Share

Bab 49 Penghalang

Author: Sheila
last update publish date: 2026-09-19 13:52:12

Rosa terdiam beberapa saat. Ia memiliki sebuah rencana untuk Kenanga, tapi bukan sekarang, ia menunggu waktu yang tepat. Waktu dimana semua orang lengah, terutama Sania. Gadis itu terlalu cermat, bahkan sepertinya Sania mulai menaruh curiga padanya.

“Nanti akan ku kabari lagi.” Rosa mematikan teleponnya dan pergi berlalu.

Dengan hati-hati Sania kembali mengintip, Rosa sudah tak ada di sana. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Arga yang berada tepat di sampingnya, ketika ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 72 Di Ujung Penyangkalan

    Senyum di wajah Rosa mengembang. Ia sempat berpikir Damar akan mengabaikannya dan memilih mengejar Kenanga. Namun ternyata tidak, ketika Kenanga pergi dengan wajah masam, Damar tidak mengejarnya sama sekali, pria itu justru mengatakan akan berbicara dengannya.“Apa yang akan Damar bicarakan denganku? Apa tentang perasaannya?” batin Rosa.Damar menatap Rosa dengan tajam, ada emosi yang ia tahan sejak kemarin. Hal apa pun yang menyangkut Kenanga, ia tak akan tinggal diam. Damar melirik sekilas ke arah Kenanga. Gadis itu tampak berbeda dari biasanya. Wajahnya masam, dan ia bahkan tidak berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya melihat Damar berbicara dengan Rosa.“Apa dia cemburu?” pikir Damar.Senyum nyaris terbit di bibirnya. Jika Kenanga benar-benar cemburu, mungkinkah itu pertanda bahwa gadis itu juga menyimpan perasaan yang sama dengannya? Damar berusaha menahan senyumnya, lalu berdeham kecil.“Kita bicara di rua

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 71 Kembali Menumbuhkan Asa

    Kenanga masih memikirkan ucapan Damar. Senyum kecil terbit di bibirnya. Sejak dulu, pria itu selalu menempati ruang tersendiri di sudut hatinya. Perasaan itu tak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika keadaan sempat membuat mereka menjauh. Namun, apakah ia berani kembali menaruh harapan kepada Damar?Kenanga terdiam. Jemarinya memainkan gantungan kunci berbentuk dandelion, benda kecil yang telah menemaninya selama bertahun-tahun. Ia menatapnya lekat-lekat, mengingat masa SMP ketika ia dan Damar membeli gantungan kunci persahabatan itu bersama-sama.Dulu, benda itu menjadi simbol persahabatan mereka. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, perasaan Kenanga tak lagi sesederhana itu.“Jika lebih dari sahabat … apa semuanya akan baik-baik saja?” lirih Kenanga.Sementara itu, Damar yang baru saja datang ke rumahnya bersenandung kecil. Mengingat perkataannya pada Kenanga, membuatnya merasa malu sendiri.Danishka memperhatikan Kakaknya. Ia men

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 70 Kala Tangan Menggenggam

    Di sisi lain, Sania dan Arga tengah menikmati secangkir kopi panas di cafe. Mereka memutuskan beristirahat dari perjalanan yang cukup panjang.Arga memperhatikan Sania. Gadis itu selalu sederhana, tapi ternyata … cukup memikat. Sania menyesap kopinya perlahan, dan menyisakan cream di sudut bibirnya.Arga tersenyum kecil. Ia mengambil tisu dan menyekanya perlahan.“Sorry, ada cream di bibir kamu,” ucap Arga.Sania menunduk dan tersenyum tipis. Sekilas ia terlihat tenang, tetapi sebenarnya ia tengah menyembunyikan debar yang semakin berpacu.“Thanks, Ar,” ucap Sania.Arga hanya tersenyum, gadis di hadapannya itu masih mengunci perhatiannya. Arga mengusap tengkuknya dan salah tingkah.Sania mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Mencoba mengalihkan perhatian dari tatapan Arga kepadanya.“Kenapa?” tanyanya ketika menyadari Arga masih memperhatikannya.“Hah? Kenapa apanya?” Arga terkesiap ketika mendengar

