Share

Double Hapiness

Author: Mommykai22
last update publish date: 2026-10-13 17:43:19

"Positif, Leo! Ini positif! Aku hamil lagi!"

Elisa memekik penuh haru pagi itu. Setelah mengalami mual waktu di pesta ulang tahun Alden, Elisa tidak sempat mengecek apa pun karena ia sibuk di yayasan sampai malam.

Begitu tiba di rumah, ia sudah kelelahan parah. Memang belakangan ia merasakan perubahan dalam dirinya. Kelelahan yang berlebihan, rasa ngantuk yang berlebihan, dan yang tidak ia sadari adalah haidnya sudah terlambat.

Pagi itu, Elisa terbangun jam lima pagi dan ia langsung memeriks
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Double Hapiness

    "Positif, Leo! Ini positif! Aku hamil lagi!" Elisa memekik penuh haru pagi itu. Setelah mengalami mual waktu di pesta ulang tahun Alden, Elisa tidak sempat mengecek apa pun karena ia sibuk di yayasan sampai malam. Begitu tiba di rumah, ia sudah kelelahan parah. Memang belakangan ia merasakan perubahan dalam dirinya. Kelelahan yang berlebihan, rasa ngantuk yang berlebihan, dan yang tidak ia sadari adalah haidnya sudah terlambat. Pagi itu, Elisa terbangun jam lima pagi dan ia langsung memeriksa dengan alat tespeknya. Hasilnya membuatnya menangis haru. Leo yang tahu Elisa akan mengecek kehamilan pun ikut bangun dan menunggu dengan antusias di luar kamar mandi. Dan begitu mendengar pekikan Elisa, Leo langsung menerobos masuk ke kamar mandi yang memang pintunya tidak dikunci. "Positif, Sayang? Kau hamil lagi?" Elisa mengangguk dengan air mata yang bercucuran. "Iya, Leo! Aku hamil lagi! Aku hamil lagi!" "Oh, Sayang! Akhirnya, Sayang! Akhirnya! Terima kasih, Tuhan!" Leo langsung meme

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Lentera Kasih

    Dua bulan kembali berlalu dan hari itu, semua sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun Alden yang pertama.Acara itu diadakan di yayasan milik Hartono Group, sebuah yayasan yang juga akan diresmikan sekalian hari ini bernama Yayasan Lentera Kasih."Aku ingin anak-anak yang tidak punya siapa-siapa tetap memiliki tempat untuk berharap," ujar Elisa saat itu, mengungkapkan keinginannya. Leo yang memang sudah punya yayasan bernama Hartono Foundation di Singapore itu langsung mengangguk setuju. "Kalau begitu, kita bangun tempat itu untuk mereka, Sayang.""Yayasan Lentera Kasih," bisik Elisa. "Aku sudah berpikir keras untuk namanya, dan aku mau tempat kita memberikan cahaya bagi banyak orang. Semoga suatu hari nanti, tidak akan ada anak yang merasa sendirian lagi karena mereka tidak punya siapa-siapa."Leo mengangguk dan mengecup kening istrinya. Mereka berdua pernah kehilangan, mereka berdua tahu rasanya. Karena itu, mereka tidak akan membiarkan anak lain merasakannya. "Kalau itu keinginanm

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Sudahi Semuanya

    Ratna terdiam sejenak, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Apa kau bilang?" Elisa mengangguk. "Aku benar-benar mau berdamai dengan Anda, Bu Ratna. Dan aku bersyukur Tuhan mempertemukan kita di sini." Ratna menggeleng. "Tidak, jangan pura-pura, Elisa! Pergi dari sini, aku tidak mau melihatmu!" "Sstt, Anda tidak boleh banyak bicara dan tidak boleh emosional, Bu." Elisa tersenyum hangat. "Biar aku saja yang bicara. Aku tahu banyak hal yang tidak baik antara kita di masa lalu dan kita tidak bisa mengubahnya. Yang bisa kita ubah adalah cara kita memandang semuanya." "Sudah satu tahun berlalu, Bu Ratna. Dan aku sudah melupakan semua hal buruk itu. Kuharap Anda juga melupakannya. Mari kita berdamai dan memulai hidup baru dengan lebih tenang." Ratna menggeleng lagi. Rasanya seperti mimpi, Elisa mengatakan hal seperti ini. Dibanding Elisa, seharusnya Ratna yang lebih pantas meminta damai saja. Ratna terus menganggap dirinya dan Eddy adalah korban dari keluarga Wijaya, tapi ka

