MasukSatu bulan pertama setelah kelahiran Alden ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang pernah dibayangkan Elisa.Leo sudah menduganya. Karena itu, sejak awal ia berniat menyewa dua pengasuh sekaligus, pengasuh bayi dan pengasuh ibunya. Bukannya Leo tidak mau mengurus anak istrinya, tapi Leo merasa seorang pengasuh pasti akan lebih paham dan melayani dengan lebih baik. Namun, Elisa menolaknya. Ia bilang punya impian untuk mengurus anaknya sendiri. Dengan bantuan Nila dan Bik Imah, pasti Elisa bisa. Tentu saja awalnya Elisa merasa sangat percaya diri, tapi ternyata ia kelelahan. Untung saja, bantuan banyak orang membuatnya tetap waras. Tidak hanya Bik Imah dan Nila, tapi Leo sendiri sangat siaga. Bahkan bisa dibilang, Leo terlalu siaga. Ranjang bayi memang diletakkan di kamar mereka. Dan satu tangisan kecil saja sudah cukup untuk membuat Leo terjaga sepanjang malam. Leo akan selalu menggendong bayinya dan menenangkannya. Terkadang saat waktunya ganti popok, Leo akan menggantikanny
Ditinggalkan orang tua sejak kecil benar-benar menjadikan Leo sangat menghargai siapa yang bersamanya. Ia tidak sendirian lagi sekarang. Tidak hanya punya Gary sebagai asisten, tapi ia juga punya Bik Imah dan Rara sebagai keluarga. Lalu ia punya istri dan ia punya anak, hal paling ajaib yang datang di hidupnya. Anaknya, darah dagingnya, miliknya. Bahkan saking takjubnya, Leo tidak bisa berhenti menatap bayi laki-laki mereka yang diberi nama Antonius Alden Hartono itu. Alden, begitu bayinya dipanggil. Alden sendiri sudah dipindahkan ke kamar Elisa agar lebih mudah disusui. Sejak itu pun, Leo seperti patung yang terus duduk di samping ranjang bayi Alden. Tentu saja saat istrinya butuh sesuatu, Leo juga sigap, tapi setelah selesai mengurus Elisa, Leo akan kembali duduk seperti patung. "Haha, kau sudah menatapnya selama satu jam nonstop, Leo!" omel Elisa yang sedang menikmati makan malamnya hari itu. "Hmm, kau makan saja, Sayang, aku sedang menjaga agar tidak ada nyamuk yang mendek
Leo langsung bergerak cepat mengetahui Elisa sudah mengeluarkan darah. Dalam sekejap, mereka pun sudah ada di mobil Leo dalam perjalanan ke rumah sakit. Tas persalinan yang selama berminggu-minggu hanya menjadi pajangan di dekat pintu akhirnya benar-benar digunakan.Leo terus melirik Elisa sepanjang perjalanan, memastikan istrinya itu baik-baik saja. Hingga tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit di mana kamarnya memang sudah disewa untuk melahirkan. Namun, mereka harus mendapati bahwa bukaan Elisa masih sangat awal. "Masih bukaan satu, prosesnya masih sangat panjang untuk melahirkan. Disarankan Bu Elisa banyak berjalan dulu agar bukaannya makin cepat." "Ah, begitu ya, baiklah, kami akan masuk ke kamar malam ini." Mereka pun masuk ke kamar rawat inap di sana dan Elisa mulai berjalan mondar-mandir. Tidak lama kemudian, Bik Imah dan Gary menyusul tiba di rumah sakit. "Bagaimana kata dokter? Kapan bayinya akan lahir?" "Sepertinya prosesnya masih lama, Bik. Masih bukaan sa
Memasuki bulan terakhir kehamilan, perut Elisa semakin besar. Bahkan bangun dari tempat tidur saja terkadang membutuhkan bantuan Leo."Pelan-pelan, Sayang." Leo berdiri di sisi ranjang sambil mengulurkan tangan.Elisa menerima tangannya dan perlahan bangkit. "Aku masih bisa sendiri, Leo.""Aku tahu.""Lalu mengapa kau selalu membantuku?" "Karena aku suamimu."Elisa mendengus geli. "Jawabanmu selalu itu.""Memangnya salah?""Tidak." Elisa tersenyum. "Justru aku suka. Aku suka kenyataan bahwa aku istrimu dan kau suamiku." Leo langsung tersenyum puas. "Aku juga menyukai kenyataan itu, Sayang." Keduanya pun saling menatap dan menyatukan bibir mereka singkat. Begitulah perubahan yang terlihat paling mencolok sejak mereka menikah, yaitu makin sering mengumbar kemesraan kapan saja dan di mana saja. Setiap pagi, rutinitas mereka selalu sama. Leo selalu memastikan Elisa mengonsumsi semua yang sudah disiapkan untuknya. Setelah itu, mereka akan menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga se
Serangkaian acara pernikahan yang melelahkan akhirnya selesai juga.Tiga hari terakhir terasa seperti mimpi bagi Elisa. Pesta pernikahan, menerima ucapan selamat, berfoto bersama keluarga dan tamu, kemudian menjamu orang-orang yang masih berdatangan untuk memberikan selamat kepada mereka.Bahkan setelah malam pertama sebagai suami istri, Leo sama sekali tidak menuntut apa pun. Pria itu justru lebih sibuk memastikan istrinya beristirahat.Elisa masih ingat bagaimana malam itu Leo memijat kakinya, mengusap punggungnya, lalu menarik selimut sampai menutupi tubuhnya."Tidur, Sayang.""Aku belum mengantuk.""Kalau begitu, pejamkan matamu saja, nanti kau juga akan tertidur." "Hmm, kau sendiri?""Aku di sini dan tidak akan ke mana-mana." Leo kemudian memeluknya sepanjang malam. Tidak ada tuntutan, tidak ada keintiman seperti yang mungkin dibayangkan orang dari sepasang pengantin baru.Leo hanya ingin Elisa tidur dengan nyaman dan aman. Keesokan harinya pun sama. Mereka masih harus menjamu
Pesta berlanjut dengan jamuan makan siang bersama sekaligus Leo menyapa semua undangannya. Para tamu pun bergantian mendatangi meja Leo karena mereka ingin berkenalan dengan istri Leo, sedangkan Leo sendiri sudah tidak mengijinkan istrinya berdiri karena ia tidak mau Elisa terlalu lelah."Sekali lagi selamat, Pak Leo. Senang berkenalan dengan Anda, Bu Elisa!" Para tamu menyapa dalam bahasa Inggris dan Mandarin karena sebagian besar berasal dari Singapore dan Malaysia, negara tempat Leo berbisnis. "Terima kasih, senang berkenalan dengan Anda juga." Elisa membalas dengan bahasa Inggris dan Mandarin yang fasih. Sebagai pebisnis, Elisa juga menguasai beberapa bahasa asing. Leo pun begitu bangga mengenalkan istrinya pada semua orang. Acara perkenalan itu pun cukup lama karena banyaknya orang yang ingin berkenalan dengan Elisa. Hingga akhirnya acaranya selesai dan mereka lanjut makan siang. "Baru segini temanmu, tapi sudah berasa banyak sekali, Leo.""Ini belum seberapa, Sayang. Masih
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







