Share

Bagian 8 Martua & Anak

Penulis: Zizizaq
last update Tanggal publikasi: 2024-06-11 18:11:43

Sepulang kerja, Celine mendapati mertuanya berada di rumah. Ia dan Bu Veron cukup akur. Mertua Celine bukan tipe orang yang ikut campur urusan putranya. Namun, kali ini Bu Veron datang. Pasti ada sesuatu.

"Hai, Celine!" sapa Bu Veron.

Tidak heran Evan tampan jika terlahir dari rahim Bu Veron yang cantik dan menawan, meskipun usianya sudah tidak muda lagi.

"Mamah, apa kabar? Kenapa tidak mengabari Celine?" tanya Celine sambil menyalami mertuanya.

"Mamah baik. Mamah baru saja tiba. Mamah takut kalian sibuk," Bu Veron tersenyum hangat pada menantunya.

"Kudengar kamu dan Evan menangani proyek yang sama," lanjutnya.

"Celine hanya mengurus bagian desain grafisnya saja, Mah. Bos saya dan Evan yang bertanggung jawab secara keseluruhan."

"Begitu juga sudah bagus. Bagaimana kabar kalian?"

"Kami baik, Mah."

"Kalau cucu Mamah?"

"Cucu?" Celine tidak pernah memikirkan tentang anak. Ia sendiri tidak tahu kenapa sudah dua tahun menikah, tetapi belum hamil. Padahal ia dan Evan cukup aktif berhubungan badan.

"Iya, keponakan Evan sudah besar-besar. Sudah tidak lucu lagi. Mamah kangen bayi yang lucu. Yang paling penting adalah bayi yang lahir dari putra bungsu Mamah."

"Maaf, Mah. Masih belum. Saya dan Evan belum membicarakannya lagi," Celine merasa bersalah.

"Kenapa harus dibicarakan? Kalau kalian sering berhubungan seks, pasti akan jadi bayi dengan sendirinya. Apakah kalian bermasalah?" selidik Bu Veron.

"Tidak, kok, Mah. Kami baik-baik saja," bantah Celine. Mereka terus mengobrol sampai masalah cucu terabaikan dan berganti topik. Celine setia menemani mertuanya hingga wanita paruh baya itu pamit pergi. Mereka membahas banyak hal. Mereka juga sempat membuat camilan untuk teman mengobrol. Mereka juga membahas kalung pemberian Evan yang harganya mencapai ratusan juta. Beruntungnya Bu Veron tidak pernah mempermasalahkan keputusan anak-anaknya, bahkan lebih sering mendukung.

Evan akhirnya pulang ketika hari sudah gelap. Celine sedang menunggunya untuk membahas sesuatu.

"Sudah pulang?"

"Hmm."

"Apa kamu punya waktu?"

Evan hanya memandang Celine.

"Maksudku, apakah kamu lelah? Aku ingin bicara denganmu."

"Bicara saja."

"Kamu tahu, kita sudah menikah selama dua tahun. Rasanya sedikit aneh kalau aku belum hamil, kan?" Celine tidak ingin membuang-buang waktu.

Evan kembali memandang Celine, lalu berkata,

"Kamu tidak akan hamil."

"Aku bisa hamil. Aku pernah memeriksakan diri dan aku sehat."

"Karena aku mencegahnya."

"Apa? Jadi kamu sengaja? Kenapa? Kamu tidak mau punya anak denganku?" Celine tiba-tiba emosi.

"Aku hanya belum siap."

"Bilang saja, kamu tidak mau anakmu lahir dari rahimku. Kalau begitu, tunggulah Jenny sehat. Lalu segera lahirkan anakmu darinya," Celine berbicara di luar kendali.

"Celine, jaga ucapanmu."

"Aku tahu, kamu tidak mencintaiku. Tapi jangan jadi pecundang seperti ini. Kamu selalu bersetubuh denganku kapan pun kamu mau dan itu hanya karena tuntutan nafsu semata? Kamu tidak berencana memiliki anak. Kamu anggap aku apa? Kamu pikir aku pelacurmu? Aku gundikmu?" Celine semakin berapi-api.

"Kau sudah keterlaluan, Celine."

"Kamu yang keterlaluan, Van. Sudah dua tahun kamu memakai tubuh ini, tetapi kamu tidak mengizinkan anak dari rahimku."

"Bukan begitu, Celine. Kalau kamu sangat ingin anak, ayo lakukan sekarang. Apa susahnya? Tidak perlu membawa-bawa Jenny dan sebagainya," Evan berusaha terlihat tenang.