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Mantan Menantu

    "Oh, pintarnya Alden!" Hari itu Leo, Elisa, dan Bik Imah membawa Alden ke rumah sakit untuk divaksin. Setelah semua masalah selesai, Elisa bisa keluar lagi dengan bebas tanpa takut dikejar wartawan gosip. Bahkan ia makin sering membawa Alden keluar dan banyak orang yang mengagumi ketampanan serta kepintaran anak mereka itu. "Pintar sekali, disuntik tidak menangis," seru Bik Imah. "Akhh!" Alden berteriak sambil terus menatap bekas suntikan di lengannya, seolah bingung apa yang baru saja terjadi pada dirinya. "Papapa, auw auw!" "Iya, Sayang, Papa di sini. Tidak apa, Alden jagoan Papa!" Leo langsung meminta menggendong anaknya itu lalu membawanya keluar dari ruangan dokter, sedangkan Elisa lanjut berkonsultasi. "Sudah selesai, sekarang kita bisa pulang," seru Elisa saat ia sudah selesai berkonsultasi. "Anak Mama pintar sekali!" puji Elisa lagi yang membuat Alden terkekeh begitu senang. "Beratnya juga naik banyak, Sayang," sahut Leo. "Itu karena dia pintar makan. Kata Ibuku, dulu w

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Sahabat Terbaik

    Velia mematung mendengar pengakuan Susan. Untuk sesaat, suasana hening, sebelum Velia yang duluan berbicara. "Apa, Susan? Apa yang kau bilang?" "Maafkan aku, Velia! Maafkan aku ...." Napas Velia perlahan mulai tersengal dan ia tertawa nanar. "Aku menceritakan padamu karena aku percaya padamu, kau sahabatku, tapi kau ...." "Maafkan aku, Velia! Aku salah! Aku tahu aku sudah mengkhianati kepercayaanmu, tapi waktu itu, aku tidak sanggup menyimpan semuanya sendiri. Aku sudah memberitahumu untuk berhenti melakukannya kan? Dipenjara seperti aku tidak enak, Velia. Tapi kau tetap melakukannya." "Aku ...." Susan terdiam dengan air mata yang mengalir. "Maafkan aku. Aku tidak punya pembelaan lagi. Aku salah! Aku mengkhianatimu. Kau boleh marah, kau boleh menamparku, kau boleh membenciku. Aku terima semuanya, Velia. Aku terima ...." Tatapan Velia juga goyah dan ia terus menggeleng. Air matanya juga ikut mengalir, tapi ia terus menatap Susan. "Susan ...." "Maafkan aku, Velia ...." Hanya kat

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Kejujuran

    "Kau baik-baik saja, Leo?" Elisa terus menatap Leo dalam perjalanan pulang dari penjara. Tapi Leo mengangguk sambil tersenyum. "Aku baik-baik saja, memangnya kenapa, Sayang?" Ekspresi Leo tampak biasa saja, padahal Elisa tahu Leo sempat marah saat mendengar rahasia kecil dari Wira tadi. "Itu ... masalah Om Wira yang disuruh Grandpa ...." "Itu sudah berlalu, Sayang," sela Leo. "Aku akui aku marah mendengarnya tadi. Bahkan setelah membunuh kedua orang tuaku, dia masih belum puas dan ingin menyingkirkan aku. Tapi mungkin takdir belum menginginkan aku mati karena bahkan iblis sekejam Wira saja memilih melepaskanku dan berbohong pada bosnya." Elisa mengembuskan napas panjangnya. "Ini menyakitkan, saat Grandpa sudah meninggal, ternyata orang masih membicarakan kejahatannya. Maafkan dia, Leo! Maafkan keluarga kami!" Elisa sedih lagi, tapi Leo meliriknya dan membelai wajah istrinya itu. "Berhenti minta maaf, Elisa. Kita tidak pernah tahu ke mana hidup akan membawa kita. Justru dengan

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Milikku Besar

    Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Aku Akan Memulainya

    Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status