LOGINStruggling with money, 24-year-old Beauty accepted the offer of her friend to support the operation of her mother. And that was to stop the wedding of a rich man named Euh Jin Austen by any means. Maayos na sana ang lahat kung hindi lang niya natagpuan ang sariling ikinakasal na pala rito. She didn’t see it coming, now her heart was in trouble… In this quest where she would bet her heart, could she really tame his rude heart?
View More"Kamu sudah siap untuk balas dendam?" Suara seorang laki-laki menyapa indera pendengaran Althea Agung Permana, perempuan yang tengah menatap pantulan diri di cermin itu pun seketika menoleh diiringi anggukan kecilnya.
"Sangat siap, Jo. Aku sudah mempersiapkannya dengan sangat matang dan inilah saatnya. Aku tidak bisa menunda lagi," pungkas Althea kepada laki-laki yang bernama lengkap Joan Alexander, laki-laki semampai keturunan Indonesia-Rusia."Aku akan mendukungmu, Arum Kenanga. Lakukan dengan hati-hati! Dan katakan kepadaku jika terjadi sesuatu."Althea menarik sudut bibirnya miris. "Arum Kenanga? Jangan panggil aku seperti itu, Jo! Dia sudah mati dan sekarang yang ada di hadapanmu adalah Althea Agung Permana bukan Arum Kenanga lagi," ujar Althea dengan penuh penekanan.Joan terkekeh kecil sebelum menimpali. Laki-laki itu menepuk pundak Althea Agung Permana untuk sekejap. "Kamu benar. Arum Kenanga sudah mati di dasar jurang dan sekarang yang ada di hadapanku adalah Alteha Agung Permana, perempuan tegar yang siap balas dendam." Joan menguarkan tawanya sejenak."Sekarang pergilah! Tuntaskan misimu! Aku akan melindungimu dari belakang.""Thanks, Jo!""No Problem, My Queen."Althea Agung Permana lantas melenggang dari kamarnya usai bercakap sejenak dengan Joan Alexander, CEO sekaligus pemilik salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Tetapi, di mata Althea alias Arum Kenanga, Joan lebih daripada seorang CEO dan pemilik perusahaan. Joan adalah seorang pahlawan yang menyelamatkannya dari peliknya air laut, bahkan hampir menyebabkannya tenggelam.Sekitar dua tahun lalu, nama Althea belum tercetuskan dan yang ada hanyalah Arum Kenanga. Arum Kenanga, seorang perempuan lugu dengan wajah yang dikata orang-orang tidak cantik sama sekali. Arum Kenanga tidak memiliki kesempurnaan hidup, orang tuanya telah tiada jauh sebelum ia beranjak remaja, kebakaran di tempat tinggalnya pun menyebabkan wajah Arum Kenanga menjadi rusak. Saat itulah hidup Arum Kenanga benar-benar rubuh.Sudah kehilangan orang tuanya dan ditambah wajahnya yang terluka akibat kebakaran. Tak pernah terbayangkan semua hal pelik itu terjadi kepada Arum Kenanga. Dan tak pernah ia duga pula jika Yang Maha Kuasa mengirimkannya laki-laki tampan nan baik hati kepadanya, laki-laki yang menerimanya penuh kasih dan penuh cinta. Laki-laki itu bernama Agung Permana, kakak kelasnya ketika SMA.Betapa bahagianya Arum Kenanga saat itu apalagi ketika dipersunting oleh Agung Permana, laki-laki yang menjadi incaran banyak perempuan.Sayangnya, segala bahagia yang dirasa Arum Kenanga lenyap begitu saja setelah perempuan itu mendapatkan penolakan mentah-mentah dari Ayu Yustina, ibu dari Agung Permana."Ibu tidak akan merestui kamu dengan perempuan buruk rupa seperti dia, Agung!" begitulah perkataan tegas Ayu Yustina, calon mertuanya."Dia juga tidak setara dengan keluarga kita, Agung!"Setiap kata dua tahun lalu masih jelas di benak Arum Kenanga, begitu menyakitkan hatinya menyebabkan segala harapan indahnya bersama Agung Permana hancur begitu saja. Hingga akhirnya, Arum Kenanga memilih untuk menolak lamaran dari Agung karena penolakan calon mertuanya. Tetapi siapa sangka Agung Permana masih bertekad kuat untuk mempersuntingnya, hingga pernikahan pun digelar dan Ayu Yustina, ibu Agung Permana terpaksa menyetujui keinginan putra semata wayangnya.Bahagia, tentu Arum Kenanga rasakan apalagi ia berhasil menikah dengan Agung Permana, laki-laki yang mencintainya sekaligus menerimanya dengan apa adanya. Meskipun tak bisa Arum Kenanga pungkiri jika perasaannya masih begitu risau dengan rasa kesal dari mertuanya yang belum menerima