LOGIN"Apa? Percobaan apa? Percobaan pembunuhan? Siapa maksudmu yang mencoba membunuhnya? Jangan bilang Grandpa, Leo! Jangan bilang Grandpa!" Mungkin di hati kecil Elisa mulai ada keraguan. Rasanya sesak dan membingungkan untuknya. Kakek yang ia sayangi sejak kecil mendadak dijelekkan oleh banyak orang sekarang. Ya, sekalipun Darmawan kasar, Elisa menyayanginya. Dan walaupun Darmawan bukan pria baik, tapi Elisa menolak percaya kalau kakeknya itu seorang pembunuh. "Ini pasti salah, Leo! Bagaimana kalian bisa bilang percobaan pembunuhan? Aku ... aku mau menemui polisi itu, bawa aku ke sana, aku harus bertanya langsung padanya!" Elisa seperti orang kebingungan. Satu persatu masalah baru muncul di saat masalah yang lama belum selesai dan membuat Elisa tidak bisa bernapas lega. Ia pun memegangi perutnya dan ia merasa bersalah karena sudah membuat bayi di kandungannya ikut stres. Sementara itu, Darmawan lagi-lagi marah mendengar bahwa orang suruhannya gagal membunuh Handi. "Apa maksudmu, W
"Sial! Mereka diserang!" pekik Gary emosi. Sejak diminta Leo untuk mengawasi Handi, Gary langsung mengutus anak buahnya untuk mengikuti Handi dan melindunginya dari kemungkinan serangan Darmawan. Hanya saja, malam itu, Gary ikut sendiri turun ke lapangan. Dan tepat sekali, ia melihat langsung bagaimana Handi diserang oleh dua pria berhelm. "Tabrak motor mereka sekarang!" titah Gary yang langsung menjadi mode serius. Anak buah yang menyetir langsung menabrakkan mobilnya ke motor yang tergeletak di jalan, lalu dengan cepat Gary dan dua anak buahnya turun dari mobil. Handi dan dua penjambret sempat kaget dan menoleh. Dua penjambret pun langsung panik saat anak buah Gary menyergap dan menghajar mereka. Sementara Gary sendiri langsung menghampiri Handi. "Anda tidak apa, Pak?" "Anakku! Anakku!" lirih Handi yang hanya memikirkan Daisy. Tepat saat itu, Daisy yang sudah dilepas oleh penjambret juga langsung berlari menghampiri Handi. Daisy duduk di jalan sambil memeluk ayahnya itu. "
"Apa saja yang kau beli, hah? Banyak sekali!" Seorang pria paruh baya sedang berada di minimarket bersama putrinya malam itu. Dan pria itu adalah Handi. Ia melihat anaknya mengisi penuh keranjang belanjaannya. "Banyak yang mau aku beli, Ayah. Semua stok makanan di rumah sudah habis," jawab wanita muda itu. Dan wanita itu adalah anak Handi, namanya Daisy, bukan anak kandungnya, melainkan anak Eko, bawahannya yang dibunuh secara kejam oleh Wijaya Group. Eko merupakan single parent karena istrinya sudah meninggal duluan. Eko pun begitu giat mencari kebenaran tentang kebakaran di Wijaya Group dengan harapan perjuangannya akan membuahkan hasil, naik jabatan, dan gaji lebih tinggi demi kehidupan Daisy. Namun, alih-alih naik jabatan, Eko malah mendapat teror dan ancaman. Tidak lama setelahnya, Eko meninggal dalam kecelakaan tragis. Sejak saat itu, Handi mengangkat Daisy menjadi anaknya dan ia benar-benar membesarkan anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang, seperti anak kandu
Mobil Wira akhirnya melaju meninggalkan halaman rumah, tapi alih-alih Elisa, malah Bik Imah yang terlihat sangat lega sampai tubuhnya lemas. Elisa yang memeluk Bik Imah sampai langsung kaget dan memeluk wanita tua itu makin erat. "Nek, Nenek tidak apa?" "Ada apa, Nek?" tanya Leo juga. Bik Imah menggeleng menatap Leo, ada ketakutan di tatapan itu dan Leo sangat menyadarinya. Apa yang sudah Wira lakukan pada kedua orang tua Leo memang menimbulkan trauma yang begitu hebat sampai tubuh Bik Imah gemetar sendiri tanpa bisa ia cegah. "Nenek ... Nenek tidak apa. Nenek hanya lega karena pria jahat itu sudah pergi!" ucap Bik Imah terbata. Untuk sesaat, semua langsung terdiam mendengar Bik Imah mengatakan pria jahat. Tentu saja Leo dan Gary mengerti maksudnya, tapi Elisa langsung mengernyit bingung. "Pria jahat? Om Wira maksudnya, Nek?" Bik Imah yang tersentak dengan ucapannya sendiri langsung menoleh menatap Elisa dan kembali menggeleng. "Ah, maaf, Nenek pasti sedang melantur, Elisa. Ne
"Sial, Elisa tidak mengangkat teleponku!" geram Leo saat ia sudah duduk di mobil bersama Gary. Tadinya Leo masih rapat penting di kantornya sampai ia terlambat mengetahui tentang Elisa. Barulah setelah rapat, anak buah memberitahunya bagaimana Elisa dikerumuni wartawan di depan Wijaya Group. Leo yang geram pun meminta Gary untuk ngebut pulang sambil Leo menelepon Elisa, tapi tidak kunjung diangkat. Hingga saat mobilnya sudah berada cukup dekat dari rumahnya, Leo mengernyit melihat mobil asing di sana. Apalagi sosok Wira muncul sambil menarik tangan Elisa. Leo langsung marah. Dengan cepat, ia keluar dari mobilnya dan menghampiri Wira. "Lepaskan dia! Tanpa seijinku, tidak ada orang yang bisa membawanya pergi dari sini!" Suasana langsung hening sejenak saat mereka mendengar suara Leo. Wira langsung berbalik dan tatapannya bertemu dengan tatapan Leo yang tajam. Tangan Wira masih memegang tangan Elisa. "Kau!" geram Wira. Wira memang sudah mencari tahu tentang Elisa karena Darmawan
Elisa kaget mendengarnya. Tatapannya masih tertuju pada pria berhelm hitam yang berdiri di hadapannya. Wajah pria itu sama sekali tidak terlihat karena tertutup helm gelap, hanya suaranya yang terdengar berat dan menunjukkan usianya sudah tidak muda lagi."A-Anda mengenaliku? Siapa Anda? Aku tidak bisa melihat wajah Anda." Rahmat tersentak dan langsung menunduk, seolah takut Elisa bisa mengenalinya, padahal ia masih memakai helm tertutup."Ah, maafkan aku, aku ... aku hanya pernah melihat Anda di TV," dusta Rahmat sambil membantu Elisa berdiri tegak. Elisa makin mengernyit. "Apa? Di TV? Aku bukan artis, bagaimana Anda bisa melihatku di TV? Tapi ... bisakah Anda membuka helm ini dulu? Biarkan aku melihat Anda." Rahmat makin tegang. Entah Elisa masih mengingat wajahnya atau tidak, tapi ia tidak ke sini untuk ketahuan. Ia tidak bisa mempercayai siapa pun kali ini. "Tidak! Aku buru-buru, jadi aku permisi dulu!" "Eh, tunggu, Pak, aku belum mengatakan terima kasih!" seru Elisa sambil me
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







