แชร์

Bagian 5 Kecupan Pagi Yang Terlambat

ผู้เขียน: Zizizaq
last update วันที่เผยแพร่: 2024-05-29 15:47:09

Keesokan paginya, Celine terbangun tanpa Evan di sampingnya. Ia bergegas menuju kamar mandi, lalu bersiap-siap untuk bekerja. Ia keluar setelah rapi dengan penampilannya. Ternyata ada Evan di ruang makan sedang bersama Jenny. Sepertinya paginya akan sering disuguhi pemandangan yang tidak menyenangkan ini. Evan tengah menyuapi Jenny ketika Celine lewat. Evan juga mengecup kening Jenny dengan penuh cinta, hal yang tidak pernah ia dapatkan di sepanjang pernikahannya. Celine hanya bisa pura-pura tidak melihat. Tapi Evan sudah terlanjur menyadarinya dan merasa sangat tidak nyaman dengan itu. Ia pun berinisiatif mendekati Celine.

"Ada apa? Aku harus pergi kerja," ucap Celine dengan acuh tak acuh. Dulu Celine tidak seperti ini. Dulu ia selalu bersemangat menanggapi Evan. Matanya selalu berbinar saat Evan melakukan hal sekecil apa pun untuknya, walaupun hanya pertanyaan 'mau ke mana?' karena bahkan pernyataan sesimpel itu pun sangat jarang didengarnya dari seorang Evan.

"Tunggu sebentar saja," ucap Evan santai.

"Ya sudah, cepat katakan kamu mau apa? Aku tidak punya banyak waktu," Celine terdengar tidak sabar.

"Tetap di tempatmu," pinta Evan.

"Katakan saja, cep..." Celine berhenti begitu kecupan Evan mendarat di keningnya. Hal yang belum pernah ia dapatkan selama pernikahannya, mengecup atau dikecup sebelum bepergian. Hati Celine menghangat untuk sesaat, tapi ia tahu, Evan melakukan itu untuk menyenangkannya saja. Atau mungkin agar melepaskan rasa bersalah karena ia memergokinya mencium Jenny. Ataukah agar ia tidak lari dari sisi Evan yang masih membutuhkan peran dan tubuhnya.

"Kau sungguh sangat berusaha, Pak Evan. Tapi aku benar-benar tidak mengharapkannya," Celine terdengar ketus. Ia sudah terlalu kecewa sampai hal yang seistimewa ini pun sudah tidak membuatnya senang.

"Aku hanya belajar memperlakukanmu seperti aku memperlakukan Jenny. Aku sedang berusaha berbuat adil."

"Aku benar-benar tidak membutuhkannya. Tidak apa-apa kalau seluruh perhatianmu tetap fokus untuk Jenny seperti biasanya. Lagi pula perlakuanmu padaku tidak akan pernah sama. Kau pasti sangat berusaha untukku karena aku bukan orang yang kamu cintai. Berbeda dengan Jenny, semua akan terjadi begitu saja untuknya. Berhenti saja! Jangan khawatir, kalau kamu butuh peran dan tubuhku, aku akan memberikannya."

"Apa maksudmu?" Evan mengerutkan kening. Ia tidak suka mendengar ucapan Celine.

"Kau cukup paham. Aku akan melakukan semua yang dia tidak bisa lakukan. Bukankah karena itu kau menikahiku sebagai laki-laki normal? Kau butuh peranku sebagai istri dan kau butuh tubuhku sebagai pelampiasan nafsumu."

"Kau keterlaluan, Celine." Evan ingin mengatakan sesuatu, tapi dipotong oleh Celine dengan cepat.

"Aku pergi dulu," Celine langsung pergi begitu saja.

"Argh... Kenapa semua yang aku lakukan menjadi sebuah kesalahan?" Evan benar-benar merasa frustrasi. Ia juga sangat bingung dengan perubahan drastis Celine. Dulu Celine selalu ramah dan memperlakukannya sangat baik, selalu menerima apa pun yang dia lakukan. Celine juga selalu melakukan hal-hal yang tidak perlu sebelum meninggalkannya, seperti merapikan lagi dasi dan jas yang sudah sangat rapi, misalnya. Atau menyiapkan sepatu yang disiapkan pelayan.

Di tempat lain, Celine justru berpikir, seandainya Evan memperlakukannya seperti itu sebelum ada Jenny, ia pasti akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Apa harus ada Jenny dulu baru hal-hal itu bisa datang? Lebih baik tidak usah untuk selamanya.