kedatangannya.Sialnya, mahligai indah yang dibayangkan Arum Kenanga sirna usai pernikahan. Tepat beberapa jam usai pernikahan, Agung Permana harus melakukan pelayaran ke luar negeri dan dengan terpaksa meninggalkan Arum Kenanga yang belum disentuh sedikit pun.Kesedihan merenda perasaan Arum Kenanga, ditinggal suaminya tepat usai pernikahan berlangsung. Tetapi apa boleh buat? Ia merelakan sang suami demi tugasnya."Maafkan Mas ya, Sayang. Perkerjaan Mas rupanya tidak bisa ditinggal," celetuk Agung Permana dua tahun lalu yang masih jelas di benak Arum Kenanga."Jaga dirimu baik-baik ya, setelah Mas melakukan pelayaran yang terakhir, Mas akan segera kembali dan tidak akan berlayar lagi," imbuh laki-laki yang berprofesi sebagai nahkoda itu.Arum Kenanga hanya manggut-manggut kala itu, mengiyakan kepergian sang suami. "Aku akan baik-baik saja, Mas. Ada ibu juga yang menemaniku di rumah. Mas hati-hati ya," begitu impal Arum Kenanga dua tahun silam.Ada ibu yang menemaninya, Arum Kenanga anggap keberadaan Ibunya akan menjadi sosok yang menemaninya. Tetapi segalanya salah.Pagi harinya disaat hanya tersisa Arum Kenanga seorang, saat itulah segalanya hancur. Arum Kenanga diajak pergi dengan embel-embel berlibur oleh mertuanya dan sahabat karibnya Vera Indilia. Tetapi siapa sangka jika hal buruk rupanya terjadi kepada Arum Kenanga, perempuan itu didorong hingga terjatuh ke jurang saat tengah melihat pemandangan yang di area puncak.Arum Kenanga shock hebat saat itu, ia bahkan berpikir akan mati saat terjatuh di jurang. Arum Kenanga masih ingat betul bagaimana tubuhnya terguling-guling hingga ke dasar, rasa sakit bahkan menrayapi seluruh tubuhnya dengan beraham luka.Tetapi siapa sangka dewi fortuna berpihak kepadanya, ada seorang laki-laki baik bernama Joan Alexander yang tengah berada di dasar jurang, melakukan penelitian bersama teman-temannya. Saat itulah Arum Kenanga yang mengira dirinya akan mati, ternyata diselamatkan, bahkan dengan baiknya Joan Alexander membantunya melakukan operasi pada wajahnya yang terluka akibat kebakaran beberapa tahun silam.Ingatan Arum Kenanga yang masih segar dengan kekejian yang dilakukan oleh mertua sekaligus sahabatnya sendiri berniat melakukan pembalasan. Apalagi dengan hal menyakitkan yang Arum Kenanga ketahui, bahwa suaminya, Agung Permana yang mengira dirinya telah tiada memutuskan menikah bersama Vera Indilia setahun lalu.Arum Kenanga tahu niat busuk sahabatnya itu setelah mengetahui bahwa Vera Indilia rupanya menikah bersama Agung Permana. Dan sekarang, Althea Agung Permana alias Arum Kenanga telah mengukuhkan niatnya untuk merebut laki-laki yang dianggapnya sebagai suami dan membuka semua kedok yang ditutupi oleh mertua serta sahabatnya.Mobil yang ditumpangi Althea Agung permana akhirnya tiba di salah satu perusahaan baru di Ibukota. Perempuan itu melenggangkan kakinya dari mobil, pakaian putih-hitam serta tas pun telah ia bawa menuju ke dalam kantor WH Corporation, sebuah perusahaan properti yang dikelola oleh suaminya setelah pulang dari pelayarannya."Mbak Althea ya? Sekretaris baru Pak Agung?" Suara resepsionist seketika masuk ke indera pendengaran Althea usai tiba di dalam gedung tersebut."Iya, Mbak. Betul sekali, saya Althea.""Mbak Althea sudah ditunggu Pak Agung di ruangannya.""Baik, Mbak. Terima kasih.""Sama-sama. Oh ya, nanti jangan lupa untuk mendampingi Pak Agung untuk ke gudang properti ya, Mbak.""Iya, Mbak. Saya akan dampingi Pak Agung."Althea lantas melenggang dari area resepsionist tersebut dan melenggang menuju ke ruangan Agung Permana, laki-laki yang masih dianggapnya sebagai seorang suami.Pintu ruangan Agung Permana diketuk perlahan oleh Althea dan setelah mendengar titah "masuk" barulah perempuan itu berani melenggang ke dalam ruangan bergaya modern tersebut.Manik Althea seketika dimanjakan oleh keberadaan Agung Permana yang duduk di kursi kebesarannya. Agung Permana, laki-laki yang masih dianggapnya sebagai suami, laki-laki yang menerimanya apa adanya dua tahun silam.Agung Permana masih seperti dulu, wajahnya yang rupawan, tatapan tajamnya, iris coklatnya