เข้าสู่ระบบRuangan kamar yang temaram itu mendadak penuh oleh kehangatan yang memabukkan dan deru napas yang saling memburu. Aleena hanya diam membeku, tubuhnya kaku oleh sensasi asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kediaman dan ketidakmampuan Aleena untuk menolak dianggap Kevin sebagai lampu hijau—sebuah izin tersirat dari gadis yang berada di bawah pesonanya.Tanpa membuang waktu lagi, Kevin kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir mungil Aleena. Kali ini ciumannya terasa jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh kepiawaian seorang pria dewasa. Lidahnya menyusup lembut, mengajak bibir basah Aleena bertaut rapat. Sentuhan yang intens itu seketika membuat ketahanan mental Aleena runtuh. Rasa terkejutnya menguap, berganti menjadi sensasi melayang yang membuat kepalanya mendadak kosong. Aleena terbuai dalam jeratan gairah tersebut.Pintu pertahanan Aleena kian tak berbekas ketika tangan kanan Kevin yang hangat dan berotot mulai bergerak lincah, menyusuri garis pinggangnya yang ramping, men
"Lama sekali kalian jalan-jalan!"Teguran berhawa dingin itu menggema keras dari arah tangga utama mansion, memotong gelak tawa tipis yang sempat mengalir di antara Davin dan Aleena. Langkah kaki keduanya membeku di ambang pintu depan.Kevin berdiri di bordes tangga, mengenakan kemeja hitam yang lengannya telah digulung hingga siku. Postur tubuhnya yang tegap memancarkan aura dominasi mutlak yang pekat. Matanya menyapu pemandangan di bawah sana—beberapa paper bag dari butik mewah di tangan Davin, serta posisi berdiri keduanya yang begitu dekat.Davin menarik napas panjang, memasang wajah acuh tak acuh khasnya. "Kami berkeliling dan belanja, Yah, jadi lama," jawab Davin santai, berusaha bersikap sewajarnya.Kevin tidak mengalihkan pandangannya. Sorot matanya yang tajam langsung mengunci sosok Aleena yang mendadak berdiri kaku. "Aleena, saya lapar. Buatkan saya makanan.""Baik, Tuan!" jawab Aleena refleks, kepalanya tertunduk hormat.Davin mengerutkan keningnya, merasa tidak tega melilh
Mobil sport hitam milik Davin melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan di sore hari. Alih-alih mengambil rute jalan tol yang mengarah kembali ke kawasan perumahan elit mereka, Davin justru memutar kemudi ke arah pusat perbelanjaan dan distrik bisnis. Aleena yang sedari tadi menatap ke luar jendela, mulai menyadari perubahan rute tersebut. Ia mengerutkan keningnya, menoleh menatap profil samping Davin yang tampak sangat santai di balik kemudi. "Davin, kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang ke rumah," tegur Aleena dengan nada cemas. "Kita jalan-jalan dulu!" sahut Davin enteng, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan. Mata Aleena membulat. "Tapi, Davin, aku harus segera pulang! Aku harus membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam Tuan Kevin. Ini sudah tugasku!" bantah Aleena, membayangkan tumpukan pekerjaan rumah yang menantinya. "Itu bisa dikerjakan nanti. Kita jalan-jalan dan makan siang yang terlambat dulu. Santai sa
Suasana di area kantin kampus terasa tegang saat geng populer berkumpul di meja sudut. Beberapa kawan dekat Davin menatap sang ketua dengan dahi berkerut, masih terbayang adegan di dalam kelas tadi saat Davin secara terang-terangan memasang badan untuk Aleena."Davin, kau sungguh-sungguh telah berteman dengan si Aleena?" tanya salah satu temannya dengan nada tak percaya, setengah berbisik agar mahasiswa lain tak terlalu mendengar."Ya, dia temanku sekarang. Dia bekerja di rumahku," jawab Davin santai sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kayu."Kamu serius, Vin?" seru Rian menimpali, membelalakkan mata."Ayah mempekerjakannya dan aku pikir tak ada yang salah dengannya. Itu saja," balas Davin singkat, berusaha mengabaikan tatapan penuh curiga dari para sahabatnya.Rian menyeringai tipis, lalu menyenggol lengan Davin. "Ku pikir kau menyukainya.""Mana ada!" sangkal Davin cepat. Suaranya sedikit meninggi, dan tanpa bisa ia cegah, daun telinganya merona merah padam—sebuah reaksi
Aleena menoleh perlahan ke arah sumber suara yang begitu dia kenali. Seketika, kilasan memori pahit berputar di benaknya. Wanita yang berdiri di samping mejanya dengan senyum meremehkan itu adalah Dina—mantan sahabat baiknya sendiri yang dengan tega berselingkuh di belakangnya bersama Radit, pria yang dulu berstatus sebagai kekasih Aleena. Melihat Dina yang kini menatapnya penuh racun, Aleena tidak gemetar. Alih-alih menyangkal atau menangis terpojok, Aleena justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada dengan anggun. Tatapannya berubah menjadi begitu dingin dan menantang."Kalau iya, memangnya kenapa?" sahut Aleena dengan nada suara yang sengaja dibuat santai namun menusuk. "Setidaknya aku tahu kalau ternyata pria sekelas Davin pun bisa takluk di hadapanku."Dina terbelalak, wajahnya yang penuh riasan itu mendadak kaku. "Kau!!""Apa?" potong Aleena cepat, meremehkan kepanikan Dina. "Dibandingkan dengan Davin, Radit bukan apa-apa. Sekarang aku men
Belum juga gema maklumat Davin di area parkir sepenuhnya menyusut, riak baru yang lebih besar sudah menghadang di koridor utama. Ucapan Rian tentang rumor yang menyebar secepat api baru saja kering, ketika dari arah lobi utama, langkah kaki yang menghentak angkuh terdengar mendekat. Itu Ratu. Sang primadona kampus yang selama ini mengklaim posisi paling dekat di sisi Davin, berjalan dengan wajah merengut masai. Napasnya memburu, membelah kerumunan mahasiswa yang langsung memberi jalan dengan tatapan ngeri sekaligus penasaran. Begitu jaraknya tinggal selangkah dari Davin, Ratu langsung mencengkeram lengan denim pemuda itu dengan erat, menatapnya dengan sepasang mata yang menyalang penuh tuntutan. "Sayang, gosip murahan di parkiran itu gak benar, kan?" tanya Ratu, suaranya sengaja ditinggikan agar beberapa kuping di sekitar mereka bisa mendengar. "Kamu mana mungkin jadian atau bahkan sekadar memberi tumpangan pada si gembel itu, kan? Kamu hanya cinta sama aku, kan, Dav? Kita bahkan s