**_

Di kantor, para karyawan tampak semangat bekerja. Ada yang bertanggung jawab di bagian menata ruangan, mengatur penjualan, dan sebagainya. Sementara Celine tetap dengan tanggung jawabnya sebagai desainer dan sewaktu-waktu akan diberi tambahan pekerjaan sebagai pembicara juga.

"Celine! Kurasa Pak Dev menyukaimu," ucap salah seorang rekan kerja Celine, namanya Piya. Sungguh aneh kalau dia tidak bergosip saat bekerja.

"Apaan sih, Piya? Pikiranmu mulai mengacau lagi, kan?"

"Kemarin saat kau tidak ada, dia tampak gelisah. Mungkin berpikir kau akan pergi tanpa berkenalan terlebih dahulu. Waktu kamu muncul, dia tampak sangat lega," jelas Piya dengan tampang iri yang dibuat-buat.

"Piya, kau harus tahu ini," Celine menyuruh Piya mendekatkan telinganya, lalu berkata,

"Aku sudah menikah."

"Masa sih," Piya kaget. Ia tidak bisa percaya. Namun sedetik kemudian ia kembali seperti sedia kala.

"Kenapa aku baru tahu? Wah, sayang sekali. Padahal selain Pak Dev, sepertinya Pak Evan juga cukup memperhatikanmu. Ia terus menatapmu dari awal tampil sampai selesai. Tapi kuakui kamu memang keren. Sebenarnya Pak Yanto kalah telak olehmu."

"Bukan memperhatikan aku, Piya. Tapi pidatoku," protes Celine. Sementara itu Pak Yanto melototi Piya disertai suara deheman keras.

"Ehem!!!" Suara Pak Yanto membuat Piya berhenti bicara. Celine tertawa melihatnya. Bersamaan dengan itu suara telepon Pak Yanto berdering. Ia menjawab teleponnya, lalu meminta Celine untuk ikut dengannya.

"Kalau boleh tahu ada apa, Pak?" Celine merasa tidak siap sekaligus penasaran.

"Ada rapat mendadak. Harus ada perwakilan dari setiap departemen."

"Yang lain saja, Pak," tolak Celine.

"Tidak, kemarin kau yang mempresentasikan, jadi sepatutnya kamu yang harus mewakili."

"Bapak tahu siapa saja yang akan menghadiri rapat?"

"Beberapa CEO perusahaan dan beberapa investor."

"Siapa saja orangnya, Pak?"

"Mana saya tahu, ayo segera pergi dan lihatlah sendiri."

"Baik, Pak!" Celine cepat-cepat mengikuti langkah besar Pak Yanto. Meski lelaki itu sudah paruh baya, ia masih tampak segar dan tampan ditambah lagi tubuh atletisnya yang tampak menawan. Beruntungnya dia tipe pria yang bucin pada istrinya. Celine merasa memiliki seorang kakak laki-laki sejak bertemu dengannya.

Celine dan Pak Yanto masuk ke ruang rapat. Mereka duduk paling pinggir di deretan kursi para karyawan. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dengan pelan.

"Senang bertemu denganmu lagi, Nona Celine."

"Pak Dev? Senang bertemu dengan Anda juga," balas Celine dengan senyum.

Beberapa saat kemudian, seorang pria tampan juga masuk. Celine mendongak untuk melihatnya dan pandangan mereka bertemu. Evan ternyata hadir juga. Tapi langsung berlalu ke deretan kursi para VIP.

"Celine, cukup panggil aku Dev."

"Mana bisa begitu?"

"Kalau begitu, saat di luar kantor, aku berharap kita akan sering bertemu, oke!" Dev langsung pergi setelah mengatakan itu. Celine belum sempat menolak.

"Kau dengar itu, dia pasti tertarik padamu, Celine," goda Pak Yanto yang duduk di samping Celine.

"Aku sudah bersuami, Pak."

"Oh ya? Kenapa aku baru tahu? Siapa namanya? Apa pekerjaannya? Apa aku mengenalnya?" Rentetan pertanyaan Pak Yanto membuat Celine kewalahan.

Celine memilih tidak menjawab dan malah mengalihkan pembicaraan, "Sepertinya rapat akan dimulai, Pak. CEO kita sudah datang."

