Share

Anak Tukang Selingkuh

Author: Mommykai22
last update publish date: 2026-03-03 19:18:53

"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" 

Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. 

"Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. 

Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pria itu terpampang nyata. Benar-benar kekar dengan otot yang menyembul di bagian yang tepat. 

Jantung Elisa makin bergemuruh. Ia sudah biasa melihat pria bertelanjang dada, termasuk suaminya sendiri, tapi entah mengapa kali ini reaksinya sangat berlebihan. 

Leo sendiri mematung, menatap istri bosnya di ranjang membuat sesuatu dalam dirinya bangkit. Namun, ia tahu, ini hanya sebuah tugas. 

"Maaf, Bu. Kata Pak Eddy ...." 

"Apa pun yang dia bilang, aku tidak bisa melakukannya. Keluarlah! Keluar dan tinggalkan aku sekarang!" titah Elisa. 

"Baiklah." Leo hanya patuh, memakai kemejanya dan keluar dari sana. Elisa pun bernapas lega karenanya. 

Namun, kelegaannya tidak bertahan lama karena tidak lama kemudian, Eddy masuk dan marah padanya. 

"Apa yang kau lakukan, Elisa? Mengapa kau mengusirnya?" 

"Aku tidak bisa, Eddy! Kau gila! Kalau kau tidak mau bayi tabung, kita bisa minta donor sperma ke rumah sakit kan?" 

"Sudah kubilang aku tidak mau dunia tahu aku mandul, Elisa! Aku berjuang keras membangun karirku sejak aku bergabung di perusahaan dan semua orang mulai mengenal namaku sekarang. Aku tidak mau karirku rusak dan menjadi bulan-bulanan karena cap mandul!" 

"Tapi aku juga tidak mau bercinta dengan pria lain, aku bukan wanita seperti itu, Eddy ...." Elisa menghibah, berharap suaminya mau mengerti posisinya. 

Namun, Eddy malah meradang. "Demi Tuhan, ini bukan bercinta, Elisa! Ini hanya proses pembuahan sampai kau hamil! Dengar, Elisa, ini bukan hanya tentang aku, ada banyak alasan mengapa kau harus hamil dan tidak ada cara lain! Kau juga tidak mau warisan itu jatuh ke tangan orang lain kan? Jadi, pikirkan itu dan jangan egois!"

Brak!

Eddy keluar dan membanting pintu kamar. 

Suaminya marah. Ya, Elisa tahu suaminya marah padanya dan ia merasa bersalah. Ia selalu lemah setiap berhadapan dengan suami yang sangat dicintainya itu. 

Apalagi setelah keributan itu, Eddy mengabaikannya selama dua hari dan membuat perasaan Elisa makin tidak karuan. 

Malam itu, pesta besar digelar di ballroom sebuah hotel mewah. Dan pesta itu adalah pesta ulang tahun Darmawan Wijaya, kakek Elisa, yang ke 80 tahun. 

Keluarga Wijaya sendiri adalah keluarga kaya raya, pemilik Wijaya Group, salah satu perusahaan konstruksi dan properti terbesar di negeri ini. 

"Selamat ulang tahun, Pak Darmawan. Semoga sehat selalu," seru seorang klien bisnisnya. 

"Terima kasih. Harapanku saat ini adalah semoga aku diberi umur panjang untuk melihat cicitku."

"Itu pasti, Pak Darmawan."

Pesta itu berlangsung meriah dan semua orang saling menyapa dengan sumringah, kecuali Elisa yang tidak pernah menyukai pesta. 

Di mata orang luar, Elisa adalah wanita yang sempurna, cantik, pintar, pewaris keluarga kaya. Namun, hidupnya tidak pernah sesempurna yang terlihat. 

Ia menyandarkan tangannya pada pagar balkon dan menatap keramaian di bawah sana.

Tawa para tamu terdengar samar, bercampur denting gelas wine dan musik klasik yang mengalun lembut. Pesta seperti ini selalu membuatnya lelah.

Bukan karena keramaian, melainkan karena bisik-bisik yang selalu mengikutinya. Dan seperti biasanya, bisikan itu kembali terdengar malam ini.

"Lihat, itu dia."

"Elisa Wijaya?"

"Iya, anak dari istri pertama Arman Wijaya."

Elisa tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berbicara. Sekelompok sosialita yang sering berkumpul dengan Hilda, ibu tirinya.

Suara mereka terdengar jelas dari jarak yang tidak jauh darinya. 

"Kasihan juga sebenarnya," ujar salah satu dari mereka dengan nada pura-pura simpati. "Siapa suruh ibunya selingkuh. Akhirnya Arman menikah lagi." 

"Ya, malahan bisa saja Elisa memang bukan anak kandungnya Arman Wijaya."

Tawa kecil terdengar setelahnya.

Elisa memejamkan mata sejenak. Ucapan itu sudah terlalu sering ia dengar selama bertahun-tahun.

