Masuk"Kau pulang hari ini, Elisa?" Suara Darmawan terdengar di telepon Elisa siang itu. Sama seperti istri Rendra, Elisa juga sudah diijinkan pulang hari ini. Jahitan Elisa sudah kering dan sudah tidak terlalu sakit, hanya tinggal menumbuhkan rambutnya lagi saja. Elisa pikir kakeknya akan menjemputnya, tapi ternyata tidak. "Iya, aku sedang bersiap pulang, Grandpa. Apa ada yang akan menjemputku?" "Kalau kau mau dijemput, Grandpa akan menyuruh sopir ke sana. Grandpa sudah menitipkan uang di rumah sakit, kau tinggal bayar sisanya saja."Elisa mengembuskan napas panjangnya. Beginilah nasib anak yang tidak dipedulikan. "Aku tahu, Grandpa. Aku bisa mengurusnya sendiri. Tidak perlu sopir untuk menjemputku karena aku juga akan pulang sendiri." "Baguslah! Dan satu lagi, pulanglah ke rumah Grandpa dulu karena ada yang harus Grandpa katakan pada semuanya." Elisa mengernyit mendengarnya. "Tentang apa, Grandpa?" "Nanti kau juga akan tahu, Elisa. Pulanglah dulu!" Blep!Darmawan menutup teleponn
"Aku Rendra Kusuma, wartawan dari TV Satu dan majalah Satu Bisnis, ingin melakukan klarifikasi bahwa semua berita yang aku tulis tentang perselingkuhan yang terjadi di Wijaya Group sama sekali tidak benar." Pagi itu, berita dikejutkan dengan wartawan yang pertama kali menulis tentang berita perselingkuhan Wijaya Group akhirnya melakukan klarifikasi secara online bahwa semua hanya direkayasa. Ia mengaku melakukan semuanya demi uang. Publik langsung heboh, beberapa kolega meminta maaf karena sudah meragukan Eddy dan Susan, tapi saham milik keluarga Wijaya tetap anjlok dan beberapa kolega sudah terlanjur membatalkan kerja sama karena aib dalam keluarga itu. "Akhirnya dia mencabut beritanya! Oh, akhirnya wartawan brengsek itu mencabut beritanya!" seru Hilda begitu lega. Susan masih tidak berani bicara apa pun karena tatapan tajam Arman dan Darmawan di rumah besar itu. "Puas kalian? Kalian selalu membuat masalah dan harus aku yang menyelesaikannya? Mengapa kalian harus ada di dalam ke
"Bagaimana beritanya bisa menyebar begitu cepat, Leo? Aku benar-benar tidak memberitahu siapa pun." Leo menjenguk lagi ke rumah sakit malam itu dan memberitahu Elisa tentang gosip yang beredar. Elisa sendiri sudah tahu duluan dari internet dan dari pesan-pesan yang masuk ke ponselnya dari kolega bisnisnya. "Sejak tadi ponselku tidak berhenti berbunyi sampai aku stres sendiri, aku belum tahu harus membalas apa," imbuh Elisa. "Aku juga tidak tahu bagaimana ini bisa begitu cepat tersebar, Bu. Aku mendapatkan semua buktinya dengan sangat privat dan aku bisa memastikan tidak ada data yang bocor dariku." "Aku percaya padamu, Leo! Aku tahu kau tidak mungkin melakukan hal yang menyakiti aku," sahut Elisa begitu tulus. Leo sampai terdiam sejenak mendengarnya. Di satu sisi, untung saja bukan ia yang menyebarkannya, tapi di sisi lain, Elisa tidak tahu kalau Leo bisa saja melakukan hal yang lebih menyakitkan. "Lalu apa yang akan Anda lakukan, Bu? Apa Anda akan melindungi Pak Eddy?" "Tidak!
Suasana langsung hening saat Leo merasakan ponselnya berbunyi. Elisa sendiri juga menatap Leo sejenak. "Itu ... ponselmu berbunyi, Leo?" "Ah, maafkan aku!" seru Leo yang langsung bangkit berdiri dan memegang kantongnya. Gary sendiri sudah melotot tegang. Bisa-bisanya Leo tidak mematikan nada deringnya. "Hmm, aku permisi mengangkat telepon dulu, Bu Elisa!" pamit Leo yang buru-buru keluar kamar. Elisa hanya mengangguk karena ia masih menunggu teleponnya diangkat. Namun, sialnya tidak kunjung diangkat. "Oh, dia tidak mengangkat teleponku, Gary!" "Ah, haha, pasti dia sedang sangat sibuk, Bu. Dia belum menghubungi aku sejak pagi," dusta Gary. "Benarkah itu? Kalau begitu, aku mengirim pesan padanya saja." Gary mengangguk. Elisa pun langsung menulis pesannya."Selamat pagi, Pak Alexander Hartono. Aku dengan Elisa Wijaya. Maaf aku mengganggu waktunya. Aku ingin berterima kasih atas lukisan yang Anda berikan padaku lewat Gary. Lukisan itu sangat berarti dan aku sangat senang menerimany
Hilda berlari cepat keluar dari kamar begitu mendengar teriakan Darmawan. Dan ia pun langsung memekik kaget saat melihat Susan dan Eddy ditampar. "Akhh! Jangan, Ayah! Jangan!" Hilda langsung menarik Susan bersamanya. "Bagaimana caramu membesarkan anakmu, hah, Hilda? Kau membesarkannya agar menjadi sama sepertimu? Perebut suami orang, hah?" Hilda membelalak dan terdiam. Semua cerita masa lalunya memang sudah diketahui oleh Darmawan. "Grandpa, maafkan aku! Maafkan aku! Tapi Elisa hanya salah sangka, ini tidak seperti yang dikatakannya, Grandpa!" Susan masih berusaha membela dirinya dan menyentuh tangan Darmawan. Namun, Darmawan langsung mengempaskan tangan itu sampai Susan terhuyung. "Semua sudah ketahuan, tapi kalian masih berani membela diri, hah? Kalian ... akhh ...." Darmawan memegangi dadanya yang berdenyut."Ayah!" "Grandpa!" "Cukup! Cukup untuk hari ini karena kalian sudah memberikan tekanan yang begitu berat untuk Grandpa! Lebih baik kalian kembali ke kamar dan jangan
"Apa yang kau katakan, Leo?" Setelah terdiam cukup lama mendapatkan pertanyaan mengejutkan dari Leo, akhirnya Elisa menjawabnya. Ia salah tingkah dan wajahnya makin panas. Elisa pun memalingkan wajahnya. "Aku serius, Bu. Kalau aku menyukai Anda, apa Anda akan menerimaku? Atau aku terlalu rendah untuk bersama Anda?" Leo menatap Elisa lekat-lekat. Elisa sendiri langsung menoleh lagi menatap Leo dan menggeleng. "Tidak, Leo! Jangan pernah merasa dirimu rendah, kau sama sekali tidak rendah." "Kalau begitu, aku bisa bersama Anda?" "Tidak!" jawab Elisa cepat. "Maksudku, kau tahu sendiri aku sudah menikah kan? Pertanyaanmu itu sangat tidak masuk akal," jawab Elisa lagi dengan suara bergetar. Di satu sisi hatinya, tentu saja ia tidak berpikir berakhir dengan Leo. Namun, di sisi lain hatinya, mengapa ia menginginkannya. Leo sendiri terus memicingkan matanya menatap Elisa. Ada semburat di pipinya yang menandakan Elisa salah tingkah. "Bukankah Anda yang bilang akan bercerai dari Pak Eddy?







