로그인Perselingkuhan di dapur apartemenku sendiri rasanya tinggal hitungan detik saja untuk terjadi.
Namun, tiba-tiba…
"Mas Julian! Ini pemanas air di kamar mandi kenapa mati sih?" teriakan Bianca menggema.
Suara cempreng dari arah lorong depan itu memutus semua ketegangan kami. Teriakan itu seperti hantaman keras yang menyentakkan sisa kesadaranku dari kegilaan.
Aku tersentak kaget, lalu langsung melepaskan cengkeramanku pada pinggang Elena seketika.
Aku melompat mundur dengan napas yang memburu tidak beraturan karena panik. Elena hanya tersenyum nakal sambil merapikan pakaian olahraganya yang sempat kusut.
Aku buru-buru berbalik badan memunggunginya agar dia tidak melihat keteganganku. Aku berjalan cepat meninggalkan dapur dengan jantung yang berdegup kencang seperti mau copot.
"Pemanas airnya di sebelah mana yang rusak, Bianca?" tanyaku dengan napas yang masih tersengal-sengal di depan pintu kamar mandi.
Aku berusaha keras menormalkan detak jantungku yang masih berdegup kencang, akibat kegilaanku bersama Elena di dapur tadi.
Bianca yang sedang berdiri di dekat wastafel langsung menoleh ke arahku dengan senyuman manis. Tatapan matanya terlihat sangat manja, sama sekali tidak memperlihatkan kepanikan seperti teriakannya di lorong tadi.
"Eh, Mas Julian cepat banget datangnya," ujar Bianca sambil melangkah mendekat ke arahku.
"Ini lho Mas, tuasnya macet tidak mau digeser ke arah warna merah," katanya sambil menunjuk keran shower.
Aku melangkah masuk ke dalam area kamar mandi yang agak sempit itu untuk memeriksa mesin pemanas. Saat aku mengulurkan tangan untuk memutar tuas, Bianca sengaja menggeser tubuhnya hingga lengan kami saling bergesekan. Kulit lengannya yang halus terasa sangat hangat, membuatku refleks menahan napas selama beberapa detik.
"Wah, otot lengan Mas Julian kekar sekali ya," puji Bianca tiba-tiba dengan nada suara yang berbisik halus.
Dia menyentuh lengan kananku dengan ujung jarinya, mengusapnya perlahan dengan gerakan yang sangat berani. "Mas Julian sering ngegym ya di luar?" tanyanya sambil mendongak, menatap langsung ke dalam mataku.
"Nggak, cuma sering angkat barang proyek saja di lapangan," jawabku ketus sambil buru-buru menarik tanganku menjauh.
Aku memutar paksa tuas pemanas air itu hingga terdengar bunyi klik yang menandakan mesinnya sudah menyala kembali. "Sudah bisa ini, cuma macet sedikit karena jarang dipakai," kataku sambil melangkah mundur keluar dari kamar mandi.
"Makasih banyak ya, Mas, selalu bisa diandalkan," sahut Bianca sambil mengedipkan sebelah matanya dengan sangat genit.
Aku tidak menjawab lagi, melainkan langsung berjalan cepat menuju kamarku sendiri untuk menenangkan diri dari rentetan ujian paling jahanam yang pernah aku temui ini.
Dilema yang luar biasa besar mulai menyiksa batinku di hari pertama tinggal bersama para wanita penggoda ini.
Sejujurnya aku sangat mencintai Karina, namun ingatan tentang pengabaiannya dan rumor perselingkuhan itu terus menggerogoti pikiranku. Perasaan terhina sebagai seorang suami membuat pertahanan mentalku perlahan-lahan mulai runtuh.
Waktu berjalan terasa sangat lambat hingga siang hari tanpa ada kabar sama sekali dari Karina, apa dia sudah take off atau masih di bandara?
Aku memutuskan untuk mandi demi menyegarkan tubuh dan kepalaku yang rasanya mau pecah memikirkan segalanya.
Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan selembar handuk putih di pinggangku. Namun, begitu aku membuka pintu kamar mandi dalam kamarku, langkah kakiku mendadak terkunci rapat di lantai ubin.
Aku terkejut setengah mati mendapati Bianca sudah berada di dalam kamar pribadiku tanpa izin sama sekali.
Jauh yang lebih gila lagi, wanita itu hanya berbalut selembar handuk cokelat yang melilit ketat tubuh montoknya.
"Bianca? Kenapa kamu bisa ada di dalam kamarku?" tanyaku dengan nada suara yang meninggi karena panik.
