LOGIN"Kandungannya sangat sehat dan bayi laki-laki kalian sangat aktif." Bayi Leo dan Elisa adalah bayi laki-laki. Mereka sudah melakukan pemeriksaan NIPT secara menyeluruh untuk mengetahui kelainan kromosom dan semuanya sempurna. Dari hasil pemeriksaan itu pun mereka tahu kalau bayi mereka adalah bayi laki-laki. Dan saat ini, bayi mereka sedang bergerak aktif di perut Elisa. Perasaan Elisa pun sumringah melihatnya. "Pantas saja aku merasakan kedutan-kedutan kecil, Dokter. Ternyata bayiku sedang bergerak aktif." "Ya, untuk kehamilan pertama biasanya ibu hamil baru merasakan tendangan bayinya secara jelas minimal di umur 20 minggu, walaupun tetap saja ada yang lebih cepat. Bersabar ya, Bu, tidak lama lagi, tendangan bayi Ibu akan terasa lebih jelas." "Aku tidak sabar menantikannya, Dokter." "Haha, untuk vitamin masih tetap sama, kontrol lagi bulan depan, Bu Elisa." "Terima kasih banyak, Dokter." Elisa keluar dari dokter dengan sumringah sambil menggandeng tangan Leo. "Aku sudah tida
Saat Leo dan Elisa sedang istirahat sejenak dari ketegangan, tidak begitu dengan Wira yang tidak bisa istirahat. Wira kembali menyelinap ke rumah sakit tengah malam itu, berharap bisa masuk ke kamar Handi lagi untuk menyelesaikan tugasnya sekaligus merebut kamera dari Gary karena ia yakin Gary masih ada di kamar itu. Namun, saat Wira tiba di sana, suasananya tidak memungkinkan baginya untuk menyelinap. Bukan hanya ada lebih banyak suster, tapi ada satpam, polisi, dan juga anak buah Leo di sana. Saat Wira kabur dari kamar tadi memang suasana rumah sakit langsung heboh, apalagi kamar rumah sakit berantakan dan Wira sempat menabrak beberapa trolly di koridor. Bahkan perawat pria dan satpam sempat ikut mengejarnya juga. Beruntung ia bisa kabur dengan cepat, walaupun kakinya sempat menendang benda keras dan sakitnya masih terasa sampai sekarang. "Sial! Penjagaan makin ketat!" seru Wira yang menggeram frustasi karena rencananya tidak berjalan lancar. Bahkan setelah menunggu sampai subu
Plak!Satu tamparan dilayangkan Darmawan ke wajah Wira begitu Wira kembali dengan bekas pukulan di wajahnya. Darmawan yang sebelumnya hanya bisa duduk bersandar di ranjangnya sekarang sudah lebih baik dan sudah bisa berdiri dengan tongkatnya. Ia pun berdiri berhadapan dengan Wira sambil menatapnya penuh amarah. "Sejak kapan kau menjadi bodoh begini, Wira? Sepanjang yang aku kenal, kau selalu menyelesaikan semuanya dengan sempurna, tapi mengapa begini, hah?" "Memangnya siapa yang sudah melindungi pria brengsek itu?" sahut Arman juga. "Apa polisi?" Wira mengembuskan napas panjangnya sebelum menjawab. "Yang melindungi Handi adalah Leo." Arman dan Darmawan langsung terdiam sejenak sambil membelalak. "Siapa katamu?" ulang Darmawan tidak percaya. "Leo dan temannya, mereka yang berjaga di sana dan melindungi Handi," jawab Wira lagi geram. Darmawan dan Arman kembali terdiam sambil membelalak. "Leo? Bagaimana Leo bisa melindungi Handi? Apa hubungannya Leo dengan semua ini?" seru Arma
"Percayalah pada kami, insting bosku tidak mungkin salah." Dua jam sebelum Wira datang, Leo dan Gary datang duluan ke kamar Handi. Leo meninggalkan Elisa bersama Bik Imah setelah Elisa memilih untuk diam sepanjang hari. Elisa perlu menenangkan dirinya. Karena itu, Leo tidak mengganggunya. Selain itu, Leo punya banyak hal yang harus ia selesaikan. Salah satunya adalah menjebak Wira. "Aku yakin Wira akan kembali datang untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, yaitu melenyapkan Anda, Pak Handi," seru Leo. Handi menelan saliva dengan jantung yang berdebar kencang. Bohong kalau ia tidak takut, apalagi ia sedang ada di rumah sakit dalam posisi diinfus, posisi yang membuatnya tidak bisa bergerak bebas. "Aku tahu dia bisa melakukan itu. Karena itu, aku tidak mau tetap diam di sini untuk menemui ajalku. Aku sudah baik-baik saja dan aku mau keluar dari rumah sakit ini!" Handi ingin bangkit berdiri, tapi Daisy menahannya. "Ayah, tubuh Ayah masih sakit semua. Ayah belum bisa keluar." "
Rahmat masih terdiam. Ia bahkan baru bertemu pria muda itu beberapa menit, ia tidak akan luluh hanya dengan beberapa kalimat seperti itu. Rahmat pun menatap Gary dengan tatapan yang kembali menantang. "Lepaskan aku! Kalau kau memang bukan orang jahat, seharusnya kau tidak masalah melepaskan aku kan?" Rahmat menarik tangannya dari dua anak buah Gary yang masih memeganginya. Tanpa perintah dari Gary, mereka tidak berani melepaskan tangannya dari Rahmat. Gary pun mencoba bicara lagi, tapi Rahmat sama sekali tidak bisa diajak bicara. Sampai akhirnya Gary pun menelepon Leo. Leo sendiri baru saja tiba di rumah. Begitu tiba, Elisa langsung masuk ke kamar dan mengurung diri di sana, masih terlalu syok untuk berkomentar sampai Bik Imah pun cemas melihatnya. "Apa yang terjadi padanya, Leo? Mengapa dia masuk tanpa menyapa sama sekali?" Leo mengembuskan napas panjangnya. "Akhirnya dia mengetahui kalau kakek dan ayahnya bukan orang baik, tapi dia masih menolak percaya." Bik Imah menutup mulut
Kedua mata Rahmat membelalak menatap pria di hadapannya, jantungnya memacu kencang. Dan untuk sesaat, ia hanya mematung, ia pun tidak tahu mengapa ia harus melakukannya. Hingga beberapa detik berlalu, Rahmat akhirnya sadar dan kembali menunduk. "Permisi!" seru Rahmat yang langsung melewati pria itu. Namun, pria itu kembali memanggilnya. "Tunggu, Pak!" Sontak Rahmat menghentikan langkahnya lagi dan sungguh, ia berniat untuk kabur saat ini. "Anda ... aku seperti mengenal Anda," seru pria muda itu. Dan pria muda itu adalah Gary. Gary tadinya ingin menyusul Leo dan Elisa untuk melihat kondisi Elisa, tapi langkahnya malah terhenti melihat sosok yang aneh di rumah sakit. Memakai baju serba hitam, topi hitam dan masker hitam, hanya saja tidak memakai kacamata. Gary merasa mengenali tatapan mata itu. Mungkin tubuh dan kulit bisa menua, tapi mata tidak. Dan Gary sudah cukup lama memperhatikan pria yang harus ia temukan, yaitu Rahmat. Rahmat makin berdebar mendengar ucapan Gary, tapi i
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







