Share

Bab 2

Author: Liam
Dia bertelanjang dada, memperlihatkan bahu yang lebar, dada yang bidang, serta otot perut yang tercetak jelas. Sosoknya memancarkan kekuatan dan keseksian seorang pria matang. Bulir air merayap turun mengikuti lekuk ototnya, lalu menghilang di balik garis otot perut, memicu fantasi siapa pun yang melihatnya.

Ini adalah pertama kalinya aku melihat bentuk tubuhnya dengan begitu jelas.

Kedua pipiku mendadak terasa memanas tanpa bisa dikendalikan.

"Malah melamun, cepat turun." Dia bersandar di tepi kolam sambil melambaikan tangan padaku.

Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantung yang berdegup kencang, lalu menuruni tangga kolam dengan sangat hati-hati. Air kolam yang dingin mulai merendam betis, paha, hingga menyentuh pinggangku, memicu sensasi merinding yang halus.

"Takut air?" tanyanya.

"A ... agak takut ...." Aku mencengkeram pegangan tangga, tidak berani melangkah lebih dalam lagi.

Dia berenang mendekat, lalu berhenti tepat di hadapanku. Di tengah riak air yang bergelombang, lutut kami berulang kali bersentuhan di dalam air.

"Kalau mau belajar renang, hal pertama yang harus dilakuin itu mengatasi rasa takutmu sama air." Suaranya terdengar sangat tenang, membawa sejenis kekuatan yang membuat orang merasa percaya. "Tenang, serahkan tubuhmu padaku."

Serahkan tubuhmu ... padaku.

Untaian kata itu bagaikan memiliki sihir yang terus berputar-putar di dalam otakku.

Aku menatap sepasang matanya yang tajam dan dalam, lalu mengangguk seperti sedang terhipnotis.

"Lepaskan tanganmu," perintahnya. "Om pegangi."

Aku sempat bimbang sejenak sebelum akhirnya perlahan-lahan melepaskan cengkeraman pada besi pegangan. Begitu kehilangan tumpuan, tubuhku secara refleks condong ke depan.

Sepasang tangan besar yang bertenaga langsung menopang pinggangku dengan sigap.

"Jangan takut." Suara beratnya terdengar tepat di dekat telingaku.

Seluruh tubuhku kini hampir bersandar sepenuhnya dalam dekapan pria itu. Terhalang oleh baju renang yang tipis, aku bisa merasakan dengan sangat jelas kehangatan telapak tangannya serta otot-otot perutnya yang padat dan keras.

Tubuhku seketika terasa lemas.

"Om ... aku ...." Aku menjadi sangat gugup hingga berbicara agak gagap.

"Tenang, rasain daya apung airnya." Tangannya tidak beranjak dari pinggangku, justru mendekapnya makin erat. Jemarinya yang berkapalan tipis meremas lembut bagian pinggangku yang sensitif, menuntun tubuhku agar bisa mengapung perlahan di dalam air.

Pipiku hampir menempel erat di dadanya, sementara telingaku dipenuhi oleh suara detak jantungnya yang terdengar tenang berwibawa.

Deg, deg, deg.

Perlahan-lahan, ritme itu mulai menyatu dengan detak jantungku sendiri.

"Ya, bagus begitu, posisikan tubuhmu sejajar ...." Salah satu tangannya menopang kuat pinggangku, sedangkan tangannya yang lain berpindah ke punggungku.

Telapak tangannya yang lebar menutupi sebagian besar area punggungku, lalu ujung jarinya menekan pelan tulang belikatku.

"Lurusin kakinya, jangan ditekuk."

Ujung jarinya bergerak turun senti demi senti menyusuri lekukan tulang punggungku dengan tekanan yang tegas, seolah-olah sedang mengukur setiap jengkal tubuhku.

Sensasi geli yang menggelitik bagaikan aliran listrik yang langsung menjalar ke seluruh tubuh, membuatku refleks mendesah pelan dan menggeliat kecil tanpa sadar.

"Jangan gerak-gerak!"

Dia menegurku dengan suara rendah, sementara telapak tangan yang berada di punggungku menekan makin kuat, membuatku makin merapat tanpa jarak ke tubuhnya.

