Share

Bab 3

Author: Anonima
Saat ini, meski mata kepalaku melihatnya sendiri, meski telingaku mendengarnya sendiri ….

Aku masih merasa perselingkuhan Ivan itu mustahil dan tidak masuk akal, bagaikan sebuah dongeng.

Bagaimana mungkin Maira bisa menyusup ke tengah-tengah hubunganku dan Ivan yang begitu tak tergoyahkan, tanpa sedikit pun kusadari?

Maira bilang, dia sudah menunggu Ivan selama tujuh tahun.

Lalu, bagaimana dengan Ivan? Apa selama ini dia mengetahuinya?

Lalu, sejak tahun keberapakah mereka mulai menjalin hubungan intim ….

Semua keresahan itu terus berputar-putar di dalam benakku, membuat kepalaku terasa begitu sakit, seperti mau pecah.

Perasaanku kepada Ivan selama tujuh tahun ini sudah meresap jauh ke dalam darah, sudah melampaui sekadar cinta biasa.

Aku bahkan mulai memunculkan harapan yang menipu diri sendiri.

Seandainya Ivan memilih untuk berhenti sebelum melakukan kesalahan lebih jauh, lalu berterus terang kepadaku bahwa saat ini dia sedang berada di Bar Ziva bersama Maira ….

Maira mabuk dan hilang kendali. Dia mengocehkan banyak hal yang hanya ada dalam khayalannya sendiri.

Ivan tidak ingin menyakiti perasaan sahabat terdekatku itu. Itulah sebabnya, Ivan tidak mendorongnya, saat Maira memeluknya sambil menangis.

Yang lainnya juga hanya sedang mabuk, lalu melontarkan candaan yang sudah melampaui batas.

Jika Ivan berani menjamin kepadaku, bahwa hubungannya dengan Maira bukanlah seperti yang kubayangkan ….

Aku akan memilih untuk percaya pada Ivan.

Aku bisa saja berpura-pura seakan malam ini tidak pernah datang ke Bar Ziva.

Akan tetapi, di ujung telepon, Ivan menjawab dengan nada suara yang begitu tenang, "Oke, aku akan berangkat dari kantor sekarang untuk menjemputnya."

Aku seakan mendengar hatiku hancur berkeping-keping.

Kebohongan Ivan yang terus berlanjut benar-benar membangunkan sisa-sisa akal sehatku.

Satu-satunya orang di dunia ini yang bisa kupercayai ... benar-benar sudah tidak ada lagi!

Air mataku tidak bisa lagi kubendung, tumpah bagaikan tanggul yang jebol.

Setelah mematikan telepon, pikiranku makin kosong. Aku berjalan ke tengah jalan raya dalam keadaan setengah sadar.

Pada saat ini, aku benar-benar berkeinginan untuk mati.

Entah sudah berapa lama aku berjalan, saat kembali menengadah, aku menyadari diriku sudah berdiri di depan pintu rumah yang kutinggali bersama Ivan.

Begitu mendorong pintu dan masuk, dekorasi berwarna keemasan seperti sampanye yang memenuhi ruangan, langsung menusuk mataku.

Aku hampir lupa, hari ini seharusnya menjadi hari di mana aku melamar Ivan ….

Di tengah ruang tamu, tergantung gaun pengantin yang sudah kupesan secara khusus sejak setengah tahun yang lalu.

Aku sengaja meminta penjahitnya untuk menyulam inisial nama kami, ID, pada bagian bawah gaun dengan menggunakan benang emas.

Sebelum lulus kuliah, Ivan berkali-kali berjanji kepadaku bahwa dia akan memberiku sebuah pesta pernikahan yang megah.

Ivan bilang dalam hidup ini, dia hanya pernah mencintai satu orang saja, yaitu aku.

Asalkan bisa melindungiku dengan baik dan membuatku hidup bahagia dan sempurna, Ivan rela melakukan apa saja.

Sejak hari itu, siang dan malam aku menanti-nantikan bisa mengenakan gaun pengantin, menikah dengan laki-laki yang kucintai sejak usia 17 tahun dengan restu semua orang, untuk bersama dengannya selamanya.

Namun kemudian, saat akhirnya lulus kuliah, Ivan sudah mulai merintis bisnisnya sendiri.

Ivan mengatakan, masa-masa awal mendirikan perusahaan sangatlah sulit dan tekanannya sangat besar, sehingga dia memintaku untuk menunggunya satu tahun lagi.

