan tenaga tersisa untuk bersenang-senang. Aku bisa melihat wajah Winda yang terkejut.Tapi di luar dugaanku, dia tetap ramah dan tetap berkirim pesan padaku. Winda bahkan lebih aktif mengajakku ikut kali ini dibandingkan Arjuna.Aku berjalan ke pelataran parkir mobil yang dikatakan oleh Arjuna tadi. Di jam terakhir, kami memiliki mata kuliah yang berbeda sehingga dia memintaku untuk lan

  • Antara Hati dan Janji   4. Gadis Kota

    Saka POV“Kemana kita akan pergi?” tanyaku pada Arjuna yang memberiku sebuah helm. Dia sendiri sudah siap di atas motor sport berwarna merah.“Ayo naik. Kita akan mengambil mobil dulu di rumah pamanku, lalu menjemput Saskia dan temannya. Sudah ikut saja, pasti lebih seru dibandingkan diam di dalam kos sendirian.”Saskia... nama pacar Arjuna kah itu? Aku menuruti perintahnya. Motor merah membawa kami keluar pelataran parkir kampus lalu meninggalkannya jauh di belakang.Rumah paman Arjuna besar dan mewah. Aku menunggu di garasi mobil saat Arjuna memarkir motor lalu masuk ke dalam. Ada banyak atribut bertuliskan merek sebuah kendaraan roda tiga dan motor listrik buatan Indonesia di rumah pamannya. Mungkin pamannya salah satu pimpinan di sana.Dia bilang tak akan lama, dan seperti yang dia katakan, tak lama kemudian Arjuna sudah keluar kembali. Tak ada orang yang mengikutinya dari dalam. Arjuna lalu masuk dalam sebuah city car berwarna putih, menghidupkan mesinnya tanpa menutup pintu, lal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status