LOGINDi balik kehidupan sempurna sebagai istri arsitek sukses, Eliza diam-diam terjebak dalam kesepian yang menggerogoti. Hingga kehadiran Javier—pemuda yang melihat dan menginginkannya—membangkitkan kembali sisi dirinya yang telah lama mati. Satu kesalahan berubah menjadi keterikatan yang tak terhindarkan… hingga Eliza mengandung benih yang bukan milik suaminya. Kini, di antara suami yang tiba-tiba berubah, kekasih yang semakin posesif, dan keluarga yang mulai curiga, Eliza harus memilih: mempertahankan kebohongan… atau menghadapi kebenaran yang bisa menghancurkan segalanya.
View MoreDetik jam dinding di ruang makan itu terdengar seperti palu yang memukul peti mati. Eliza terduduk kaku, sudah tiga jam ia terjebak dalam kesunyian yang mencekam di atas kursi kayu mahoni yang dingin.
Matanya sesekali melirik angka yang terus merangkak naik, sementara perutnya terasa perih, bukan hanya karena lapar, tapi karena rasa cemas yang sudah menjadi makanan sehari-harinya. Bukan sekali dua kali Nando melakukan ini. Suaminya adalah arsitek ulung yang mampu membangun struktur paling kokoh di kota ini, namun gagal membangun jembatan komunikasi di rumahnya sendiri. Setiap kali Nando pulang terlambat, tak pernah ada kata maaf yang melintasi bibir pria itu. Kesalahannya selalu terkubur di bawah tumpukan cetak biru dan ambisi. “Mending Mama makan dulu,” suara Orion memecah keheningan. Anak laki-lakinya yang berumur 18 tahun itu berdiri di ambang pintu, menatap Eliza dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan rasa jengah. Orion sudah makan lebih dulu di kamar. Dia sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa menunggu kepulangan Ayahnya hanyalah ritual sia-sia yang menyakitkan. Eliza hendak menjawab, bibirnya baru saja terbuka untuk memaksakan senyum, namun suara pintu depan yang terbuka dengan kasar membatalkan niatnya. “Eliza!” panggil Nando dari arah ruang depan. Suaranya menggelegar, penuh energi, seolah dia tidak baru saja menelantarkan istrinya selama berjam-jam. Eliza berdiri, merapikan gaun rumahnya yang mendadak terasa menyesakkan, lalu melangkah menghampiri suaminya. Di sana, Nando berdiri dengan senyum lebar yang terlihat sangat asing bagi Eliza. Namun, bukan senyum itu yang menarik perhatiannya, melainkan sosok pemuda yang berdiri di bayang-bayang belakang suaminya. “Dia adalah Javier, yang akan menjadi asistenku selama satu tahun ke depan. Jika proyek berhasil, aku akan mempekerjakan dia secara tetap,” kata Nando dengan nada bangga, tanpa beban, seolah-olah dia tidak punya utang penjelasan pada Eliza. Pemuda itu melangkah maju ke bawah cahaya lampu ruang tamu. Wajahnya segar, memiliki garis rahang yang tegas namun menyimpan keramahan yang kontras dengan aura dingin di rumah ini. “Perkenalkan nama saya Javier,” katanya sambil mengulurkan tangan. Eliza ragu sejenak sebelum menyambut uluran tangan itu. Kulit Javier terasa hangat—hangat yang menyentak—berbeda dengan tangan Nando yang selalu terasa seperti es. “Eliza,” sahutnya pelan, hampir berupa bisikan. “Dan ini anakku, namanya Orion,” sela Nando, memperkenalkan putranya yang kini berdiri di samping Eliza. Orion menjabat tangan Javier dengan singkat. “Dia masih 22 tahun, kamu bisa memanggilnya kakak,” tambah Nando. Orion hanya mengangguk pelan, auranya tetap tertutup, sebelum akhirnya pamit kembali ke kamarnya. Kesunyian kembali menyergap, membuat Eliza teringat pada meja makan yang masih tertata rapi. “Makan malamnya?” tanya Eliza, menatap Nando dengan harapan kecil yang tersisa. “Oh, aku sudah makan malam dengan Javier, jadi aku tidak akan makan malam di rumah,” jawab Nando santai, bahkan tanpa menoleh. Eliza tidak terkejut. Kecewa adalah perasaan yang sudah terlalu sering ia rasakan hingga rasanya mulai tumpul. Bersikap seenaknya adalah salah satu sifat Nando yang paling Eliza kenal baik. “Baiklah kalau begitu, aku akan membereskannya,” kata Eliza, bahunya merosot saat ia berbalik badan. Dunia kecilnya baru saja runtuh lagi untuk kesekian kalinya hari ini. “Tuan, Nyonya sudah membuatkan makan malam, bukankah sebaiknya kita makan malam dulu?” tanya Javier. Suaranya sopan, namun ada nada tegas yang membuat Eliza berhenti melangkah. Nando menoleh, alisnya bertaut heran. “Kamu masih lapar?” Javier mengangguk, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang terlihat tulus. “Kalau begitu kamu makan malam dulu. Setelah itu aku akan menunjukkan di mana kamar dan ruang kerjamu nanti. Aku akan mandi dulu,” putus Nando, lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua dalam kecanggungan yang intens. Javier mengikuti Eliza dari belakang menuju ruang makan. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai marmer. Di ruangan yang biasanya terasa hampa itu, Eliza kini duduk berhadapan dengan pria asing yang jauh lebih muda darinya. “Aku tau kamu pasti sudah kenyang,” ucap Eliza sambil menunduk, menghindari kontak mata. “Tapi terima kasih karena sudah menghargai masakanku.” Javier tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan. Pemuda itu mulai mengambil nasi dan lauk dengan gerakan yang mantap. Eliza tertegun, matanya terpaku pada Javier yang makan dengan sangat lahap. Tak ada keluhan, tak ada kritik pedas seperti yang biasa Nando lontarkan setiap kali menyentuh makanan di rumah ini. “Apa masakanku enak?” tanya Eliza, rasa ingin tahunya muncul ke permukaan. Javier mengangguk yakin. “Jujur saja saya merindukan masakan rumahan seperti ini,” sahutnya. Kalimat sederhana itu mengalir seperti air di gurun bagi Eliza. Entah dorongan dari mana, Eliza bangkit berdiri. Ia mengambilkan lauk lain yang sudah ia panaskan sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eliza merasa dirinya 'ada'. Dia merasa dihargai di dalam istananya sendiri. “Anak dan suamiku belum pernah memuji masakanku enak. Kupikir aku tidak bisa memasak,” curhat Eliza, suaranya sedikit bergetar. “Mungkin mereka berdua belum pernah merasakan hanya bisa makan seminggu tiga kali,” sahut Javier spontan. Pemuda itu mendadak menghentikan kunyahannya, seolah baru saja menyadari bahwa ia baru saja membocorkan rahasia pribadinya. Ia menutup mulut dan tersenyum canggung. “Seminggu tiga kali?” Eliza mengernyit, hatinya mencelos. “Pertama kali saya datang ke kota dan masih menganggur, saya sangat hemat untuk makan karena ada keperluan lain yang harus diutamakan. Tempat tinggal misalnya. Jadi saya mengakalinya dengan makan tiga kali,” jelas Javier. Meskipun bercerita tentang masa sulit, Javier mengucapkannya sambil tersenyum. Namun di mata Eliza, senyum itu justru membuatnya terlihat jauh lebih menarik sekaligus menyedihkan. Di balik meja makan yang dingin itu, Eliza menyadari satu hal: Javier membawa sesuatu yang sudah lama hilang dari rumah ini—sebuah kehidupan. Nando muncul kembali, aroma sabun yang tajam dan uap hangat dari tubuhnya seolah memecah gelembung keintiman singkat yang baru saja tercipta di meja makan. Kehadirannya yang dominan seketika mengembalikan atmosfer dingin dan kaku ke dalam ruangan, mengingatkan Eliza pada realitas yang membosankan. “Kalau sudah selesai, aku antar kamu ke ruang kerja dan kamarmu,” kata Nando tanpa basa-basi, suaranya terdengar seperti perintah yang tak terbantahkan. Javier meletakkan sendoknya, lalu berdiri dengan gerakan yang tenang namun penuh energi. Ia menoleh ke arah Eliza, dan untuk sesaat, matanya mengunci tatapan Eliza—memberikan pengakuan yang selama ini gagal diberikan oleh suaminya sendiri. “Terima kasih untuk makan malamnya,” kata Javier pada Eliza. Suaranya rendah, namun bergetar pelan di telinga Eliza. “Saya sangat menikmatinya.” Eliza hanya mampu mengangguk kecil, tak berani mengeluarkan suara karena takut getaran di hatinya akan terdengar. Rasanya aneh; hanya sebuah pujian tentang makanan, namun bagi Eliza, itu terasa seperti validasi atas eksistensinya yang selama ini terabaikan. Darahnya terasa berdesir hangat, sebuah sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia hanya bisa mematung di kursinya, matanya tak lepas menoleh melihat pemuda itu pergi bersama dengan suaminya. Punggung Javier yang tegap perlahan menghilang di balik lorong rumah, meninggalkan Eliza sendirian di meja makan yang kembali terasa luas dan hampa.Pukul sepuluh malam. Kamar utama terasa seperti makam mewah yang luas. Tak ada tanda-tanda Nando akan pulang, tak ada getaran pesan singkat setelah badai tamparan tadi pagi. Eliza sudah terbiasa dianggap tidak ada, namun malam ini, sebuah pesan dari sahabatnya merobek sisa-sisa harga dirinya hingga tak berbekas.