登入Aroma wangi tubuh Bianca yang habis mandi langsung memenuhi seluruh indra penciumanku, menghancurkan akal sehatku tanpa sisa.
Aku menindih tubuhnya, menatap wajahnya yang sudah pasrah menunggu sentuhan kasarku yang penuh dengan dendam pada Karina.
Tanganku bergerak perlahan di atas kulit pahanya yang halus, naik menuju ke titik paling sensitif miliknya yang bisa kurasakan tidak mengenakan celana dalam.
Jantungku berdegup hebat, siap meneteskan noda di dalam lembaran putih rumah tanggaku sendiri.
Hubungan terlarang ini rasanya tinggal berjarak beberapa sentimeter saja sebelum segalanya benar-benar terhenti seketika….
Drrrt… Drrrt…! Ponselku yang tergeletak di atas nakas mendadak berdering dengan sangat nyaring, memecah keheningan kamar yang pekat oleh gairah.
Layar ponsel yang menyala terang itu menampilkan sebuah nama yang membuat dahiku mengernyit seketika: Nyonya Raline.
"Sialan!" kutukku dalam hati dengan amarah yang mendadak meluap karena interupsi jahanam di detik-detik kritis ini.
Nama investor VVIP itu seperti siraman air es yang langsung mengembalikan sisa kesadaran moral di dalam otak kepalaku.
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napas yang memburu hebat di atas tubuh Bianca yang tampak kecewa.
Dengan berat hati, aku melepaskan dekapanku pada tubuh Bianca dan berguling menjauh ke tepi ranjang.
Aku duduk di pinggiran kasur sambil menyambar ponsel dengan tangan yang masih gemetar hebat akibat gairah yang menggantung.
Bianca hanya bisa mendesah kecewa sambil buru-buru merapikan kembali lilitan handuknya yang sudah acak-acakan di atas kasur.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan darurat dari sang investor kaya itu.
Suara dering telepon dari Nyonya Raline seolah menjadi penyelamat yang menarikku keluar dari jurang perselingkuhan bersama Bianca.
Aku buru-buru memakai kemeja bersih dan menyambar kunci mobil, mengabaikan tatapan kecewa dari Bianca yang masih terduduk di atas ranjang kamarku.
Aku melesat membelah jalanan kota yang masih basah sisa hujan, menuju sebuah kompleks apartemen penthouse mewah di kawasan elit pusat kota.
Pikiranku sedikit tenang karena berhasil meloloskan diri dari jebakan sensual dua wanita di apartemenku sendiri.
Aku ke sini untuk urusan profesional, sebuah rapat privat dengan investor properti paling eksentrik yang membeli desain arsitekturku dengan harga fantastis.
Lift privat membawaku langsung menuju lantai teratas gedung, tempat di mana kemewahan mutlak berada.
Pintu lift terbuka dan aku langsung disambut oleh keheningan penthouse yang bernuansa modern minimalis.
Aku melangkah ragu melewati lorong yang diterangi lampu temaram. Sosok Nyonya Raline sudah menungguku di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah kelap-kelip lampu kota.
"Selamat sore, Nyonya Raline, maaf membuat Anda menunggu," kataku sambil membungkuk sedikit demi menjaga sopan santun profesional.
Raline membalikkan badannya secara perlahan sambil memegang sebuah gelas kristal berisi cairan merah pekat. "Kamu tidak terlambat, Julian, aku yang memang sengaja mengosongkan jadwalku sore ini untukmu," jawabnya dengan suara serak yang berat.
Aku menelan ludah dengan susah payah saat melihat penampilannya yang sama sekali tidak mencerminkan situasi rapat formal bisnis.
Investor kaya raya itu hanya mengenakan selembar gaun tidur sutra tipis berwarna hitam yang sangat longgar di bagian atas.
Dua bulatan gundukan kembarnya tampak besar dan menonjol. Dia berjalan mendekat ke arahku dengan langkah kaki yang sengaja dibuat lambat dan berirama anggun.
"Duduklah, Julian, minum dulu agar lebih santai," kata Raline sambil menyodorkan segelas wine mahal ke depan dadaku.
"Terima kasih Nyonya, tapi saya ke sini membawa revisi cetak biru untuk proyek resor baru kita," sahutku sambil mencoba menyerahkan map dokumen di tanganku.
Raline hanya tersenyum meremehkan, merebut map itu dari tanganku lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja, seolah tak peduli.
"Proyek itu urusan gampang, Julian, uangku bisa menyelesaikan semuanya dalam kedipan mata," bisiknya sambil meletakkan gelasnya di meja.
Sebelum aku sempat bereaksi, Raline mendadak maju satu langkah dan mendorong dadaku dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Tubuhku terdorong mundur hingga punggungku membentur kaca jendela besar yang kokoh di belakangku.
Dia mengunci pergerakanku, menempelkan seluruh tubuh bagian depannya ke tubuhku tanpa memberikan celah untuk menghindar sedikit pun.
