แชร์

Harus Segera Hamil

ผู้เขียน: Mommykai22
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-03 19:38:15

"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" 

Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. 

Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lakukan. Namun, Elisa yang malu langsung menarik selimut untuk menutup tubuhnya dan makin marah. 

"Apa kau tidak punya sopan santun, hah? Kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk?" bentak Elisa. 

"Maaf, Bu, aku tidak tahu Anda di sini. Aku disuruh Pak Eddy untuk ...." 

"Sekalipun tidak tahu, kau juga tidak berhak masuk ke kamarku begitu saja kan?" 

Leo terdiam lagi, menatap istri bosnya yang tampak berantakan, tapi sialnya, sangat seksi. 

Elisa tidak nyaman ditatap dan makin melotot. 

"Apa yang kau tunggu? Apa yang masih kau lakukan di sini? Cepat keluar, Leo!" usir Elisa lagi. 

"Maaf, Bu, aku akan mengambil dokumen saja dan keluar. Permisi!" 

Buru-buru Leo mengambil dokumen Greenland dan keluar dari sana. Elisa pun bangkit dari ranjang dan berlari ke pintu lalu menguncinya dengan jantung yang berdebar makin kencang. 

"Ya Tuhan, ini memalukan sekali! Apa yang akan dipikirkan oleh asisten sialan itu? Bagaimana posisiku saat dia masuk tadi? Apa yang dia lihat?" pekik Elisa tertahan.  

Air matanya kembali jatuh dan ia tidak berani keluar kamar sama sekali.

Sementara Leo hanya bisa duduk diam di mobilnya cukup lama, meredakan hasrat terlarang yang mulai merayapinya setelah melihat Elisa barusan. Bagaimana bisa wanita sesempurna itu harus mencari kenikmatan sendiri?

Leo tidak tahu Elisa sudah pulang karena tidak ada mobil di depan rumah. Dan tanpa sengaja melihat istri bosnya seperti itu membuat Leo tidak bisa berhenti memikirkannya. 

Malam itu, Elisa menunggu Eddy sampai begitu larut. Ia sudah membuka kunci pintunya, berharap suaminya segera pulang. Namun, sampai akhirnya ia tertidur, Eddy tidak kunjung pulang juga. 

Entah berapa lama Elisa tertidur, tapi saat membuka matanya, hari sudah pagi. Ia pun bisa melihat Eddy yang sedang merapikan kemejanya di depan cermin. 

"Eddy?" sapa Elisa sambil bangkit duduk. 

"Kau sudah bangun, Sayang? Aku tidak suka kau pergi dari pesta diam-diam seperti kemarin. Semua orang mencarimu. Aku juga," sahut Eddy sambil melirik istrinya dari cermin, tanpa berniat menghampirinya sama sekali. 

"Maaf, aku ... tidak enak badan. Tapi jam berapa kau pulang semalam?" 

"Aku pulang subuh. Tapi kau sudah tidak apa kan? Kantor sedang sangat sibuk, kau tidak boleh sakit, Sayang." 

Elisa mengangguk. "Aku sudah baikan." 

"Baguslah!" Eddy berbalik menghadapnya. "Kita harus bicara segera tentang kau dan Leo, tapi aku harus pergi dulu karena ada rapat pagi ini. Sampai jumpa!" 

Eddy melesat pergi dan Elisa hanya bisa menatapnya nanar. Dulu, Eddy selalu mengecup dahinya sebelum pergi. Namun, akhir-akhir ini, Eddy sering lupa melakukannya. 

Sejenak. Elisa kembali melow memikirkan rumah tangganya, tapi pikirannya terpecah memikirkan Leo dan rencana gila Eddy yang makin dipikir makin menguras hatinya. 

Elisa pun bersiap dan dengan cepat ia tiba di Wijaya Group, perusahaan keluarga tempat ia bekerja, tempat ia melarikan diri dari masalahnya, walaupun tempat itu sekarang juga banyak memberikan tekanan baru. 

Sebagai anak Arman, Elisa dan Susan, adik tirinya, diberi jabatan sama yaitu direktur proyek dan pengembangan, seolah mereka sedang diadu untuk menentukan yang terbaik.  

Namun, jabatan itu hanya formalitas. Karena nyatanya, semua proyek besar diberikan pada Susan dan Elisa harus terseok-seok mendapatkan proyeknya sendiri. 

