Share

Dikurung

Author: Mommykai22
last update publish date: 2026-06-05 21:38:18

Suara napas tertahan kembali terdengar saat Elisa menyebut kata mandul. Eddy yang mendengarnya langsung panik.

"Tidak! Itu tidak benar! Elisa Sayang, kita harus bicara!" Eddy menyambar lengan Elisa lagi, tapi Elisa menepiskannya.

Eddy baru akan menariknya lagi saat suara Arman terdengar. "Lepaskan dia, Eddy! Dan katakan apa itu benar? Kau mandul?"

Eddy menggeleng. Mati-matian ia menyembunyikan fakta itu, tapi begitu mudahnya Elisa membocorkannya. Eddy pun mendadak ingin sekali menampar Elisa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Godaan Tubuh Polosnya

    Leo mematung sejenak merasakan pelukan Elisa, dadanya terasa basah, wanita itu menangis. Namun, Leo tidak bicara lagi dan balas memeluknya erat dengan satu tangan yang masih memegang botol winenya. Elisa sendiri tidak bicara, seolah ia hanya butuh ditenangkan bukan didengarkan. Entah mengapa bersandar di dada bidang Leo selalu menenangkan, mendengar debaran jantungnya, merasakan aroma maskulinnya. Elisa menyukai semuanya. "Aku suka memelukmu, Leo," kata Elisa akhirnya. "Suka sekali." Leo melirik sejenak. "Anda tidak sedang mabuk kan? Aku masih memegang botol winenya." Elisa menaikkan alis dan akhirnya melepaskan pelukannya. "Oh, wineku! Kau mau mencobanya? Tapi aku belum mabuk, walau wajahku sudah terasa panas, tapi aku masih sangat sadar. Kau mau mencoba winenya juga?" Leo tersenyum dan mengangguk, sebelum ia meneguk wine itu langsung dari botolnya. "Hmm, baiklah, ini tidak terlalu keras, pantas saja Anda bisa menahannya." "Hmm, tidak perlu menggunakan bahasa formal kalau kita

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Selalu Bisa Menemukanmu

    "Mana Bu Elisa?" Eddy ke ruangan Elisa sore itu setelah Darmawan dan Arman pulang duluan. Hilda dan Susan juga kembali bekerja seperti biasa, benar-benar menjaga sikapnya agar tidak ada yang curiga. Namun, Eddy butuh Elisa karena ia ada janji bersama salah satu kolega untuk memperbaiki hubungan bisnis mereka. Ia berjanji mengajak Elisa bersamanya. Ririn yang melihat Eddy pun langsung berdiri. "Bu Elisa tidak ada di ruangannya sejak tadi, Pak." "Apa? Tidak ada? Ke mana dia?" "Aku tidak tahu, Pak. Sejak konferensi pers berakhir, aku belum melihatnya sama sekali." Tepat saat itu, Leo juga baru saja akan ke ruangan Elisa. Sejak tadi ia mencari Elisa yang tidak terlihat batang hidungnya. Leo pikir Elisa sibuk, tapi ternyata Eddy juga mencari wanita itu. Eddy yang melihat Leo pun langsung menatapnya tajam. "Mau apa kau ke sini? Mencari istriku lagi? Dengar ya, Leo! Aku dan yang lain baru saja menyelesaikan gosip besar, jadi jangan mencoba membuat gosip yang baru dengan mendekati ist

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Melarikan Diri

    Leo tidak menyangka di antara Arman dan Darmawan yang pernah melihatnya dulu, malah Wira yang lebih dulu menyadari bahwa Leo sama sekali bukan orang baru. Ya, entah bagaimana Wira curiga, tapi pertanyaan Wira menandakan bahwa pria itu ingat pernah melihat Leo. Namun, Leo mengernyit seperti biasa dan tetap tenang. "Aku tidak mengerti apa maksudnya, Pak Wira? Tentu saja kita pernah bertemu, aku sudah bekerja di Wijaya Group selama enam bulan kan?" "Tidak! Bukan itu maksudku. Tapi dulu, mungkin kita pernah bertemu sebelum di Wijaya Group ...." Leo menaikkan alisnya, memutar bola matanya seolah mengingat. "Aku tidak ingat pasti, mungkin saja kita pernah bertemu di sebuah acara atau apa pun yang kita tidak ingat. Aku tidak bisa memastikannya, Pak." Wira terdiam sejenak, seolah berpikir keras, sebelum ia bicara lagi. "Coba lepaskan kacamatamu! Mungkin tanpa bingkai itu aku bisa melihatmu lebih jelas!"Lagi-lagi Leo menaikkan alisnya. "Apa aku sedang diinterogasi? Untuk apa aku melepas

