공유

Milikku Besar

작가: Mommykai22
last update 게시일: 2026-03-07 18:26:37

Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.

Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah.  

"Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipi Leo sampai wajah tampan itu menoleh. 

Napas Elisa memburu, wajahnya seketika memerah karena malu dan marah. Ini ciuman pertamanya dengan pria lain selain suaminya. 

Leo sendiri terdiam dan menenangkan napasnya. Ia tidak menyangka Elisa akan menamparnya. Sambil menenangkan napasnya, ia kembali menatap wanita itu. 

"Anda bilang untuk mulai kan?" ucap Leo pelan, tanpa emosi sama sekali. 

"Tapi bukan begitu caranya!" Elisa mendadak memeluk dirinya sendiri, seolah ingin melindungi tubuhnya dari sesuatu yang baru saja terjadi. "Aku tidak memintamu menciumku seperti itu."

Elisa sangat marah. Ia ingin membentak, ingin mengusir pria itu dari kamar hotel dan membatalkan semuanya. 

Namun, mendadak bayangan wajah bengis Hilda muncul, senyum sinis Susan, wajah putus asanya Eddy sampai mengambil jalan ini ....

Semua itu seperti tangan tak terlihat yang menahannya di tempat, seolah semua beban itu menghimpit dada dan pundaknya saat ini. 

"Aku ...." Tatapan Elisa goyah dan akhirnya emosinya sedikit teredam. "Itu ... maafkan aku, Leo. Tidak seharusnya aku menamparmu. Aku hanya terkejut dan ... belum terbiasa." 

Elisa belum terbiasa disentuh pria lain. Belum terbiasa mengkhianati pernikahannya. Belum terbiasa mengorbankan harga diri dan merelakan tubuhnya dinikmati pria lain dengan alasan konyol ini. 

Leo menatap Elisa lebih lama dan mengangguk paham. Sekalipun ruangan masih begitu gelap, tapi mata mereka yang sudah terbiasa dalam gelap membuat mereka bisa melihat satu sama lain dengan jelas. 

"Aku mengerti, Bu. Dan kalau Anda ingin aku berhenti ...." 

"Tidak!" sela Elisa cepat. "Jangan berhenti! Aku ... mau melanjutkan semua ini." 

"Anda yakin, Bu? Anda bisa memikirkannya dan aku akan menyalakan lampunya."

Baru saja Leo akan pergi menyalakan lampu, tapi Elisa langsung memegangi lengan pria itu. "Jangan pergi, Leo! Tidak usah menyalakan lampunya. Lanjutkan saja ...." 

Suara Elisa melembut, genggaman tangan wanita itu di lengan Leo pun membangkitkan hasrat Leo yang memang sejak tadi sudah meronta. 

"Baiklah," jawab Leo, menginginkan yang sama. 

Perlahan Leo melangkah mendekat. Kali ini ia lebih hati-hati agar Elisa tidak terkejut. Tangannya menyentuh lengan Elisa terlebih dahulu dengan ringan, seolah meminta ijin.

Elisa merinding.

Sentuhan itu berbeda. Tidak tergesa-gesa, tidak menuntut. Jari-jari Leo menyusuri lengannya perlahan, lalu berhenti di bahunya.

"Kapan saja Anda ingin berhenti, katakan saja, Bu Elisa ...," bisiknya pelan. 

Elisa tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata lebih erat, menahan debar jantung yang makin tidak terkendali.

Sudah berapa lama ia tidak disentuh selembut ini?

Dulu Eddy lembut, tapi terakhir kali mereka bercinta, yang Elisa ingat hanyalah Eddy yang selalu tergesa, tidak pernah mengeksplore lebih, dan terasa seperti hanya menjalankan kewajiban semata. Seringkali Elisa belum puas, tapi Eddy tidak peduli, suaminya itu hanya memikirkan kepuasannya sendiri. 

Tidak pernah ada sentuhan yang berhenti hanya untuk merasakan, seperti yang sedang Leo lakukan saat ini. Bahkan tangan pria itu memijat lembut bahu Elisa sampai ia mulai rileks. 

Leo mendorong Elisa lembut hingga wanita itu duduk kembali di ranjang. Leo pun duduk di sampingnya dan perlahan mendekatkan wajahnya. 

Mata Elisa masih terpejam erat. Namun, ia bisa merasakan hangat napas dan aroma maskulin yang makin dekat, sebelum akhirnya bibir Leo kembali mendarat di lehernya. 

Elisa kaku sejenak, tapi ada sesuatu dalam ciuman Leo yang mendadak membuatnya rileks kembali. Mungkin, tubuhnya sudah terlalu lama lapar akan kehangatan.