Ditambah Susan mendapatkan dukungan dana dari Hilda yang menjabat direktur keuangan, sedangkan dana untuk proyek-proyek Elisa selalu dipersulit. 

"Bu Hilda menolak anggaran proyek baru kita, Bu," lapor sekretaris Elisa pagi itu. 

"Apa? Anggarannya ditolak lagi? Aku sudah merevisi seperti yang dia mau, tapi lagi-lagi ditolak? Kalau begitu, minta dana cadangan saja." 

"Dana cadangan juga sudah dikunci. Tanpa persetujuan Bu Hilda, tidak ada dana yang bisa dicairkan." 

Elisa menahan napasnya kesal. Hilda dan Susan makin lama makin di atas angin. Mereka membatasi wewenang dan pergerakan Elisa serta berniat mendepaknya, tapi Elisa tidak akan membiarkannya. 

"Baiklah, aku akan bicara dengannya nanti," sahut Elisa geram. 

Sang sekretaris keluar, tapi perasaan Elisa geram tidak karuan. Perutnya mulai bergejolak karena maagnya kambuh, ia sudah melewatkan makan malam dan sarapannya.

"Astaga, rasanya aku mau muntah," gumam Elisa yang buru-buru ke toilet dan masuk ke salah satu biliknya. 

Di saat yang sama, Susan dan Velia, asisten sekaligus teman baiknya, masuk ke toilet yang sama.

"Jadi dia tidak bisa menjalankan proyeknya karena anggaran tidak cair?" seru Velia sambil memoleskan lipstik ke bibirnya. 

"Tidak ada dana, mau menjalankan proyek dengan apa? Lagipula Ibuku sudah menutup semua wewenangnya, dia tidak akan bisa berkutik. Makin lama, aku makin terdepan dan dia akan makin terdepak." 

Susan tersenyum puas sambil memperbaiki rambut indahnya di depan cermin. 

"Brilian sekali. Walaupun dia anak pertama, tapi semua orang tahu dia anak dari wanita tukang selingkuh. Itu akan mencemarkan nama baik perusahaan. Kau jauh lebih pantas, Susan." 

"Tentu saja! Apa hal seperti itu harus dijelaskan lagi?" Susan tertawa penuh kemenangan. 

"Tapi bagaimana dengan kakekmu yang katanya ingin mewariskan saham perusahaan padanya? Kalau dia mendapatkan saham dan bisa ikut mengambil keputusan di sini, kau bisa kalah posisi." 

"Saham hanya diberikan kalau dia hamil dalam waktu tiga tahun setelah menikah. Dulu waktu dia baru menikah, aku memang takut kalau Grandpa akan mewariskan semuanya, tapi sekarang aku tidak khawatir lagi. Tinggal memastikan dia tetap tidak hamil dalam tiga bulan terakhir ini dan warisan itu akan jatuh pada keturunan yang lebih pantas, calon pimpinan terbaik ...." 

"Yaitu kau!" lanjut Velia bangga. 

Susan kembali tertawa. "Sstt, jangan terlalu keras! Aku tidak mau ada gosip."  

Susan dan Velia pun terkikik bersama, sebelum mereka akhirnya keluar dari toilet. 

Tanpa mereka ketahui, Elisa mendengar semuanya dengan tangan mengepal. Kalau ada cara untuk mendapatkan posisi dan kekuasaan lebih dibanding Hilda dan Susan, caranya hanya satu, yaitu segera hamil agar Darmawan memberikan warisan saham itu padanya. 

Bersaing secara sehat sudah tidak mungkin karena Hilda menutup semua celah, sedangkan Arman lebih percaya Hilda dan Susan daripada dirinya. 

Kalau Elisa tidak hamil dalam tiga bulan ini, bukan hanya warisan yang tidak ia dapat, tapi rumah tangganya juga mungkin akan berakhir. Bukan hanya Eddy yang akan kehilangan semuanya, tapi dirinya juga. 

Eddy benar, ada banyak alasan mengapa Elisa harus segera hamil. 

"Aku harus hamil. Ya, aku harus segera hamil." 

Tekad Elisa mendadak menggebu untuk segera hamil dan ia pun langsung mencari Eddy ke ruang kerjanya. 

