Share

Memuaskan Diri Sendiri

Author: Mommykai22
last update publish date: 2026-03-03 19:24:45

Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. 

Itu Leo. 

Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.

Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa saat melihat pria itu, tapi setelah berada di kamar yang sama walau sebentar saja, jantungnya mendadak berdebar tidak wajar. 

"Anda tidak apa, Bu?" Suara Leo terdengar rendah.

Nada suaranya tetap tenang seperti biasa, namun terdengar jauh lebih dalam ketika berada sedekat ini. Bahkan Elisa bisa merasakan hembusan napas pria itu di pipinya. 

Dada mereka masih berhimpit dan Elisa mendadak takut Leo bisa mendengarkan debaran jantungnya. 

"Lepaskan aku! Siapa yang mengijinkanmu menyentuhku?" Elisa langsung mendorong dada pria itu.

Leo pun melepaskannya tanpa perlawanan.

Elisa buru-buru menegakkan tubuhnya, merapikan gaunnya yang sedikit berantakan.

"Aku hanya menolong Anda," jawab Leo singkat. 

"Aku tidak perlu ditolong," sahut Elisa dingin, walaupun wajahnya masih terasa panas. "Lagipula apa yang kau lakukan di sini? Pestanya di bawah kan?" 

"Aku diminta Pak Eddy untuk mencari Anda, Bu." 

Mendengar nama suaminya disebut, ekspresi Elisa langsung berubah.

"Baiklah, aku akan turun sendiri mencarinya." 

Tanpa menunggu jawaban lagi, Elisa segera berjalan meninggalkan balkon itu.

Gaun hitam backless yang dikenakannya bergerak lembut mengikuti langkahnya dan membuat Leo membeku sejenak menatap punggung indah istri bosnya itu. 

Elisa kembali ke pesta di ballroom bawah dan dengan cepat menemukan suaminya, begitu tinggi dan gagah dengan jas abu mahalnya yang selalu membuatnya terlihat berwibawa. 

Pria yang dulu membuat debar jantung Elisa memburu sejak pertama melihatnya. Namun sekarang, pria yang sama juga sering membuat hatinya terasa berat.

"Sayang, dari mana saja kau? Ibu mencarimu." Eddy memeluk pinggang istrinya itu, berpura-pura mesra, padahal sebenarnya sampai detik ini, mereka belum benar-benar berbaikan. 

"Aku hanya mencari udara segar." Elisa mengalihkan tatapan ke arah wanita di samping Eddy dan tersenyum sopan. "Selamat datang di pesta ini, Ibu." 

Sang mertua tersenyum singkat. "Syukurlah kau sehat, Elisa."

Nada suaranya terdengar ramah. Ibu mertuanya itu selalu tersenyum pada Elisa, walau terkadang senyumannya seolah memendam sesuatu. 

"Aku sehat, Ibu. Semoga Ibu juga selalu sehat," sahut Elisa sama ramahnya. 

"Pasti, Ibu harus sehat agar bisa menggendong cucu Ibu nanti." 

Elisa menegang dan senyumnya memudar mendengar kata cucu. 

"Eh, tapi apa kau sudah dengar kalau sepupu Eddy yang baru menikah dua bulan lalu itu sudah hamil? Itu berita yang sangat baik. Semoga segera ada berita baik juga dari kalian agar Ibu bisa menjawab semua orang yang terus bertanya tentang kehamilanmu, Elisa. Membuat Ibu pusing saja. Tapi tidak ada salahnya kau ke dokter, Elisa. Ada terapi kesuburan untuk segera hamil." 

Sudah menjadi label umum, setiap rumah tangga yang belum dikaruniai anak, maka yang disalahkan adalah pihak wanita. 

Elisa ingin berteriak rasanya, tapi ia hanya bisa menahan dirinya dan tetap memaksakan senyumnya.

"Aku ... akan melakukannya, Ibu," sahut Elisa akhirnya dengan begitu berat. 

Eddy melirik istrinya itu sejenak, sebelum ia berusaha mencairkan suasana. 

"Ah, Ibu, ini pesta ulang tahun Grandpa, tolong jangan membicarakan hal seperti ini. Dan jangan khawatir juga karena aku dan Elisa memang sedang program hamil. Elisa akan mengurangi kesibukannya dan tahun ini kami janji Elisa pasti hamil," tegas Eddy tanpa memikirkan perasaan Elisa. 

