Share

Bab 2

Author: Anonima
Aku tidak bisa menggambarkan perasaan yang menguasai hatiku saat ini, apakah ini kemarahan yang luar biasa, ataukah kesedihan?

Satu-satunya yang bisa kurasakan hanyalah ujung jari yang mengepal di telapak tanganku gemetar hebat karena tenaga yang terlalu kuat.

Seakan pada detik berikutnya, kuku-kuku itu akan menancap dalam-dalam ke daging.

Dengan susah payah, kuambil ponselku dan menghubungi Ivan.

Ivan melepaskan satu tangannya yang tengah memeluk Maira, lalu melirik layar ponselnya dengan tatapan acuh tak acuh.

Begitu melihat itu adalah panggilan dariku, Ivan langsung menutupnya tanpa ragu sedikit pun.

Aku tidak rela. Setelah terdiam beberapa saat, aku mencoba menelepon Maira.

Suara Maira yang manja dan menggoda terdengar dari ujung telepon.

"Halo, Dinda? Kamu sudah sampai di Bar Ziva?"

Ivan sepertinya tidak menyangka Maira akan memanggilku untuk datang. Begitu mendengar perkataan Maira, raut wajah Ivan langsung menjadi tegang dan Ivan terlihat sangat tidak nyaman.

Apa Ivan masih belum berniat jujur kepadaku?

Tiba-tiba, aku berubah pikiran.

Pertanyaan-pertanyaan yang tadinya menyumbat tenggorokan, yang hampir bisa merusak hubungan, akhirnya saat terucap melalui telepon pun berubah.

"Maira, tiba-tiba aku ada urusan mendadak. Aku nggak bisa jemput kamu."

Aku melihat Maira tampak sangat kecewa. Dia memeluk Ivan yang ada di sampingnya dengan lebih erat, sementara nada bicaranya dibuat-buat agar terdengar makin sedih.

"Ugh … jangan gitu dong! Bukankah kamu sahabat terbaikku? Urusan apa sih yang bisa lebih penting dibanding aku yang baru putus cinta ini?"

"Dinda, aku sedih banget sampai rasanya mau mati. Datanglah ke sini menemaniku!"

Sepertinya, Maira benar-benar sudah tidak sabar lagi.

Maira ingin memanfaatkan sandiwara putus cinta malam ini untuk memaksa Ivan menghadapinya langsung dan memilih salah satu di antara kami.

Akan tetapi, aku tidak memberinya kesempatan itu.

Tanpa memberikan tanggapan apa pun, aku langsung menutup teleponnya.

Begitu memastikan panggilan telepon antara aku dan Maira berakhir, Ivan segera mendorong Maira menjauh. Ivan lalu mengambil ponselnya dan bergegas keluar dari pintu bar.

Aku mengikutinya dari kejauhan dan ikut melangkah keluar.

Pada saat yang sama, di layar ponselku, langsung muncul panggilan masuk dari "Sayangku".

Aku menekan tombol jawab.

Di ujung telepon, suara Ivan terdengar begitu lembut dan penuh kasih seperti biasanya.

"Sayang, maaf ya. Tadi kami lagi rapat, jadi aku nggak bisa angkat teleponmu."

"Sayang, kamu meneleponku apa ada urusan mendesak?"

Panggilan "Sayang" yang bertubi-tubi dan penuh kelembutan itu langsung meruntuhkan pertahananku hingga air mataku nyaris tumpah.

Aku menengadah tanpa suara, menarik napas dalam-dalam dengan sekuat tenaga, berusaha keras menahan keinginan untuk menangis yang begitu kuat.

Setelah beberapa saat, barulah aku bisa berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa dan berkata dengan tenang, "Ya, lumayan mendesak."

"Maira putus cinta …. Dia mabuk di Bar Ziva dan minta aku menjemputnya. Tapi, aku lagi ada urusan dan nggak bisa pergi."

"Gimana kalau kamu aja yang jemput dia?"

Setelah mengatakan itu, aku memejamkan mata.

Aku dan Ivan sama-sama berasal dari keluarga yang berantakan, hancur hingga ke titik nadir.

Ayahku adalah seorang penjudi yang hidupnya hancur.

Saat aku masih SD, demi melunasi utang-utangnya, Ayah menggadaikan ibuku kepada penagih utang untuk dijual ke luar negeri.