"Nyonya Raline, apa yang Anda lakukan? Ini tidak profesional," kataku dengan napas yang mulai tertahan akibat kedekatan fisik ini.
"Profesionalisme itu milik orang-orang miskin yang butuh aturan, Julian," bisiknya sensual tepat di depan permukaan bibirku.
Jemari tangannya yang mengenakan cincin berlian besar mulai meraba dadaku yang masih terbalut kemeja, lalu ia membuka dua kancing teratas dengan gerakan yang sangat lihai.
"Aku tahu kariermu sedang mandek, dan aku juga tahu istrimu itu sedang sibuk melayani pria lain di luar sana," lanjutnya kejam.
Kata-kata Raline laksana siraman bensin yang menyiram sisa-sisa api kemarahanku pada Karina sejak pagi tadi.
Luka di harga diriku kembali menganga lebar, menciptakan kehampaan pekat yang menuntut pembalasan instan di tempat ini.
"Anda tahu dari mana tentang istri saya?" tanyaku dengan suara yang mendadak berubah menjadi serak dan berat.
"Kota ini sempit untuk rahasia busuk, Julian," jawab Raline sambil mengusap rahangku dengan lembut.
"Sudahlah, tidak ada gunanya membahas istri tak setiamu itu. Sekarang…, aku ingin… layani aku malam ini, maka aku akan memastikan hidupmu bergelimang kekayaan tanpa batas yang tidak akan pernah bisa diberikan istrimu," janjinya dengan nada mendominasi.
“Ma–maksud Nyonya?” ucapku terbata-bata.
Nyonya Raline tersenyum tipis, seolah tahu persis apa yang sedang bergejolak di dalam kepalaku.
Tangan agresif Raline mulai bergerak turun melewati perutku, lalu turun ke celana kain yang aku kenakan.
“Tidak usah sok polos. Aku tau kamu menginginkannya, kan?”
Moral sebagai suami setia yang mati-matian kupertahankan sejak lama akhirnya runtuh total akibat rentetan kekecewaan yang bertubi-tubi dari Karina.
Rasa sakit hati karena dikhianati membuat akal sehatku mendadak mati, berganti menjadi hasrat liar yang menuntut pelampiasan tanpa memedulikan kesetiaan. Makan tuh setia!
Jemari lentik yang mengenakan kuteks merah mulai mengelus bagian depan celanaku dengan gerakan yang sangat lembut dan menuntut.
Sentuhan itu seketika memicu reaksi instan tubuhku. Milikku yang sudah gersang berbulan-bulan perlahan menegang, mengeras hingga menekan ketat kain celana dalam yang kukenakan.
Aku memejamkan mata erat-erat, membiarkan resleting celanaku terbuka lebar akibat tarikan kuat dari jemari lentiknya yang dingin.
"Luar biasa besar milikmu, Julian…" bisik Raline, suaranya serak menahan napas.
Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata sedikit pun setelah rentetan teror video Karina itu. Bayangan punggung istriku dengan tanda lahir lingkaran kecil di kamar hotel mewah terus berputar di otakku. Pukul dua siang, sebuah pesan singkat masuk dari Nyonya Raline yang memintaku segera turun ke lobi.Sebuah limosin hitam panjang yang sangat mewah sudah terparkir megah di depan pintu lobi apartemen. Pintunya terbuka otomatis begitu langkah kakiku yang lemas dan berantakan mendekat ke arah mobil tersebut. Nyonya Raline sudah duduk manis di dalam dengan setelan blazer formal sewarna marun yang sangat elegan. Senyuman tipis terpancar dari bibirnya yang merah menyala, seolah dia tahu persis kondisi mentalku yang hancur."Mas…,, masuklah. Kita harus segera berangkat sekarang juga," ujar Nyonya Raline dengan nada suara yang penuh wibawa."Baik, Nyonya. Ke mana tujuan kita siang ini?" tanyaku sambil mendudukkan diri di kursi kulit yang empuk."Kita akan meninjau lokasi proyek resor baru kit
"Kau mau menghiburku, Bianca? Benar-benar mau melayaniku?" tanyaku sambil mencengkeram kedua bahunya dengan kasar."Iya, Mas... lakukan apa saja yang Mas mau padaku malam ini," desah Bianca sambil memejamkan matanya pasrah.Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung menyambar permukaan bibirnya dengan ciuman yang sangat kasar. Rasa sakit hati yang diberikan Karina kini kuubah menjadi gairah liar yang menuntut pelampiasan seketika. Aku mendorong tubuh Bianca hingga kami berdua ambruk bersamaan di atas kasur yang empuk. Tanganku bergerak agresif, melucuti sisa pakaian yang menghalangi kulit kami hingga tubuh mulusnya terekspos sempurna.Milikku yang sejak sore di dapur dan di atas matras yoga Elena sudah menegang, kini semakin berdenyut hebat. Bianca merespons dengan sangat liar, melilitkan kedua kaki jenjangnya ke pinggangku untuk mengunci pergerakan kami. Dia menuntun milikku yang mengeras kokoh untuk bersiap melakukan eksekusi akhir di atas ranjang pernikahanku dengan Karina. Jarak d
