Home / Romansa / Antara Peran dan Perasaan / Bab 36 – Peran yang Lebih Besar

Share

Bab 36 – Peran yang Lebih Besar

Author: Ayla
last update publish date: 2025-06-01 23:30:17

Lobi Dirgantara Lestari pagi itu dipenuhi kamera. Lampu-lampu sorot membanjiri podium kaca di tengah ruangan. Papan nama:

KONFERENSI PERS: Era Baru Transparansi Perusahaan.

Media nasional hadir. Wartawan bisnis, jurnalis independen, bahkan kanal internasional. Dan di tengah itu semua, berdiri sosok yang telah mereka kenal dalam fragmen-fragmen kontroversi, opini, dan kemenangan sunyi: Nara Ayuningtyas.

Hari ini, ia tak lagi duduk di balik meja komunikasi.

Hari ini, ia menjadi suara utama.

Rayd
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Antara Peran dan Perasaan   Bab 133 – Di Hadapan yang Telah Pergi, Aku Akhirnya Pulang

    Pagi itu mendung menggantung seperti awan-awan tua yang enggan bergerak.Nara menyetir sendiri, tanpa Raydan, tanpa Alana.Hanya satu tujuan: makam ayah.Buku memoarnya ia bawa, dibungkus kain flanel abu-abu.Di dalamnya terselip surat kecil yang belum pernah ia buka—tulisan tangan ayahnya yang ditemukan ibunya di kotak berkas lama.Nara belum pernah ke sana sejak pemakaman.Bukan karena tak peduli, tapi karena belum siap menatap nisan dan mengakui:> “Aku menyalahkanmu terlalu lama.”---Makam itu terletak di bawah pohon kamboja.Tanahnya sudah mulai rata.Batu nisannya sederhana—nama, tanggal, dan doa yang singkat.Nara duduk bersila, meletakkan bukunya pelan.> “Ayah… aku menulis buku.”“Tentang hidup yang ayah tinggalkan. Tentang aku yang belajar bertahan.Tentang cinta yang datang dengan cara yang… aneh.”“Dan aku benci mengakuinya, tapi banyak hal yang kuhadapi ternyata tak jauh berbeda dengan yang ayah alami.”Ia membuka halaman terakhir, dan mulai membacanya pelan.Suaranya pe

  • Antara Peran dan Perasaan   Bab 132 – Sorot Lampu dan Bayangan yang Tetap Tinggal

    Malam premiere berlangsung mewah.Karpet merah.Kilatan kamera.Wartawan berbaris.Para pemain tampil glamor dalam balutan busana rancangan desainer.Poster besar terpampang di pintu bioskop utama, dengan judul yang sama: Pulang Tidak Selalu ke Rumah.Nara berdiri di tengah keramaian itu.Wajahnya tersenyum. Tubuhnya diam.Tapi batinnya bergema: hening, nyaring, sepi, padat.> “Semua ini… terasa asing,” bisiknya pelan.Raydan di sisinya, mengenakan setelan sederhana, menoleh.“Karena ini bukan tentang kita lagi.Ini tentang kisah kita… yang kini dimiliki orang banyak.”Dan memang, saat film diputar dan layar lebar menyala,Nara tidak benar-benar menonton.Ia lebih sibuk memperhatikan ekspresi penonton:mereka tertawa saat adegan manis.Menangis saat adegan pertengkaran.Hening saat adegan Raydan versi layar memeluk Nara versi layar setelah pulang dari Eropa.Tapi tak satu pun dari mereka tahu:betapa nyata rasa takut yang menyelimuti setiap malam Nara selama di benua lain,betapa cang

  • Antara Peran dan Perasaan   Bab 131 – Kata yang Akhirnya Pulang

    Peluncuran buku “Pulang Tidak Selalu ke Rumah” diadakan di sebuah galeri kecil di jantung Jakarta.Dekorasi sederhana. Cahaya hangat.Barisan kursi penuh wajah-wajah penasaran—beberapa pembaca setia blog Nara,beberapa teman komunitas, dan…di baris depan, duduk seseorang yang tak pernah absen dalam proses penulisan: Raydan.Dan di sampingnya, mengenakan dress kuning muda yang dipilihnya sendiri, Alana menggenggam buket kecil.---Nara membuka acara dengan senyum gugup.> “Saat pertama menulis memoar ini, aku tidak tahu apa yang ingin kuceritakan.”“Apakah tentang pernikahan yang tak direncanakan?”“Atau tentang peran yang dipaksa dimainkan sebelum benar-benar siap?”> “Tapi saat menulis bab terakhir, aku sadar…”“Ini bukan buku tentang kegagalan yang dibungkus manis.”“Ini buku tentang kejujuran yang akhirnya berani bicara.”Ia lalu membuka lembar terakhir,yang selama ini hanya ia baca sendiri—hingga malam sebelum acara ini.> “Bab 23 – Orang yang Membuatku Percaya Lagi”> “Namanya