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 69 Belenggu yang Terlepas

    “Keke, nanti aku antar pulang sampai rumah ya,” ucap Damar.Pria itu tersenyum, binar di matanya kembali hadir setiap kali ia melihat Kenanga. Ternyata, waktu tidak benar-benar memisahkan mereka, benang kusut yang secara perlahan terurai kembali, dan sosok Damar yang selalu berdiam diri di balik sikapnya yang dingin itu, kembali menemukan cahayanya kembali.“Ngerepotin gak nih?” tanya Kenanga.“Enggak kok, sekalian ketemu Ayah Gani dan Ibu Lily juga. Aku kangen masakan Ibu Lily,” ujar Damar.“Bilang aja mau numpang makan, modus banget.” Kenanga tertawa.Damar mencubit gemas pipi Kenanga, tawa kembali hadir di antara mereka. Menjadi melodi yang menemani perjalanan mereka, satu kota Bandung yang menyimpan berbagai kisah itu, kini kembali merekatkan hubungan mereka.Damar menatap lurus ke depan, memperhatikan jalan yang ia lalui, sementara Kenanga menikmati musik yang ia dengar dari radio di mobil Damar. Terkadang mereka bernyanyi b

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 68 Di Antara Luka dan Harapan

    Sementara itu, Rosa menghela napas panjang. Tatapannya tertuju pada sebuah pintu di hadapannya. Ia mengepalkan tangan, ragu untuk membukanya. Namun, setelah mengumpulkan keberanian, ia mengulurkan tangan dan menarik daun pintu itu perlahan.Langkahnya penuh kehati-hatian. Baru beberapa langkah ia memasuki rumah, Anton menutup buku yang ia baca dan mengalihkan pandangannya pada Rosa.“Bagaimana, Rosa? Ada kemajuan? Hubunganmu dengan putra sulung keluarga Atmaja bagaimana?” Anton melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.“Ada. Hubungan kami dekat, bagaimana jika Papa berbicara dengan Pak Dirga Atmaja untuk menjodohkan kami?” usul Rosa.“Papa belum menemukan waktu yang pas. Bagus kalau hubungan kalian dekat,” ucap Anton seraya tersenyum.Rosa terdiam. Senyuman yang selama ini nyaris tak pernah ia lihat dari ayahnya kini terukir di wajah Anton. Untuk pertama kalinya, ia merasa mendapatkan pengakuan hanya karena mendengar bahwa hubungannya dengan D

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 67 Di Bawah Gemintang

    Parman menundukkan kepalanya dan menghapus wajahnya yang basah. Gestur gelisah nampak jelas terlihat, setiap kali nama Rosa disebutkan.“Apa … kejadian ini ada hubungannya dengan Rosa?” tanya Sania.“Ti-tidak, bukan. Hanya sa-saya saja,” jawab Parman dengan terbata-bata.Sania menyunggingkan senyum, tanpa perlu bertanya lebih jauh lagi. Mereka sudah mengerti bahwa memang Rosa memiliki keterkaitan dengan kejadian ini.“Ternyata Rosa ya,” gumam Arga pelan.“Pak, sa-saya tidak menyebutkan nama Mbak Rosa. Bu-bukan Mbak Rosa yang menyuruh saya. Itu perbuatan saya saja,” ucap Parman.“Kalau Bapak jujur, keamanan Pak Parman akan terjamin,” ucap Damar meyakinkan Parman.“Benar, Pak? Saya dan keluarga akan aman?” tanya Parman.Parman mulai goyah, sebenarnya, ia enggan menuruti perintah Rosa, akan tetapi keadaan yang memaksanya untuk melakukan hal tersebut. Parman berpikir cukup lama, ia sendiri pun seringkali dihantui pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status