Share

Bab 3

Author: Liam
"Buka, terus rapatin lagi. Rasakan tekanan airnya."

Ujung jarinya seakan sengaja menyapu bagian kulitku yang paling sensitif. Aku langsung menegangkan kedua kaki, tapi tidak berani menjepitnya rapat-rapat karena takut reaksiku terlalu kelihatan jelas.

Agar aku bisa merasakan jalur gerakan bahu saat mengayuh, dia menempelkan seluruh tubuhnya ke punggungku, membuat dada bidangnya yang keras dan panas melekat rapat tanpa celah denganku.

Aku bisa merasakan dengan jelas bulu dada yang kasar di dadanya, yang menusuk-menusuk kulitku berulang kali lewat lapisan baju renang yang tipis.

Aku layaknya boneka tali yang sepenuhnya dikendalikan olehnya. Setiap titik sensitif di tubuhku disentuh, digesek, dan diremas secara tidak sengaja atas nama "mengajar".

Aku merasa seolah-olah sedang dilemparkan ke dalam tungku api, seluruh tubuhku terasa terbakar.

Air kolam jelas-jelas terasa dingin, tapi aku malah merasa sekujur tubuhku kepanasan, tenggorokanku kering, bahkan setiap embusan napas pun terasa membakar.

"Tiara, fokus sedikit."

Dia sepertinya menyadari kalau pikiranku sedang melayang, suaranya menyiratkan sedikit rasa kesal.

Jemarinya mencubit bagian pinggangku yang paling sensitif dengan tekanan yang sedang, memberikan sebuah hukuman kecil.

"Ah ...." Aku memekik pelan, tubuhku mendadak tersentak hebat seakan baru saja tersengat aliran listrik.

Kakiku terpeleset, membuatku kehilangan keseimbangan sepenuhnya hingga jatuh pasrah ke arahnya dengan panik.

Bagaikan gurita yang ketakutan, aku menggunakan tangan dan kaki untuk menggelayut padanya.

Kedua kakiku secara refleks melingkari pinggangnya yang kokoh, sementara kedua lenganku merangkul lehernya erat-erat.

Bibirku pun tanpa meleset sedikit pun menyapu bibirnya.

Sebuah sentuhan yang sangat singkat, terasa lembut, hangat, dan masih menyisakan sedikit aroma kaporit.

Detik ini, waktu seolah-olah langsung berhenti berputar.

Aku bisa melihat dengan jelas kilatan rasa terkejut di matanya, serta gejolak emosi tak keruan yang tidak kupahami di balik rasa terkejut itu.

Tubuhnya seketika menegang keras bagaikan batu.

Terutama bagian perut dan pinggang yang sedang dililit oleh kedua kakiku, otot-ototnya mendadak mengencang hingga terasa keras mengganjal.

"Ma ... maaf, Om! Aku nggak sengaja!"

Aku menjadi orang pertama yang tersadar, lalu berusaha turun dari tubuhnya dengan panik.

Namun, makin aku berontak, kedua kakiku justru melilit makin erat. Bahan baju renang yang licin sama sekali tidak memberikan hambatan di dalam air, membuat tubuhku terus bergesekan rapat dengannya mengikuti riak gelombang air.

Aku bisa merasakan dengan sangat jelas ada sesuatu yang ... sedang terbangun dengan cepat di bawah perutnya yang rata, menjadi makin besar dan mengeras.

Terhalang oleh dua lapis celana renang yang tipis, tonjolan panas yang sarat akan kekuatan itu menekan pangkal pahaku berulang kali dengan kasar.

Otakku serasa meledak seketika.

Seluruh darah langsung naik ke wajah, membuatku merasa pening dan melayang karena saking panasnya.

"Jangan gerak!"

Suaranya terdengar sangat serak, seolah-olah dia sedang berusaha keras menahan sesuatu.

Sebuah tangan besar mencengkeram erat pinggang belakangku dengan telapak tangan yang begitu panas hingga rasanya sanggup melubangi baju renangku, menghentikan seluruh pergolakan tubuhku.