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Terpaksa Mengalah

    "Biarkan aku masuk atau panggil Bu Elisa keluar, aku mau bicara dengannya!" Leo masih berdiri kukuh di depan satpam rumah yang menghadangnya. Namun, sang satpam juga sama kukuhnya dengan tidak mengijinkan Leo masuk. Bahkan satpam itu memanggil satu temannya, hingga sekarang ada dua satpam yang menghadang Leo. "Kami sudah bilang Bu Elisa tidak bisa ditemui oleh siapa pun. Sejak ada gosip, keamanan rumah memang diperketat, jadi kami tidak bisa membiarkan siapa pun masuk." "Kalian tahu aku asisten keluarga ini kan?" "Tetap saja, Pak, tanpa perintah, kami tidak akan mengijinkan Anda masuk." Leo sudah mengepalkan tangannya, bersiap menghajar kedua satpam bertubuh besar itu. Namun, sebelum ia sempat melakukannya, mendadak Wira sudah melangkah keluar. "Ada apa ini? Ada keributan apa?" Wira melangkah begitu tenang mendekati Leo di depan pintu gerbang. Leo menegang menatap Wira, pria paruh baya itu mempunyai wajah bengis dengan aura yang gelap juga. Leo sama sekali tidak menyukainya. "

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Ancaman

    "Kira-kira apa yang mereka bicarakan, Bos? Mengapa aku ikut penasaran." Gary dan Leo masih menunggu di mobil tidak jauh dari rumah Elisa. Mereka pun masih menerka-nerka apa yang terjadi di dalam, saat ponsel Leo berbunyi. "Ini Elisa!" seru Leo yang langsung mengangkat teleponnya. "Halo, Bu?" "Halo, Leo! Tolong aku! Grandpa mengurungku!" Leo langsung membelalak mendengarnya. "Apa? Dikurung bagaimana? Anda di mana sekarang?" Elisa mengembuskan napas lelahnya dan ia ingin menangis. "Grandpa memintaku datang ke konferensi pers besok untuk membantah skandal perselingkuhan itu. Aku harus sok mesra bersama Eddy dan mengakui semua hanya salah paham. Tapi aku tidak mau, Leo! Demi apa pun, aku tidak mau!" "Tenanglah dulu, Bu Elisa!" "Aku tidak bisa tenang! Grandpa mengurungku untuk memastikan kalau aku tidak akan kabur dan akan hadir di acara besok! Aku tidak mau, Leo! Aku ...." Belum sempat Elisa menyelesaikan ucapannya, pintu kamarnya sudah dibuka dan Eddy masuk ke sana. Elisa langsun

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Dikurung

    Suara napas tertahan kembali terdengar saat Elisa menyebut kata mandul. Eddy yang mendengarnya langsung panik. "Tidak! Itu tidak benar! Elisa Sayang, kita harus bicara!" Eddy menyambar lengan Elisa lagi, tapi Elisa menepiskannya. Eddy baru akan menariknya lagi saat suara Arman terdengar. "Lepaskan dia, Eddy! Dan katakan apa itu benar? Kau mandul?" Eddy menggeleng. Mati-matian ia menyembunyikan fakta itu, tapi begitu mudahnya Elisa membocorkannya. Eddy pun mendadak ingin sekali menampar Elisa saat ini. Dari yang awalnya memelas ingin perhatian lagi mendadak berubah menjadi amarah tertahan. "Ayah, Elisa hanya asal bicara! Dia hanya sedang kesal padaku." Eddy membela diri. Namun, Elisa malah tertawa kesal. "Aku tidak asal bicara, Eddy! Untuk apa lagi aku menyimpan rahasiamu kalau kau sendiri tidak bisa menghargaiku?" Susan dan Hilda sendiri sudah membelalak kaget. Mereka tidak pernah tahu kalau Eddy mandul. Lalu apa yang diharapkan Susan dari pria mandul seperti Eddy. Hilda pun te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status