Home / Romansa / Antara Kamu dan Putraku / Bab 25 Kwitansi Pembayaran

Share

Bab 25 Kwitansi Pembayaran

Author: Weneedta
last update Last Updated: 2025-12-21 16:42:23

Penasaran dengan kertas itu, Elena segera membukanya. Kedua matanya menyipit membaca tulisan di sana.

PAYMENT RECEIPT

Guest Name: Damar Setiawan

Room/Type: Deluxe

Check in: 29/10/202x

Rate: 3 hours

“Ini ‘kan tanggal kemarin,” gumam Elena.

Ingatannya meluncur pada sore hari kemarin. Damar mengantar ibunya ke stasiun dan pulang tengah malam.

Elena memegang kertas itu dengan ekspresi bingung. “Ini kwitansi pembayaran hotel. Untuk apa Mas Damar berada di sana?”

Beberapa saat kemudian, Elena menutup mulut dengan satu tangannya. Dia terhenyak di kursi yang berada dekat mesin cuci.

“Mas Damar cek in di hotel selama tiga jam?”

Elena menggeleng seolah tidak percaya. Matanya menatap lagi kertas yang masih berada di tangan.

“Apa selama tiga hari kemarin Mas Damar juga tidur di hotel? Dengan siapa?”

Dia menggeleng lagi. “Jadi Mas Damar bukan lembur karena pekerjaan? Apa seperti itu?”

Elena terus memikirkannya. Berbagai pertanyaan melintas di benaknya.

“Ma, apa kita makan malam menunggu Papa pulan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 50 Orang Tua Aldo

    “Tidak. Aku sudah biasa melihat ini.”“Oya? Siapa? Suami kamu?”Elena mengangguk. “Aku tidak masalah dengan minuman alkohol. Aku juga beberapa kali minum cocktail. Yang penting bagiku, jangan sampai mabuk.”Kening Aldo berkerut. “Suami kamu sering pulang dalam keadaan mabuk?”“Hampir setiap minggu. Sabtu Mas Damar masuk kerja seperti biasa. Malamnya dia dan teman-temannya sering mampir ke bar. Tidak mabuk yang parah sih, karena Mas Damar masih bisa menyetir pulang.”“Hmm, tapi itu cukup bahaya. Kebetulan saja, sejauh ini dia masih beruntung.”Elena terdiam sesaat, sebelum membuka mulutnya. “Sudahlah, kita tidak perlu membahas dia lagi.”“Tentu, Sayang.” Aldo mengecup pipi Elena. “Apalagi aku. Saat ini aku hanya ingin kamu memikirkan kita berdua.”Elena melepaskan tangan Aldo yang berada di pinggangnya, lalu berbalik menatapnya. Jika itu keinginan Aldo, rasanya tidak mungkin. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa menyingkirkan Justin dari pikirannya. Namun dia tidak ingin membahasnya denga

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 49 Sisi Lain dari Aldo

    Aldo yang juga mendengar suara perut Elena, spontan tertawa. “Iya, Sayang. Kita makan sekarang. Kasihan, sudah jauh-jauh dibawa ke sini, masa sampai kelaparan begitu?”Elena memukul lengan Aldo. “Betul. Kamu harus tanggung jawab, Do. Nanti aku makin kurus, kamu tidak suka. Terus cari perempuan lain!”“Hahahaha … tidak mungkin, Sayang. Cinta aku hanya buat kamu.”Cup!Aldo mencuri kecupan dari bibir Elena. “Tenang saja. Aku bisa bikin kamu gemukkan lagi.”Elena terkesiap, tak lama dia bangkit berdiri. “Ayo! Aku sudah lapar.”Tadi pagi dia tidak sempat sarapan karena terburu-terburu ke bandara. Mereka janjian bertemu di sana.Aldo ikut bangkit berdiri, kemudian mereka berjalan ke arah resort.“Kita makan di mana?” tanya Elena sambil mengelap keningnya dengan tisu. “Jangan jauh-jauh ya, Do. Aku tidak tahan panasnya.”“Kita mesti keluar dari sini. Ada beberapa resort yang sudah buka, jadi kita makan di sana.”Tidak sampai lima menit, mereka sudah tiba di resort.“Kamu tunggu sebentar ya,”

