INICIAR SESIÓNSentuhan itu seketika memicu reaksi instan tubuhku.
Milikku yang sudah gersang berbulan-bulan perlahan menegang, mengeras hingga menekan ketat kain celana dalam yang kukenakan.
Aku terpaksa memejamkan mata. Sensasi panas yang menjalar dari sentuhannya membuat kebekuan dan beban berat di kepalaku perlahan mulai mencair.
Rasa frustrasi karena foto Karina mendadak luruh, berganti menjadi sensasi tenang dan relaks yang memabukkan.
“Ahhh…!” Sebuah desahan kecil tanpa sadar lolos dari bibirku.
"Enak kan, Julian...?" bisik Raline, suaranya terdengar sangat dekat saat mendengar desahanku.
Aku tidak mampu lagi berkata-kata. Dalam kepungan gairah yang pekat itu, aku hanya bisa mengangguk pasrah, mengiyakan permintaannya.
"Sialan... Karin saja bisa selingkuh, kenapa aku tidak?!" umpatku lagi dalam hati, sepenuhnya menyerah pada takdir yang menjebakku.
Harga diriku yang sempat hancur lebur karena dikhianati Karin, mendadak melambung tinggi dalam sekejap. Ego kelelakianku terpenuhi.
Milikku yang sudah menegang sempurna seketika mencuat dengan kokoh dan berdenyut hebat di dalam cengkeraman tangannya yang terasa semakin menuntut dan memburu dengan gerakan yang lihai.
Jarak di antara bibir merahnya dan milikku yang sudah menegang keras kini hanya menyisakan hitungan milimeter saja yang kritis.
“Kita lihat, apa torpedo ini akan muat di mulutku…”
Bom waktu di dalam dadaku sudah berada di detik terakhir sebelum meledak dan menghancurkan seluruh lembaran pernikahanku dengan Karina.
Cklek! Tiba-tiba terdengar suara gagang pintu utama yang ditekan dengan keras mendadak bergaung nyaring, memotong seluruh suasana panas yang mendominasi ruangan itu.
"Nyonya Raline! Ini ada dokumen kontrak darurat dari Singapura yang harus Anda tanda tangani sekarang juga!" teriak asisten pribadinya dari arah pintu luar.
Langkah kaki sang asisten yang berjalan terburu-buru masuk ke dalam ruangan membuat Raline refleks berdiri kembali dengan wajah yang memerah padam karena murka.
Suasana panas yang membakar akal sehatku seketika hancur berantakan ibarat kaca yang dihantam batu besar hingga hancur berkeping-keping.
Aku tersentak sadar dari kegilaan sesaat, buru-buru menarik ritsleting celanaku ke atas dan membalikkan badan menghadap jendela luar dengan napas memburu panik.
“Ma–Maaf Nyonya, sebaiknya aku pulang dulu…”
Dengan cepat, aku langsung melangkah dengan cepat keluar dari ruangan, diikuti tatapan kebingungan dari sang asisten.
Namun, saat tatapanku bertemu dengan Nyonya Raline, lidahnya menyapu bibir bawah dan bibirnya atasnya secara perlahan.
Gestur menantang itu seperti janji bahwa urusan kami belum benar-benar selesai sore ini.
Aku setengah berlari menuju lift privat dengan kikuk, berusaha menyembunyikan tonjolan celanaku yang masih tegang di depan resepsionis gedung.
Saat pintu lift tertutup, aku mendesah frustrasi sambil menyandarkan kepala pada dinding lift yang dingin.
Langkah kakiku terasa berat saat menuju basemen parkiran.
“Sialan…!” umpatku seketika, segera masuk ke dalam mobil, membanting pintu dengan emosi yang tertahan di dada.
Setelah menyalakan mesin, aku langsung menginjak pedal gas dalam-dalam untuk segera beredar dari tempat itu.
Aku menyetir pulang ke apartemen dengan cengkeraman tangan yang begitu kuat pada roda kemudi. Kepalaku rasanya mau pecah akibat gairah gila yang terus-menerus digantung sepanjang hari ini.
Sialnya, milikku yang menegang sejak di penthouse tadi sama sekali tidak mau turun dan masih berdiri kokoh di dalam celana.
