ログインLeo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.
Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah.
"Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Leo sampai wajah tampan itu menoleh.
Napas Elisa memburu, wajahnya seketika memerah karena malu dan marah. Ini ciuman pertamanya dengan pria lain selain suaminya.
Leo sendiri terdiam dan menenangkan napasnya. Ia tidak menyangka Elisa akan menamparnya. Sambil menenangkan napasnya, ia kembali menatap wanita itu.
"Anda bilang untuk mulai kan?" ucap Leo pelan, tanpa emosi sama sekali.
"Tapi bukan begitu caranya!" Elisa mendadak memeluk dirinya sendiri, seolah ingin melindungi tubuhnya dari sesuatu yang baru saja terjadi. "Aku tidak memintamu menciumku seperti itu."
Elisa sangat marah. Ia ingin membentak, ingin mengusir pria itu dari kamar hotel dan membatalkan semuanya.
Namun, mendadak bayangan wajah bengis Hilda muncul, senyum sinis Susan, wajah putus asanya Eddy sampai mengambil jalan ini ....
Semua itu seperti tangan tak terlihat yang menahannya di tempat, seolah semua beban itu menghimpit dada dan pundaknya saat ini.
"Aku ...." Tatapan Elisa goyah dan akhirnya emosinya sedikit teredam. "Itu ... maafkan aku, Leo. Tidak seharusnya aku menamparmu. Aku hanya terkejut dan ... belum terbiasa."
Elisa belum terbiasa disentuh pria lain. Belum terbiasa mengkhianati pernikahannya. Belum terbiasa mengorbankan harga diri dan merelakan tubuhnya dinikmati pria lain dengan alasan konyol ini.
Leo menatap Elisa lebih lama dan mengangguk paham. Sekalipun ruangan masih begitu gelap, tapi mata mereka yang sudah terbiasa dalam gelap membuat mereka bisa melihat satu sama lain dengan jelas.
"Aku mengerti, Bu. Dan kalau Anda ingin aku berhenti ...."
"Tidak!" sela Elisa cepat. "Jangan berhenti! Aku ... mau melanjutkan semua ini."
"Anda yakin, Bu? Anda bisa memikirkannya dan aku akan menyalakan lampunya."
Baru saja Leo akan pergi menyalakan lampu, tapi Elisa langsung memegangi lengan pria itu. "Jangan pergi, Leo! Tidak usah menyalakan lampunya. Lanjutkan saja ...."
Suara Elisa melembut, genggaman tangan wanita itu di lengan Leo pun membangkitkan hasrat Leo yang memang sejak tadi sudah meronta.
"Baiklah," jawab Leo, menginginkan yang sama.
Perlahan Leo melangkah mendekat. Kali ini ia lebih hati-hati agar Elisa tidak terkejut. Tangannya menyentuh lengan Elisa terlebih dahulu dengan ringan, seolah meminta ijin.
Elisa merinding.
Sentuhan itu berbeda. Tidak tergesa-gesa, tidak menuntut. Jari-jari Leo menyusuri lengannya perlahan, lalu berhenti di bahunya.
"Kapan saja Anda ingin berhenti, katakan saja, Bu Elisa ...," bisiknya pelan.
Elisa tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata lebih erat, menahan debar jantung yang makin tidak terkendali.
Sudah berapa lama ia tidak disentuh selembut ini?
Dulu Eddy lembut, tapi terakhir kali mereka bercinta, yang Elisa ingat hanyalah Eddy yang selalu tergesa, tidak pernah mengeksplore lebih, dan terasa seperti hanya menjalankan kewajiban semata. Seringkali Elisa belum puas, tapi Eddy tidak peduli, suaminya itu hanya memikirkan kepuasannya sendiri.
Tidak pernah ada sentuhan yang berhenti hanya untuk merasakan, seperti yang sedang Leo lakukan saat ini. Bahkan tangan pria itu memijat lembut bahu Elisa sampai ia mulai rileks.
Leo mendorong Elisa lembut hingga wanita itu duduk kembali di ranjang. Leo pun duduk di sampingnya dan perlahan mendekatkan wajahnya.
Mata Elisa masih terpejam erat. Namun, ia bisa merasakan hangat napas dan aroma maskulin yang makin dekat, sebelum akhirnya bibir Leo kembali mendarat di lehernya.
Elisa kaku sejenak, tapi ada sesuatu dalam ciuman Leo yang mendadak membuatnya rileks kembali. Mungkin, tubuhnya sudah terlalu lama lapar akan kehangatan.
Tangan Leo berpindah ke pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat, seolah memastikan ia tidak menjauh.