Malam kian larut, namun gemuruh di dalam dadaku tidak kunjung reda. Hawa dingin dari pendingin ruangan sama sekali tidak mampu mendinginkan otakku yang rasanya mau meledak. Aku duduk di tepi ranjang dengan napas yang masih berat. Pandanganku menatap nanar ke arah pintu kamar yang sudah kukunci sejak sore tadi.Bayangan kode genit dari Bianca di dapur dan desahan sensual Elena di pantry masih terus berputar-putar. Semuanya merusak sisa kesadaran yang kupertahankan mati-matian seharian ini. Mengapa rumah tanggaku yang semula tenang kini berubah menjadi penuh jebakan hasrat? Aku memijat pelipis yang berdenyut kencang, mencoba mengusir bayangan sensual yang terus menggerogoti pikiranku.Drrrt… Drrrt…! Ponselku di atas meja mendadak bergetar keras, memutus keheningan. Jantungku seketika tersentak, mengira itu adalah pesan atau kabar penting dari Karina. Dengan tangan yang agak gemetar, aku meraih ponsel itu. Namun, bukan nama Karina yang muncul di layar, melainkan sebuah nomor asing.No
Posisi kami sudah sangat intim dan mengunci satu sama lain, siap untuk melakukan eksekusi gairah yang brutal di atas lantai ruang tengah apartemenku sendiri.Aku membuka kancing kemejaku sendiri hingga terlepas semua, lalu tanganku bergerak agresif menyingkirkan pembatas pakaian terakhir yang menutupi tubuh Elena sore hingga miliknya yang terbuka terlihat basah dan menuntut untuk dijelajahi. Kutanggalkan celana secepat kilat, milikku yang sudah menegang sempurna kini menjuntai panjang, lalu kuarahkan dengan tidak sabar ke arah milik Elena dan bergesekan langsung dengan titik paling sensitifnya itu.Aku memejamkan mata, memajukan pinggulku untuk melakukan satu dorongan bertenaga yang akan menghancurkan kesetiaanku pada Karina untuk selama-lamanya.Kehancuran rumah tanggaku rasanya sudah berada di ujung tanduk dan tinggal hitungan milidetik saja sebelum segalanya menjadi sah di atas matras ini."AAARRGGHH…. TOLOOONG….!!!" sebuah jeritan histeris yang sangat melengking mendadak meleda
Sentuhan itu seketika memicu reaksi instan tubuhku. Milikku yang sudah gersang berbulan-bulan perlahan menegang, mengeras hingga menekan ketat kain celana dalam yang kukenakan.Aku terpaksa memejamkan mata. Sensasi panas yang menjalar dari sentuhannya membuat kebekuan dan beban berat di kepalaku perlahan mulai mencair. Rasa frustrasi karena foto Karina mendadak luruh, berganti menjadi sensasi tenang dan relaks yang memabukkan.“Ahhh…!” Sebuah desahan kecil tanpa sadar lolos dari bibirku."Enak kan, Julian...?" bisik Raline, suaranya terdengar sangat dekat saat mendengar desahanku.Aku tidak mampu lagi berkata-kata. Dalam kepungan gairah yang pekat itu, aku hanya bisa mengangguk pasrah, mengiyakan permintaannya."Sialan... Karin saja bisa selingkuh, kenapa aku tidak?!" umpatku lagi dalam hati, sepenuhnya menyerah pada takdir yang menjebakku.Harga diriku yang sempat hancur lebur karena dikhianati Karin, mendadak melambung tinggi dalam sekejap. Ego kelelakianku terpenuhi.Milikku yang
Aroma wangi tubuh Bianca yang habis mandi langsung memenuhi seluruh indra penciumanku, menghancurkan akal sehatku tanpa sisa.Aku menindih tubuhnya, menatap wajahnya yang sudah pasrah menunggu sentuhan kasarku yang penuh dengan dendam pada Karina.Tanganku bergerak perlahan di atas kulit pahanya yang halus, naik menuju ke titik paling sensitif miliknya yang bisa kurasakan tidak mengenakan celana dalam.Jantungku berdegup hebat, siap meneteskan noda di dalam lembaran putih rumah tanggaku sendiri.Hubungan terlarang ini rasanya tinggal berjarak beberapa sentimeter saja sebelum segalanya benar-benar terhenti seketika….Drrrt… Drrrt…! Ponselku yang tergeletak di atas nakas mendadak berdering dengan sangat nyaring, memecah keheningan kamar yang pekat oleh gairah.Layar ponsel yang menyala terang itu menampilkan sebuah nama yang membuat dahiku mengernyit seketika: Nyonya Raline."Sialan!" kutukku dalam hati dengan amarah yang mendadak meluap karena interupsi jahanam di detik-detik kritis in







