Share

Bakso Pinggir Jalan

Author: Mommykai22
last update publish date: 2026-06-05 21:40:25
"Jangan gila, Kak Eddy! Untuk apa uang satu milyar?"

Susan menganga tidak percaya. Uang satu milyar untuknya memang bukan yang besar, tapi saat Eddy meminjam segitu, tentu saja nominalnya seolah jadi besar.

"Ayolah, Susan, aku sedang butuh sekali. Ada cicilan mobil yang harus kubayar, sedangkan kartu kreditku diblokir."

"Diblokir? Oleh siapa?"

"Elisa yang melakukannya karena ada yang berusaha menge-hack kartunya."

"Oh, lalu?"

"Kartu kredit Ibu juga terblokir, Susan! Tolong pinjami aku uang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Tetaplah di Sisiku

    "Brengsek! Pria brengsek itu mengancamku terang-terangan dan dia membawa Elisa pergi dari sini! Dia benar-benar bajingan! Dia pikir sudah lebih hebat dariku! Dasar brengsek!!!"Darmawan akhirnya membiarkan Leo membawa Elisa pergi dari sana, tapi napasnya tersengal karena amarah dan ia tidak berhenti mengumpat. "Aku masih belum percaya dia adalah Leo yang dulu, Ayah! Sial! Bagaimana dia bisa memainkan peran dengan begitu bagus?" "Ini semua karena Wira yang bodoh!" Darmawan menatap tajam pada Wira. "Berkali-kali mencari berita tentangnya, tapi tidak mendapatkan info apa pun! Sial, Wira! Seandainya kau bekerja lebih pintar dan mendapatkan info tentangnya, kita tidak akan direndahkan seperti ini!" geram Darmawan. "Tapi tidak! Bukan sekarang! Seandainya dulu kau pintar dan membunuhnya tanpa meleset, tidak akan ada Leo hari ini, kau mengerti, Wira, hah? Dasar brengsek kau, Wira!" Darmawan mengentakkan tongkatnya berkali-kali. Wira menahan amarahnya, tapi ia tidak menjawab. Walaupun ia s

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Menjemputnya

    "Sial! Bagaimana dia bisa pergi tanpa ada satu orang pun yang tahu, hah?" bentak Leo begitu Gary melapor padanya. "Itu ... bukankah kau yang tidur di sofa, Bos? Semua orang tidur di kamar dan tidak mendengar Bu Elisa pergi!" sahut Gary yang membuat Leo makin emosi. Leo pun segera menuju ke tempat kunci mobil, ia ingin mengambil kuncinya, tapi tidak ada. "Di mana kunci mobil, Gary?" "Eh, kemarin aku meletakkannya di sini ...." Belum sempat Gary menyelesaikan ucapannya, suara Bik Imah sudah terdengar. "Tas Elisa hilang, Bibik khawatir dia membawa bajunya dan pergi dari rumah, Leo." Leo makin tegang. "Sial! Elisa pasti membawa mobil! Siapkan mobil lain dan cari dia, Gary!" "B-baik! Baik, Bos!" Leo dan Gary buru-buru pergi dari sana untuk mencari Elisa, walaupun mereka masih tidak tahu harus mulai dari mana. Namun, feeling Leo tidak pernah salah. "Ke rumah keluarga Wijaya, Gary! Aku yakin Elisa di sana!" Gary langsung mengangguk. "Baik, Bos!" sahut Gary yang langsung melajukan

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Berusaha Mempengaruhi

    Elisa sudah berdiri di depan ruang keluarga di rumah Darmawan. Langkahnya terhenti sejenak saat mendengar suara pecahan barang di sana diikuti bentakan Darmawan. Elisa mendengar semuanya dan langsung tidak tahan begitu mendengar Darmawan meminta Wira dan Luki menyingkirkan semua orang. Elisa pun segera melangkah masuk ke sana dan menatap kakeknya itu dengan nyalang. "Singkirkan? Siapa lagi yang ingin kalian singkirkan?" Suara itu membuat semua orang mendadak terdiam. Mereka membelalak melihat sosok Elisa yang sudah lama pergi dari rumah dan kembali dengan perutnya yang sudah membesar. "Elisa? Kau masih berani pulang, hah?" Arman yang bersuara duluan menyapa anaknya itu dengan sama sekali tidak ramah. Namun, Elisa tidak menganggapnya karena ia begitu fokus pada kata disingkirkan. "Siapa yang mau kalian singkirkan? Jawab aku! Grandpa! Ayah!" Elisa menatap satu persatu orang di sana dengan tatapan penuh tanya. "Apa maksudmu? Baru saja pulang kau sudah bertanya dengan kurang ajar?