"Maaf, Mas, aku tadi ketuk pintu tapi tidak ada jawaban karena suara air mandi," jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Aku cuma mau pinjam alat pengering rambut, punya Karina di sebelah mana ya Mas?" tanyanya sambil berjalan mendekati meja rias.
Penampilannya sore ini benar-benar menghancurkan sisa-sisa akal sehatku yang sudah kupertahankan mati-matian sejak pagi tadi. Handuk yang dipakainya terlalu pendek, mengekspos paha mulusnya dan lekuk tubuh bagian atasnya yang menyembul sangat ketat.
Sebelum aku sempat menjawab, Bianca sengaja menyenggol sebuah sisir plastik di atas meja rias hingga jatuh ke lantai.
"Eh, jatuh," gumam Bianca pelan dengan nada suara yang dibuat-buat terkejut.
Dia kemudian menunduk secara perlahan di depan mataku untuk mengambil sisir yang tergeletak di dekat kaki kasur. Gerakan menunduk itu sengaja dibuat sangat lambat, membuat lilitan handuk di tubuh bagian atasnya mengendur. Dalam hitungan detik, kain itu nyaris terlepas sepenuhnya, memamerkan keindahan tubuh polosnya tepat di depan pandangan mataku yang terbelalak.
Hasratku yang sudah berbulan-bulan gersang akibat jatah ranjang yang tak terpenuhi langsung bereaksi sangat keras dan liar. Darahku berdesir hebat, menguapkan seluruh logika moral tentang janji suci pernikahan yang selama ini kupegang teguh.
Aku kembali tenggelam ke dalam godaan dari wanita nakal yang sangat paham cara menaklukkan pria ini.
Bianca berdiri kembali, lalu melangkah sangat dekat hingga aku bisa merasakan deru napasnya yang hangat di dadaku.
"Mas Julian... tolong bantu aku," bisiknya sangat lirih, matanya sayu penuh dengan gairah.
Dia meraih kedua tanganku, lalu menuntun jemariku untuk memegang simpul handuk yang melilit di bagian atas tubuhnya.
Dengan gerakan lembut, dia menuntun aku menurunkan sebelah lipatan handuk tersebut hingga bahu mulusnya terekspos sempurna.
Detik berikutnya, Bianca menarik telapak tanganku dan membimbing tubuhku untuk ikut merebahkan diri bersama di atas ranjang.
Bruk…! Kami berdua ambruk di atas kasur yang empuk dalam posisi yang tidak seharusnya dan mengunci satu sama lain.
“Bi–Bianca… K-kamu…”
Aku melangkah keluar dari mobil sedan Derren setelah menerima amplop cokelat berisi komisi dua puluh juta rupiah pertamaku. Sembari mendekap erat amplop berharga itu di dalam tas, aku berjalan menuju lift basemen dengan senyuman yang terus mengembang di bibir. Angan-anganku sudah terbang jauh membayangkan bagaimana cara membelanjakan uang ini untuk keperluan mewah apartemen agar Karina menyadari kemampuanku. Namun, baru saja aku menapakkan kaki di lobi lift dan ingin bernapas lega menikmati keberhasilan perdanaku, ponsel di saku jinsku kembali bergetar dengan sangat intens.Layar kaca ponsel itu menampilkan nama Nyonya Raline, dan sebuah pesan singkat masuk memanggilku untuk segera datang ke penthouse-nya larut malam itu juga. Alasan yang ditulisnya terdengar sangat darurat, yaitu berkas dokumen proyek resor yang sedang kami kerjakan mendadak mengalami kendala teknis yang serius. Rasa lelah yang sempat menggelayuti tubuhku seketika menguap begitu saja digantikan oleh debaran jantung
Aku melangkah keluar dari lobi hotel dengan perasaan yang masih dipenuhi keheranan atas apa yang baru saja terjadi. Tugas pertamaku mendampingi Tarina ternyata sama sekali tidak melibatkan peluh ataupun pergulatan panas di atas ranjang. Bayangan liar tentang kepuasan biologis yang sempat berkecamuk di kepalaku menguap begitu saja sepanjang dua jam pertemuan kami. Alih-alih mendapatkan orgasme, aku justru pulang dengan kepala yang penuh dengan cerita keluh kesah dari seorang wanita kaya yang kesepian. Meski begitu, getaran di saku celanaku langsung membuyarkan lamunan saat sebuah pesan singkat dari Derren masuk ke ponselku.Sahabat setiaku itu memintaku untuk langsung menemuinya di tempat yang sama seperti tadi pagi, yaitu parkiran basemen apartemenku. Aku segera memacu mobilku membelah jalanan kota Jakarta yang mulai lengang oleh kendaraan malam. Sesampainya di basemen, sorot lampu sedan hitam milik Derren langsung menyambut kedatanganku. Aku memarkirkan mobil tepat di sebelahnya la
