LOGIN"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?"
Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini.
Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lakukan. Namun, Elisa yang malu langsung menarik selimut untuk menutup tubuhnya dan makin marah.
"Apa kau tidak punya sopan santun, hah? Kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk?" bentak Elisa.
"Maaf, Bu, aku tidak tahu Anda di sini. Aku disuruh Pak Eddy untuk ...."
"Sekalipun tidak tahu, kau juga tidak berhak masuk ke kamarku begitu saja kan?"
Leo terdiam lagi, menatap istri bosnya yang tampak berantakan, tapi sialnya, sangat seksi.
Elisa tidak nyaman ditatap dan makin melotot.
"Apa yang kau tunggu? Apa yang masih kau lakukan di sini? Cepat keluar, Leo!" usir Elisa lagi.
"Maaf, Bu, aku akan mengambil dokumen saja dan keluar. Permisi!"
Buru-buru Leo mengambil dokumen Greenland dan keluar dari sana. Elisa pun bangkit dari ranjang dan berlari ke pintu lalu menguncinya dengan jantung yang berdebar makin kencang.
"Ya Tuhan, ini memalukan sekali! Apa yang akan dipikirkan oleh asisten sialan itu? Bagaimana posisiku saat dia masuk tadi? Apa yang dia lihat?" pekik Elisa tertahan.
Air matanya kembali jatuh dan ia tidak berani keluar kamar sama sekali.
Sementara Leo hanya bisa duduk diam di mobilnya cukup lama, meredakan hasrat terlarang yang mulai merayapinya setelah melihat Elisa barusan. Bagaimana bisa wanita sesempurna itu harus mencari kenikmatan sendiri?
Leo tidak tahu Elisa sudah pulang karena tidak ada mobil di depan rumah. Dan tanpa sengaja melihat istri bosnya seperti itu membuat Leo tidak bisa berhenti memikirkannya.
Malam itu, Elisa menunggu Eddy sampai begitu larut. Ia sudah membuka kunci pintunya, berharap suaminya segera pulang. Namun, sampai akhirnya ia tertidur, Eddy tidak kunjung pulang juga.
Entah berapa lama Elisa tertidur, tapi saat membuka matanya, hari sudah pagi. Ia pun bisa melihat Eddy yang sedang merapikan kemejanya di depan cermin.
"Eddy?" sapa Elisa sambil bangkit duduk.
"Kau sudah bangun, Sayang? Aku tidak suka kau pergi dari pesta diam-diam seperti kemarin. Semua orang mencarimu. Aku juga," sahut Eddy sambil melirik istrinya dari cermin, tanpa berniat menghampirinya sama sekali.
"Maaf, aku ... tidak enak badan. Tapi jam berapa kau pulang semalam?"
"Aku pulang subuh. Tapi kau sudah tidak apa kan? Kantor sedang sangat sibuk, kau tidak boleh sakit, Sayang."
Elisa mengangguk. "Aku sudah baikan."
"Baguslah!" Eddy berbalik menghadapnya. "Kita harus bicara segera tentang kau dan Leo, tapi aku harus pergi dulu karena ada rapat pagi ini. Sampai jumpa!"
Eddy melesat pergi dan Elisa hanya bisa menatapnya nanar. Dulu, Eddy selalu mengecup dahinya sebelum pergi. Namun, akhir-akhir ini, Eddy sering lupa melakukannya.
Sejenak. Elisa kembali melow memikirkan rumah tangganya, tapi pikirannya terpecah memikirkan Leo dan rencana gila Eddy yang makin dipikir makin menguras hatinya.
Elisa pun bersiap dan dengan cepat ia tiba di Wijaya Group, perusahaan keluarga tempat ia bekerja, tempat ia melarikan diri dari masalahnya, walaupun tempat itu sekarang juga banyak memberikan tekanan baru.
Sebagai anak Arman, Elisa dan Susan, adik tirinya, diberi jabatan sama yaitu direktur proyek dan pengembangan, seolah mereka sedang diadu untuk menentukan yang terbaik.
Namun, jabatan itu hanya formalitas. Karena nyatanya, semua proyek besar diberikan pada Susan dan Elisa harus terseok-seok mendapatkan proyeknya sendiri.