Napas mereka beradu. Bahkan tangan Elisa sudah berpegangan pada lengan kekar pria itu.
Perlahan, ciuman Leo naik ke rahangnya, menyentuh pipinya, sampai akhirnya bertemu dengan bibirnya lagi. Dan lagi-lagi Elisa tersentak.
Ia kembali menahan dada Leo sambil memundurkan wajahnya. Baginya, bertukar saliva terlalu intim, ia tidak bisa melakukannya seperti itu.
"Leo, bisakah kita tidak perlu berciuman bibir? Itu ... langsung saja ...."
Leo terdiam sejenak. "Tidak bisa, Bu."
Elisa mengernyit. "Apa maksudmu tidak bisa? Kau bilang aku boleh memerintah dan kau akan menurutinya kan?"
"Tapi aku harus membuat Anda cukup basah untuk menerimaku."
Jawaban Leo benar-benar membuat Elisa terdiam seribu bahasa. Bahkan Eddy seringkali tidak menunggunya basah. Seringkali rasa itu menyakitkan baginya, tapi Leo malah memikirkan dirinya, memastikan dirinya siap dulu.
"B-basah?" Elisa terbata mengulangi kata vulgar itu.
Namun, Leo hanya tersenyum tipis, mendadak gemas pada Elisa yang seperti wanita polos, padahal wanita itu sudah bersuami.
"Anda sudah sering melakukannya kan, Bu? Aku harus membuat Anda sangat terangsang agar Anda siap menerimaku. Anda harus benar-benar basah karena ... milikku besar, Bu Elisa ...."
**Pagi itu, Rahmat bersiap ke kota. Ia dan Nila membawa tas berisi baju-baju yang lebih banyak karena mereka akan tinggal lama di kota. "Aku berdebar, Rahmat," seru Nila. "Aku juga, tapi kita sudah melakukan hal yang benar kali ini." "Tapi entah mengapa perasaanku tidak enak, Rahmat!" Nila memegangi dadanya yang terasa berat. Rahmat yang mendengarnya langsung menghela napas panjang. "Sekarang apa lagi, Nila? Saat aku diam, kau terus mengomel dan minta aku bicara. Sekarang aku sudah mau bicara, kau malah bilang perasaanmu tidak enak dan membuatku kembali galau. Jadi apa yang kau mau, hah?" omel Rahmat yang saking berdebar sampai menjadi sewot. "Aku hanya mengatakan apa adanya." "Aku juga mengatakan apa adanya. Aku sudah menelepon Pak Gary kemarin dan kita tidak bisa mundur lagi, jadi naiklah ke sepeda motor dan kita akan berangkat sekarang." Nila mengangguk patuh dan naik sepeda motor dibonceng suaminya. Sepanjang jalan, Nila terus memeluk pinggang suaminya, menyandarkan kepala ke
Suasana kembali hening sejenak, sebelum Rahmat menjawabnya. Rahmat bukan pria yang sungkan-sungkan. Ia akan memberi kesaksian agar hidupnya tenang, tapi ia ingin timbal balik, ia tidak butuh banyak uang, ia hanya butuh istrinya mendapat perawatan yang layak dan sembuh. "Ya, ini benar aku," jawab Rahmat akhirnya. "Aku ... apa tawaran Anda waktu itu masih berlaku? Besok aku akan ke kota. Aku sudah memutuskan untuk speak up, aku melihat sendiri bagaimana Wira membakar semuanya dan sengaja membiarkan kebakaran itu terjadi. Bahkan Darmawan dan Arman ikut berdiri di depan gudang saat kebakaran itu terjadi. Aku tahu semua dan aku akan bersaksi untuk menjebloskan mereka ke penjara." Tawa Gary langsung sumringah mendengarnya, begitu juga Leo yang ikut mendengar karena Gary sudah menyalakan speakernya. "Itu keputusan yang tepat, Pak Rahmat. Sangat tepat," jawab Gary. Rahmat mengangguk. "Tapi Anda janji akan menjamin keselamatanku dan istriku kan? Istriku butuh perawatan karena ia sakit-saki