Tatapan Elisa goyah. Wajahnya memanas dan ia ingin menangis, tapi ia menahannya. 

"Benarkah itu? Ibu sangat menantikannya. Tapi Ibu belum menyapa Pak Darmawan, antar Ibu menyapanya dulu." 

"Ayo!" Eddy membawa ibunya pergi tanpa berpamitan, dan Elisa ditinggalkan begitu saja dengan kondisi hati yang kacau. 

Elisa mencoba menikmati pestanya lagi, tapi ia tidak bisa. Ia pun akhirnya memilih pulang duluan tanpa memberitahu siapa pun sampai Eddy emosi mencarinya. Bahkan Elisa juga tidak mengangkat teleponnya. 

"Kau lihat ke mana istriku?" tanyanya pada Leo yang begitu setia menemaninya. 

"Tidak, Pak. Terakhir aku melihatnya bersama Anda." 

"Ck, ke mana dia pergi, aku lelah menghadapi pertanyaan kapan punya anak sendirian. Mengapa semua pertanyaannya harus sama? Ini membuatku gila, Leo. Jadi segera lakukan tugasmu dan buat dia hamil!" geram Eddy sambil meneguk winenya dalam satu kali teguk sampai tandas. 

Leo terdiam sejenak, sebelum menjawabnya. "Tapi sepertinya Bu Elisa tidak sudi kusentuh." 

"Sial, Leo! Aku membayarmu untuk mencari cara dan berhasil, bukan untuk membantah dan beralasan. Ingat! Kau butuh uang untuk nenekmu kan? Hanya aku yang bisa membantumu sekarang, jadi semakin cepat dia hamil, semakin cepat kau bisa menyelamatkan nenekmu. Jangan sampai terlambat dan penyakitnya sudah makin parah. Aku tidak mau disalahkan atas kematiannya." 

Leo kembali terdiam, sebelum akhirnya mengangguk. "Aku mengerti, Pak." 

"Bagus kalau kau mengerti. Tapi pulanglah ke rumahku sekarang. Ada dokumen proyek Greenland di kamar, ambil dan bawa kembali kemari!" 

"Baik, Pak." 

Dengan patuh, Leo pergi dari sana dan menyetir sampai ke rumah. 

Tanpa ia ketahui, Elisa sudah di rumah, berdiam di kamarnya masih memakai gaun cantiknya. Ia hanya duduk di ranjang tanpa bicara dan tanpa melakukan apa pun, berusaha menenangkan perasaan hatinya yang kacau. 

Elisa memeluk dirinya sendiri. Di luar, orang selalu melihat Elisa sebagai wanita yang kuat, tegas, dan mandiri. Padahal di dalam, ia hanya seorang wanita rapuh yang juga butuh dipeluk dan dimengerti suaminya, walaupun yang terjadi, Eddy malah makin menambah beban hatinya. 

Bahkan saat Elisa menginginkan sentuhan untuk meredakan stresnya, ia harus memohon, merendahkan dirinya, dan tidak sekali pun Eddy mengabulkannya. 

"Sudah lama kau tidak menyentuhku, Eddy," pinta Elisa beberapa hari lalu. 

"Elisa, sudah kubilang aku tidak bisa. Kau tahu aku mandul kan? Aku tidak bisa memberimu anak." 

"Aku tahu, Eddy. Tapi itu tidak menjadikan alasan kau tidak mau memberiku nafkah batin. Bercinta bukan hanya tentang anak, Eddy. Aku juga butuh disentuh, dicintai ...." 

"Maaf aku tidak bisa, Elisa. Aku merasa sangat brengsek kalau menyentuhmu hanya karena kenikmatan. Maafkan aku, aku merasa buruk karena aku mandul." 

Mandul. 

Selalu alasan yang sama yang dipakai Eddy untuk menolak Elisa selama dua bulan terakhir ini. Tidak terhitung berapa banyak pertengkaran yang terjadi antara mereka dan Elisa lelah. 

Tangisan yang sejak tadi ditahannya di pesta pun meluncur juga. Elisa menggigit bibirnya, rasanya sesak di dadanya, tapi anehnya, hasrat dalam dirinya malah bangkit. Ia sangat haus sentuhan saat ini. 

Elisa menelan saliva dan menatap ranjang di sekitarnya. Udara dingin menerpa lengannya, ia menggosoknya, dan merasakan hasratnya makin membara. 

Harga dirinya seolah tercabik memikirkan ia harus memuaskan dirinya sendiri, tapi ia tidak punya pilihan. Lebih baik melakukan sendiri dibanding harus disentuh pria lain. 

Elisa benci melakukannya, tapi jemarinya mulai meremas dadanya sendiri. Elisa memejamkan mata menikmati rasanya, membayangkan suaminya yang menyentuhnya. 

Perlahan tapi pasti, tangan Elisa yang lain turun ke tubuh bagian bawahnya. Elisa mengangkat gaunnya sampai ke atas lutut lalu memasukkan tangannya ke sana. Satu jarinya menemukan kelembutan miliknya yang masih tertutup penghalang. Elisa membelainya, membuat gerakan memutar, sampai ia merasakan tubuhnya mulai memanas. 

Elisa mempercepat gerakannya, terasa lembab di sana. Ia menelan saliva, napasnya mulai terengah, dan desahan pun lolos begitu saja dari bibirnya.

"Aahhhh ...."

Tepat saat itu, pintu mendadak terbuka lebar. 

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Memuaskan dengan Mulut

    "Elisa ... kau ...." Leo menelan salivanya lagi, terlalu kaget untuk berkata-kata, tapi tatapannya benar-benar melahap Elisa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cantik dan selalu sempurna. Elisa sendiri menatap Leo dengan salah tingkah. "Kau ... kau yang memintaku memakai lingerie ini kan?" Leo tidak menjawab saking kagumnya. Jantungnya memacu kencang dan hasratnya dengan cepat bangkit. Namun, melihat ekspresi Leo membuat Elisa mendadak ragu sampai ia menunduk, menatap dirinya sendiri. "Hmm, apa ada yang salah? Atau ... aku pasti tampak aneh memakai ini? Sudah kubilang aku pasti kelihatan seperti bola." Elisa membalikkan tubuhnya, mendadak malu karena Leo tidak mengatakan apa pun. Ia pun berniat kembali ke kamar mandi untuk mengganti baju. Namun, sebelum Elisa sempat melangkah, Leo buru-buru menghampirinya. "Tunggu, Sayang! Siapa yang bilang kau seperti bola, Sayang? Aku hanya terkejut," sahut Leo yang langsung memeluk Elisa dari belakang dan mencium bahu wanita itu. Elisa me

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pemandangan Indah

    Malam menjelang dengan cepat setelah Leo dan Elisa menghabiskan harinya di pantai. Mereka minum kelapa bersama, makan cemilan, dan bergandengan tangan sambil melangkah di pasir. Cuaca sedang bersahabat sepanjang hari itu, panasnya tidak terlalu terik dan anginnya pun tidak terlalu besar. Mereka sangat menikmati hari mereka. Beberapa kali ponsel Leo berbunyi dan terlihat seperti telepon penting, tapi Leo tidak ragu menolaknya dengan mengatakan ada hal yang lebih penting yang sedang dikerjakan. Cara Leo meratukannya benar-benar membuat Elisa melambung. Bahkan setelah mengetahui identitas asli pria itu, Elisa malah semakin kagum padanya. Dan sekarang Elisa tahu apa tugasnya. Tanpa perlu Leo memintanya lagi, Elisa sudah melirik lingerie yang tadi diletakkan asal di meja. "Sayang, kau benar-benar tidak mau mandi duluan?" tanya Leo. Leo sudah memaksa Elisa mandi duluan karena Elisa hamil dan hari sudah malam, tapi Elisa menolaknya karena ia ingin memberi kejutan untuk Leo nanti. "Kau

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Gerak Cepat

    Elisa masih menahan napasnya sejenak mendengar permintaan nakal Leo. Ia pun menelan salivanya dan mendadak salah tingkah. "Memakai lingerie ini? Jangan bercanda, Leo! Aku pasti akan tampak seperti bola," tolak Elisa. Namun, Leo tertawa dan langsung mendekati wanita itu. "Siapa yang bilang kau akan seperti bola, Sayang? Aku yakin kau akan seksi sekali. Tapi itu nanti malam, Sayang. Sekarang ayo kita cari makan dulu karena calon istriku dan anak kita ini pasti sedang sangat kelaparan." Leo meraih lingerie itu dari tangan Elisa dan meletakkannya asal ke meja. Ia menggandeng Elisa pergi mencari makan, tapi Elisa malah makin tersipu mendengar kata calon istri. Sementara itu, Gary masih terus terkikik setelah menutup teleponnya dari Leo. Ia sudah mencari lingerie itu berhari-hari agar bisa dipakai oleh Elisa dengan perut besarnya. "Woah, kalau Bos puas, aku pasti akan dapat bonus kan?" Gary terkikik lagi. Tidak lama kemudian, pintu ruang kerjanya diketuk dan seorang sekretaris masuk k

