Masuk"Selamat pagi, Bu Elisa! Selamat datang lagi di perusahaan!" Ririn langsung menyambut Elisa begitu ia tiba di pintu masuk perusahaan. Bukan hanya Ririn, tapi beberapa karyawan juga berjejer menyambutnya sambil memberi hormat. "Selamat pagi semua! Terima kasih sambutannya, tapi hari ini kita akan mulai bekerja seperti biasa lagi dan berikan usaha terbaik kalian!" "Siap, Bu Elisa!" Elisa mengangguk. "Baguslah! Silakan bubar semuanya! Kembali bekerja!" Para karyawan mengangguk dan segera bubar sesuai divisi dan tugasnya masing-masing, sementara Elisa melangkah bersama Ririn ke ruangannya. "Jadi bagaimana persiapan interview hari ini?" "Semuanya sudah siap, apalagi manager HRD-nya sangat berpengalaman." Elisa tertawa. Manager HRD mereka adalah manager HRD yang lama dan Elisa tidak akan meragukan kinerjanya. "Bagus, nanti aku juga akan memantau sendiri semuanya. Kali ini, aku mau mengenal siapa saja karyawanku. Walaupun mungkin aku tidak bisa mengingat semuanya, tapi aku berintera
"Kau akan mulai ke kantor pagi ini, Sayang?" Leo baru saja keluar dari kamar mandi saat melihat istrinya sudah bersiap di depan cermin. "Ya, kemarin Alden sakit, jadi aku tidak pergi, hari ini aku akan mulai masuk kerja." Leo tersenyum dan langsung melangkah ke belakang Elisa. Leo mencium mesra bahu istrinya itu. "Aku selalu berhasrat setiap melihatmu dalam baju kerja, Sayang." Elisa menaikkan alis, menatap pantulan suaminya di cermin. "Benarkah? Dalam baju kerja? Bukannya kau berhasrat saat melihatku memakai lingerie atau sedang menyusui Alden?" Leo tergelak. "Sebenarnya, dalam balutan apa pun, kau selalu membuatku berhasrat, apalagi tanpa sehelai benang pun." "Dasar nakal!" "Haha, tapi aku serius, Sayang. Aku selalu kagum melihatmu dalam setelan formal, seperti saat aku melihatmu pertama kali." Elisa tersenyum dan saling menatap dengan suaminya dari cermin. Secuil ingatan pun muncul saat mereka pertama kali bertemu. Eddy membawa Leo ke ruang kerja Elisa untuk memperkenalkan
"Selamat pagi, Alden Sayang!" Pagi itu, Leo dan Elisa berdiri di depan boks bayi sambil menatap Alden yang baru bangun tidur, tanpa drama, tanpa tangisan, dan Alden langsung tersenyum begitu membuka matanya. "Akkhh!" Alden berteriak pelan. "Auw ... auw ...." "Oh, anak Mama sudah berkicau lagi," seru Elisa gemas. "Anak Papa sudah tidak demam lagi." Leo menyentuh dahi dan leher Alden. Demam yang semalam benar-benar sudah tidak ada, suhu Alden sudah normal. Alden pun membuka mulutnya begitu lebar, seolah ingin bicara, tangan dan kakinya menendang seolah begitu bahagia pagi itu. "Oh, dia menggemaskan sekali, Leo!" "Iya, Sayang. Susui sebentar, lalu bawa keluar. Bik Imah dan semua pasti sudah menantikan kabar Alden." Elisa mengangguk. Ia pun menyusui bayinya dan Alden langsung menyusu dengan rakus seperti biasanya. Elisa terus tersenyum merasakan bayinya yang sudah normal seperti biasanya. Tidak lama kemudian, Alden selesai menyusu dan Elisa pun membawanya keluar. Di luar, Bik Ima
Leo merasa sangat beruntung orang tuanya mendidiknya dengan benar. Ia bukan anak yang dimanja dulu, tapi selalu dididik untuk mandiri. Ganti sprei bukan masalah sulit baginya. Leo bisa melakukan semua pekerjaan wanita kecuali hamil, melahirkan, dan menyusui. Hanya karena sudah lama dilayani, bukan berarti ia lupa caranya. Leo pun segera melangkah ke arah ranjang. Dengan cekatan, tapi tetap hati-hati, Leo menarik sprei itu terbuka. Tidak boleh mengeluarkan suara keras dan tidak boleh menyemburkan debu ke arah anaknya yang masih tertidur lelap di boks bayi. Setelah sprei terbuka, Leo menatap matras yang ada di bawah sprei dan matrasnya juga terkena darah. Leo melepas semuanya, lalu keluar dari kamar untuk mengambil matras dan sprei baru. Tepat saat Leo sudah kembali ke kamar dan sedang memasang spreinya, pintu kamar mandi terbuka."Ah, sudah selesai. Aku ...." Ucapan Elisa langsung terhenti melihat apa yang Leo lakukan. "Astaga, apa yang kau lakukan, Leo?" Elisa segera menghampiri s
"Ah, akhirnya tidur juga!" Malam itu, Leo dan Elisa sudah duduk berdua di kamar mereka. Alden sendiri baru saja tertidur setelah hampir setengah jam merengek. Bayi kecil itu akhirnya menyerah pada kantuk setelah digendong Leo berkeliling kamar.Elisa sendiri sudah lebih dulu berbaring di ranjang."Ya, akhirnya dia tidur. Ini pasti karena demamnya, tidak biasanya dia rewel seperti ini." Alden memang agak demam malam ini. Karena itu, Leo dan Elisa tidak bisa istirahat karena ini pertama kalinya anak mereka demam. Tentu saja Bik Imah dan Nila tadi sudah mencoba beberapa cara tradisional untuk meredakan demamnya agar tidak perlu minum obat dokter. "Biasanya di kampung, Bibik memakai bawang merah yang dihaluskan lalu dicampur minyak, kemudian dibalurkan tipis pada punggung, dada, atau telapak kaki bayi." "Tapi itu panas, Bik," tolak Leo."Dulu saat kau demam waktu bayi, Bibik juga melakukan yang sama, Leo. Lagipula kita balurkannya tipis-tipis agar tidak panas. Coba saja! Semua bayi di
Seorang wanita menatap terus layar ponselnya yang menampilkan berita tentang peresmian Wijaya Group. Dan wanita itu mengepalkan tangannya geram. "Bagaimana bisa Elisa sekarang menjadi pimpinan Wijaya Group? Oh, bagaimana dia bisa begitu beruntung, Susan? Kalau aku tahu Leo adalah CEO yang menyamar, aku pasti tidak akan menunda dan akan langsung mengambil hatinya dulu!" Velia duduk di ruang tamu penjara sambil berhadapan dengan Susan yang masih berada di penjara. Susan dihukum dua tahun, sudah mengajukan banding, tapi banding ditolak. Awalnya Susan terus mengamuk seperti orang gila, begitu juga dengan Hilda. Mereka marah karena merasa tidak bersalah. Namun, terus marah membuat Susan akhirnya lelah. Dipenjara, semua harta ikut disita, tidak ada keluarga yang menjenguk mereka atau bahkan ikut simpati pada mereka. Tentu saja Susan tidak bisa menyalahkan keluarga mereka karena Hilda sendiri adalah orang yang sangat sombong. Sejak masuk ke keluarga Wijaya, Hilda tidak menginginkan kelu
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