yang terang, kulitnya yang sedikit sawo matang dan tubuhnya yang kekar.'Apa kabar kamu, Mas? Sepertinya kamu baik-baik saja ya? Apakah kamu tidak berniat mencariku? Apakah kamu tidak merindukan istrimu ini? Istrimu masih hidup, Mas. Aku di sini, di hadapanmu,' batin Althea alias Arum Kenanga itu."Althea? Benar?"Suara Agung Permana menyapa indera pendengaran Althea, seketika menyebabkan perempuan itu tersentak dari lamunan panjangnya'Ingat Arum, kamu datang bukan sebagai Arum Kenanga tetapi Althea,' batinnya, kemudian mengangguk kecil sembari melenggang menemui Agung Permana yang tengah duduk di kursi kebesarannya."Benar, Pak. Saya Althea Agung Permana, sekretaris baru Bapak," pungkas Althea mengenalkan diri.Agung Permana sejenak terdiam, laki-laki itu tercekat ketika mendengar namanya yang sama dengan sekretaris barunya. "Althea Agung Permana?" ulang Agung."Benar, Pak.""Na-Nama tengah dan akhirmu sama dengan namaku. Ini sesuatu yang baru pertama kali aku alami." Agung Permana terkekeh sejenak sembari melihat nama Althea yang tercantum di layar laptopnya."Di sini, di lamaranmu hanya tertera nama Althera Agung P. Sa-Saya tidak menduga jika P di sini adalah Permana," imbuh Agung Permana terkekeh kecil.Althea seketika turut terkekeh mendengar pimpinan perusahaan itu terkekeh kecil. "Saya juga terkejut ketika mendengar nama Pak Agung sama dengan nama tengah dan nama belakang saya, mungkin orang tua kita memiliki pemikiran yang sama saat memberikan nama."Tawa renyah Agung menguar begitu saja usai mendengar penuturan Althea. "Kamu benar, mungkin saja begitu.""Kalau begitu, sekarang kembalilah di ruanganmu! Aku sudah mengirimkan file di komputer di mejamu dan ada beberapa jadwal yang harus aku hadiri hari ini.""Baik, Pak." Althea lantas melenggang berniat keluar dari ruangan Agung dan menuju ke ruangannya yang terletak tepat di tepi kanan ruangan Agung Permana. Menjadi suatu keberuntungan bagi Althea bisa menjadi sekretaris pribadi Agung Permana, bahkan memiliki ruangan yang dekat dengan Agung Permana."Althea?" Suara Agung seketika menghentikan langkah Althea, menyebabkan kakinya yang akan beranjak ke ambang pintu itu terhenti."Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Althea sembari menoleh menatap Agung."Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"Bagai disambar petir pagi hari, Althea tercekat usai mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Agung Permana itu. Benak Althea seketika berkecamuk dan dirundung tanya, apakah dirinya ketahuan? Apakah Agung Permana mengenalinya meski wajahnya telah berubah bahkan suaranya sedikit berubah? Apakah semudah itu Agung Permana mengenalinya?"Kenapa Pak Agung berpikir seperti itu?" Althea akhirnya menimpali dengan mempertanyakan ulang atas rasa penasarannya itu."Ti-Tidak, hanya saja seperti tidak asing melihatmu.""Oh? Saya tidak pernah bertemu dengan Pak Agung sebelumnya, mungkin wajah saya terlalu pasaran, Pak." Althea seketika menguarkan tawa kecilnya hingga maniknya menyipit.Agung Permana seketika menggeleng diiringi kekehan kecilnya. "Tidak-tidak. Tidak seperti itu, hanya terlintas sedikit di benak saya mengenai seseorang," pungkas Agung, seketika menyebabkan Althea mengerutkan keningnya keheranan."Lupakan saja pertanyaanku, Althea! Segeralah ke ruanganmu dan kita akan mengecek ke gudang properti setelah ini.""Baik, Pak." Althea lantas melenggang dari ruangan Agung Permana, senyum kecilnya sedikit terlukis di bibirnya.'Apakah dia mengingatku?' batin Althea berkali-kali bertanya dengan harapan baiknya. 'Aku akan menunjukan siapa diriku sebenarnya setelah semuanya beres, Mas. Aku akan rebut kamu karena aku, istrimu masih hidup,' batin Althea penuh tekad.BEAUTY woke at the wrong side of the bed that morning. She felt so sick again. Halos isang linggo na siyang ganito.She always wakes up in the morning feeling nauseated even when her stomach is empty.“What's wrong?” she felt Euh Jin fondled her back. Panay din ang pagpisil nito sa kanyang palad.Nagtataka din siya. “Naduduwal a—” She covered her mouth and closed her eyes. She was having hand tremors. Naramdaman niyang binuhat siya ni Euh Jin papuntang bathroom.“Here hon. Isuka mo lang iyan.” Masuyo siya nitong ibinaba sa carpeted floor ng bathroom. She vomited successfully when she saw the inviting sink. Darn it! I feel so ill! Napipikang tiningnan niya ang sinuka niyang halos puro laway lang.Nanhihinang sumandal siya sa matigas na dibdib ng asawa. He embraced her and stroked her stomach while his other free hand checked her forehead
