MasukAleena membeku di tempatnya. Kata-kata Davin barusan bagaikan petir yang menyambar di tengah ruang kabin mobil yang sempit. Apa ini? Kenapa jadi begini? Semalam Tuan Kevin, sekarang Davin... oh my God... batin Aleena panik. Pikirannya semakin berkecamuk tak karuan membayangkan kerumitan yang membayang di hadapannya."Davin, aku berhenti di depan ya," cicit Aleena pelan, berusaha mengalihkan suasana yang mendadak intens.Davin menghela napas, sorot matanya melembut. "Aku akan menjagamu. Tenanglah, tidak akan ada seorang pun yang berani menyentuhmu lagi."Aleena menghembuskan napas panjang. Ia menatap Davin dengan pandangan memohon yang teramat sangat. "Davin, mungkin saat kamu terlihat bersamaku, mereka memang akan takut padamu. Tapi saat aku sendiri, mereka pasti akan melupakan ketakutan itu dan melampiaskan rasa cemburunya padaku. Jadi aku mohon, turunkan aku di depan sana. Kamu juga pasti ingin kuliah dengan tenang, kan?" ujar Aleena jujur.Davin tercenung. Kata-kata Aleena meresap
Pagi harinya berjalan seperti biasa. Aleena terbangun dengan sisa-sisa cemas yang masih menggelayuti pikirannya. Ia segera berkutat di dapur, menyiapkan sarapan untuk penghuni mansion, lalu bergegas kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Sambil membiarkan guyuran air dingin membasahi tubuhnya, benak Aleena tak berhenti berputar."Aku seperti hidup untuk kedua kalinya, semua berkat Tuan Kevin. Tapi apa yang harus aku lakukan? Pada akhirnya Tuan Kevin juga menginginkan sesuatu dariku..." gumamnya lirih pada dinding kamar mandi yang berembun. Tawaran untuk menjadi wanita simpanan serta ingatan tentang sentuhan pria itu semalam kembali membuat dadanya berdesir hebat.Aleena mempercepat kegiatannya. Ia tidak ingin orang-orang di rumah ini menunggunya hanya untuk menyantap sarapan. Pagi ini, ia memilih mengenakan salah satu gaun santai berbahan rajut halus berwarna krem—salah satu dari sekian banyak pakaian mahal yang dibelikan Davin kemarin sore. Gaun itu menempel pas di tubuhnya,
Ruangan kamar yang temaram itu mendadak penuh oleh kehangatan yang memabukkan dan deru napas yang saling memburu. Aleena hanya diam membeku, tubuhnya kaku oleh sensasi asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kediaman dan ketidakmampuan Aleena untuk menolak dianggap Kevin sebagai lampu hijau—sebuah izin tersirat dari gadis yang berada di bawah pesonanya. Tanpa membuang waktu lagi, Kevin kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir mungil Aleena. Kali ini ciumannya terasa jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh kepiawaian seorang pria dewasa. Lidahnya menyusup lembut, mengajak bibir basah Aleena bertaut rapat. Sentuhan yang intens itu seketika membuat ketahanan mental Aleena runtuh. Rasa terkejutnya menguap, berganti menjadi sensasi melayang yang membuat kepalanya mendadak kosong. Aleena terbuai dalam jeratan gairah tersebut. Pintu pertahanan Aleena kian tak berbekas ketika tangan kanan Kevin yang hangat dan berotot mulai bergerak lincah, menyusuri garis pinggangnya yang ramping,
"Lama sekali kalian jalan-jalan!"Teguran berhawa dingin itu menggema keras dari arah tangga utama mansion, memotong gelak tawa tipis yang sempat mengalir di antara Davin dan Aleena. Langkah kaki keduanya membeku di ambang pintu depan.Kevin berdiri di bordes tangga, mengenakan kemeja hitam yang lengannya telah digulung hingga siku. Postur tubuhnya yang tegap memancarkan aura dominasi mutlak yang pekat. Matanya menyapu pemandangan di bawah sana—beberapa paper bag dari butik mewah di tangan Davin, serta posisi berdiri keduanya yang begitu dekat.Davin menarik napas panjang, memasang wajah acuh tak acuh khasnya. "Kami berkeliling dan belanja, Yah, jadi lama," jawab Davin santai, berusaha bersikap sewajarnya.Kevin tidak mengalihkan pandangannya. Sorot matanya yang tajam langsung mengunci sosok Aleena yang mendadak berdiri kaku. "Aleena, saya lapar. Buatkan saya makanan.""Baik, Tuan!" jawab Aleena refleks, kepalanya tertunduk hormat.Davin mengerutkan keningnya, merasa tidak tega melilh
Mobil sport hitam milik Davin melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan di sore hari. Alih-alih mengambil rute jalan tol yang mengarah kembali ke kawasan perumahan elit mereka, Davin justru memutar kemudi ke arah pusat perbelanjaan dan distrik bisnis. Aleena yang sedari tadi menatap ke luar jendela, mulai menyadari perubahan rute tersebut. Ia mengerutkan keningnya, menoleh menatap profil samping Davin yang tampak sangat santai di balik kemudi. "Davin, kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang ke rumah," tegur Aleena dengan nada cemas. "Kita jalan-jalan dulu!" sahut Davin enteng, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan. Mata Aleena membulat. "Tapi, Davin, aku harus segera pulang! Aku harus membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam Tuan Kevin. Ini sudah tugasku!" bantah Aleena, membayangkan tumpukan pekerjaan rumah yang menantinya. "Itu bisa dikerjakan nanti. Kita jalan-jalan dan makan siang yang terlambat dulu. Santai sa
Suasana di area kantin kampus terasa tegang saat geng populer berkumpul di meja sudut. Beberapa kawan dekat Davin menatap sang ketua dengan dahi berkerut, masih terbayang adegan di dalam kelas tadi saat Davin secara terang-terangan memasang badan untuk Aleena."Davin, kau sungguh-sungguh telah berteman dengan si Aleena?" tanya salah satu temannya dengan nada tak percaya, setengah berbisik agar mahasiswa lain tak terlalu mendengar."Ya, dia temanku sekarang. Dia bekerja di rumahku," jawab Davin santai sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kayu."Kamu serius, Vin?" seru Rian menimpali, membelalakkan mata."Ayah mempekerjakannya dan aku pikir tak ada yang salah dengannya. Itu saja," balas Davin singkat, berusaha mengabaikan tatapan penuh curiga dari para sahabatnya.Rian menyeringai tipis, lalu menyenggol lengan Davin. "Ku pikir kau menyukainya.""Mana ada!" sangkal Davin cepat. Suaranya sedikit meninggi, dan tanpa bisa ia cegah, daun telinganya merona merah padam—sebuah reaksi