"Oh iya, kamu benar."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Siti Kulsum
aahhhhh,,,gemessss,,,,gemesss,,,gemessss,,,,
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 78 Terlambat Menyadari (End)

    "Ya, kamu pantas menertawakan kebodohanku," Evan merasa kesal dengan dirinya yang dulu. "Semua sudah berlalu," Celine berucap sambil mendekati Evan. "Terima kasih," Evan menatapnya penuh perhatian. "Untuk?" "Untuk semuanya, kalau dipikir-pikir sebenarnya cintaku sangat besar untukmu," "Oh iya?" "Aku sudah ditahap hampir gila demi mempertahankan hubungan pernikahan yang kamu tidak inginkan lagi, sampai Danil yang jelas-jelas rival bisnisku, aku mintai tolong untuk mengawasimu dan sempat-sempatnya aku cemburu setiap kali kamu mengobrol dengannya," "Mengawasiku?" "Aku menjadi sepecundang itu karena cinta, aku takut kamu pergi jadi aku menyuruhnya memberimu pekerjaan agar kamu tetap berada di sekitarku," "Kamu yang melakukan itu?" "Iya," "Ternyata kamu berjuang untukku?" Celine merasa terharu. "Aku melakukannya meski kekanak-kanakan?" "Aku suka, tapi ini kesempatan yang paling terakhir." "Iya, aku janji tidak akan menyakitimu lagi. Aku akan membuatmu bahagia set

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 77 Di Hatiku Cuma Kamu

    Evan dan Celine akhirnya pulang ke rumah, Evan terlihat begitu segar dan kembali mendapatkan aura berwibawa yang selalu menjadi ciri khasnya, sebelumnya ia seperti pria yang selalu takut kehilangan dan tidak pernah tenang. Sekarang apa lagi yang ia takutkan? Apa yang ia benar-benar inginkan sudah berada di tangannya, sementara Celine terkesan lebih pemalu dan mudah tersenyum tidak seperti sebelumnya, ia selalu memaksa dirinya untuk tegas dan terkesan dingin, ia sungguh memaksakan diri untuk menahan semua perasaannya. Bi Asih yang melihat keduanya datang bersama sambil bergandengan tangan sampai tersenyum-senyum sendiri, ia juga bisa menilai perubahan dari sikap dan ekspresi keduanya. "Ada apa ini?" goda Bi Asih. "Bi, bantu Celine mengangkat barang-barangnya ke kamar," ucap Evan, sebelumnya mereka sudah ke kos tempat tinggal Celine untuk mengambil barang-barang Celine, tentu saja setelah perdebatan panjang dan negosiasi yang tidak ada habisnya. "Bu Celine kembali tinggal di si

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 76 Celine Dian, Jadilah Istriku

    *Versi Revisi Good Novel - Bagian Lanjutan* "Kamu bisa menomorsatukan aku, Van?" Celine ingin meyakinkan dirinya. Evan meraih tangan Celine dan menggenggamnya untuk membuatnya yakin, kemudian ia mulai bercerita, "Sekarang di hatiku cuma kamu, Celine. Jenny sudah menjadi kenangan, Mita hanya kesalahan. Kamu yang memenuhi hatiku sekarang, misiku tentang cinta saat ini dan seterusnya cuma ingin denganmu, aku ingin membalas semua kesalahan yang aku lakukan padamu. Oke dulu aku salah, dulu aku memanfaatkan perasaanmu, waktumu, tubuhmu bahkan menyebabkan anak kita meninggal, tolong biarkan aku memperbaikinya. Kalau perlu, kamu hukum aku, tapi jangan hukum aku dengan pergi meninggalkanku lagi, itu berat, rasanya sepi, saat Jenny pergi rasa sakit yang aku terima tidak begitu dalam, saat Mita mengatakan ingin ke luar negeri, aku juga tidak terlalu mempermasalahkannya, tapi saat kamu pergi, aku merasa sakit yang tidak bisa disembuhkan, aku merasa kosong sepanjang waktu, ternyata aku butuh

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 75 Pembuktian Cinta

    Evan tidak menghubungi Celine seharian, sepertinya Celine juga tidak berniat melakukannya. Evan sudah merasakan perpisahan berkali-kali tapi kenapa kali ini cukup menyiksanya, jadi ia datang ke kantor Siregar, alasannya sudah jelas. "Apa yang kalian bicarakan?" suara itu membuat Danil yang baru saja ingin berbalik pergi dan juga Celine menoleh. "Kami membicarakanmu," Danil berlalu sambil menepuk pundak Evan. Sementara Celine langsung berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Evan tidak mengatakan apa pun, ia menarik sebuah kursi kosong lalu duduk di depan meja Celine sambil memperhatikannya. "Ayo pergi ke suatu tempat," "Aku sedang bekerja dan kamu seorang bos kamu tidak pantas duduk di sini," "Kalau Danil pantas?" "Dia bos aku, dia ke sini untuk bertanya pekerjaan dan dia tidak duduk sama sekali" "Aku tidak peduli, lagi pula aku sedang duduk di hadapan istriku." "Lakukan saja sesukamu, Evan." Celine tidak peduli lagi, ia kembali fokus dengan pekerjaannya. Evan memaju