Malam telah meluruhkan sisa-sisa cahaya senja ketika aku melangkahkan kaki memasuki lobi hotel bintang lima itu. Map plastik hitam dari Derren sudah kusimpan rapat di dalam tas kerja, namun seluruh isinya telah kuhafal luar kepala. Pikiranku berkecamuk membayangkan bagaimana liarnya malam pertama yang akan kulalui sebagai seorang pria sewaan demi pundi-pundi uang tunai. Langkah kakiku terasa sedikit berat saat menyusuri lorong berkarpet tebal menuju kamar nomor seratus dua belas yang terletak di ujung koridor. Jantungku berdegup kencang, memikirkan apakah aku sanggup melayani nafsu menggebu-gebu dari wanita kaya kesepian yang fotonya kulihat tadi pagi.Aku menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu kayu yang kokoh itu dengan kunci hotel yang kubawa. Tidak butuh waktu lama hingga daun pintu perlahan terbuka, di dalam sudah menunggu sosok wanita bernama Tarina yang tersenyum sangat manis. Ia mengenakan gaun tidur sutra panjang berwarna pastel yang terlihat sangat anggun menutupi lek
Petugas kebersihan baru saja melangkah keluar dari pintu apartemenku setelah menyelesaikan pemeriksaan pipa saluran air. Aku mengembuskan napas lega yang panjang sembari menyandarkan punggungku pada daun pintu yang tertutup rapat. Keheningan mendadak kembali menguasai ruang tengah yang beberapa menit lalu hampir menjadi saksi bisu perbuatan dosaku. Belum sempat aku melangkah menuju kamar mandi tempat Bianca bersembunyi, ponsel di saku celanaku bergetar dengan sangat lembut. Layar kaca ponsel itu berkedip-kedip menampilkan nama Derren, sahabat terbaik yang selalu tahu kapan aku sedang membutuhkannya.Aku segera menggeser tombol hijau pada layar ponsel untuk mengangkat panggilan dari pria yang sudah kuanggap saudara sendiri. Suara bariton Derren menyapa telingaku dengan nada yang tenang namun penuh kehangatan khas dirinya."Julian, kamu sedang sibuk di atas? Kalau senggang, temui aku di parkiran basemen," ujar Derren di sana."Ada apa, Ren? Kebetulan aku baru saja menyelesaikan satu ur
Aku menghempaskan tubuhku ke atas sofa ruang tengah dengan perasaan campur aduk setelah pulang dari kelab malam misterius itu. Kemeja putihku yang sempat kotor terkena tumpahan alkohol semalam sudah kulemparkan ke dalam mesin cuci agar tidak memancing kecurigaan. Beruntung, Karina tidak terlalu mempermasalahkan jam kepulanganku karena dia sendiri tenggelam dalam tumpukan berkas kantor hingga larut malam. Pagi ini, apartemen kembali terasa sepi karena istriku itu sudah berangkat menuju kantor pusat sejak fajar menyingsing. Aku mendesah panjang mencoba mengurai ketegangan yang terus-menerus mengikat isi kepalaku akhir-akhir ini.Keheningan di dalam ruang tengah mendadak pecah ketika pintu kamar tamu perlahan terbuka menampilkan sosok yang sangat kukenal. Bianca keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna abu-abu muda yang membungkus rapi lekuk tubuhnya. Ia membawa sebuah gelas kaca besar berisi cairan sirup melon berwarna hijau pekat di tangan kanannya. Tata
Aku mengemudikan mobil membelah kemacetan jalanan malam setelah mengantar Elena kembali ke apartemen pasca-insiden ruang ganti butik. Jantungku masih berdegup agak kencang akibat ketegangan fisik dan adrenalin yang sempat memuncak di dalam ruangan sempit tadi. Keberuntungan tampaknya masih berpihak padaku karena kami tidak sampai melangkah terlalu jauh hingga tertangkap basah oleh pelayan mal. Pikiranku yang sempat kacau mendadak teralihkan ketika ponsel pintarku di atas dasbor bergetar nyaring memecah keheningan kabin mobil.Saat pulang dari butik itu, Derren menghubungiku melalui panggilan suara terenkripsi dengan nada bicara yang sangat serius. Sahabatku itu rupanya tidak main-main dengan janjinya untuk membantuku mengupas tuntas misteri selingkuhan istriku. Ia mengabarkan bahwa target utama kami sedang terlihat berada di lokasi yang sama seperti beberapa malam yang lalu. Informasi segar ini seketika membakar kembali api amarah di dalam dadaku yang sempat meredup oleh urusan wani