Belakangan, setelah tetangga menyadari hal itu dan melapor ke polisi, Ayah melarikan diri karena takut dihukum. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat orang tuaku.

Sementara, ayah Ivan adalah seorang pecandu alkohol yang selalu melakukan kekerasan dalam rumah tangga setiap kali dia mabuk.

Saat Ivan masih SMP, ayahnya tidak sengaja memukul ibunya hingga tewas, lalu dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Pada usia 17 tahun, saat pembagian kelas baru di bangku kelas 11 SMA, garis hidupku dan Ivan yang sama-sama hancur, bersinggungan untuk pertama kalinya.

Sejak saat itu, kami saling menyelamatkan satu sama lain. Kami menganggap satu sama lain sebagai satu-satunya anggota keluarga tempat kami bisa bersandar dan mencari kehangatan.

Kami saling mendukung melewati masa-masa tersulit, hingga akhirnya berhasil masuk ke universitas unggulan yang sama.

Sebelum malam ini, dalam benakku, meski seluruh dunia mengkhianatiku, Ivan tidak akan mungkin mengkhianatiku.

Ivan bukan hanya kekasihku. Dia juga penopang yang kokoh di belakangku.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 11

    Di bawah pengelolaan kami secara bersama-sama selama setahun ini, perusahaan Rama berhasil menembus jajaran teratas di tingkat nasional.Rama pun kini menjadi CEO dengan kekayaan bersih puluhan triliun, yang namanya terkenal di daftar orang terkaya.Tidak ada seorang pun yang berani mengabaikan kata-katanya.Media-media ini awalnya berniat memanfaatkan momen rekonsiliasi Ivan untuk mendapatkan berita eksklusif yang menghebohkan.Namun, setelah menyadari rencana tersebut tidak akan berhasil, mereka langsung membubarkan diri bagai kawanan burung yang terkejut. Dalam waktu kurang dari setengah menit, mereka sudah menghilang dari perusahaan kami.Beberapa petugas keamanan perusahaan juga datang di saat yang tepat. Mereka memapah Ivan yang tampak seperti kehilangan jiwanya menyerupai mayat hidup, lalu mengusirnya keluar pintu.Belakangan, berkat kegigihan dan bujukan Rama yang tanpa henti, aku pun dengan berat hati menyetujui permintaannya untuk mengadakan pesta pernikahan susulan.Di atas

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 10

    Rama tidak membohongiku.Setelah aku mulai bekerja di perusahaannya, karena cakupan bisnisnya yang sangat mirip, program yang kubuat hampir tidak memerlukan revisi dan langsung bisa diterapkan.Pada kuartal tersebut, pendapatan perusahaan meningkat dua kali lipat, memecahkan rekor pertumbuhan terbesar sejak perusahaan itu didirikan.Melalui seleksi terbuka dan pemungutan suara anonim dari rekan-rekan kerja, aku langsung dipromosikan menjadi Manajer Umum Departemen Pemasaran.Setahun kemudian, pekerjaan dan hidupku secara bertahap mulai kembali ke jalur yang benar ….Tepat di saat aku mengira aku dan Ivan tidak akan pernah lagi bersinggungan di kehidupan ini ….Tak disangka, di suatu pagi, sesaat setelah aku masuk ke kantor, aku melihat sekretarisku berlari ke arahku dengan panik sambil membawa tablet untuk melapor."Bu Dinda, berita di internet hari ini heboh banget, itu …."Belum sempat sekretarisku itu menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara keributan di pintu masuk perusahaan. Bah

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 9

    "Rama …. Bonekaku hilang! Boneka peninggalan ibuku hilang! Aku harus cari …."Tiba-tiba, seruan manja yang antusias di belakang memotong ucapanku, "Kak Rama! Kenapa Kakak di sini? Kapan Kakak kembali ke negara ini?"Rama tidak melepaskan dekapannya padaku. Dia hanya mengerutkan kening sambil menoleh ke arah sumber suara.Maira langsung menanggalkan wajah angkuhnya yang sebelumnya, lalu kembali memasang ekspresi malu-malu yang seperti biasa."Kak Rama, Kakak nggak ingat aku?""Aku adik kelasmu, Ira! Waktu SMA, aku lama banget ngejar kamu sebelum akhirnya pindah sekolah."Suara Rama yang sedingin es terdengar dari atas kepalaku."Nggak kenal dan nggak tertarik untuk kenal."Dekapan Rama pada tubuhku makin erat dan nada bicaranya kembali lembut seperti biasa."Dinda, barang ibumu itu hilang di mana? Aku akan bantu cari.""Di tempat sampah koridor luar …."Tanpa ragu sedikit pun, Rama berbalik menemaniku ke koridor, lalu mengaduk-aduk tempat sampah umum satu per satu.Keringat bercucuran d