Tangan Leo berpindah ke pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat, seolah memastikan ia tidak menjauh.

Napas mereka beradu. Bahkan tangan Elisa sudah berpegangan pada lengan kekar pria itu. 

Perlahan, ciuman Leo naik ke rahangnya, menyentuh pipinya, sampai akhirnya bertemu dengan bibirnya lagi. Dan lagi-lagi Elisa tersentak.  

Ia kembali menahan dada Leo sambil memundurkan wajahnya. Baginya, bertukar saliva terlalu intim, ia tidak bisa melakukannya seperti itu. 

"Leo, bisakah kita tidak perlu berciuman bibir? Itu ... langsung saja ...." 

Leo terdiam sejenak. "Tidak bisa, Bu." 

Elisa mengernyit. "Apa maksudmu tidak bisa? Kau bilang aku boleh memerintah dan kau akan menurutinya kan?" 

"Tapi aku harus membuat Anda cukup basah untuk menerimaku." 

Jawaban Leo benar-benar membuat Elisa terdiam seribu bahasa. Bahkan Eddy seringkali tidak menunggunya basah. Seringkali rasa itu menyakitkan baginya, tapi Leo malah memikirkan dirinya, memastikan dirinya siap dulu. 

"B-basah?" Elisa terbata mengulangi kata vulgar itu. 

Namun, Leo hanya tersenyum tipis, mendadak gemas pada Elisa yang seperti wanita polos, padahal wanita itu sudah bersuami. 

"Anda sudah sering melakukannya kan, Bu? Aku harus membuat Anda sangat terangsang agar Anda siap menerimaku. Anda harus benar-benar basah karena ... milikku besar, Bu Elisa ...." 

**

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Hari Sulistyorini
waduh ...tambah seru ceritanya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   CEO yang Menyamar

    Ucapan Bik Imah membuat dunia Elisa kembali runtuh untuk kesekian kalinya hari itu."Apa ...?" lirihnya hampir tidak bersuara. "Nenek bukan neneknya Leo?"Bik Imah menggeleng pelan. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikan dan ia menangkup tangan Elisa makin erat, membiarkan air mata keduanya jatuh membasahi tangan mereka. Tidak ada yang bicara lagi setelahnya karena Elisa mendadak gemetar. Bayangan tentang kobaran api, rasa panas, teriakan semua orang, mendadak memenuhi otak dan telinganya. Getaran itu makin lama makin nyata. Trauma itu kambuh lagi sampai membuat napas Elisa makin berat. "Aku ... aku ...." Bik Imah mendongak menatap Elisa yang terlihat seperti orang yang kehabisan oksigen. "Elisa! Elisa! Ada apa?" Handi dan Daisy ikut cemas."Ada apa? Apa yang terjadi?" "Dia punya trauma pada api, Pak." "Apa? Trauma ... api? Bagaimana bisa? Kau tidak apa, Elisa?" Handi langsung menatap Elisa lekat-lekat. Bagaimanapun, pengalamannya sebagai polisi membuatnya sudah be

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Kejujuran

    Handi terdiam cukup lama. Ia tidak pernah menyangka Elisa akan muncul di hadapannya seperti ini. Tatapannya pun berpindah dari Elisa ke Bik Imah, seolah meminta pendapat wanita tua itu. Bik Imah hanya mengembuskan napas panjang lalu mengangguk pelan.Handi sendiri balas mengangguk dan kembali menatap Elisa. "Baiklah, masuklah dulu, Elisa!" Elisa menggeleng cepat. "Tidak! Jawab dulu pertanyaanku!" Suaranya bergetar hebat. "Apa benar keluargaku membunuh orang tua Leo?"Handi memejamkan mata sejenak. Ia iba pada Elisa, tapi sebagai polisi, ia sudah biasa mengesampingkan perasaan demi sebuah kebenaran. "Aku sudah pernah mengatakannya padamu, tapi kau menolak percaya. Lalu kali ini, kau datang karena kau percaya atau hanya untuk menolak percaya lagi?" Tatapan Elisa goyah lagi, tapi ia langsung menggeleng. "Tolong jangan berputar-putar, Pak Handi! Aku harus tahu semuanya. Aku tinggal bersama mereka seumur hidupku. Aku membela mereka mati-matian. Kalau ternyata semuanya benar, aku berhak