Tekanan itu menembus kain baju renangku, membuatku bisa merasakan dengan sangat jelas setiap siluet jemarinya serta suhu telapak tangannya yang terasa membakar.

Aku menggigit bibir bawah dan tidak berani bergerak lagi, pasrah layaknya seekor kucing yang sudah jinak sewaktu dia mengatur posisi tubuhku.

Dia mengajariku dengan sangat serius, mulai dari cara bernapas hingga teknik mengepakkan kaki, semuanya dia contohkan sendiri sebelum mengoreksi gerakanku secara langsung.

Telapak tangannya kini menopang perut bawahku, mengajariku bagaimana cara mengandalkan kekuatan otot inti.

Telapak tangannya yang kasar terus mengusap dan menekan bagian perutku yang paling lembut. Setiap kali dia memberi tekanan, rasanya seperti menyalakan sulut api kecil yang membuat seluruh tubuhku memanas.

Jemarinya kemudian bergerak menyapu bagian paha dalamku, memberi tahu bahwa posisi kaki saat mengepakkan air harus sesuai standar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 12

    Dia mengulurkan tangan, menggunakan ujung jarinya untuk menyapu air mata di wajahku dengan sangat lembut."Bodoh." Suaranya terdengar luar biasa lembut, jauh lebih lembut dari yang pernah kudengar sebelumnya. "Aku cuma pergi belikan kamu sarapan."Dia merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya, mendekapku dengan sangat erat."Tiara, maaf." Dia berbisik lirih tepat di dekat telingaku.Maaf?Minta maaf untuk apa?Minta maaf karena sudah memperlakukanku seperti itu semalam? Atau minta maaf karena mendadak berhenti di detik-detik terakhir?"Semalam ... Om kehilangan kendali." Dia mengambil jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan untaian kalimatnya, "Om ngaku, Om memang sudah lama simpan perasaan yang nggak semestinya ke kamu. Tapi, Om selalu ingatin diri Om sendiri kalau kamu itu tanggung jawab Om, Om nggak boleh rusak kamu.""Tapi Tiara, kamu terlalu indah, begitu indah sampai ... Om sama sekali nggak sanggup menahan diri Om sendiri.""Semalam Om berhenti, bukan karena Om menyesal, juga bukan

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 11

    Hanya naik turun dadanya yang kencang serta embusan napasnya yang memburu, yang menunjukkan betapa hebat pergolakan batin yang sedang dia lalui saat ini."Om?" Aku memanggilnya lirih dengan nada mencoba memastikan.Dia tidak memberikan sahutan.Waktu kembali berlalu cukup lama.Saking lamanya, sampai aku mengira apa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya.Dia akhirnya bergerak juga.Perlahan-lahan, dia menggeser badannya lalu mundur menjauh dari tubuhku.Setelah itu, dia menarik selimut untuk membungkus rapat tubuh polosku, sekaligus menutupi hatiku yang sedang didera kebimbangan karuan."Tidurlah."Dia meninggalkan satu kata itu, lalu berbalik melangkah keluar dari kamar.Seiring terdengarnya bunyi klik pelan, pintu kamar pun tertutup rapat.Seluruh dunia seketika kembali tenggelam dalam kesunyian pekat.Kini hanya tersisa aku seorang diri, berbaring di atas ranjang besarnya yang empuk, menghirup sisa keharuman tubuhnya, sembari merasakan sisa gairah yang belum sepenuhnya surut dari d

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 10

    Garry akhirnya menghentikan sepasang tangannya yang sedari tadi berbuat nakal.Dia bertumpu pada kedua tangannya, menegakkan tubuh, lalu menatapku dalam keheningan.Di tengah kegelapan, sepasang manik matanya berkilat terang secara menakjubkan, bagai dua pilar kobaran api yang menyala-nyala.Aku bisa merasakan, binatang buas dalam tubuhnya yang sudah bersiap menerkam itu, sama sekali tidak mereda hanya karena pertahananku yang sudah porak-poranda baru saja, melainkan ... justru makin tidak tenang dan kian lapar.Alat miliknya yang sudah sekeras baja di bawah sana menekan kuat paha dalamku bagai besi panas, terhalang oleh jubah tidur sutra yang tipis.Ukuran dan hawa panasnya yang mencengangkan sukses membuat nyaliku menciut saking takutnya."Tiara ...." Dia membungkuk, menempelkan bibirnya yang membara tepat di dekat telingaku, suaranya membawa jenis nada serak yang sudah ditekan hingga ke batas maksimal. "Sudah cukup?"Aku tidak memberikan jawaban.Bukannya tidak mau, melainkan karena