Eddy sendiri masih rapat berdua dengan Leo di ruangannya. 

"Jadi lakukan seperti itu saja untuk proyek Greenland," serunya pada Leo. "Lalu tentang Elisa, aku akan bicara lagi dengannya. Tapi persiapkan dirimu karena dia harus hamil dalam waktu tiga bulan, Leo!" 

Baru saja Eddy selesai bicara, pintu ruangannya sudah terbuka tanpa diketuk. Sontak Eddy dan Leo langsung menoleh bersamaan. 

Elisa sempat melirik asisten suaminya itu di sana, sebelum ia memberitahukan keputusannya tanpa basa-basi. 

"Ayo lakukan! Aku ... harus hamil dalam waktu tiga bulan." 

**

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Lebih Pantas Untuknya

    "Maafkan aku karena memeluknya, Sayang. Aku benar-benar refleks karena dia jatuh tepat di sampingku." Leo segera menatap istrinya dan menjelaskan kejadian barusan. Ia tidak ingin istrinya itu salah paham. Namun, Elisa hanya mematung tanpa mengatakan apa-apa. Sungguh, ia melihat semuanya, bagaimana Velia sengaja menjatuhkan dirinya ke arah Leo. Elisa pun sempat kesal karena Leo memeluk wanita itu, tapi mendapati kaki Velia yang benar-benar terkilir, ia memilih tidak berkomentar. "Sayang? Sayang, kau baik-baik saja?" Suara Leo menyentak Elisa dari lamunannya. "Ya? Aku baik-baik saja, Leo." "Kau melamun, Sayang." "Tidak! Tapi kau bilang apa tadi?" "Aku minta maaf karena memeluk Velia, Sayang. Aku refleks." "Ah, tentang itu ... ya, dia seperti pura-pura jatuh, tapi kakinya benar-benar terkilir." "Ya, aku juga terkejut, kakinya merah sekali. Itu karena dia memakai sepatu hak tinggi, untung saja kau tidak, Sayang." Leo melirik sepatu Elisa. Sebenarnya Elisa sendiri membawa sepatu

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Kebablasan

    "Ada apa lagi, Sayang? Apa yang kalian bicarakan? Semua baik-baik saja kan?"Leo membawa Elisa menjauh dan mulai bertanya. "Ya, Leo. Dia hanya sedikit menyindirku." Leo mengernyit. "Menyindir? Menyindir seperti apa? Kau tahu aku tidak suka ada yang mengganggumu kan, Sayang. Aku akan bicara padanya." Baru saja Leo akan berbalik, tapi Elisa langsung menahannya. "Tunggu! Tidak usah, Leo! Biarkan saja!" "Aku tidak bisa diam saat aku sudah tahu jelas ada yang menyakitimu, Sayang." "Tenang saja, istrimu bukan wanita lemah kan? Kalau kau menegurnya sekarang, kau akan membuatku merasa lemah, Leo." Leo terdiam mendengarnya. Ia tahu Elisa bisa mengatasi masalahnya sendiri. "Sayang, maafkan aku, aku tahu kau bukan wanita lemah. Aku tahu kau bisa menyelesaikan masalahmu sendiri, aku hanya ingin melindungimu dan aku merasa tidak berguna saat ada orang yang menyakitimu tapi aku diam saja." "Aku tahu itu, Leo, tapi tidak masalah, dia tidak menyakitiku. Dia hanya ... dia hanya iri pada kebah

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Belum Kalah

    Beberapa waktu kemudian, Leo dan Elisa akhirnya keluar dari kamar. Elisa sudah kembali mengenakan pakaian yang lebih nyaman untuk meninjau lokasi proyek. Rambut panjangnya diikat sederhana, sementara Leo tampil dengan kemeja putih dan celana panjang gelap.Keduanya terlihat seperti pasangan suami istri biasa yang sedang menikmati perjalanan, bukan dua orang yang datang untuk memeriksa proyek besar.Velia sendiri sudah bersiap dan menunggu di lobi bersama asistennya. Sebenarnya ia belum lama menunggu, tapi otaknya terus membayangkan banyak adegan yang membuat Leo dan Elisa terlambat. Dan Velia sama sekali tidak menyukai apa yang ada di pikirannya. Tidak lam kemudian, Leo muncul. Begitu melihat Leo datang, tatapannya langsung berubah cerah. Namun, senyumnya kembali memudar ketika melihat Elisa berjalan menggandeng tangan Leo."Maaf membuatmu menunggu lagi, Bu Velia," kata Leo."Tidak masalah, Pak Leo. Apa kau akan ikut, Elisa?" Velia menatap Elisa dengan senyum yang dipaksa. "Ya, aku