"Tidak perlu, Van. Setelah aku tahu kamu sengaja mencegahnya, aku juga sudah tidak berminat lagi. Hanya saja, tolong jelaskan pada Mamah kalau kamulah yang tidak menginginkan cucunya lahir dariku. Tadi dia datang dan bertanya tentang cucu padaku. Sekarang aku sudah tahu penyebabnya adalah kamu. Jadi, kamu yang harus menjelaskan," ucap Celine, kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.

Evan menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan, kemudian bergumam pasrah,

"Ternyata aku salah lagi? Aku hanya takut menyakiti anak yang akan lahir itu."

Belum selesai dengan itu, Celine kembali dengan menenteng tas berisi beberapa lembar pakaian ganti.

"Kamu mau ke mana? Jangan menambah masalah!" tanya Evan segera.

"Lebih baik aku menyelesaikan pekerjaanku di kantor daripada harus tinggal di rumah yang hubungan penghuninya tidak normal begini," jawab Celine ketus.

Sekali lagi Evan menarik napas. Ia selalu tidak peduli sebelumnya. Namun, ia sedang memiliki rencana untuk memperhatikan Celine. Jadi, ia harus menunjukkan kepeduliannya.

Selain itu, rasa empatinya memang muncul setelah tahu kehidupan Celine tidak terlalu baik. Terutama ketika dirinya memperkenalkan Jenny sebagai istri pertamanya.

**_

Beberapa hari berlalu. Pembangunan pusat perbelanjaan mulai berjalan. Celine semakin sibuk dengan pekerjaannya. Ia selalu datang ke lokasi untuk meninjau. Entah kenapa ia selalu dilibatkan oleh manajernya, bahkan diminta koordinasi dengan arsitek. Ia kadang kebingungan dengan tugas mendadak yang bukan tanggung jawabnya. Namun, ia juga tidak berniat menolak karena ia benar-benar suka tantangan.

Selagi memperhatikan para pekerja, seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya.

"Hai, Celine? Lama tidak bertemu." Suara itu membuatnya menoleh.

"Pak Dev? Sedang apa di sini?" ucap Celine, seperti bertemu kembali dengan kenalan lama.

"Sekali lagi kuperingatkan, tolong panggil aku Dev," pinta Dev, sedikit menekankan.

"Baik, Dev. Aku benar-benar merasa tidak nyaman sekarang. Anda berhasil membuatku menjadi orang yang paling tidak sopan."

"Tapi aku suka itu," ucap Dev. Keduanya lalu tertawa.

"Maaf, Pak Dev, saya harus menemui Pak Yanto," Celine hanya ingin menghindar. Ia buru-buru mencari Pak Yanto. Selagi mencari sosok Pak Yanto, tiba-tiba Evan menghalangi jalannya.

"Aku sudah memperingatkan, jauhi Dev!" Ada sedikit penekanan dalam kata-kata Evan.

"Dia yang datang padaku. Lagi pula untuk apa orang-orang seperti kalian datang ke tempat seperti ini? Mengganggu saja," gerutu Celine. Ia masih menyimpan rasa kesalnya mengenai anak.

"Mengganggu? Kamu tidak khawatir aku mencabut investasiku? Kira-kira siapa yang paling dirugikan? Coba pikirkan apa yang akan terjadi?"

Celine hanya bisa menghela napas mendengar kesombongan Evan.

"Jauhi Dev! Kau harus lebih berusaha. Katakan padanya kau sudah menikah."

"Kamu cemburu?"

"Omong kosong," ucap Evan kemudian menjauh. Membuat Celine merasa kesal dan menyesal karena dengan percaya diri menanyakan itu.

"Kalian membicarakan apa? Kalian terlihat akrab," ucap Pak Yanto, tiba-tiba berada di belakang Celine.

"Tidak ada. Pak Evan hanya bertanya mengenai ide warna saat gedungnya jadi."

"Oh, berterimakasihlah padaku. Kalau aku tidak menyibukkanmu di sini, kau tidak akan mengenal orang-orang seperti Pak Dev dan Pak Evan."

