Share

Bab 22 Awal Yang Keliru

Author: Sheila
last update publish date: 2026-08-12 10:14:28

Flashback

Sore itu, Damar hendak pergi. Langkahnya terasa berat, dalam benaknya, berbagai kenangan bersama Kenanga berputar. Ia merasa sesak, tak ada satupun pesan dari Kenanga ataupun Arga.

Sebelumnya, ia sudah mengirim pesan agar Arga dan Kenanga datang ke taman kota, sebuah tempat yang sering mereka datangi sepulang sekolah. Tempat di mana mereka tertawa sambil menikmati telur gulung bersama. Tapi Kenanga dan Arga sama sekali tak datang, harapan terakhirnya adalah bandara, ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 75 Dua Tangan yang Menggenggam

    Sania masih memikirkan ucapan Arga. Apa pria berkacamata itu memang sedang mendekatinya? Sania menggeleng pelan.“Masa sih?” gumam Sania pelan.Tangannya perlahan naik, menopang dagu dengan ibu jari sementara jemari lainnya bersandar di sepanjang lekuk pipinya yang tirus. Matanya menatap kosong ke arah jendela kantor, isi kepalanya mulai riuh tentang sosok Arga.“Sadar, Sania.” Sania menepuk kedua pipinya dengan telapak tangan.Sejak dulu, Sania selalu menyukai Arga dalam diam, bahkan sampai sekarang perasaan itu masih ada menghiasi hatinya. Hanya saja, Arga baru-baru ini telah menyerah pada Kenanga, hingga akhirnya sikap pria itu padanya mulai berbeda. Sania hanya khawatir, jika apa yang Arga lakukan hanya untuk melampiaskan rasa patah hatinya.Gadis itu bersandar pada kursinya. Ia mengusap wajahnya pelan, dan terkejut ketika tiba-tiba Arga ada di hadapannya sembari tersenyum dan mata yang berbinar.“Eh, Ar. Ada apa?” tanya Sani

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 74 More Than Best Friend?

    Damar melangkah mendekati Kenanga. Namun, gadis itu segera mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk mengusap sisa air mata di pipinya.“Keke, lihat aku sebentar,” pinta Damar. “Untuk apa?” jawab Kenanga lirih.Damar terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Kenanga akan menyambutnya dengan sikap sedingin itu.“Boleh kutanya ada apa? Kamu menangis?” tanya Damar.Kenanga menggeleng, enggan menjawab Damar. Rasanya, nyeri di hatinya masih terus menerus menusuk.“Aku sibuk, permisi.” Kenanga berdiri dan hendak pergi.“Jawab dulu aku.” Damar menahan tangan Kenanga.“Aku sudah melihatnya sendiri.” Kenanga menggigit bibir, berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar. “Aku melihat Rosa memelukmu.”“Justru karena kamu enggak tahu apa yang terjadi, aku ingin menjelaskannya.” Damar mengembuskan napas pelan. “Apa yang terjadi, tidak seperti apa yang kamu pikirkan.”

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 73 Ketika Orang Lain Memelukmu

    Rosa terdiam. Wajahnya telah basah oleh airmata, kedua tangannya mengepal kuat.“Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini,” ucap Rosa pelan.Damar menarik napas panjang. Ia mengetukkan jarinya di atas meja kerjanya, tatapan tajamnya tak lepas dari gadis yang tengah duduk di hadapannya.“Setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya, dan ini yang kau yang harus kau terima.” Damar memijat keningnya sendiri.“Dengar penjelasanku,” lirih Rosa.“Oke, aku dengarkan. Silahkan bicara.” Damar mengangkat sebelah tangannya, tanda ia memberikan kesempatan Rosa untuk bicara.“Aku tak pernah menyuruh orang lain untuk menyerang Kenanga dan yang lainnya. Aku hanya meminta bantuan pada pengelola perkebunan untuk mengatur agar kita dibagi dua kelompok. Kamu dan aku, sedangkan Kenanga, Arga dan Sania ada dalam satu kelompok yang sama. Aku hanya ingin dekat denganmu,” ujar Rosa.Damar tak menjawab ucapan Rosa. Ia kembali memijit keningnya, en

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 72 Di Ujung Penyangkalan

    Senyum di wajah Rosa mengembang. Ia sempat berpikir Damar akan mengabaikannya dan memilih mengejar Kenanga. Namun ternyata tidak, ketika Kenanga pergi dengan wajah masam, Damar tidak mengejarnya sama sekali, pria itu justru mengatakan akan berbicara dengannya.“Apa yang akan Damar bicarakan denganku? Apa tentang perasaannya?” batin Rosa.Damar menatap Rosa dengan tajam, ada emosi yang ia tahan sejak kemarin. Hal apa pun yang menyangkut Kenanga, ia tak akan tinggal diam. Damar melirik sekilas ke arah Kenanga. Gadis itu tampak berbeda dari biasanya. Wajahnya masam, dan ia bahkan tidak berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya melihat Damar berbicara dengan Rosa.“Apa dia cemburu?” pikir Damar.Senyum nyaris terbit di bibirnya. Jika Kenanga benar-benar cemburu, mungkinkah itu pertanda bahwa gadis itu juga menyimpan perasaan yang sama dengannya? Damar berusaha menahan senyumnya, lalu berdeham kecil.“Kita bicara di rua

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 71 Kembali Menumbuhkan Asa

    Kenanga masih memikirkan ucapan Damar. Senyum kecil terbit di bibirnya. Sejak dulu, pria itu selalu menempati ruang tersendiri di sudut hatinya. Perasaan itu tak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika keadaan sempat membuat mereka menjauh. Namun, apakah ia berani kembali menaruh harapan kepada Damar?Kenanga terdiam. Jemarinya memainkan gantungan kunci berbentuk dandelion, benda kecil yang telah menemaninya selama bertahun-tahun. Ia menatapnya lekat-lekat, mengingat masa SMP ketika ia dan Damar membeli gantungan kunci persahabatan itu bersama-sama.Dulu, benda itu menjadi simbol persahabatan mereka. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, perasaan Kenanga tak lagi sesederhana itu.“Jika lebih dari sahabat … apa semuanya akan baik-baik saja?” lirih Kenanga.Sementara itu, Damar yang baru saja datang ke rumahnya bersenandung kecil. Mengingat perkataannya pada Kenanga, membuatnya merasa malu sendiri.Danishka memperhatikan Kakaknya. Ia men

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 70 Kala Tangan Menggenggam

    Di sisi lain, Sania dan Arga tengah menikmati secangkir kopi panas di cafe. Mereka memutuskan beristirahat dari perjalanan yang cukup panjang.Arga memperhatikan Sania. Gadis itu selalu sederhana, tapi ternyata … cukup memikat. Sania menyesap kopinya perlahan, dan menyisakan cream di sudut bibirnya.Arga tersenyum kecil. Ia mengambil tisu dan menyekanya perlahan.“Sorry, ada cream di bibir kamu,” ucap Arga.Sania menunduk dan tersenyum tipis. Sekilas ia terlihat tenang, tetapi sebenarnya ia tengah menyembunyikan debar yang semakin berpacu.“Thanks, Ar,” ucap Sania.Arga hanya tersenyum, gadis di hadapannya itu masih mengunci perhatiannya. Arga mengusap tengkuknya dan salah tingkah.Sania mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Mencoba mengalihkan perhatian dari tatapan Arga kepadanya.“Kenapa?” tanyanya ketika menyadari Arga masih memperhatikannya.“Hah? Kenapa apanya?” Arga terkesiap ketika mendengar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status