Ditambah Susan mendapatkan dukungan dana dari Hilda yang menjabat direktur keuangan, sedangkan dana untuk proyek-proyek Elisa selalu dipersulit.
"Bu Hilda menolak anggaran proyek baru kita, Bu," lapor sekretaris Elisa pagi itu.
"Apa? Anggarannya ditolak lagi? Aku sudah merevisi seperti yang dia mau, tapi lagi-lagi ditolak? Kalau begitu, minta dana cadangan saja."
"Dana cadangan juga sudah dikunci. Tanpa persetujuan Bu Hilda, tidak ada dana yang bisa dicairkan."
Elisa menahan napasnya kesal. Hilda dan Susan makin lama makin di atas angin. Mereka membatasi wewenang dan pergerakan Elisa serta berniat mendepaknya, tapi Elisa tidak akan membiarkannya.
"Baiklah, aku akan bicara dengannya nanti," sahut Elisa geram.
Sang sekretaris keluar, tapi perasaan Elisa geram tidak karuan. Perutnya mulai bergejolak karena maagnya kambuh, ia sudah melewatkan makan malam dan sarapannya.
"Astaga, rasanya aku mau muntah," gumam Elisa yang buru-buru ke toilet dan masuk ke salah satu biliknya.
Di saat yang sama, Susan dan Velia, asisten sekaligus teman baiknya, masuk ke toilet yang sama.
"Jadi dia tidak bisa menjalankan proyeknya karena anggaran tidak cair?" seru Velia sambil memoleskan lipstik ke bibirnya.
"Tidak ada dana, mau menjalankan proyek dengan apa? Lagipula Ibuku sudah menutup semua wewenangnya, dia tidak akan bisa berkutik. Makin lama, aku makin terdepan dan dia akan makin terdepak."
Susan tersenyum puas sambil memperbaiki rambut indahnya di depan cermin.
"Brilian sekali. Walaupun dia anak pertama, tapi semua orang tahu dia anak dari wanita tukang selingkuh. Itu akan mencemarkan nama baik perusahaan. Kau jauh lebih pantas, Susan."
"Tentu saja! Apa hal seperti itu harus dijelaskan lagi?" Susan tertawa penuh kemenangan.
"Tapi bagaimana dengan kakekmu yang katanya ingin mewariskan saham perusahaan padanya? Kalau dia mendapatkan saham dan bisa ikut mengambil keputusan di sini, kau bisa kalah posisi."
"Saham hanya diberikan kalau dia hamil dalam waktu tiga tahun setelah menikah. Dulu waktu dia baru menikah, aku memang takut kalau Grandpa akan mewariskan semuanya, tapi sekarang aku tidak khawatir lagi. Tinggal memastikan dia tetap tidak hamil dalam tiga bulan terakhir ini dan warisan itu akan jatuh pada keturunan yang lebih pantas, calon pimpinan terbaik ...."
"Yaitu kau!" lanjut Velia bangga.
Susan kembali tertawa. "Sstt, jangan terlalu keras! Aku tidak mau ada gosip."
Susan dan Velia pun terkikik bersama, sebelum mereka akhirnya keluar dari toilet.
Tanpa mereka ketahui, Elisa mendengar semuanya dengan tangan mengepal. Kalau ada cara untuk mendapatkan posisi dan kekuasaan lebih dibanding Hilda dan Susan, caranya hanya satu, yaitu segera hamil agar Darmawan memberikan warisan saham itu padanya.
Bersaing secara sehat sudah tidak mungkin karena Hilda menutup semua celah, sedangkan Arman lebih percaya Hilda dan Susan daripada dirinya.
Kalau Elisa tidak hamil dalam tiga bulan ini, bukan hanya warisan yang tidak ia dapat, tapi rumah tangganya juga mungkin akan berakhir. Bukan hanya Eddy yang akan kehilangan semuanya, tapi dirinya juga.
Eddy benar, ada banyak alasan mengapa Elisa harus segera hamil.
"Aku harus hamil. Ya, aku harus segera hamil."
Tekad Elisa mendadak menggebu untuk segera hamil dan ia pun langsung mencari Eddy ke ruang kerjanya.
Eddy sendiri masih rapat berdua dengan Leo di ruangannya.