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Kebenaran

    Suasana ruang rapat kembali hening. Darmawan merasa terancam, bukan hanya oleh keberadaan Leo sebagai pemegang saham terbesar Wijaya Group, tapi karena sebuah rahasia yang seperti disembunyikan oleh Leo. Nyawa? Apa hubungannya dengan nyawa? Apa sebenarnya yang Leo maksud? Darmawan dan Arman membelalak, menatap lekat kedua manik mata Leo yang membuat mereka seolah mengenali tatapan itu. "Kau! Kau! Siapa ... siapa kau sebenarnya?" Leo tersenyum miring sambil melangkah mendekati kursi roda Darmawan. Wira sempat menghalanginya, tapi Gary balas menyingkirkan lengan pria itu. Leo membungkuk dan menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Darmawan. "Hartono! Anda pasti ingat nama itu kan? Dulu Anda menyingkirkan mereka secara kejam, siapa yang menyangka kini Anda malah harus bekerja untuk anak mereka." Darmawan dan Arman membelalak makin lebar, begitu juga Wira yang akhirnya sadar. Selama ini ia terus bertanya-tanya di mana ia pernah melihat tatapan yang familiar itu, tapi Wira tida

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Identitasnya

    Semua orang kembali hening mendengar titah Darmawan yang begitu tegas. Para manager terdiam karena kemarahan Darmawan adalah hal yang menakutkan. Namun, Leo malah langsung tertawa tanpa rasa takut sama sekali. "Berlutut di kaki Anda? Anda terlalu haus hormat, Pak Darmawan." "Kau tidak sopan sekali, Leo!" "Pak Leo!" ralat Leo. "Karena mulai hari ini, masa depan Anda di perusahaan ini adalah tergantung padaku." Darmawan membelalak lagi mendengarnya. Ia menoleh ke arah Arman yang sama-sama belum mengerti apa pun. "Kurang ajar sekali! Apa pimpinan Hartono Group akan datang hari ini? Biarkan kami bertemu dengannya!" seru Arman. Lagi-lagi Leo tertawa. "Pimpinan Hartono Group sudah ada di depan Anda, Pak Arman, tidak usah dicari lagi." Lagi-lagi Arman dan Darmawan membelalak bersamaan. "Apa? Apa maksud semua ini? Siapa pimpinan Hartono Group?" geram Darmawan. "Pimpinan Hartono Group adalah bosku. Ah, aku harus meralat, aku adalah asisten pimpinan Hartono Group dan bosku adalah Leo,

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Berlutut di Kakiku

    Leo melangkah dengan penuh percaya diri memasuki gedung perusahaan Wijaya Group. Para wartawan langsung mengambil fotonya karena semua orang sudah mengetahui bahwa hari ini adalah hari besar di mana akan diadakan rapat umum pemegang saham untuk menentukan masa depan Wijaya Group. Dan Leo pasti adalah salah satu pemegang sahamnya. Semua tatapan langsung tertuju pada Leo yang auranya langsung memikat banyak orang. Gary dan anak buah Leo serta satpam langsung menghalau para wartawan, sehingga Leo bisa melangkah dengan mulus. Namun, tatapan semua orang tetap tidak pernah lepas darinya, apalagi beberapa orang langsung mengenalinya sebagai Leo, mantan asisten Eddy. Penampilan Leo sendiri sudah berbeda dari Leo yang berambut klimis dan berkacamata seperti dulu. Leo yang sekarang sudah melepaskan kacamatanya dan rambutnya pun ditata lebih stylish seperti gaya Leo yang sesungguhnya. Elisa sendiri yang sudah sering melihat gaya baru Leo pun tidak banyak bertanya, tapi Elisa tetap tidak tahu

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pimpinan Baru

    Bik Imah tidak pernah berpikir Elisa akan mengingat wajah Arman dan Lily yang sudah lama meninggal, apalagi saat itu, Elisa masih kecil. Karena itu, Bik Imah dengan jujurnya memberitahu siapa yang ada di foto itu. Elisa yang mendengarnya seketika membeku. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar.Matanya terpaku pada foto usang di tangannya, sementara ucapan Bik Imah terus bergema di kepalanya."Kedua orang itu adalah mendiang orang tua Leo.""Itu ... orang tua Leo ... adalah Om Anton dan Tante Lily?" ulang Elisa terbata. "Mereka ... dulu bekerja sebagai asisten Arman Wijaya dari Wijaya Group?" lirih Elisa lagi. Bik Imah tidak berani menjawab lagi. "Elisa, ini ...." Elisa menyela. "Mereka meninggal dalam kebakaran gudang, kebakaran gudang Wijaya Group. Itu ...." Elisa tidak pernah bisa menyelesaikan ucapannya karena kepalanya mendadak berputar hebat. Dadanya terasa sesak seperti ada sesuatu yang menghimpit kuat.Selama ini, Leo sudah mengetahui fakta itu, tapi tidak pernah s

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Harus Segera Hamil

    "Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Memuaskan Diri Sendiri

    Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status