Sementara tangannya yang lain menopang bokongku untuk mengangkat tubuhku sedikit ke atas, berniat memberi jarak di antara kami.

Namun, tindakan itu justru membuat alat besar yang sudah terbangun itu tertanam makin pas dan dalam di sela-sela pahaku yang paling lembut, bahkan sempat berkedut sekali dengan sangat kentara seiring helaan napas beratnya.

"Ah ...." Aku tidak bisa menahan sebuah desahan lirih yang bergetar, membuat seluruh tubuhku seketika lemas tanpa tenaga layaknya genangan air, bersandar pasrah pada tubuhnya.

Rasa malu dan sejenis kenikmatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata langsung menghanyutkanku bagai gulungan ombak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 12

    Dia mengulurkan tangan, menggunakan ujung jarinya untuk menyapu air mata di wajahku dengan sangat lembut."Bodoh." Suaranya terdengar luar biasa lembut, jauh lebih lembut dari yang pernah kudengar sebelumnya. "Aku cuma pergi belikan kamu sarapan."Dia merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya, mendekapku dengan sangat erat."Tiara, maaf." Dia berbisik lirih tepat di dekat telingaku.Maaf?Minta maaf untuk apa?Minta maaf karena sudah memperlakukanku seperti itu semalam? Atau minta maaf karena mendadak berhenti di detik-detik terakhir?"Semalam ... Om kehilangan kendali." Dia mengambil jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan untaian kalimatnya, "Om ngaku, Om memang sudah lama simpan perasaan yang nggak semestinya ke kamu. Tapi, Om selalu ingatin diri Om sendiri kalau kamu itu tanggung jawab Om, Om nggak boleh rusak kamu.""Tapi Tiara, kamu terlalu indah, begitu indah sampai ... Om sama sekali nggak sanggup menahan diri Om sendiri.""Semalam Om berhenti, bukan karena Om menyesal, juga bukan

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 11

    Hanya naik turun dadanya yang kencang serta embusan napasnya yang memburu, yang menunjukkan betapa hebat pergolakan batin yang sedang dia lalui saat ini."Om?" Aku memanggilnya lirih dengan nada mencoba memastikan.Dia tidak memberikan sahutan.Waktu kembali berlalu cukup lama.Saking lamanya, sampai aku mengira apa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya.Dia akhirnya bergerak juga.Perlahan-lahan, dia menggeser badannya lalu mundur menjauh dari tubuhku.Setelah itu, dia menarik selimut untuk membungkus rapat tubuh polosku, sekaligus menutupi hatiku yang sedang didera kebimbangan karuan."Tidurlah."Dia meninggalkan satu kata itu, lalu berbalik melangkah keluar dari kamar.Seiring terdengarnya bunyi klik pelan, pintu kamar pun tertutup rapat.Seluruh dunia seketika kembali tenggelam dalam kesunyian pekat.Kini hanya tersisa aku seorang diri, berbaring di atas ranjang besarnya yang empuk, menghirup sisa keharuman tubuhnya, sembari merasakan sisa gairah yang belum sepenuhnya surut dari d

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 10

    Garry akhirnya menghentikan sepasang tangannya yang sedari tadi berbuat nakal.Dia bertumpu pada kedua tangannya, menegakkan tubuh, lalu menatapku dalam keheningan.Di tengah kegelapan, sepasang manik matanya berkilat terang secara menakjubkan, bagai dua pilar kobaran api yang menyala-nyala.Aku bisa merasakan, binatang buas dalam tubuhnya yang sudah bersiap menerkam itu, sama sekali tidak mereda hanya karena pertahananku yang sudah porak-poranda baru saja, melainkan ... justru makin tidak tenang dan kian lapar.Alat miliknya yang sudah sekeras baja di bawah sana menekan kuat paha dalamku bagai besi panas, terhalang oleh jubah tidur sutra yang tipis.Ukuran dan hawa panasnya yang mencengangkan sukses membuat nyaliku menciut saking takutnya."Tiara ...." Dia membungkuk, menempelkan bibirnya yang membara tepat di dekat telingaku, suaranya membawa jenis nada serak yang sudah ditekan hingga ke batas maksimal. "Sudah cukup?"Aku tidak memberikan jawaban.Bukannya tidak mau, melainkan karena