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 74 Masuk Angin

    Evan sangat senang bisa mendampingi Celine pergi ke rumah sakit, berbanding terbalik dengan sebelumnya, kali ini ia tidak ingin melewatkan waktu sedetik pun, ia menanti di depan pintu kamar rumah sakit karena Celine melarangnya ikut masuk, refleks mendekati Celine saat melihatnya keluar bersama seorang dokter obgyn. "Bagaimana hasilnya?" Evan bertanya penuh harap. Celine diam saja dengan wajah tanpa ekspresi. "Bu Celine hanya masuk angin, Pak Evan." Evan tampak kecewa, ia lalu berkata, "Yakin sudah memeriksanya dengan baik, Dok?" "Sudah, Pak. Yang sabar ya, Pak. Masih banyak kesempatan kok, kebetulan Bu Celine sedang di masa suburnya, semangat Pak Evan!" ucap dokter. Celine tampak santai sementara Evan diam saja, ia tahu kesempatan itu pasti akan sulit ia dapatkan. "Mohon maaf masih ada pasien, saya lanjut bekerja dulu," "Silakan, Bu." ucap Celine lalu pergi mendahului Evan. Evan hanya memandangi punggung Celine yang semakin menjauh tapi ia segera menyusul dengan lang

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 73 Kemungkinan Hamil

    Evan terbangun karena merasakan pegal di punggungnya, ia mencoba membuka pintu kamar Celine yang ternyata tidak di kunci, ia memandang punggung istrinya beberapa saat, ia melangkah begitu saja seolah suasana di dalam kamar itu mengundangnya untuk masuk. Ia naik ke tempat tidur lalu meringkuk di atasnya tanpa berani menyentuh Celine. Ia selalu berhati-hati semenjak menyukai Celine, tapi Celine bergerak dan membalikkan badan ke arahnya, Evan secara tiba-tiba meluruskan tubuhnya untuk menyambut uluran tangan Celine yang akan memeluknya, selain tangan, kakinya juga bertengger nyaman di atas paha Evan, seluruh tubuh mereka menempel satu sama lain. Celine membuka mata sambil mengigau, "Kamu tampan sekali, Evan," ia menatap wajah Evan sebentar lalu menutup matanya kembali. "Kalau kamu begini, aku bisa memangsamu kapan saja," gumam Evan yang merasakan sensasi aneh di tubuhnya dan ia sangat mengerti apa itu. Ia mencoba menarik tubuhnya untuk melepaskan diri, untungnya ia berhasil. I

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 71

    Evan benar-benar hebat, ia sangat mendominasi, Celine masih belum terlalu yakin bahwa ia menikahi laki-laki tampan yang sedang berbicara dan dikagumi oleh semua orang saat ini, ia belum percaya bahwa ia telah dicintai oleh orang yang tidak pernah membalas perasaannya saat kuliah dulu, ia tidak perca

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-03
  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 72

    Evan menghampiri Celine setelah semua tamu penting itu pergi, dari tadi ia mengawasi Celine, seandainya istrinya itu meninggalkan acara, ia tidak segang meninggalkan semua tamu pentingnya untuk mengejar Celine, untungnya saat ia melihat gerak-gerik Celine akan kabur, ibunya datang. Ia benar-benar be

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-03
  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 70

    Evan baru saja keluar dari toilet, ia melambat saat melihat Mita tampak menunggunya. Keduanya terlibat saling menatap satu sama lain, Evan menatap dingin sementara Mita tampak menantang untuk berperang. "Aku ingin bicara," ucap Mita. "Silahkan," "Ayo cari tempat sepi," "Baik," Evan berjalan men

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-03
  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 25

    Celin kembali duduk di sofa sambil mengangkat kedua kakinya dan memeluk lututnya, ia tidak tau harus berbuat apa? Ia sudah sejauh ini melangkah tapi Evan tidak ingin berpisah. Perasaannya menjadi terombang-ambing. Evan di kamar menunggu Celin untuk datang, ia ingin meminta maaf karena tidak kembali

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status