BEAUTY happily viewed the video footage of their wedding on her tablet. No matter how many times she watched it, she won't get enough of it.It has been three months since their church wedding, and nothing had stop her from being happy every day, especially now, that God had blessed the sacredness of their unity."What are you doing?" She smiled when she felt Euh Jin lifted her waist, transferring her to his lap."Watching," she eagerly answered him. She was really teased by his tickles on her ear."Our wedding again?" he moaned with conviction."Ah ha," sang-ayon niya. Marahan nitong inagaw ang tablet mula sa kanya. He grasped her chin so she would pay attention to him."You're always watching it. Are you not getting tired of it?" he chuckled."No. Why would I?" nakangiting sansala niya rito. "This is just an evidence o
“WHY didn't you tell me the truth?” Euh Jin spoke after being silent, looking at his father seriously. Pinuntahan nila ito ng kanyang asawa. Beauty was at the living room, while he went to see his father upstairs, at his study room. “You know the answer already, son.” Tumayo ito at nakapamulsang tumalikod sa kanya. Love. “I can’t believe you loved her despite of everything.” “That’s how Austen men love. Unconditional, and eternal.” Yeah. He mentally agree. “I’m also at fault. Napabayaan ko siya. Nawalan ako ng oras sa kanya habang pinapalago ang negosyong pinamana ng lolo mo. Hindi ko naisip na unti unti na palang lumalayo ang loob niya sa akin.” “I’m sorry, Dad.” For the very first time, he called his father without sarcasm. “You’re forgiven son. Please forgive your mother.” He stared at Tonio
ANG HULING sinabi ni Beauty ang paulit ulit na umuukilkil sa isip ni Euh Jin hanggang sa paggising niya. His anger lessen upon hearing his wife’s opinion. Now, he’s thinking of giving his father a chance.After kissing her lips in silence, he placed a note on the bedside table telling her he’s heading to work. Nag-iwan siya ng breakfast sa tabi ng note at nilagyan din niya ng pulang rosas ang kama sa tabi nito.On his way, he decided to go somewhere else. Parang may bumubulong sa kanya na dalawin ang luma nilang bahay sa Mandaluyong. Mataman niyang tiningnan ang bawat sulok ng lumang bahay nila. There’s no way he’s going to sell this property. Ito na lamang ang nag-iisang alaala niya mula sa Ina. They lived here during his childhood. But this house reminded him of how his family torn into pieces. Namatay ang kanyang Ina. Pinabayaan sila ng kanyang ama. And now,Tonio's redeeming back his responsibility as a father to him.Mabig
BEAUTY sat on the visitor's chair while waiting for her husband to finish his board meeting. Napagdesisyonan niya kasing bisitahin ito sa kanyang opisina so here she is."Hi," Alistong napasulyap sa nakaawang na pinto si Beauty nang maulinigan ang boses ni
KUMUNOT ang noo ni Beauty nang makilala ang kanta na inaawit ng mga bata sa kanya. It was the song her husband sang early this morning.(ctto)And darling I will, be loving you 'til we're 70. And baby my heart could still fa
BEAUTY woke up cheerfully that morning. It’s her birthday. A smiled cracked on her face after she uttered a prayer. She thank God for another year of her life. She thank Him for giving her a happy family and friends. She’s thankful because he had spare Euh Jin’s life and let him
IT'S Tuesday, and everyone’s present at Euh Jin’s nest. Nakabalik na kasi sila sa bahay nila sa Taguig. Disyembre na. Its Christmas season and Beauty’s birth month.Kasalukuyan silang nasa living room kasama ang mga pinsan ng asawa at mga kaibigan nila. Some were sitting a






reviews