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 8

    "Kalian semua dengarkan baik-baik! Aku tanya sekali lagi, di mana boneka badutku?!""Aduh, kok kamu galak banget sih! Bonekamu ada padaku, Dinda sayang!"Suara manja, tetapi bernada menantang itu terdengar di belakangku.Lantaran terlalu fokus mencari barang peninggalan ibuku, aku tidak menyadari sejak kapan Maira masuk ke kantor.Di belakangnya, berdiri Ivan yang terlihat begitu kuyu.Ivan yang semula berjalan di belakang dengan kondisi kuyu, langsung terlihat bersemangat begitu mendengar namaku.Dia berlari menghampiriku dan hendak menarik tanganku seperti biasa, tetapi secara refleks aku langsung menghindar.Tubuhnya sangat kotor, aku tidak sudi lagi menyentuhnya.Setelah tangannya hanya meraih udara kosong, tatapan mata Ivan terlihat kosong untuk sesaat, sementara mulutnya terus bergumam tiada henti, "Sayang, ini nggak seperti yang kamu bayangkan! Aku dan Maira ….""Semalam, aku juga ada di Bar Ziva!"Aku tidak memberi Ivan kesempatan untuk terus merangkai kebohongan dan langsung t

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 7

    Aku langsung tertegun untuk sesaat.Adik perempuan yang belum pernah kulihat ini, bagaimana bisa mengenalku?Rama terbatuk beberapa kali di belakangku, lalu menambahkan, "Ehem, aku sudah bilang lewat WhatsApp ke adikku kalau kamu akan menginap di sini untuk sementara waktu. Mungkin dia masih linglung karena baru bangun tidur, jadi dia lupa.""Bohong! Tadi pagi waktu cek ponsel, aku cuma lihat Kakak mentransfer 100 juta dan menyuruhku pergi liburan bareng teman-teman!"Rama yang kebohongannya terbongkar di tempat, langsung terlihat pucat pasi.Namun, adiknya terus saja mengoceh dan berniat terus mengadu kepadaku, "Kak Dinda, Kakak nggak tahu ya kalau kakakku ini sejak SMA sudah suka ….""Bicara sembarangan lagi, transferannya akan langsung kubatalkan sekarang juga!"Hanya dengan kalimat itu, Rama berhasil membuat adiknya terdiam dan langsung berubah menjadi terlihat patuh."Ah, aku salah ingat! Kakakku baru tadi pagi memperkenalkanku padamu, Kak Dinda!""Namaku Caca Hastanta. Tenang saj

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 6

    "Sayang, dengan kemampuanku sekarang, aku cuma bisa kasih kamu berlian satu karat ini.""Tapi, aku janji, di hari lamaran nanti, aku akan melamarmu dengan cincin berlian yang paling besar dan paling berkilau!""Dinda, selamanya aku cuma akan mencintaimu. Aku pasti akan membuatmu hidup bahagia sebagai istri orang kaya!"Saat ini, janji manis dan cincinnya … sudah kulepaskan.Aku memilih untuk pergi tanpa menoleh lagi ke belakang ….Aku menyeret koper yang berat, berjalan menyusuri jalanan pada jam empat pagi tanpa tujuan.Sejak SD, aku sudah tidak punya keluarga. Sekarang, setelah kehilangan satu-satunya orang yang kucintai, aku tidak tahu lagi ke mana harus pulang.Setelah berjalan cukup lama, tanpa sadar, aku tiba di depan sebuah hotel.Sepertinya, aku hanya bisa menginap di hotel.Baru saja hendak melangkah masuk, seseorang berjalan keluar dan memanggil namaku."Dinda!"Aku tersadar dari lamunanku dan mendapati orang itu ternyata musuh bebuyutan Ivan, Rama Hastanta.Sejak Ivan mulai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status