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 9

    Dia tidak membawaku kembali ke kamarku, melainkan berjalan lurus menuju ranjang besarnya sendiri.Jantungku rasanya sudah melompat sampai ke tenggorokan.Dia merebahkan tubuhku ke ranjang dengan sangat perlahan, membuat kasur yang empuk langsung membungkusku seketika.Setelah itu, dia membungkuk, menumpu kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuhku hingga bayangannya mengurungku sepenuhnya.Di tengah kegelapan, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Aku hanya bisa merasakan embusan napasnya yang panas menyapu wajahku perlahan demi perlahan."Tiara," ucapnya, terdengar rendah dan begitu memikat. "Kasih tahu Om, apa yang kamu mau?"Itu adalah sebuah pertanyaan yang penuh godaan sekaligus berbahaya.Aku menggigit bibir dan memilih tidak menjawab.Apa yang kumau?Aku mau kamu.Sejak hari pertama aku mulai mengenal cinta, aku sudah mau kamu.Tapi, kalimat itu tidak berani kuucapkan.Melihatku yang tetap bungkam, dia tidak lagi mendesak.Dia menundukkan kepala, menggunakan bibirnya untu

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 8

    Handuk mandi yang melilit tubuhku entah sejak kapan sudah melosot sampai ke pinggang.Telapak tangannya yang membara menangkup kelembutan di dadaku.Ukurannya yang pas, tepat berada dalam satu genggaman tangannya.Terhalang selembar handuk, dia meremas dan memijatnya kuat-kuat menggunakan ujung jarinya dengan gerakan yang agak kasar."Hm ... Om ... ja ... jangan ...."Mulutku melontarkan penolakan yang tidak bertenaga, tapi tubuhku justru bersikap jujur dan membuka diri untuknya.Aku mendongakkan kepala, membuat leher jenjangku membentuk lengkungan yang indah, layaknya seekor angsa yang siap dikorbankan."Jangan?"Dia tertawa pelan tepat di dekat telingaku, menggunakan sejenis suara yang sanggup memikat hati siapa pun."Penipu, tubuhmu jauh lebih jujur dari mulutmu."Tangannya yang lain merayap turun perlahan menyusuri perutku yang rata, mencoba menjelajah lebih jauh secara perlahan ....Tangan itu bagaikan besi panas yang sanggup membuat sekujur tubuhku gemetar hebat.Gerakannya terta

  • Aturan Main Memikat Gadis   Bab 7

    Aku memejamkan mata, menanti ciuman yang sebentar lagi akan mendarat itu.Tapi ....Duar!Guntur yang menggelegar tiba-tiba terdengar di luar jendela, getarannya begitu kuat sampai seluruh vila seolah ikut berguncang.Sesaat kemudian, lampu di dalam kamar berkedip beberapa kali lalu padam sepenuhnya.Listrik padam.Kamar mandi seketika diselimuti kegelapan pekat yang membuatku bahkan tidak bisa melihat jari tanganku sendiri.Gerakan Garry juga terhenti, menyisakan jarak jeda hanya satu milimeter dari bibirku.Aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat menerpa bibirku, menyisakan sensasi geli dan menggelitik."Jangan takut."Di tengah kegelapan, suaranya terdengar jauh lebih serak dari biasanya, sekaligus ... jauh lebih berbahaya.Bukannya menjauh, dia malah merentangkan kedua lengan lalu mendekapku erat-erat ke dalam pelukannya.Pelukan ini sama sekali tidak membawa hawa nafsu, melainkan penuh rasa ingin memiliki yang pekat.Bidang dadanya terasa begitu panas dan kokoh, membuat su

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status