"Jadi lakukan seperti itu saja untuk proyek Greenland," serunya pada Leo. "Lalu tentang Elisa, aku akan bicara lagi dengannya. Tapi persiapkan dirimu karena dia harus hamil dalam waktu tiga bulan, Leo!"
Baru saja Eddy selesai bicara, pintu ruangannya sudah terbuka tanpa diketuk. Sontak Eddy dan Leo langsung menoleh bersamaan.
Elisa sempat melirik asisten suaminya itu di sana, sebelum ia memberitahukan keputusannya tanpa basa-basi.
"Ayo lakukan! Aku ... harus hamil dalam waktu tiga bulan."
**Albert membawa dua anak buahnya menuju ke rumah keluarga Wijaya sambil membawa surat penggeledahan sore itu. "Permisi, ini dengan rumah keluarga Wijaya?" Anak buah tampak kaget melihat ada polisi yang datang ke rumah itu lagi. Kali ini, polisinya berbeda dengan yang tadi dan ia langsung melapor pada Arman. "Apa? Polisi lagi?" geram Arman. "Mereka ingin bertemu pemilik rumah, Pak." "Sial, apa lagi ini?" Arman marah, tapi ia berusaha kooperatif. Ia yakin para polisi itu datang karena telepon dari Hilda tadi siang. "Aku Arman Wijaya, pemilik rumah ini. Ada yang bisa kubantu?" "Ah, selamat sore, Pak Arman. Maaf kami menggangu, tapi kami mendapat telepon tadi tentang adanya orang yang disekap di rumah ini," ucap Albert sambil melirik sekelilingnya. Arman mengepalkan tangan geram karena Hilda sudah berani membuat kekacauan. "Anda tidak bercanda kan, Pak? Ada orang disekap? Di rumahku? Jangan gila, Pak!" "Maaf, kami membawa surat penggeledahan, jadi ijinkan kami melakukan tugas k
"Iya, Ibu! Cepat telepon polisi sebelum pelayan itu masuk lagi. Cepat, Ibu!" Hilda mengangguk dan langsung menelepon polisi, tapi ia mengumpat karena teleponnya tidak kunjung diangkat. "Sial! Tidak diangkat, Susan! Siapa lagi yang harus kita telepon?" "Telepon Velia, Ibu. Telepon Velia!" "Dia tidak bisa diandalkan! Sial! Ayo angkat! Ayo angkat!" geram Hilda lagi. Beruntung tidak lama kemudian, teleponnya diangkat dan terdengar suara pria di ujung sana. "Halo? Selamat siang!" "Halo dengan kantor polisi. Aku dari rumah keluarga Wijaya. Aku sedang disekap di gudang, tolong aku! Tolong aku karena tidak lama lagi mereka pasti akan membunuhku! Tolong ...." Brak!Belum sempat Hilda menyelesaikan ucapannya, tapi mendadak pintu gudang sudah dibuka lagi dengan kasar. Terlihat Luki masuk ke sana bersama Arman. Luki menyeret Nina dan mendorongnya hingga terjatuh sampai Hilda langsung ketakutan. "Halo! Halo!" seru suara polisi di ujung sana. "Bicara yang jelas! Berikan alamat yang jelas!