Sekarang, setahun sudah berlalu.

Namun, yang tersisa hanyalah penantian. Janji masa muda itu hanyalah seperti pasir di genggaman tangan.

Meski sudah digenggam dengan sangat erat, entah sejak kapan semuanya lenyap dan habis dari sela-sela jari.

Kuambil gaun pengantin itu dari gantungan, lalu berbalik dan melemparkannya ke tempat sampah.

Hidangan yang sudah kusiapkan dengan hati-hati sepanjang hari juga kutumpahkan satu per satu ke atasnya, sampai pinggiran gaun yang putih bersih itu benar-benar tenggelam dalam kotoran.

Sama seperti cinta kami yang sudah ternoda, kini semuanya tidak ada lagi.

Sambil memegang gunting, aku menusuk balon-balon lamaran berwarna keemasan seperti sampanye itu satu demi satu. Suara letusannya bergema memenuhi ruang tamu.

Akhirnya, tatapanku tertuju pada spanduk yang bertuliskan: [Ivan, maukah kamu menikahi Dinda?]

Tanganku masih terus gemetar tanpa bisa kukendalikan.

Ujung gunting itu perlahan-lahan menyayat dua nama, Ivan dan Dinda.

Di sisa hidup ini, kami terputus selamanya ….
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 11

    Di bawah pengelolaan kami secara bersama-sama selama setahun ini, perusahaan Rama berhasil menembus jajaran teratas di tingkat nasional.Rama pun kini menjadi CEO dengan kekayaan bersih puluhan triliun, yang namanya terkenal di daftar orang terkaya.Tidak ada seorang pun yang berani mengabaikan kata-katanya.Media-media ini awalnya berniat memanfaatkan momen rekonsiliasi Ivan untuk mendapatkan berita eksklusif yang menghebohkan.Namun, setelah menyadari rencana tersebut tidak akan berhasil, mereka langsung membubarkan diri bagai kawanan burung yang terkejut. Dalam waktu kurang dari setengah menit, mereka sudah menghilang dari perusahaan kami.Beberapa petugas keamanan perusahaan juga datang di saat yang tepat. Mereka memapah Ivan yang tampak seperti kehilangan jiwanya menyerupai mayat hidup, lalu mengusirnya keluar pintu.Belakangan, berkat kegigihan dan bujukan Rama yang tanpa henti, aku pun dengan berat hati menyetujui permintaannya untuk mengadakan pesta pernikahan susulan.Di atas

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 10

    Rama tidak membohongiku.Setelah aku mulai bekerja di perusahaannya, karena cakupan bisnisnya yang sangat mirip, program yang kubuat hampir tidak memerlukan revisi dan langsung bisa diterapkan.Pada kuartal tersebut, pendapatan perusahaan meningkat dua kali lipat, memecahkan rekor pertumbuhan terbesar sejak perusahaan itu didirikan.Melalui seleksi terbuka dan pemungutan suara anonim dari rekan-rekan kerja, aku langsung dipromosikan menjadi Manajer Umum Departemen Pemasaran.Setahun kemudian, pekerjaan dan hidupku secara bertahap mulai kembali ke jalur yang benar ….Tepat di saat aku mengira aku dan Ivan tidak akan pernah lagi bersinggungan di kehidupan ini ….Tak disangka, di suatu pagi, sesaat setelah aku masuk ke kantor, aku melihat sekretarisku berlari ke arahku dengan panik sambil membawa tablet untuk melapor."Bu Dinda, berita di internet hari ini heboh banget, itu …."Belum sempat sekretarisku itu menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara keributan di pintu masuk perusahaan. Bah

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 9

    "Rama …. Bonekaku hilang! Boneka peninggalan ibuku hilang! Aku harus cari …."Tiba-tiba, seruan manja yang antusias di belakang memotong ucapanku, "Kak Rama! Kenapa Kakak di sini? Kapan Kakak kembali ke negara ini?"Rama tidak melepaskan dekapannya padaku. Dia hanya mengerutkan kening sambil menoleh ke arah sumber suara.Maira langsung menanggalkan wajah angkuhnya yang sebelumnya, lalu kembali memasang ekspresi malu-malu yang seperti biasa."Kak Rama, Kakak nggak ingat aku?""Aku adik kelasmu, Ira! Waktu SMA, aku lama banget ngejar kamu sebelum akhirnya pindah sekolah."Suara Rama yang sedingin es terdengar dari atas kepalaku."Nggak kenal dan nggak tertarik untuk kenal."Dekapan Rama pada tubuhku makin erat dan nada bicaranya kembali lembut seperti biasa."Dinda, barang ibumu itu hilang di mana? Aku akan bantu cari.""Di tempat sampah koridor luar …."Tanpa ragu sedikit pun, Rama berbalik menemaniku ke koridor, lalu mengaduk-aduk tempat sampah umum satu per satu.Keringat bercucuran d