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Honeymoon

    Velia melotot lagi menatap rombongan keluarga Leo sampai ia tidak bisa bicara, tapi Leo dan Elisa menyapanya lebih dulu. "Maaf membuatmu menunggu lama, Velia. Membawa bayi itu butuh lebih banyak waktu daripada yang kupikir," sahut Elisa santai. Velia masih membelalak sejenak. "Itu ... aku ... terkejut sekali melihat semua orang ikut berangkat, Pak Leo. Dan ya, Elisa, kudengar membawa bayi memang lebih sibuk," sahut Velia begitu memaksa.Elisa tertawa sumringah. "Tapi yang penting semua sudah selesai. Kau juga belum pernah bertemu anak kami kan? Ini Alden, bayi kami yang berumur empat bulan." Velia mengangguk menatap Alden yang memang sangat rupawan itu. Ada Elisa di wajah bayi itu dan ada Leo di tatapannya, tampan setampan Papanya. "Ah, dia tampan sekali. Ini pertama kali aku melihatnya. Senang berkenalan denganmu, Alden!" Velia memaksakan senyumnya tanpa mendekat sama sekali. Ia tidak suka bayi, apalagi bayi Elisa. Gary sendiri yang melihat ekspresi Velia sampai ingin tertawa l

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Para Pengganggu

    "Dua minggu, Susan! Dua minggu aku berusaha mendekatinya dan hasilnya nihil. Ditambah dengan satu minggu sebelumnya sejak pertama kali aku bertemu dengannya lagi, berarti total sudah tiga minggu lebih!" Velia mengunjungi Susan lagi di penjara untuk berkeluh kesah, dan kali ini, Velia sangat berapi-api."Mendekati dia benar-benar seperti mendekati Pastor, kau tahu itu! Bahkan Pastor masih ramah dan akan menanggapi kita, tapi Leo sangat dingin dan terus mengoper aku pada karyawan yang lain, padahal yang kuinginkan hanya dia! Hanya dia, Susan!" imbuh Velia penuh kesal. Namun, ekspresi Susan tampak biasa saja, malahan Susan lega. "Syukurlah kalau kau belum berhasil, Velia!" Velia membelalak kesal. "Susan, mengapa kau bukannya membelaku malah ada di pihak mereka, hah? Jangan lupa apa yang sudah Elisa lakukan padamu! Pasti dia senang melihatmu di penjara bahkan mengolokmu di luar sana! Lihat saja, bahkan satu kali pun, dia tidak pernah menjengukmu kan? Dia pasti tidak menganggapmu lagi!

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Dinding yang Kokoh

    Dua minggu berlalu, pasangan Leo dan Elisa makin mesra. Mereka mulai giat melakukan olahraga ranjang karena setelah merasakan satu kali, keduanya sama-sama ketagihan. Alden pun makin sering tidur di kamar bayi ditemani oleh Bik Imah. Dan bayi montok itu makin mandiri. Alden jarang menangis, sering tertawa, setiap minta susu, ia akan memanggil dengan suara lucunya. Leo dan Elisa pun menjadi makin tenang bekerja meninggalkan sang buah hati di rumah. Sementara itu, pertemuan Leo dan Velia sendiri juga makin sering karena pembahasan tentang proyek juga makin serius. Dan Velia pun berusaha makin dekat dan makin dekat. Dalam dua minggu terakhir ini, Velia terus berusaha mencari celah untuk mendekati Leo.Namun, semakin ia berusaha mendekat, semakin pria itu terasa seperti dinding tinggi yang tidak memiliki celah sedikit pun.Awalnya Velia mengira semuanya akan mudah karena hampir setiap hari dirinya ke kantor Leo untuk berunding bersama pria itu. Velia pikir akan ada celah mereka saling

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Memuaskan Diri Sendiri

    Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Milikku Besar

    Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status