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Singkirkan

    "Kau baik-baik saja, Bos?" Leo akhirnya pindah tidur ke kamar tamu bersama Gary. Sejak pindah ke apartemen, Gary memang sering menginap kalau Leo memintanya. "Apa aku terlihat baik-baik saja, Gary?" jawab Leo duduk frustasi di sofa kamar. Dadanya sesak dan napasnya ikut tersengal saking marahnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, Gary! Sial! Lebih baik dia marah, dia berteriak, dia menamparku! Ya, itu lebih baik daripada dia terus menangis dan menolak menatapku." "Dia pasti merasa bersalah, Bos." "Aku sudah bilang aku bisa mengabaikan semuanya tentang dia. Aku mencintainya, Gary, itu yang penting!" "Tapi bagi wanita, mungkin tidak sesederhana itu, Bos. Bersabarlah, Bos! Berikan Bu Elisa waktu, sementara kita tetap menyelesaikan apa yang harus kita selesaikan." Leo mengembuskan napas panjangnya dan tidak menjawab lagi. Bahkan moodnya terus jelek sampai ia tidak bisa tidur malam itu. Cukup lama Leo hanya duduk di sofa, menatap pintu kamar Elisa. Leo begitu ingin masuk da

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pisah Kamar

    Leo mengembuskan napas frustasi begitu ia keluar dari kamar Elisa. Wanita itu memintanya keluar dan akhirnya Leo keluar untuk menghindari pertengkaran yang lebih panjang. Tentu saja ia sudah siap dengan kemarahan Elisa, tapi hal itu tetap membuat moodnya buruk. "Bos, bagaimana? Apa katanya?" tanya Gary yang langsung menghampiri Leo. "Bagaimana Elisa, Leo?" tanya Bik Imah juga. Lagi-lagi Leo hanya bisa mengembuskan napas panjangnya. "Dia butuh waktu, Bik. Dan aku akan memberinya waktu," ucap Leo akhirnya, masih berusaha tetap bijak di tengah suasana yang memang kacau ini. Handi sendiri ikut mengangguk. "Elisa memang butuh waktu. Wajar Elisa marah, tapi aku tahu dia wanita yang baik. Aku berharap, apa pun masalah antara kalian, semuanya bisa selesai dengan baik." "Terima kasih, Pak Handi," ucap Leo akhirnya. "Kalau boleh aku bicara, aku sangat kagum padamu, Leo," ucap Handi lagi. "Pasti itu sangat berat bagimu yang berjalan sendirian hingga kau mencapai tahap seperti ini. Bahkan

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Kenyataan Kecil

    "Apa yang akan Bu Elisa lakukan pada bosku? Apa mereka akan putus? Mendadak aku takut sekali!" Gary terus berusaha menguping dari luar pintu kamar. Ia cemas karena ia tahu Leo sangat mencintai Elisa, tapi Elisa pasti sudah merasa dibohongi habis-habisan. "Berhenti menguping, Gary! Oh, Bibik sedih sekali untuk Elisa. Dia mendapat berita yang sangat berat hari ini." Handi yang mendengarnya hanya mengembuskan napas panjangnya. "Sebenarnya bagaimana semua bisa menjadi seperti ini? Pak Leo menyamar menjadi asisten di keluarga Wijaya lalu berakhir jatuh cinta dengan anak musuhnya. Itu sangat berat bagi mereka berdua." "Sisi positifnya, perasaan Pak Leo pasti tulus, karena bahkan saat membenci mati-matian, dia masih bisa mencintai Bu Elisa. Itu indah sekali walaupun menyakitkan," sahut Daisy. Semua orang terdiam mendengarnya karena itu benar, bahkan di antara kebencian yang begitu dalam pada keluarga itu, secara mengejutkan Leo jatuh cinta. Sementara di dalam kamar, Leo masih mematung

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Milikku Besar

    Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Aku Akan Memulainya

    Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status