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 8

    "Kalian semua dengarkan baik-baik! Aku tanya sekali lagi, di mana boneka badutku?!""Aduh, kok kamu galak banget sih! Bonekamu ada padaku, Dinda sayang!"Suara manja, tetapi bernada menantang itu terdengar di belakangku.Lantaran terlalu fokus mencari barang peninggalan ibuku, aku tidak menyadari sejak kapan Maira masuk ke kantor.Di belakangnya, berdiri Ivan yang terlihat begitu kuyu.Ivan yang semula berjalan di belakang dengan kondisi kuyu, langsung terlihat bersemangat begitu mendengar namaku.Dia berlari menghampiriku dan hendak menarik tanganku seperti biasa, tetapi secara refleks aku langsung menghindar.Tubuhnya sangat kotor, aku tidak sudi lagi menyentuhnya.Setelah tangannya hanya meraih udara kosong, tatapan mata Ivan terlihat kosong untuk sesaat, sementara mulutnya terus bergumam tiada henti, "Sayang, ini nggak seperti yang kamu bayangkan! Aku dan Maira ….""Semalam, aku juga ada di Bar Ziva!"Aku tidak memberi Ivan kesempatan untuk terus merangkai kebohongan dan langsung t

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 7

    Aku langsung tertegun untuk sesaat.Adik perempuan yang belum pernah kulihat ini, bagaimana bisa mengenalku?Rama terbatuk beberapa kali di belakangku, lalu menambahkan, "Ehem, aku sudah bilang lewat WhatsApp ke adikku kalau kamu akan menginap di sini untuk sementara waktu. Mungkin dia masih linglung karena baru bangun tidur, jadi dia lupa.""Bohong! Tadi pagi waktu cek ponsel, aku cuma lihat Kakak mentransfer 100 juta dan menyuruhku pergi liburan bareng teman-teman!"Rama yang kebohongannya terbongkar di tempat, langsung terlihat pucat pasi.Namun, adiknya terus saja mengoceh dan berniat terus mengadu kepadaku, "Kak Dinda, Kakak nggak tahu ya kalau kakakku ini sejak SMA sudah suka ….""Bicara sembarangan lagi, transferannya akan langsung kubatalkan sekarang juga!"Hanya dengan kalimat itu, Rama berhasil membuat adiknya terdiam dan langsung berubah menjadi terlihat patuh."Ah, aku salah ingat! Kakakku baru tadi pagi memperkenalkanku padamu, Kak Dinda!""Namaku Caca Hastanta. Tenang saj

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 6

    "Sayang, dengan kemampuanku sekarang, aku cuma bisa kasih kamu berlian satu karat ini.""Tapi, aku janji, di hari lamaran nanti, aku akan melamarmu dengan cincin berlian yang paling besar dan paling berkilau!""Dinda, selamanya aku cuma akan mencintaimu. Aku pasti akan membuatmu hidup bahagia sebagai istri orang kaya!"Saat ini, janji manis dan cincinnya … sudah kulepaskan.Aku memilih untuk pergi tanpa menoleh lagi ke belakang ….Aku menyeret koper yang berat, berjalan menyusuri jalanan pada jam empat pagi tanpa tujuan.Sejak SD, aku sudah tidak punya keluarga. Sekarang, setelah kehilangan satu-satunya orang yang kucintai, aku tidak tahu lagi ke mana harus pulang.Setelah berjalan cukup lama, tanpa sadar, aku tiba di depan sebuah hotel.Sepertinya, aku hanya bisa menginap di hotel.Baru saja hendak melangkah masuk, seseorang berjalan keluar dan memanggil namaku."Dinda!"Aku tersadar dari lamunanku dan mendapati orang itu ternyata musuh bebuyutan Ivan, Rama Hastanta.Sejak Ivan mulai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status