"Baik, Pak!" Celine hanya berbasa-basi agar manajer tampannya ini bisa berpuas diri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 78 Terlambat Menyadari (End)

    "Ya, kamu pantas menertawakan kebodohanku," Evan merasa kesal dengan dirinya yang dulu. "Semua sudah berlalu," Celine berucap sambil mendekati Evan. "Terima kasih," Evan menatapnya penuh perhatian. "Untuk?" "Untuk semuanya, kalau dipikir-pikir sebenarnya cintaku sangat besar untukmu," "Oh iya?" "Aku sudah ditahap hampir gila demi mempertahankan hubungan pernikahan yang kamu tidak inginkan lagi, sampai Danil yang jelas-jelas rival bisnisku, aku mintai tolong untuk mengawasimu dan sempat-sempatnya aku cemburu setiap kali kamu mengobrol dengannya," "Mengawasiku?" "Aku menjadi sepecundang itu karena cinta, aku takut kamu pergi jadi aku menyuruhnya memberimu pekerjaan agar kamu tetap berada di sekitarku," "Kamu yang melakukan itu?" "Iya," "Ternyata kamu berjuang untukku?" Celine merasa terharu. "Aku melakukannya meski kekanak-kanakan?" "Aku suka, tapi ini kesempatan yang paling terakhir." "Iya, aku janji tidak akan menyakitimu lagi. Aku akan membuatmu bahagia set

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 77 Di Hatiku Cuma Kamu

    Evan dan Celine akhirnya pulang ke rumah, Evan terlihat begitu segar dan kembali mendapatkan aura berwibawa yang selalu menjadi ciri khasnya, sebelumnya ia seperti pria yang selalu takut kehilangan dan tidak pernah tenang. Sekarang apa lagi yang ia takutkan? Apa yang ia benar-benar inginkan sudah berada di tangannya, sementara Celine terkesan lebih pemalu dan mudah tersenyum tidak seperti sebelumnya, ia selalu memaksa dirinya untuk tegas dan terkesan dingin, ia sungguh memaksakan diri untuk menahan semua perasaannya. Bi Asih yang melihat keduanya datang bersama sambil bergandengan tangan sampai tersenyum-senyum sendiri, ia juga bisa menilai perubahan dari sikap dan ekspresi keduanya. "Ada apa ini?" goda Bi Asih. "Bi, bantu Celine mengangkat barang-barangnya ke kamar," ucap Evan, sebelumnya mereka sudah ke kos tempat tinggal Celine untuk mengambil barang-barang Celine, tentu saja setelah perdebatan panjang dan negosiasi yang tidak ada habisnya. "Bu Celine kembali tinggal di si

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 76 Celine Dian, Jadilah Istriku

    *Versi Revisi Good Novel - Bagian Lanjutan* "Kamu bisa menomorsatukan aku, Van?" Celine ingin meyakinkan dirinya. Evan meraih tangan Celine dan menggenggamnya untuk membuatnya yakin, kemudian ia mulai bercerita, "Sekarang di hatiku cuma kamu, Celine. Jenny sudah menjadi kenangan, Mita hanya kesalahan. Kamu yang memenuhi hatiku sekarang, misiku tentang cinta saat ini dan seterusnya cuma ingin denganmu, aku ingin membalas semua kesalahan yang aku lakukan padamu. Oke dulu aku salah, dulu aku memanfaatkan perasaanmu, waktumu, tubuhmu bahkan menyebabkan anak kita meninggal, tolong biarkan aku memperbaikinya. Kalau perlu, kamu hukum aku, tapi jangan hukum aku dengan pergi meninggalkanku lagi, itu berat, rasanya sepi, saat Jenny pergi rasa sakit yang aku terima tidak begitu dalam, saat Mita mengatakan ingin ke luar negeri, aku juga tidak terlalu mempermasalahkannya, tapi saat kamu pergi, aku merasa sakit yang tidak bisa disembuhkan, aku merasa kosong sepanjang waktu, ternyata aku butuh

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 75 Pembuktian Cinta

    Evan tidak menghubungi Celine seharian, sepertinya Celine juga tidak berniat melakukannya. Evan sudah merasakan perpisahan berkali-kali tapi kenapa kali ini cukup menyiksanya, jadi ia datang ke kantor Siregar, alasannya sudah jelas. "Apa yang kalian bicarakan?" suara itu membuat Danil yang baru saja ingin berbalik pergi dan juga Celine menoleh. "Kami membicarakanmu," Danil berlalu sambil menepuk pundak Evan. Sementara Celine langsung berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Evan tidak mengatakan apa pun, ia menarik sebuah kursi kosong lalu duduk di depan meja Celine sambil memperhatikannya. "Ayo pergi ke suatu tempat," "Aku sedang bekerja dan kamu seorang bos kamu tidak pantas duduk di sini," "Kalau Danil pantas?" "Dia bos aku, dia ke sini untuk bertanya pekerjaan dan dia tidak duduk sama sekali" "Aku tidak peduli, lagi pula aku sedang duduk di hadapan istriku." "Lakukan saja sesukamu, Evan." Celine tidak peduli lagi, ia kembali fokus dengan pekerjaannya. Evan memaju