Elisa mencoba tenang sepanjang sisa hari itu, tapi ia tidak bisa. Setelah mendapatkan mimpi buruknya tadi siang, setiap kali memejamkan mata, scene kebakaran itu akan muncul hingga membuatnya lemas dan pusing. Elisa sempat makan malam bersama dengan yang lain, tapi malam itu, Leo dan Elisa berakhir dengan kembali pisah kamar karena Elisa terlihat tidak antusias dengan apa pun. "Jangan memaksanya dulu, Leo! Dia masih terlihat seperti mayat hidup. Dibanding amarahnya padamu, dia lebih dihantui rasa bersalahnya, jadi bersabarlah dan beri dia waktu sedikit lebih lama, Leo." Leo mengembuskan napas dan mengangguk. Ia akan melakukan segalanya demi Elisa. "Baik, Bik. Aku tahu," sahut Leo yang akhirnya tidak mengganggu Elisa lagi dan mulai fokus lagi bekerja, menghancurkan keluarga Wijaya secara tepat dan cepat. *"Selamat pagi! Kami dari kepolisian membawa surat pemanggilan untuk Pak Darmawan dan Pak Arman Wijaya sebagai saksi dalam kasus kebakaran gudang Wijaya Group 18 tahun yang lalu
Elisa tidak tahu keputusannya benar atau salah saat akhirnya ia ikut naik ke mobil Leo untuk pulang bersama pria itu. Perasaan Elisa tidak jelas. Dan semakin lama, bukannya makin jelas, malah makin tidak jelas. Ditambah ia belum makan sejak kemarin hingga ia mual dan kepalanya pusing. "Huwek!" Elisa mendadak mau muntah sampai Leo cemas melihatnya. "Kau tidak apa, Sayang?" Leo menyentuh ringan bahu Elisa, tapi Elisa langsung mengangkat bahunya, mendadak kembali canggung seperti dulu. Elisa menyadari rasa canggung itu, tapi Leo tidak karena fokus Leo hanya pada kekasihnya yang sedang mual. "Kau belum makan, Sayang! Kita ke restoran dulu, Gary!" titah Leo. Gary langsung mengangguk. "Baik, Bos!" Gary melajukan mobilnya ke restoran, sedangkan Elisa langsung terdiam sejenak. Sebelumnya ia selalu merasa lucu setiap mendengar Gary memanggil Leo bos. Bahkan dengan bodohnya, ia percaya saat Gary bilang Leo punya cita-cita menjadi bos. Elisa tersenyum kecut. Ia bodoh, sangat bodoh. Karen
"Brengsek! Pria brengsek itu mengancamku terang-terangan dan dia membawa Elisa pergi dari sini! Dia benar-benar bajingan! Dia pikir sudah lebih hebat dariku! Dasar brengsek!!!"Darmawan akhirnya membiarkan Leo membawa Elisa pergi dari sana, tapi napasnya tersengal karena amarah dan ia tidak berhenti mengumpat. "Aku masih belum percaya dia adalah Leo yang dulu, Ayah! Sial! Bagaimana dia bisa memainkan peran dengan begitu bagus?" "Ini semua karena Wira yang bodoh!" Darmawan menatap tajam pada Wira. "Berkali-kali mencari berita tentangnya, tapi tidak mendapatkan info apa pun! Sial, Wira! Seandainya kau bekerja lebih pintar dan mendapatkan info tentangnya, kita tidak akan direndahkan seperti ini!" geram Darmawan. "Tapi tidak! Bukan sekarang! Seandainya dulu kau pintar dan membunuhnya tanpa meleset, tidak akan ada Leo hari ini, kau mengerti, Wira, hah? Dasar brengsek kau, Wira!" Darmawan mengentakkan tongkatnya berkali-kali. Wira menahan amarahnya, tapi ia tidak menjawab. Walaupun ia s
"Sial! Bagaimana dia bisa pergi tanpa ada satu orang pun yang tahu, hah?" bentak Leo begitu Gary melapor padanya. "Itu ... bukankah kau yang tidur di sofa, Bos? Semua orang tidur di kamar dan tidak mendengar Bu Elisa pergi!" sahut Gary yang membuat Leo makin emosi. Leo pun segera menuju ke tempat kunci mobil, ia ingin mengambil kuncinya, tapi tidak ada. "Di mana kunci mobil, Gary?" "Eh, kemarin aku meletakkannya di sini ...." Belum sempat Gary menyelesaikan ucapannya, suara Bik Imah sudah terdengar. "Tas Elisa hilang, Bibik khawatir dia membawa bajunya dan pergi dari rumah, Leo." Leo makin tegang. "Sial! Elisa pasti membawa mobil! Siapkan mobil lain dan cari dia, Gary!" "B-baik! Baik, Bos!" Leo dan Gary buru-buru pergi dari sana untuk mencari Elisa, walaupun mereka masih tidak tahu harus mulai dari mana. Namun, feeling Leo tidak pernah salah. "Ke rumah keluarga Wijaya, Gary! Aku yakin Elisa di sana!" Gary langsung mengangguk. "Baik, Bos!" sahut Gary yang langsung melajukan
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