  • Antara Peran dan Perasaan   Bab 130 – Panggung yang Tak Pernah Mereka Minta

    Undangan itu datang lewat email dari universitas ternama.Acara seminar bertajuk “Pernikahan dan Pemulihan: Membangun Kembali Setelah Retak.”Mereka tak pernah mencari sorotan.Tapi kisah mereka—yang tersiar pelan dari mulut ke mulut melalui Rumah Pulang, melalui komunitas kecil, hingga media lokal—membuat nama Nara dan Raydan disebut-sebut sebagai pasangan yang layak bicara.Nara sempat ragu.Bukan karena ia malu, tapi karena ia tahu: bicara tentang masa lalu berarti membuka luka—yang bahkan belum sepenuhnya sembuh.> “Apa kita siap?” tanya Nara.Raydan menatapnya.“Kalau kita tunggu sampai benar-benar siap… mungkin kita enggak akan pernah datang.”---Di atas panggung, dengan mikrofon kecil di dada dan sorotan lampu putih,Nara membuka sesi itu bukan dengan teori. Tapi dengan kejujuran.> “Kami tidak menikah karena cinta.Kami menikah karena situasi. Karena syarat warisan. Karena rasa bersalah.Dan… kami tidak langsung jatuh cinta setelah itu.”> “Fase pertama kami adalah saling men

  • Antara Peran dan Perasaan   Bab 129 – Pohon dari Surat yang Tak Pernah Dikirim

    Nara mulai menyadari sesuatu berubah di belakang rumah.Bukan secara tiba-tiba. Tapi perlahan, seperti musim yang bergeser diam-diam.Ada deru cangkul. Ada bau tanah basah.Dan ada Raydan—yang setiap pagi, setelah subuh, menyibukkan diri di taman kecil mereka.Nara sempat mengira itu bagian dari hobi barunya.Tapi ternyata lebih dalam dari itu.---Suatu siang, saat ia hendak menjemur cucian, Nara melihat sesuatu yang aneh.Di sudut taman, tersembunyi di balik semak lili paris, ada papan kayu kecil bertuliskan:> “Dari surat yang tak pernah sampai.”Penasaran, ia menyibak daun-daun yang menghalangi, dan menemukan sebuah kotak kayu kecil yang dilapisi pelapis tahan air.Di dalamnya, ada gulungan-gulungan kertas tua.Beberapa sudah lusuh, beberapa masih rapi.Saat dibuka, Nara tercekat.Itu surat.Tulisan tangan.Tulisan tangannya sendiri.---Surat-surat itu adalah draf lama yang ia tulis saat masa awal pernikahan—saat ia tak tahu harus berbicara pada siapa,saat luka terlalu malu unt

  • Antara Peran dan Perasaan   Bab 128 – Di Persimpangan Ambisi dan Akar

    Undangan itu datang dalam map hitam mengilap. Nama pengirimnya cukup untuk membuat siapa pun terpaku: > PT GRAHA UTAMA PRIMA – Holding Nasional Properti & Investasi Isinya singkat dan tegas: Raydan Dirgantara diundang untuk menjabat sebagai Komisaris Utama, menggantikan salah satu tokoh senior yang pensiun dini. “Ini level nasional, Ray. Gedung-gedung yang kamu lewati di Jakarta… semua ada dalam portofolio mereka.” Begitu kata rekan bisnisnya saat mereka bertemu. Raydan tidak menjawab cepat. Ia menatap map itu lama. Terlalu lama, sampai bahkan kopi yang dibawakan Nara dingin tak tersentuh. --- Di rumah, saat malam menurun perlahan, Nara bertanya lembut: > “Kamu ingin terima?” Raydan mengangkat bahu. > “Dulu aku pikir iya. Tapi sekarang… aku nggak tahu. Rumah Pulang baru jalan satu kaki. Kalau aku terima, aku harus pindah ke pusat. Harus hidup dengan dunia yang aku tinggalkan lima tahun lalu.” Nara diam. Ia tahu tawaran ini bukan sekadar jabatan. Ini adalah pintu masa

  • Antara Peran dan Perasaan   Bab 117 – Ruang yang Tidak Lagi Hanya Sunyi

    Hari itu, Nara bangun lebih awal dari biasanya.Jam lima pagi, langit masih remang.Tapi udara sudah menggendong aroma kayu dan embun.Ia berdiri di depan jendela,melihat kabut tipis menggantung di halaman belakang.Raydan belum bangun.Alana juga masih terlelap.Tapi Nara sudah merasa hari ini be

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Antara Peran dan Perasaan   Bab 119 – Reuni yang Tak Pernah Benar-Benar Usai

    Nara menerima undangan itu dalam bentuk email yang nyaris terlewat.Judulnya sederhana:“REUNI ANGKATAN 2000 – SMA PELITA NUSANTARA”Subjudulnya: Saatnya Mengenang, Memaafkan, dan Melanjutkan.Ia membaca pelan-pelan, seperti sedang menelusuri kenangan—bukan sekadar baris informasi.SMA Pelita Nusa

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Antara Peran dan Perasaan   Bab 116 – Raydan dan Nara Belajar Mengucapkan Rindu Tanpa Kata

    Hari itu, hujan turun dengan irama tak tentu.Kadang deras. Kadang rintik. Kadang hening tiba-tiba.Seperti hubungan yang sudah lama berjalan: tidak lagi selalu jelas, tapi tetap terasa.Raydan sedang duduk di bengkel kecil miliknya, merakit lampu baca.Nara di dapur, mencoba resep baru yang ia tem

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Antara Peran dan Perasaan   Bab 110 – Cinta yang Tumbuh Tanpa Janji, Tapi Tetap Ingin Pulang

    Hujan turun pelan, seperti tangan-tangan kecil yang mengetuk jendela sore hari.Alana duduk di ruang baca "Pelan Saja", mengenakan sweater lusuh warna abu dan syal coklat yang sudah mulai berbulu di ujungnya. Satu cangkir teh menghangatkan telapak tangannya. Di depannya, laptop terbuka — halaman ko

    last updateLast Updated : 2026-04-02
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status