“El, suamimu pergi ke hotel malam ini dengan sekretarisnya. Suamiku yang lihat.”Dunia seolah berhenti berputar. Eliza mencengkeram sprei sutra di kedua sisinya, meremasnya hingga jemarinya memutih. Napasnya tercekat di tenggorokan, menahan air mata yang mendesak keluar. Pengkhianatan Nando bukan lagi sekadar kedinginan sikap, melainkan sebuah tikaman telak yang menyatakan bahwa Eliza benar-benar sudah digantikan.Pintu diketuk pelan, memutus jeritan sunyi di kepala Eliza.“Ma, aku nginep di rumah temen ya, pulang besok siang,” suara Orion muncul dari ambang pintu.Eliza mengangguk kaku, tak berani menoleh sepenuhnya.“Mama kenapa?” Orion melangkah masuk sedikit, menyadari wa
Pukul satu dini hari. Kesunyian malam yang seharusnya menenangkan berubah menjadi mimpi buruk saat Eliza terbangun karena sebuah pelukan erat dari belakang. Bukannya rasa hangat, pelukan itu justru terasa seperti lilitan ular yang makin lama makin menyesakkan napas dan menyakiti tubuhnya.Ia menoleh dengan susah payah dan mendapati Nando dalam keadaan mabuk berat. Aroma alkohol yang menyengat dari napas suaminya membuat Eliza mual. Tanpa kata manis atau sentuhan lembut, Nando memaksanya untuk berhubungan intim, sebuah tuntutan yang terasa lebih seperti penindasan daripada cinta.Eliza menolak. Tubuhnya lelah, jiwanya lebih lelah lagi. Ia mencoba melepaskan diri dari dekapan kasar itu.Amarah Nando meledak. Dalam sekejap, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eliza, membuat kepalanya tersentak ke samping dengan bunyi yang memuakkan di tengah keheningan kamar.“Kamu benar-benar tidak berguna jadi istri!” desis Nando, suaranya parau karena alkohol dan kebencian.Pandangan Eliza mengabur
Waktu makan siang tiba, membawa rutinitas baru yang terasa asing bagi Eliza. Ia menyusun piring di atas nampan, melangkah menuju studio yang terletak di samping ruang kerja suaminya yang terkunci rapat. Saat melintasi lorong, ia melewati kamar Javier. Pintunya terbuka lebar, memamerkan ruang pribadi yang sederhana namun terasa jujur—seolah tak ada rahasia yang disembunyikan pemuda itu di rumah yang penuh kepalsuan ini.Eliza melirik sekilas, dadanya berdesir aneh sebelum ia kembali memfokuskan pandangan ke depan. Ia mengetuk pintu studio. Detik berikutnya, Javier membukakan pintu untuknya karena kedua tangan Eliza penuh dengan nampan.Javier melirik jam dinding dengan ekspresi terkejut yang tampak tulus. “Astaga, maaf. Saya lupa. Seharusnya saya yang ke ruang makan,” katanya panik, raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang tak pernah Eliza lihat pada wajah Nando.“Suamiku yang minta untuk membawakan makanan ini,” sahut Eliza pelan. Ia melangkah masuk, menghirup aroma kertas dan kay
Pukul sebelas malam. Kesunyian di kamar tidur utama terasa mencekik saat Eliza menyisir rambutnya di depan cermin rias. Pantulan dirinya terlihat lelah—mata yang kehilangan binar dan bahu yang merosot. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka kasar. Nando muncul dengan senyum kebanggaan yang memuakkan, seolah dia baru saja menaklukkan dunia.“Seharusnya kamu bilang kalau pergi makan malam, jadi aku tidak perlu menunggumu,” ucap Eliza tanpa menoleh dari cermin. Suaranya datar, hampa dari emosi.Nando berjalan mendekat, langkah kakinya berat di atas karpet mahal. Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Eliza, meremasnya dengan erat—hampir menyakitkan, seolah ingin menegaskan kepemilikannya. “Itu masalah sepele, jadi jangan dipermasalahkan.”Eliza hanya menatap kosong bayangan wajah suaminya di cermin. Cengkeraman itu bukan tanda kasih sayang; itu adalah rantai.“Oh ya, pujian dari Javier tadi jangan masukkan ke dalam hati,” gumam Nando, wajahnya mendekat ke telinga Eliza. “Aku tidak mau kamu jadi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.