Denyutan kerasnya yang bergesekan dengan kain tebal kemeja dan celana kerjaku benar-benar terasa menyiksa.
Saat mobil terhenti di lampu merah yang cukup lama, aku tidak tahan lagi untuk tidak menyentuhnya. Melalui balik kain celana, telapak tanganku perlahan bergerak mengelus ukurannya yang masih keras membatu demi meredakan rasa sesak yang tertahan.
"Ahhh... apes benar aku hari ini!" umpatku kasar sambil memukul setir mobil dengan jengkel.
Rasa frustrasi karena pengabaian Karina kini bercampur aduk dengan denyutan panas yang menuntut pelampiasan segera malam ini juga.
Gairahku sudah berada di ubun-ubun, dan aku bersumpah akan menuntaskannya pada siapa saja begitu sampai di apartemen nanti.
Aku membuka pintu apartemen dengan kasar, berniat langsung mengunci diri di kamar mandi untuk mengguyur kepalaku dengan air es.
Namun, begitu kakiku melangkah melewati koridor depan, pemandangan di ruang tengah langsung menghentikan gerakanku seketika. Seluruh pasokan udara di paru-paruku seolah menguap begitu saja melihat apa yang tersaji di atas ubin.
Elena sedang berada di sana, melakukan gerakan peregangan yoga di atas matras tipis mengikuti arahan instruktur online privatnya.
Wanita muda itu tampil nyaris tanpa busana, hanya mengenakan pakaian dalam minim sewarna kulit yang mencetak jelas setiap jengkal lekuk sensual tubuhnya.
Sorot lampu ruang tengah yang temaram memperlihatkan kilatan keringat tipis di permukaan kulit eksotisnya yang sangat memikat.
"Eh, Mas Julian sudah pulang?" sapa Elena tanpa mengubah posisinya yang sedang meliukkan tubuh ke belakang.
Alih-alih merasa malu atau buru-buru mengambil kain untuk menutupi tubuh polosnya, dia malah melempar senyuman nakal ke arahku. Matanya yang sayu menatap langsung ke dalam pandanganku yang sudah mulai kehilangan kendali fokus.
"Kebetulan banget Mas, aku sedang kesulitan menahan pose yoga yang ini," lanjutnya dengan suara yang sengaja dibuat mendesah halus.
"Aku capek, El, mau langsung istirahat ke kamar," jawabku bohong sambil mencoba memalingkan wajah ke arah lain.
"Sebentar saja, Mas Julian, tolong pegangi pinggangku dari belakang agar tubuhku tidak limbung," tantang Elena dengan nada manja yang sangat provokatif.
"Tinggal tahan beberapa detik saja kok, Mas, masa tega lihat aku kesakitan begini?" bujuknya lagi sambil memberikan tatapan memelas yang sangat mengunci akal sehatku.
Langkah kakiku yang semestinya berjalan menuju kamar utama justru bergerak maju seperti ditarik oleh kekuatan gaib.
Harga diriku yang sama sekali belum pulih akibat ulah Karina kini menuntut gairah dari wanita di depanku ini. Aku berjalan mendekati matras yoganya, lalu memosisikan tubuhku tepat di belakang punggung Elena yang sedang meliuk pasrah.
"Di bagian mana yang harus aku pegang, El?" tanyaku dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat serak.
"Di sini, Mas... cengkeram yang kuat ya," bisik Elena sambil meraih kedua tanganku dan menempelkannya tepat di atas pinggulnya yang tak terbuka.
Begitu telapak tanganku bersentuhan langsung dengan kulitnya yang licin karena keringat, sebuah sengatan halus langsung merusak otakku.
Elena merespons dengan sengaja memundurkan pinggulnya, membuat bagian belakang tubuhnya menghimpit bagian depan celanaku dengan sangat intens.
Kontak fisik yang luar biasa rapat ini seketika memicu kembali denyutan hebat di balik ritsleting celana kain yang belum sempat aku ganti sejak dari penthouse tadi.
Begitu bokongnya merasakan sesuatu yang besar, keras, dan menonjol menyentuh tubuh bagian belakangnya, sebuah desahan sensual langsung lolos dari bibir Elena.