Elisa duduk di meja makannya malam itu. Tidak ada Gary, tidak ada Leo karena mereka sedang sangat sibuk. Elisa tidak tahu kesibukan apa itu, tapi Elisa yakin ini tentang perusahaan dan keluarga Wijaya. Elisa tidak nyaman, sangat tidak nyaman dengan situasi ini. Darmawan dan Arman keluarganya, tapi bahkan Elisa tidak tahu sekarang harus membantu keluarganya atau diam saja seolah tidak tahu apa-apa. "Kak Elisa tidak makan?" Suara Rara tiba-tiba membuat Elisa tersentak. "Ah, iya, Kakak makan. Rara makan dulu. Tapi mana Nenek?" "Nenek keluar, tadi katanya mau membuang sampah." "Ah, begitu ya? Kakak ... Kakak akan menyusulnya." Elisa butuh mencari udara segar dan ia pun berniat keluar, tapi belum sempat ia keluar sepenuhnya, suara Daisy dan Bik Imah sudah terdengar tidak jauh darinya. Mungkin keduanya masih berada di tempat membuang sampah, tapi karena koridor yang sepi, Elisa bisa mendengar suara mereka dengan sangat jelas. "Jadi benar Bu Hilda dan Susan disekap? Bibik tidak menya
Albert yang sudah hampir melangkah keluar dari gudang mendadak menghentikan langkahnya. Matanya kembali tertuju pada baskom-baskom yang tergeletak di sudut ruangan.Satu baskom berisi air. Satu lagi berisi nasi yang sudah berubah menjadi bubur encer. Dan di lantai, ada noda darah kering. Walau warnanya sudah kecoklatan, tapi Albert tahu persis kalau itu darah. Albert pun menatap sekelilingnya. Anak buahnya keluar bersama anak buah Arman, sedangkan ia langsung bergerak cepat, mengambil foto dan video dari TKP, sebelum ia menyusul keluar dari gudang itu. "Jadi Anda tidak menemukan apa-apa kan? Karena itu, silakan pulang, Pak," kata salah satu anak buah saat Albert akhirnya keluar dari sana. "Ya, tidak ada, tapi aroma di gudang itu agak aneh, seperti aroma keringat dan anyir darah." "Mungkin darah tikus. Di gudang seperti itu banyak tikus," sahut anak buah Arman lagi. "Tikus? Jadi kalian memberi makan tikus juga? Aku melihat baskom berisi air dan nasi." "Itu untuk anjing, Pak. Ada
Albert membawa dua anak buahnya menuju ke rumah keluarga Wijaya sambil membawa surat penggeledahan sore itu. "Permisi, ini dengan rumah keluarga Wijaya?" Anak buah tampak kaget melihat ada polisi yang datang ke rumah itu lagi. Kali ini, polisinya berbeda dengan yang tadi dan ia langsung melapor pada Arman. "Apa? Polisi lagi?" geram Arman. "Mereka ingin bertemu pemilik rumah, Pak." "Sial, apa lagi ini?" Arman marah, tapi ia berusaha kooperatif. Ia yakin para polisi itu datang karena telepon dari Hilda tadi siang. "Aku Arman Wijaya, pemilik rumah ini. Ada yang bisa kubantu?" "Ah, selamat sore, Pak Arman. Maaf kami menggangu, tapi kami mendapat telepon tadi tentang adanya orang yang disekap di rumah ini," ucap Albert sambil melirik sekelilingnya. Arman mengepalkan tangan geram karena Hilda sudah berani membuat kekacauan. "Anda tidak bercanda kan, Pak? Ada orang disekap? Di rumahku? Jangan gila, Pak!" "Maaf, kami membawa surat penggeledahan, jadi ijinkan kami melakukan tugas k
"Iya, Ibu! Cepat telepon polisi sebelum pelayan itu masuk lagi. Cepat, Ibu!" Hilda mengangguk dan langsung menelepon polisi, tapi ia mengumpat karena teleponnya tidak kunjung diangkat. "Sial! Tidak diangkat, Susan! Siapa lagi yang harus kita telepon?" "Telepon Velia, Ibu. Telepon Velia!" "Dia tidak bisa diandalkan! Sial! Ayo angkat! Ayo angkat!" geram Hilda lagi. Beruntung tidak lama kemudian, teleponnya diangkat dan terdengar suara pria di ujung sana. "Halo? Selamat siang!" "Halo dengan kantor polisi. Aku dari rumah keluarga Wijaya. Aku sedang disekap di gudang, tolong aku! Tolong aku karena tidak lama lagi mereka pasti akan membunuhku! Tolong ...." Brak!Belum sempat Hilda menyelesaikan ucapannya, tapi mendadak pintu gudang sudah dibuka lagi dengan kasar. Terlihat Luki masuk ke sana bersama Arman. Luki menyeret Nina dan mendorongnya hingga terjatuh sampai Hilda langsung ketakutan. "Halo! Halo!" seru suara polisi di ujung sana. "Bicara yang jelas! Berikan alamat yang jelas!
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak







