Mag-log inElisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu.
Itu Leo.
Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.
Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa saat melihat pria itu, tapi setelah berada di kamar yang sama walau sebentar saja, jantungnya mendadak berdebar tidak wajar.
"Anda tidak apa, Bu?" Suara Leo terdengar rendah.
Nada suaranya tetap tenang seperti biasa, namun terdengar jauh lebih dalam ketika berada sedekat ini. Bahkan Elisa bisa merasakan hembusan napas pria itu di pipinya.
Dada mereka masih berhimpit dan Elisa mendadak takut Leo bisa mendengarkan debaran jantungnya.
"Lepaskan aku! Siapa yang mengijinkanmu menyentuhku?" Elisa langsung mendorong dada pria itu.
Leo pun melepaskannya tanpa perlawanan.
Elisa buru-buru menegakkan tubuhnya, merapikan gaunnya yang sedikit berantakan.
"Aku hanya menolong Anda," jawab Leo singkat.
"Aku tidak perlu ditolong," sahut Elisa dingin, walaupun wajahnya masih terasa panas. "Lagipula apa yang kau lakukan di sini? Pestanya di bawah kan?"
"Aku diminta Pak Eddy untuk mencari Anda, Bu."
Mendengar nama suaminya disebut, ekspresi Elisa langsung berubah.
"Baiklah, aku akan turun sendiri mencarinya."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Elisa segera berjalan meninggalkan balkon itu.
Gaun hitam backless yang dikenakannya bergerak lembut mengikuti langkahnya dan membuat Leo membeku sejenak menatap punggung indah istri bosnya itu.
Elisa kembali ke pesta di ballroom bawah dan dengan cepat menemukan suaminya, begitu tinggi dan gagah dengan jas abu mahalnya yang selalu membuatnya terlihat berwibawa.
Pria yang dulu membuat debar jantung Elisa memburu sejak pertama melihatnya. Namun sekarang, pria yang sama juga sering membuat hatinya terasa berat.
"Sayang, dari mana saja kau? Ibu mencarimu." Eddy memeluk pinggang istrinya itu, berpura-pura mesra, padahal sebenarnya sampai detik ini, mereka belum benar-benar berbaikan.
"Aku hanya mencari udara segar." Elisa mengalihkan tatapan ke arah wanita di samping Eddy dan tersenyum sopan. "Selamat datang di pesta ini, Ibu."
Sang mertua tersenyum singkat. "Syukurlah kau sehat, Elisa."
Nada suaranya terdengar ramah. Ibu mertuanya itu selalu tersenyum pada Elisa, walau terkadang senyumannya seolah memendam sesuatu.
"Aku sehat, Ibu. Semoga Ibu juga selalu sehat," sahut Elisa sama ramahnya.
"Pasti, Ibu harus sehat agar bisa menggendong cucu Ibu nanti."
Elisa menegang dan senyumnya memudar mendengar kata cucu.
"Eh, tapi apa kau sudah dengar kalau sepupu Eddy yang baru menikah dua bulan lalu itu sudah hamil? Itu berita yang sangat baik. Semoga segera ada berita baik juga dari kalian agar Ibu bisa menjawab semua orang yang terus bertanya tentang kehamilanmu, Elisa. Membuat Ibu pusing saja. Tapi tidak ada salahnya kau ke dokter, Elisa. Ada terapi kesuburan untuk segera hamil."
Sudah menjadi label umum, setiap rumah tangga yang belum dikaruniai anak, maka yang disalahkan adalah pihak wanita.
Elisa ingin berteriak rasanya, tapi ia hanya bisa menahan dirinya dan tetap memaksakan senyumnya.
"Aku ... akan melakukannya, Ibu," sahut Elisa akhirnya dengan begitu berat.
Eddy melirik istrinya itu sejenak, sebelum ia berusaha mencairkan suasana.
"Ah, Ibu, ini pesta ulang tahun Grandpa, tolong jangan membicarakan hal seperti ini. Dan jangan khawatir juga karena aku dan Elisa memang sedang program hamil. Elisa akan mengurangi kesibukannya dan tahun ini kami janji Elisa pasti hamil," tegas Eddy tanpa memikirkan perasaan Elisa.
Tatapan Elisa goyah. Wajahnya memanas dan ia ingin menangis, tapi ia menahannya.
"Benarkah itu? Ibu sangat menantikannya. Tapi Ibu belum menyapa Pak Darmawan, antar Ibu menyapanya dulu."
"Ayo!" Eddy membawa ibunya pergi tanpa berpamitan, dan Elisa ditinggalkan begitu saja dengan kondisi hati yang kacau.
Elisa mencoba menikmati pestanya lagi, tapi ia tidak bisa. Ia pun akhirnya memilih pulang duluan tanpa memberitahu siapa pun sampai Eddy emosi mencarinya. Bahkan Elisa juga tidak mengangkat teleponnya.
"Kau lihat ke mana istriku?" tanyanya pada Leo yang begitu setia menemaninya.
"Tidak, Pak. Terakhir aku melihatnya bersama Anda."
"Ck, ke mana dia pergi, aku lelah menghadapi pertanyaan kapan punya anak sendirian. Mengapa semua pertanyaannya harus sama? Ini membuatku gila, Leo. Jadi segera lakukan tugasmu dan buat dia hamil!" geram Eddy sambil meneguk winenya dalam satu kali teguk sampai tandas.
Leo terdiam sejenak, sebelum menjawabnya. "Tapi sepertinya Bu Elisa tidak sudi kusentuh."
"Sial, Leo! Aku membayarmu untuk mencari cara dan berhasil, bukan untuk membantah dan beralasan. Ingat! Kau butuh uang untuk nenekmu kan? Hanya aku yang bisa membantumu sekarang, jadi semakin cepat dia hamil, semakin cepat kau bisa menyelamatkan nenekmu. Jangan sampai terlambat dan penyakitnya sudah makin parah. Aku tidak mau disalahkan atas kematiannya."
Leo kembali terdiam, sebelum akhirnya mengangguk. "Aku mengerti, Pak."
"Bagus kalau kau mengerti. Tapi pulanglah ke rumahku sekarang. Ada dokumen proyek Greenland di kamar, ambil dan bawa kembali kemari!"
"Baik, Pak."
Dengan patuh, Leo pergi dari sana dan menyetir sampai ke rumah.
Tanpa ia ketahui, Elisa sudah di rumah, berdiam di kamarnya masih memakai gaun cantiknya. Ia hanya duduk di ranjang tanpa bicara dan tanpa melakukan apa pun, berusaha menenangkan perasaan hatinya yang kacau.
Elisa memeluk dirinya sendiri. Di luar, orang selalu melihat Elisa sebagai wanita yang kuat, tegas, dan mandiri. Padahal di dalam, ia hanya seorang wanita rapuh yang juga butuh dipeluk dan dimengerti suaminya, walaupun yang terjadi, Eddy malah makin menambah beban hatinya.
Bahkan saat Elisa menginginkan sentuhan untuk meredakan stresnya, ia harus memohon, merendahkan dirinya, dan tidak sekali pun Eddy mengabulkannya.
"Sudah lama kau tidak menyentuhku, Eddy," pinta Elisa beberapa hari lalu.
"Elisa, sudah kubilang aku tidak bisa. Kau tahu aku mandul kan? Aku tidak bisa memberimu anak."
"Aku tahu, Eddy. Tapi itu tidak menjadikan alasan kau tidak mau memberiku nafkah batin. Bercinta bukan hanya tentang anak, Eddy. Aku juga butuh disentuh, dicintai ...."
"Maaf aku tidak bisa, Elisa. Aku merasa sangat brengsek kalau menyentuhmu hanya karena kenikmatan. Maafkan aku, aku merasa buruk karena aku mandul."
Mandul.
Selalu alasan yang sama yang dipakai Eddy untuk menolak Elisa selama dua bulan terakhir ini. Tidak terhitung berapa banyak pertengkaran yang terjadi antara mereka dan Elisa lelah.
Tangisan yang sejak tadi ditahannya di pesta pun meluncur juga. Elisa menggigit bibirnya, rasanya sesak di dadanya, tapi anehnya, hasrat dalam dirinya malah bangkit. Ia sangat haus sentuhan saat ini.
Elisa menelan saliva dan menatap ranjang di sekitarnya. Udara dingin menerpa lengannya, ia menggosoknya, dan merasakan hasratnya makin membara.
Harga dirinya seolah tercabik memikirkan ia harus memuaskan dirinya sendiri, tapi ia tidak punya pilihan. Lebih baik melakukan sendiri dibanding harus disentuh pria lain.
Elisa benci melakukannya, tapi jemarinya mulai meremas dadanya sendiri. Elisa memejamkan mata menikmati rasanya, membayangkan suaminya yang menyentuhnya.
Perlahan tapi pasti, tangan Elisa yang lain turun ke tubuh bagian bawahnya. Elisa mengangkat gaunnya sampai ke atas lutut lalu memasukkan tangannya ke sana. Satu jarinya menemukan kelembutan miliknya yang masih tertutup penghalang. Elisa membelainya, membuat gerakan memutar, sampai ia merasakan tubuhnya mulai memanas.
Elisa mempercepat gerakannya, terasa lembab di sana. Ia menelan saliva, napasnya mulai terengah, dan desahan pun lolos begitu saja dari bibirnya.
"Aahhhh ...."
Tepat saat itu, pintu mendadak terbuka lebar.
**Leo dan Elisa benar-benar meninggalkan semua urusan pekerjaan sore itu.Tidak ada rapat, tidak ada telepon bisnis, tidak ada dokumen yang harus ditandatangani.Untuk beberapa jam, Leo dan Elisa hanyalah sepasang suami istri yang sedang ingin menikmati waktu bersama.Begitu sampai di mall, Elisa langsung menggenggam tangan Leo erat-erat. Leo menoleh sambil tersenyum."Mengapa pegangannya erat sekali, Sayang?" "Takut kau kabur."Leo tertawa kecil. "Memangnya aku bisa kabur? Aku sudah terikat seumur hidup denganmu." Elisa tergelak. "Haha, aku menyukai fakta itu." Elisa menyandarkan kepala ke bahu Leo. Mereka pun melewati toko baju bayi dan pandangan Elisa langsung berbinar-binar. "Leo, ada topi lucu sekali. Alden pasti lucu memakainya." "Ayo kita masuk, Sayang." Mereka masuk ke sana dan membeli beberapa topi yang lucu untuk Alden. "Oh, baju yang pink lucu sekali, tapi tidak mungkin Alden pakai pink." "Hmm, kalau begitu mari kita membuat anak perempuan agar kita bisa membeli baju
"Selamat sore, Pak Leo!" Liandro menelepon Leo sore itu begitu suasana agak tenang. Ia merasa tidak enak hati dengan apa yang menimpa Elisa dan tidak mau Leo sampai salah paham padanya. "Selamat sore, Pak Liandro. Aku senang sekali Anda meneleponku, apa ada yang bisa kubantu? Ini belum jadwal kita bertemu kan?" "Belum, Pak. Belum. Tapi aku mau minta maaf atas apa yang terjadi di kantorku tadi." Leo mengernyit mendengarnya karena ia belum tahu apa pun. "Ada masalah apa, Pak?" "Bu Elisa belum bercerita pada Anda?" "Elisa? Tidak! Elisa tidak menceritakan apa pun. Apa yang terjadi?" "Bu Elisa ke kantorku tadi dan sempat cekcok dengan Velia. Bahkan ... maafkan aku, tapi Velia sempat mendorongnya begitu keras." Jantung Leo langsung memacu kencang dan tangannya terkepal. Kemarahannya selalu mencuat mendengar ada yang menyakiti keluarganya. "Apa yang Velia lakukan? Bagaimana itu bisa terjadi?" Nada suara Leo sudah tidak sabar. "Maafkan aku. Bu Elisa bilang Velia sempat mendekati And
Saat Elisa memutuskan menemui Velia, ia tidak pernah membayangkan akan terjadi kekerasan seperti ini. Ia hanya ingin memperingatkan Velia agar berhenti mendekati Leo dan bahwa semua yang Velia lakukan tidak akan berpengaruh pada rumah tangganya. Hanya itu. Tapi mendadak Velia menyerangnya. Elisa kaget dan tidak menyangka. Saat tubuhnya didorong begitu keras, Elisa sudah siap menahan sakit, tapi ia malah jatuh ke pelukan Liandro yang mendadak masuk. "Velia, apa yang kau lakukan?" pekik Liandro sambil memeluk Elisa. "Anda tidak apa, Bu Elisa? Ada apa ini? Apa yang terjadi, hah?" Napas Elisa masih tersengal dan rambutnya acak-acakan, tapi ia berusaha berdiri dibantu Melda, ibu Velia. "Anda tidak apa, Bu Elisa? Maafkan Velia! Ada apa di sini, Velia? Mengapa kau mendorong Bu Elisa?" bentak Melda juga. "Kau tidak sedang mabuk kan, Velia?" bentak Garren juga, ayah Velia. Velia menggeleng panik. "Grandpa, Ayah, Ibu, masalahnya tidak seperti yang kalian pikir." "Lalu seperti apa? Jelas