"Ahhh... Mas Julian sudah siap banget ya ternyata," bisiknya dengan suara serak memburu.
Sentuhan itu justru membuatnya semakin liar dan berani bergerak mundur untuk menekan milikku lebih dalam lagi.
Kulit kami yang terbuka kini saling bergesekan tanpa ada pembatas berarti, menciptakan hawa panas yang membakar seluruh sisa moralitas di dalam dadaku.
Keringat kami mulai bercampur menjadi satu di atas matras yoga, menciptakan aroma erotis yang mengunci seluruh indra penciumanku malam ini.
Pikiran aku benar-benar runtuh total, tidak ada lagi memori tentang janji suci pernikahan atau rasa takut akan dosa terlarang di rumah ini.
Aku kehilangan seluruh akal sehat, lalu membalikkan tubuh Elena dengan gerakan kasar hingga wanita itu telentang di atas lantai.
Detik berikutnya, aku langsung menjatuhkan tubuhku ke bawah, menindih seluruh bobot badannya di atas matras dengan napas yang memburu laksana binatang buas.
Gilanya Elena tidak terkejut, dia justru tertawa nakal dan langsung melilitkan kedua kaki jenjangnya ke pinggangku untuk mengunci pergerakan kami.
"Tuntaskan sekarang, Mas Julian... jangan ditahan lagi ya…" bisik Elena tepat di depan bibirku sambil menarik kerah kemejaku ke bawah.
Aku melangkah keluar dari mobil sedan Derren setelah menerima amplop cokelat berisi komisi dua puluh juta rupiah pertamaku. Sembari mendekap erat amplop berharga itu di dalam tas, aku berjalan menuju lift basemen dengan senyuman yang terus mengembang di bibir. Angan-anganku sudah terbang jauh membayangkan bagaimana cara membelanjakan uang ini untuk keperluan mewah apartemen agar Karina menyadari kemampuanku. Namun, baru saja aku menapakkan kaki di lobi lift dan ingin bernapas lega menikmati keberhasilan perdanaku, ponsel di saku jinsku kembali bergetar dengan sangat intens.Layar kaca ponsel itu menampilkan nama Nyonya Raline, dan sebuah pesan singkat masuk memanggilku untuk segera datang ke penthouse-nya larut malam itu juga. Alasan yang ditulisnya terdengar sangat darurat, yaitu berkas dokumen proyek resor yang sedang kami kerjakan mendadak mengalami kendala teknis yang serius. Rasa lelah yang sempat menggelayuti tubuhku seketika menguap begitu saja digantikan oleh debaran jantung
Aku melangkah keluar dari lobi hotel dengan perasaan yang masih dipenuhi keheranan atas apa yang baru saja terjadi. Tugas pertamaku mendampingi Tarina ternyata sama sekali tidak melibatkan peluh ataupun pergulatan panas di atas ranjang. Bayangan liar tentang kepuasan biologis yang sempat berkecamuk di kepalaku menguap begitu saja sepanjang dua jam pertemuan kami. Alih-alih mendapatkan orgasme, aku justru pulang dengan kepala yang penuh dengan cerita keluh kesah dari seorang wanita kaya yang kesepian. Meski begitu, getaran di saku celanaku langsung membuyarkan lamunan saat sebuah pesan singkat dari Derren masuk ke ponselku.Sahabat setiaku itu memintaku untuk langsung menemuinya di tempat yang sama seperti tadi pagi, yaitu parkiran basemen apartemenku. Aku segera memacu mobilku membelah jalanan kota Jakarta yang mulai lengang oleh kendaraan malam. Sesampainya di basemen, sorot lampu sedan hitam milik Derren langsung menyambut kedatanganku. Aku memarkirkan mobil tepat di sebelahnya la