Ibunya meninggal ketika Elisa masih berumur sepuluh tahun. 

Sejak saat itu, rumah besar keluarga Wijaya berubah menjadi tempat yang dingin baginya.

Ayahnya, Arman Wijaya, mendadak menganggapnya tak kasat mata. Arman lebih menyayangi Hilda, istri barunya dan Susan, anak mereka. Bahkan sampai sekarang, Arman tidak pernah membelanya, seolah dosa ibunya memang pantas ditanggung olehnya. 

Sementara Darmawan sendiri hanya memikirkan keturunan. Bahkan tuntutan untuk memberikan pewaris malah menjadi masalah baru karena ternyata Eddy mandul. 

"Kudengar setelah menikah tiga tahun, dia belum hamil juga." Suara bisik-bisik itu tetap berlanjut, begitu juga dengan tawa yang mengiringi setelahnya. 

"Kurasa pasti karma ibunya yang tukang selingkuh itu, sampai akhirnya dia mandul," tuduh suara-suara itu dengan kejam.

Elisa tidak tahan lagi, telinganya terasa panas. Ia menggenggam erat pagar balkon di depannya sampai buku-buku jarinya memutih.

Ucapan seperti itu bukan hal baru baginya. Namun, entah mengapa malam ini terasa lebih menyakitkan.

Elisa menelan saliva, berusaha menahan emosi yang hampir meluap. 

"Aku harus pergi dari sini," gumamnya pelan.

Elisa pun melepaskan tangannya dari pagar balkon dan berbalik, hendak meninggalkan tempat itu.

Namun, baru satu langkah, ujung sepatu hak tingginya sudah tersangkut lipatan gaunnya sendiri.

Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan.

"Akhh!"

Elisa memekik kaget saat tubuhnya terhuyung ke depan. Dalam sepersekian detik, ia sudah membayangkan dirinya jatuh memalukan di lantai balkon dan menjadi bulan-bulanan para sosialita itu. 

Untunglah sebelum itu terjadi, sebuah tangan kuat tiba-tiba menangkapnya.

Tubuh Elisa tidak jatuh ke lantai. Ia justru jatuh ke dalam pelukan kokoh seorang pria. 

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Khoirul
terlalu banyak iklan gak seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Kejutan Terindah

    "Cium aku, Leo! Background cahaya mataharinya indah sekali!" seru Elisa. Leo terus menggelengkan kepala karena kekasihnya minta berfoto dengan begitu banyak pose. Leo sendiri tidak pernah fokus menatap kamera, Leo hanya terus menatap kekasihnya. Namun, hasil foto Leo yang natural itu terlihat tetap indah sampai Elisa begitu senang. "Sudah ya, Sayang. Foto kita sudah banyak sekali." "Satu kali lagi, Leo!" rajuk Elisa. Fotografer yang tadi hanya terus tertawa melihat banyak foto bagus yang ia dapatkan dari pasangan yang fotogenik itu. Elisa pun masih mengobrol dengan fotografernya saat ponsel Leo berbunyi dan ia pun menerimanya. Telepon itu dari Gary yang ternyata sudah tiba di Bali dan di hotel yang sama untuk melakukan sesuatu yang disuruh Leo. "Aku sudah tiba, Bos. Kau di mana?" "Aku di pantai, sedang foto bersama Elisa." "Wow, foto prewedding?" "Bisa dibilang begitu. Tapi apa kau membawa yang aku suruh?" "Tentu saja beres, Bos!" Leo tersenyum puas. "Baguslah!" Tidak lam

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Prewedding Dadakan

    Beberapa hari babymoon adalah hari-hari terbaik dalam hidup Elisa. Bersama Leo, semua terasa sangat indah. Leo selalu menuruti semua yang Elisa mau, menyiapkan apa pun yang Elisa butuhkan bahkan sebelum ia meminta. Leo memijati kaki Elisa setiap malam, walaupun mereka tidak berhubungan ranjang lagi. Tentu saja itu tidak bagus dilakukan terlalu sering saat hamil. Mereka sama-sama tidak mau menyakiti bayi mereka. Mereka sangat bahagia bersama sampai Elisa tidak rela pulang begitu cepat. "Hari ini hari terakhir kita di sini," gerutu Elisa pagi itu. "Kalau kau mau, kita bisa extend, Sayang." "Tidak, aku tahu kau sedang menyiapkan rapat penting. Kau sudah satu minggu untuk babymoon ini." Leo mengangguk. "Itu tidak masalah bagiku karena kau dan anak kita adalah yang terpenting." Elisa melambung dan menangkup gemas pipi pria itu. "Tapi hidup harus tetap berjalan kan? Dan kau juga harus bekerja agar aku dan anak kita bisa tetap makan." Leo tergelak. "Tentu, Sayang. Aku harus bekerja k