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 9

    Dia tidak membawaku kembali ke kamarku, melainkan berjalan lurus menuju ranjang besarnya sendiri.Jantungku rasanya sudah melompat sampai ke tenggorokan.Dia merebahkan tubuhku ke ranjang dengan sangat perlahan, membuat kasur yang empuk langsung membungkusku seketika.Setelah itu, dia membungkuk, menumpu kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuhku hingga bayangannya mengurungku sepenuhnya.Di tengah kegelapan, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Aku hanya bisa merasakan embusan napasnya yang panas menyapu wajahku perlahan demi perlahan."Tiara," ucapnya, terdengar rendah dan begitu memikat. "Kasih tahu Om, apa yang kamu mau?"Itu adalah sebuah pertanyaan yang penuh godaan sekaligus berbahaya.Aku menggigit bibir dan memilih tidak menjawab.Apa yang kumau?Aku mau kamu.Sejak hari pertama aku mulai mengenal cinta, aku sudah mau kamu.Tapi, kalimat itu tidak berani kuucapkan.Melihatku yang tetap bungkam, dia tidak lagi mendesak.Dia menundukkan kepala, menggunakan bibirnya untu

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 8

    Handuk mandi yang melilit tubuhku entah sejak kapan sudah melosot sampai ke pinggang.Telapak tangannya yang membara menangkup kelembutan di dadaku.Ukurannya yang pas, tepat berada dalam satu genggaman tangannya.Terhalang selembar handuk, dia meremas dan memijatnya kuat-kuat menggunakan ujung jarinya dengan gerakan yang agak kasar."Hm ... Om ... ja ... jangan ...."Mulutku melontarkan penolakan yang tidak bertenaga, tapi tubuhku justru bersikap jujur dan membuka diri untuknya.Aku mendongakkan kepala, membuat leher jenjangku membentuk lengkungan yang indah, layaknya seekor angsa yang siap dikorbankan."Jangan?"Dia tertawa pelan tepat di dekat telingaku, menggunakan sejenis suara yang sanggup memikat hati siapa pun."Penipu, tubuhmu jauh lebih jujur dari mulutmu."Tangannya yang lain merayap turun perlahan menyusuri perutku yang rata, mencoba menjelajah lebih jauh secara perlahan ....Tangan itu bagaikan besi panas yang sanggup membuat sekujur tubuhku gemetar hebat.Gerakannya terta

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 7

    Aku memejamkan mata, menanti ciuman yang sebentar lagi akan mendarat itu.Tapi ....Duar!Guntur yang menggelegar tiba-tiba terdengar di luar jendela, getarannya begitu kuat sampai seluruh vila seolah ikut berguncang.Sesaat kemudian, lampu di dalam kamar berkedip beberapa kali lalu padam sepenuhnya.Listrik padam.Kamar mandi seketika diselimuti kegelapan pekat yang membuatku bahkan tidak bisa melihat jari tanganku sendiri.Gerakan Garry juga terhenti, menyisakan jarak jeda hanya satu milimeter dari bibirku.Aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat menerpa bibirku, menyisakan sensasi geli dan menggelitik."Jangan takut."Di tengah kegelapan, suaranya terdengar jauh lebih serak dari biasanya, sekaligus ... jauh lebih berbahaya.Bukannya menjauh, dia malah merentangkan kedua lengan lalu mendekapku erat-erat ke dalam pelukannya.Pelukan ini sama sekali tidak membawa hawa nafsu, melainkan penuh rasa ingin memiliki yang pekat.Bidang dadanya terasa begitu panas dan kokoh, membuat su

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status