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 48 Bungalow

    “Tidak ada insentif, Mas. Aku pergi bersama atasanku. Semua biaya perjalanan dan untuk operasional di sana, dia yang urus.”“Jadi kamu tidak dibekali uang sama sekali?”“Iya.”Sesaat Damar terdiam. Dia tidak percaya begitu saja dengan ucapan istrinya. Elena bekerja di perusahaan itu sudah hampir lima tahun. Masa ditugaskan keluar kota tidak dikasih insentif?“Hmm, kantor kamu payah,” ucap Damar akhirnya, sambil berjalan keluar kamar.Elena memerhatikan suaminya sampai menghilang dari pandangan.“Kamu yang payah, Mas,” gumamnya dengan kesal. “Aku tinggal berapa hari saja, masih minta uang. Padahal untuk keperluan rumah, sudah aku siapkan semuanya.”Seandainya benar ditugaskan keluar kota dan diberi uang saku atau insentif, dia juga tidak akan mengakuinya pada Damar.Elena menghela napas panjang, lalu kembali menyiapkan segala keperluannya yang akan dibawa besok.Setengah jam kemudian, Elena mengetuk pintu kamar Justin. Setelah mendengar suara dari dalam kamar, dia membuka pintu dan men

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 47 Hanya Peduli pada Uang

    Perasaan bersalah kepada Justin, makin mendera Elena. Hatinya merasa sangat tidak enak.Jahat sekali kamu, Lena. Teganya kamu pada putramu sendiri .... Nuraninya berkata, menyalahkan dirinya. Ini pertama kali dia membohongi putranya.Elena mengangkat kembali wajahnya, menatap suami dan putranya. Namun hati kecilnya terus berbicara, hingga membuatnya bimbang.‘Apa aku batalkan saja? Tapi bagaimana dengan kantor? Aku keburu mengajukan cuti …. Lalu Mas Damar? Apa nantinya tidak jadi pertanyaan? Bisa-bisa Mas Damar curiga …. Belum dengan Ibu. Pasti Ibu akan bertanya macam-macam.’‘Ahhh … sepertinya tidak mungkin untuk mundur lagi. Aku salah, hanya memikirkan egoku sendiri. Aku berjanji, ini pertama dan terakhir kalinya aku meninggalkan Justin berhari-hari.’Elena menatap suaminya. Detik berganti detik, hingga menit pun terlewati. Dia heran sekaligus gelisah karena Damar tidak bertanya-tanya lagi.“Mas, bagaimana? Kok kamu diam saja aku akan pergi?”Pertanyaannya terlontar juga. Namun dia

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 46 Demi Sebuah Keinginan

    Elena menggeleng. “Sepertinya aku tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan Justin.”Dia merasa berat meninggalkan putra semata wayangnya. Hingga Justin seusia sekarang, tak pernah sekalipun dia pergi sampai menginap. Kecuali bermalam di rumah ibu atau saudara kandungnya. Itupun juga mengajak Justin.“Jadi kamu benar-benar tidak bisa?”“Maaf, Do. Tapi aku sungguh tidak bisa.”Aldo menghela napas panjang. “Baiklah. Aku tidak ingin memaksa kamu, Sayang.”Meskipun kecewa, dia dapat mengerti alasan Elena. Bagaimanapun, kekasihnya itu adalah seorang ibu, yang pasti lebih mengutamakan anaknya.Suasana menjadi hening. Elena tampak canggung. Dia merasa tidak enak hati karena dapat melihat kekecewaan di wajah Aldo. Namun harus bagaimana lagi? Tidak mungkin dia mementingkan dirinya sendiri ataupun Aldo, ketimbang anaknya.Keheningan di antara mereka dipecahkan dengan kedatangan seorang pelayan yang mengantarkan pesanan mereka. Setelah pelayan itu berlalu, Elena masih diam. Dia hanya menatap mangk

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 45 Cinta dalam Hidupku

    Elena segera membuka aplikasi taksi online pada ponselnya. Dia juga tidak ingin membuat putranya terlambat.“Sebentar lagi mobilnya sampai, Justin.” Elena menghela napas lega. “Yuk, kita tunggu di depan. Pamit dulu sama Nenek.”Setelah berpamitan pada Ratih, mereka menunggu di depan pagar. Selang beberapa detik, mobil yang ditunggu akhirnya tiba.Sepanjang perjalanan, Elena memikirkan ucapan Justin. Batinnya menangis karena telah menyeret putra satu-satunya ke dalam permasalahan dia dan Damar. Dia juga merasa gagal memberikan kebahagiaan pada putranya.Sebenarnya apa lagi yang bisa diharapkan dari pernikahan ini? Damar sudah berubah, bukan orang yang sama yang mengulurkan tangan saat dia terpuruk dua belas tahun silam. Cinta yang diberikan Damar juga sudah lama menguap tak bersisa.Namun Elena menyadari, tidak ada anak yang menghendaki perpisahan orang tuanya. Dia mengkhawatirkan dampak psikologis yang akan terjadi pada putranya.Elena mendesah pelan. Wajahnya tampak rumit.Belum berp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status