Elisa segera bersiap pagi itu. Setelah mendapat pencerahan dari Bik Imah, Elisa kembali bersemangat. Dari yang awalnya ia tidak niat ke mana-mana, sekarang ia tahu apa yang harus ia lakukan. Elisa menelepon Ririn dan memintanya memastikan sesuatu, sebelum Elisa pergi ke Liandro Group untuk menemui Velia di sana. Sementara Velia sendiri sudah kembali dari Bali sejak kemarin. Begitu mendapat peringatan dari Leo, ia tidak tahan lagi. Setelah memastikan Heri pergi dari sana, ia pun pulang dan tahu lagi apa yang Leo lakukan. Velia berniat mengurung dirinya di rumah saja, tapi sialnya, ada banyak pekerjaan yang menunggunya sampai akhirnya ia harus pergi ke kantor. Namun, pikirannya tidak pernah benar. Velia ketakutan menghadapi Leo, bahkan ketakutan ini melebihi rasa takutnya waktu Susan disekap. "Sial! Jangan memikirkannya, Velia! Jangan memikirkannya!" Velia pun masih mencoba kembali fokus saat pintu ruangannya diketuk dan asistennya masuk ke dalam. "Selamat pagi, Bu. Ada yang menc
Elisa tidak bisa tidur lagi malam itu. Bahkan setelah suaminya pulang, ia makin tidak bisa tidur. Air matanya tidak mau berhenti mengalir walaupun Leo sudah menjelaskan semuanya dengan jujur. Leo yang melihat istrinya tidur memunggunginya sambil menangis pun merasa bersalah. Ini yang ia takutkan, membuat istrinya bersedih. Lebih baik Elisa marah, lebih baik Elisa berteriak dan menamparnya, tapi yang ada, istrinya itu malah diam. "Sayang, aku tahu kau belum tidur." Leo mendekat dan memeluk istrinya dari belakang, tapi air mata Elisa mengalir makin deras. "Elisa, Sayang, maafkan aku karena ada kejadian seperti ini. Tapi aku bersumpah aku tidak merasa melakukan apa pun dengannya. Bahkan di saat seperti itu, hanya kau yang ada di pikiranku. Maafkan aku, Sayang." Leo mencium mesra bahu Elisa, tapi Elisa tetap diam dan memejamkan matanya. Ia tidak tidur, tapi juga tidak membuka matanya dan tidak bicara. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak tahu harus berkata apa. Bahkan Elisa ak
"Dia sama sekali bukan pria yang mudah, Velia! Sama sekali bukan pria yang mudah!" seru Rosie begitu Leo dan timnya sudah keluar dari sana. "Aku sudah bilang sejak awal kalau ini salah kan? Tapi kalian tidak mau mendengarkan aku!" omel Terry. Velia yang masih berjalan mondar-mandir pun makin marah. "Diam! Diam semuanya! Jangan membuatku makin pusing!" bentaknya. Rosie dan Terry pun terdiam dengan napas yang masih tersengal. "Baiklah, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, Velia?" "Aku tidak tahu, Rosie! Aku tidak tahu! Berhenti bertanya dan berhenti bicara! Aku makin pusing! Sial! Yang pasti aku tidak melangkah sejauh ini untuk membiarkannya begitu saja, tapi aku juga takut untuk melangkah lebih jauh! Siallll!!!"Velia masih ketakutan dan ia tidak bisa berpikir apa pun. Ia pun memastikan Heri tidak bicara dan menyuruhnya keluar saja dari hotel. Tentu saja Velia memberinya banyak uang sebagai ganti gajinya selama satu tahun. Sedangkan Leo yang seharusnya pulang besok, malah ak
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