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 74 Masuk Angin

    Evan sangat senang bisa mendampingi Celine pergi ke rumah sakit, berbanding terbalik dengan sebelumnya, kali ini ia tidak ingin melewatkan waktu sedetik pun, ia menanti di depan pintu kamar rumah sakit karena Celine melarangnya ikut masuk, refleks mendekati Celine saat melihatnya keluar bersama seorang dokter obgyn. "Bagaimana hasilnya?" Evan bertanya penuh harap. Celine diam saja dengan wajah tanpa ekspresi. "Bu Celine hanya masuk angin, Pak Evan." Evan tampak kecewa, ia lalu berkata, "Yakin sudah memeriksanya dengan baik, Dok?" "Sudah, Pak. Yang sabar ya, Pak. Masih banyak kesempatan kok, kebetulan Bu Celine sedang di masa suburnya, semangat Pak Evan!" ucap dokter. Celine tampak santai sementara Evan diam saja, ia tahu kesempatan itu pasti akan sulit ia dapatkan. "Mohon maaf masih ada pasien, saya lanjut bekerja dulu," "Silakan, Bu." ucap Celine lalu pergi mendahului Evan. Evan hanya memandangi punggung Celine yang semakin menjauh tapi ia segera menyusul dengan lang

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 73 Kemungkinan Hamil

    Evan terbangun karena merasakan pegal di punggungnya, ia mencoba membuka pintu kamar Celine yang ternyata tidak di kunci, ia memandang punggung istrinya beberapa saat, ia melangkah begitu saja seolah suasana di dalam kamar itu mengundangnya untuk masuk. Ia naik ke tempat tidur lalu meringkuk di atasnya tanpa berani menyentuh Celine. Ia selalu berhati-hati semenjak menyukai Celine, tapi Celine bergerak dan membalikkan badan ke arahnya, Evan secara tiba-tiba meluruskan tubuhnya untuk menyambut uluran tangan Celine yang akan memeluknya, selain tangan, kakinya juga bertengger nyaman di atas paha Evan, seluruh tubuh mereka menempel satu sama lain. Celine membuka mata sambil mengigau, "Kamu tampan sekali, Evan," ia menatap wajah Evan sebentar lalu menutup matanya kembali. "Kalau kamu begini, aku bisa memangsamu kapan saja," gumam Evan yang merasakan sensasi aneh di tubuhnya dan ia sangat mengerti apa itu. Ia mencoba menarik tubuhnya untuk melepaskan diri, untungnya ia berhasil. I

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 71

    Evan benar-benar hebat, ia sangat mendominasi, Celine masih belum terlalu yakin bahwa ia menikahi laki-laki tampan yang sedang berbicara dan dikagumi oleh semua orang saat ini, ia belum percaya bahwa ia telah dicintai oleh orang yang tidak pernah membalas perasaannya saat kuliah dulu, ia tidak perca

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 72

    Evan menghampiri Celine setelah semua tamu penting itu pergi, dari tadi ia mengawasi Celine, seandainya istrinya itu meninggalkan acara, ia tidak segang meninggalkan semua tamu pentingnya untuk mengejar Celine, untungnya saat ia melihat gerak-gerik Celine akan kabur, ibunya datang. Ia benar-benar be

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 70

    Evan baru saja keluar dari toilet, ia melambat saat melihat Mita tampak menunggunya. Keduanya terlibat saling menatap satu sama lain, Evan menatap dingin sementara Mita tampak menantang untuk berperang. "Aku ingin bicara," ucap Mita. "Silahkan," "Ayo cari tempat sepi," "Baik," Evan berjalan men

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 25

    Celin kembali duduk di sofa sambil mengangkat kedua kakinya dan memeluk lututnya, ia tidak tau harus berbuat apa? Ia sudah sejauh ini melangkah tapi Evan tidak ingin berpisah. Perasaannya menjadi terombang-ambing. Evan di kamar menunggu Celin untuk datang, ia ingin meminta maaf karena tidak kembali

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status