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Gelang Pasangan

    Pagi itu indah, sangat indah. Elisa terbangun di pelukan Leo. Keduanya saling menatap saat bangun tidur dan berpelukan lagi begitu lama. Perasaan yang begitu indah. Mereka sarapan bersama lalu bermain pasir bersama. Leo membawa Elisa ke beberapa tempat hanya untuk menunjukkan di mana saja pria itu berinvestasi. Elisa sampai menganga tidak percaya. "Leo, kau serius? Sebanyak itu?" "Aku pandai melihat peluang, Sayang. Tapi itu berarti sumber uangku sangat banyak dan aku sangat kaya. Aku sangat mampu menghidupimu dan keluarga kita sampai tujuh turunan kelak," sahut Leo dengan penuh maksud. Elisa hanya mengangguk. "Aku tahu, aku tidak meragukan itu."Leo tertawa kecil sambil melajukan mobilnya. Leo menyetir sendiri mobilnya agar ia dan Elisa bisa mempunyai waktu privat lebih lama. "Jadi apa ada tempat lain yang ingin kau kunjungi, Sayang?" tanya Leo sambil melirik kekasihnya itu. Elisa menggeleng. "Aku tidak tahu, tapi mungkin kita bisa ke tempat membeli souvenir. Aku mau membelika

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Bercinta Lagi

    Hasrat Leo makin mengentak mendengar ucapan Elisa. Ia tidak sempat menolak atau mengatakan apa pun karena Leo juga tidak berniat menolaknya. Elisa sendiri entah sejak kapan mulai bergerak, turun dari ranjang dan berjongkok di depan Leo yang sedang duduk di ranjang. Elisa meliriknya genit, sebelum ia membelai kebanggaan Leo yang sudah menegang sempurna. "Aku akan melakukannya duluan, Leo ...," bisik Elisa, sebelum ia membuka sabuk celana Leo lalu menariknya turun. Terlihat bagian yang sangat menonjol. Elisa pun membelainya makin intens sampai Leo menelan salivanya dengan susah payah. "Sayang, jangan menggodaku!" "Aku tidak menggodamu, Leo." Elisa tersenyum nakal, sebelum ia membuka boxer Leo. Kebanggaan Leo langsung mengacung tegak di sana, membuat Elisa menatapnya kagum dan penuh hasrat. Tanpa banyak kata, Elisa menggenggamnya sampai membuat Leo menahan napasnya sejenak. Sentuhan Elisa selalu membuatnya melayang sampai ia menelan salivanya. Elisa sendiri melirik ekspresi Leo

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Memuaskan dengan Mulut

    "Elisa ... kau ...." Leo menelan salivanya lagi, terlalu kaget untuk berkata-kata, tapi tatapannya benar-benar melahap Elisa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cantik dan selalu sempurna. Elisa sendiri menatap Leo dengan salah tingkah. "Kau ... kau yang memintaku memakai lingerie ini kan?" Leo tidak menjawab saking kagumnya. Jantungnya memacu kencang dan hasratnya dengan cepat bangkit. Namun, melihat ekspresi Leo membuat Elisa mendadak ragu sampai ia menunduk, menatap dirinya sendiri. "Hmm, apa ada yang salah? Atau ... aku pasti tampak aneh memakai ini? Sudah kubilang aku pasti kelihatan seperti bola." Elisa membalikkan tubuhnya, mendadak malu karena Leo tidak mengatakan apa pun. Ia pun berniat kembali ke kamar mandi untuk mengganti baju. Namun, sebelum Elisa sempat melangkah, Leo buru-buru menghampirinya. "Tunggu, Sayang! Siapa yang bilang kau seperti bola, Sayang? Aku hanya terkejut," sahut Leo yang langsung memeluk Elisa dari belakang dan mencium bahu wanita itu. Elisa me

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pemandangan Indah

    Malam menjelang dengan cepat setelah Leo dan Elisa menghabiskan harinya di pantai. Mereka minum kelapa bersama, makan cemilan, dan bergandengan tangan sambil melangkah di pasir. Cuaca sedang bersahabat sepanjang hari itu, panasnya tidak terlalu terik dan anginnya pun tidak terlalu besar. Mereka sangat menikmati hari mereka. Beberapa kali ponsel Leo berbunyi dan terlihat seperti telepon penting, tapi Leo tidak ragu menolaknya dengan mengatakan ada hal yang lebih penting yang sedang dikerjakan. Cara Leo meratukannya benar-benar membuat Elisa melambung. Bahkan setelah mengetahui identitas asli pria itu, Elisa malah semakin kagum padanya. Dan sekarang Elisa tahu apa tugasnya. Tanpa perlu Leo memintanya lagi, Elisa sudah melirik lingerie yang tadi diletakkan asal di meja. "Sayang, kau benar-benar tidak mau mandi duluan?" tanya Leo. Leo sudah memaksa Elisa mandi duluan karena Elisa hamil dan hari sudah malam, tapi Elisa menolaknya karena ia ingin memberi kejutan untuk Leo nanti. "Kau

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Milikku Besar

    Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Aku Akan Memulainya

    Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Harus Segera Hamil

    "Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status