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Hadiah Mesum

    "Bayinya sehat dan aktif, tidak ada masalah dengan kandungannya, dan kalian boleh berangkat babymoon, bahkan hubungan ranjang juga diperbolehkan." Ucapan dokter pagi itu membuat senyum Leo dan Elisa mengembang begitu lebar. Sebelum mereka berangkat ke Bali, mereka harus memastikan kondisi kandungan Elisa dulu, dan syukurnya semuanya sangat baik. "Sekali lagi, kandungan Anda sangat kuat, Bu Elisa. Dan Anda harus bersyukur untuk itu. Tidak ada masalah yang berarti dan semuanya aman untuk menikmati trisemester kehamilan Anda." "Ah, syukurlah, Dokter," sahut Elisa sambil mengulum senyumnya malu. Leo sendiri ikut tertawa. "Terima kasih untuk ijinnya, Dokter." Sang dokter terkekeh. Ia langsung memberikan resep cadangan kalau diperlukan dan memberikan surat ijinnya untuk Elisa naik pesawat. Dan di sinilah mereka, duduk berdua di kursi kelas bisnis pesawat pagi itu. Elisa pun tidak bisa berhenti tersenyum sendiri sampai Leo yang melihatnya, mengernyit gemas. "Apa ada yang lucu sampai k

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Babymoon

    "Selamat datang kembali, Pak Rahmat." Leo dan Elisa menyambut Rahmat dan Nila hari itu. Setelah keluar dari rumah sakit, Rahmat dan Nila sempat pulang kampung diantar oleh sopir Leo. Mereka pulang ke rumah terakhir mereka untuk mengemasi sisa barang mereka karena mereka akan pindah ke kota. Mereka juga sempat pulang ke kampung halaman yang sudah lama mereka tinggalkan untuk menjenguk keluarga mereka, keluarga yang sudah lama tidak pernah dijenguk karena mereka menjadi buron begitu lama. Pertemuan itu mengharukan dan meninggalkan rasa lega serta kebahagiaan di hati Rahmat dan Nila. Keduanya kembali ke kota untuk mengikuti serangkaian sidang kasus keluarga Wijaya. Dan setelah semuanya selesai, Rahmat akan mulai bekerja bersama Leo. Mereka pun akan menempati unit apartemen di samping Leo, tempat yang dulunya ditinggali Handi dan Daisy. "Pak Leo, Bu Elisa!" Rahmat menjabat tangan keduanya, begitu juga Nila yang menjabat dan mencium tangan Elisa saking bersyukurnya. "Kami masih tida

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Masih Beruntung

    Air mata Elisa makin meleleh begitu mendengar kata seumur hidup yang itu berarti ia tidak akan pernah berkumpul lagi dengan ayahnya itu. "Ayah!" panggil Elisa akhirnya setelah hakim meninggalkan tempatnya. Arman sempat menoleh ke arah Elisa dan mengangguk. Bahkan Arman pikir ia akan dihukum mati, tapi semua ini lebih baik, sangat baik. "Semua sudah berakhir, Elisa! Pulanglah! Semua sudah selesai!" Elisa tersenyum lagi dan tetap mendekati Arman, menggenggam tangan Arman seperti tadi sebelum persidangan dimulai. "Tidak apa, Ayah! Tidak apa! Tetaplah bersemangat dan menjadi orang yang lebih baik di penjara. Mungkin, kita tidak bisa berkumpul lagi di rumah, tapi aku akan sering berkunjung, aku akan menunjukkan foto cucu Ayah saat dia lahir nanti. Tidak apa, Ayah! Tidak apa!" Arman yang mendengarnya pun kalah, air matanya menetes juga menatap perut besar Elisa. Ya, ia akan punya cucu. Terlepas dari siapa pun ayah anak itu, itu tetap cucu Arman. Elisa anak kandungnya, Arman tidak per

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Milikku Besar

    Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Aku Akan Memulainya

    Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status