LOGINDalam hidup, jalan yang kita lalui mungkin tidak selalu mulus, mungkin penuh batu kerikil, mungkin penuh badai, mungkin juga penuh luka. Tapi bukan berarti kita harus menghabiskan sisa hidup untuk meratapi luka itu. Karena terkadang, setelah babak belur dan kehilangan segalanya, kita justru menemukan sesuatu yang jauh lebih indah menanti kita di depan sana. Seperti Elisa yang menemukan kebahagiaan sejatinya setelah badai menghantamnya tanpa ampun. Ia menemukan seseorang yang tidak pernah ia bayangkan akan ada di hidupnya, seseorang yang mengorbankan banyak hal untuk bisa bersamanya, dan memberikan kebahagiaan tiada akhir. Seperti juga rasa bahagia menyambut kelahiran anak kembar mereka hari itu. Elisa ingin melahirkan normal, tapi posisi bayinya tidak memungkinkan. Elisa pun pasrah dan kebahagiaan itu pun tidak berkurang sedikit pun walaupun kedua bayinya dilahirkan secara operasi. "Oek ... oek ...." Suara tangisan bayi itu mengalun indah di ruang operasi. "Bayi pertama laki-laki
"Selamat, akhirnya kau bebas, Susan!" Hari itu, hari yang dinantikan Susan pun tiba. Setelah dua tahun dikurung dalam penjara, akhirnya ia bebas juga. Susan sampai tidak bisa tidur semalam dan ia tidak berhenti merinding. Saat pertama kali dikurung rasanya ingin mati saja. Susan tidak biasa tidur di tempat keras, tidak biasa mandi dengan tempat jorok, tidak biasa makan seadanya, tidak bisa berkumpul bersama orang-orang yang rendahan menurutnya. Susan dan Hilda mengamuk seperti orang gila dan membenci semua orang. Hingga perlahan, ketenangan muncul di hatinya. Yang awalnya tidak bisa menjadi bisa, yang awalnya semua buruk, kini terlihat tidak buruk lagi. Dan yang awalnya Susan ingin meninggalkan semua orang di sana, kali ini, hatinya terasa berat, apalagi harus meninggalkan ibunya. "Jaga dirimu, Susan! Jangan berbuat jahat lagi!" pesan napi yang lain. "Pasti! Pasti! Terima kasih!" Susan pun menatap ibunya dan mendadak berlutut di kaki Hilda. "Ibu ..." "Apa yang kau lakukan, Sus
"Positif, Leo! Ini positif! Aku hamil lagi!" Elisa memekik penuh haru pagi itu. Setelah mengalami mual waktu di pesta ulang tahun Alden, Elisa tidak sempat mengecek apa pun karena ia sibuk di yayasan sampai malam. Begitu tiba di rumah, ia sudah kelelahan parah. Memang belakangan ia merasakan perubahan dalam dirinya. Kelelahan yang berlebihan, rasa ngantuk yang berlebihan, dan yang tidak ia sadari adalah haidnya sudah terlambat. Pagi itu, Elisa terbangun jam lima pagi dan ia langsung memeriksa dengan alat tespeknya. Hasilnya membuatnya menangis haru. Leo yang tahu Elisa akan mengecek kehamilan pun ikut bangun dan menunggu dengan antusias di luar kamar mandi. Dan begitu mendengar pekikan Elisa, Leo langsung menerobos masuk ke kamar mandi yang memang pintunya tidak dikunci. "Positif, Sayang? Kau hamil lagi?" Elisa mengangguk dengan air mata yang bercucuran. "Iya, Leo! Aku hamil lagi! Aku hamil lagi!" "Oh, Sayang! Akhirnya, Sayang! Akhirnya! Terima kasih, Tuhan!" Leo langsung meme
Dua bulan kembali berlalu dan hari itu, semua sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun Alden yang pertama.Acara itu diadakan di yayasan milik Hartono Group, sebuah yayasan yang juga akan diresmikan sekalian hari ini bernama Yayasan Lentera Kasih."Aku ingin anak-anak yang tidak punya siapa-siapa tetap memiliki tempat untuk berharap," ujar Elisa saat itu, mengungkapkan keinginannya. Leo yang memang sudah punya yayasan bernama Hartono Foundation di Singapore itu langsung mengangguk setuju. "Kalau begitu, kita bangun tempat itu untuk mereka, Sayang.""Yayasan Lentera Kasih," bisik Elisa. "Aku sudah berpikir keras untuk namanya, dan aku mau tempat kita memberikan cahaya bagi banyak orang. Semoga suatu hari nanti, tidak akan ada anak yang merasa sendirian lagi karena mereka tidak punya siapa-siapa."Leo mengangguk dan mengecup kening istrinya. Mereka berdua pernah kehilangan, mereka berdua tahu rasanya. Karena itu, mereka tidak akan membiarkan anak lain merasakannya. "Kalau itu keinginanm
Ratna terdiam sejenak, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Apa kau bilang?" Elisa mengangguk. "Aku benar-benar mau berdamai dengan Anda, Bu Ratna. Dan aku bersyukur Tuhan mempertemukan kita di sini." Ratna menggeleng. "Tidak, jangan pura-pura, Elisa! Pergi dari sini, aku tidak mau melihatmu!" "Sstt, Anda tidak boleh banyak bicara dan tidak boleh emosional, Bu." Elisa tersenyum hangat. "Biar aku saja yang bicara. Aku tahu banyak hal yang tidak baik antara kita di masa lalu dan kita tidak bisa mengubahnya. Yang bisa kita ubah adalah cara kita memandang semuanya." "Sudah satu tahun berlalu, Bu Ratna. Dan aku sudah melupakan semua hal buruk itu. Kuharap Anda juga melupakannya. Mari kita berdamai dan memulai hidup baru dengan lebih tenang." Ratna menggeleng lagi. Rasanya seperti mimpi, Elisa mengatakan hal seperti ini. Dibanding Elisa, seharusnya Ratna yang lebih pantas meminta damai saja. Ratna terus menganggap dirinya dan Eddy adalah korban dari keluarga Wijaya, tapi ka
"Oh, pintarnya Alden!" Hari itu Leo, Elisa, dan Bik Imah membawa Alden ke rumah sakit untuk divaksin. Setelah semua masalah selesai, Elisa bisa keluar lagi dengan bebas tanpa takut dikejar wartawan gosip. Bahkan ia makin sering membawa Alden keluar dan banyak orang yang mengagumi ketampanan serta kepintaran anak mereka itu. "Pintar sekali, disuntik tidak menangis," seru Bik Imah. "Akhh!" Alden berteriak sambil terus menatap bekas suntikan di lengannya, seolah bingung apa yang baru saja terjadi pada dirinya. "Papapa, auw auw!" "Iya, Sayang, Papa di sini. Tidak apa, Alden jagoan Papa!" Leo langsung meminta menggendong anaknya itu lalu membawanya keluar dari ruangan dokter, sedangkan Elisa lanjut berkonsultasi. "Sudah selesai, sekarang kita bisa pulang," seru Elisa saat ia sudah selesai berkonsultasi. "Anak Mama pintar sekali!" puji Elisa lagi yang membuat Alden terkekeh begitu senang. "Beratnya juga naik banyak, Sayang," sahut Leo. "Itu karena dia pintar makan. Kata Ibuku, dulu w
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