Malam telah meluruhkan sisa-sisa cahaya senja ketika aku melangkahkan kaki memasuki lobi hotel bintang lima itu. Map plastik hitam dari Derren sudah kusimpan rapat di dalam tas kerja, namun seluruh isinya telah kuhafal luar kepala. Pikiranku berkecamuk membayangkan bagaimana liarnya malam pertama yang akan kulalui sebagai seorang pria sewaan demi pundi-pundi uang tunai. Langkah kakiku terasa sedikit berat saat menyusuri lorong berkarpet tebal menuju kamar nomor seratus dua belas yang terletak di ujung koridor. Jantungku berdegup kencang, memikirkan apakah aku sanggup melayani nafsu menggebu-gebu dari wanita kaya kesepian yang fotonya kulihat tadi pagi.Aku menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu kayu yang kokoh itu dengan kunci hotel yang kubawa. Tidak butuh waktu lama hingga daun pintu perlahan terbuka, di dalam sudah menunggu sosok wanita bernama Tarina yang tersenyum sangat manis. Ia mengenakan gaun tidur sutra panjang berwarna pastel yang terlihat sangat anggun menutupi lek
Petugas kebersihan baru saja melangkah keluar dari pintu apartemenku setelah menyelesaikan pemeriksaan pipa saluran air. Aku mengembuskan napas lega yang panjang sembari menyandarkan punggungku pada daun pintu yang tertutup rapat. Keheningan mendadak kembali menguasai ruang tengah yang beberapa menit lalu hampir menjadi saksi bisu perbuatan dosaku. Belum sempat aku melangkah menuju kamar mandi tempat Bianca bersembunyi, ponsel di saku celanaku bergetar dengan sangat lembut. Layar kaca ponsel itu berkedip-kedip menampilkan nama Derren, sahabat terbaik yang selalu tahu kapan aku sedang membutuhkannya.Aku segera menggeser tombol hijau pada layar ponsel untuk mengangkat panggilan dari pria yang sudah kuanggap saudara sendiri. Suara bariton Derren menyapa telingaku dengan nada yang tenang namun penuh kehangatan khas dirinya."Julian, kamu sedang sibuk di atas? Kalau senggang, temui aku di parkiran basemen," ujar Derren di sana."Ada apa, Ren? Kebetulan aku baru saja menyelesaikan satu ur
Aku menghempaskan tubuhku ke atas sofa ruang tengah dengan perasaan campur aduk setelah pulang dari kelab malam misterius itu. Kemeja putihku yang sempat kotor terkena tumpahan alkohol semalam sudah kulemparkan ke dalam mesin cuci agar tidak memancing kecurigaan. Beruntung, Karina tidak terlalu mempermasalahkan jam kepulanganku karena dia sendiri tenggelam dalam tumpukan berkas kantor hingga larut malam. Pagi ini, apartemen kembali terasa sepi karena istriku itu sudah berangkat menuju kantor pusat sejak fajar menyingsing. Aku mendesah panjang mencoba mengurai ketegangan yang terus-menerus mengikat isi kepalaku akhir-akhir ini.Keheningan di dalam ruang tengah mendadak pecah ketika pintu kamar tamu perlahan terbuka menampilkan sosok yang sangat kukenal. Bianca keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna abu-abu muda yang membungkus rapi lekuk tubuhnya. Ia membawa sebuah gelas kaca besar berisi cairan sirup melon berwarna hijau pekat di tangan kanannya. Tata
Aku mengemudikan mobil membelah kemacetan jalanan malam setelah mengantar Elena kembali ke apartemen pasca-insiden ruang ganti butik. Jantungku masih berdegup agak kencang akibat ketegangan fisik dan adrenalin yang sempat memuncak di dalam ruangan sempit tadi. Keberuntungan tampaknya masih berpihak padaku karena kami tidak sampai melangkah terlalu jauh hingga tertangkap basah oleh pelayan mal. Pikiranku yang sempat kacau mendadak teralihkan ketika ponsel pintarku di atas dasbor bergetar nyaring memecah keheningan kabin mobil.Saat pulang dari butik itu, Derren menghubungiku melalui panggilan suara terenkripsi dengan nada bicara yang sangat serius. Sahabatku itu rupanya tidak main-main dengan janjinya untuk membantuku mengupas tuntas misteri selingkuhan istriku. Ia mengabarkan bahwa target utama kami sedang terlihat berada di lokasi yang sama seperti beberapa malam yang lalu. Informasi segar ini seketika membakar kembali api amarah di dalam dadaku yang sempat meredup oleh urusan wani







