Share

Bab 6: Kelas Privat Elena

last update publish date: 2026-09-07 18:06:48

Sentuhan itu seketika memicu reaksi instan tubuhku. 

Milikku yang sudah gersang berbulan-bulan perlahan menegang, mengeras hingga menekan ketat kain celana dalam yang kukenakan.

Aku terpaksa memejamkan mata. Sensasi panas yang menjalar dari sentuhannya membuat kebekuan dan beban berat di kepalaku perlahan mulai mencair. 

Rasa frustrasi karena foto Karina mendadak luruh, berganti menjadi sensasi tenang dan relaks yang memabukkan.

“Ahhh…!” Sebuah desahan kecil tanpa sadar lolos dari bibirku.

"Enak kan, Julian...?" bisik Raline, suaranya terdengar sangat dekat saat mendengar desahanku.

Aku tidak mampu lagi berkata-kata. Dalam kepungan gairah yang pekat itu, aku hanya bisa mengangguk pasrah, mengiyakan permintaannya.

"Sialan... Karin saja bisa selingkuh, kenapa aku tidak?!" umpatku lagi dalam hati, sepenuhnya menyerah pada takdir yang menjebakku.

Harga diriku yang sempat hancur lebur karena dikhianati Karin, mendadak melambung tinggi dalam sekejap. Ego kelelakianku terpenuhi.

Milikku yang sudah menegang sempurna seketika mencuat dengan kokoh dan berdenyut hebat di dalam cengkeraman tangannya yang terasa semakin menuntut dan memburu dengan gerakan yang lihai.

Jarak di antara bibir merahnya dan milikku yang sudah menegang keras kini hanya menyisakan hitungan milimeter saja yang kritis.

“Kita lihat, apa torpedo ini akan muat di mulutku…”

Bom waktu di dalam dadaku sudah berada di detik terakhir sebelum meledak dan menghancurkan seluruh lembaran pernikahanku dengan Karina.

Cklek! Tiba-tiba terdengar suara gagang pintu utama yang ditekan dengan keras mendadak bergaung nyaring, memotong seluruh suasana panas yang mendominasi ruangan itu.

"Nyonya Raline! Ini ada dokumen kontrak darurat dari Singapura yang harus Anda tanda tangani sekarang juga!" teriak asisten pribadinya dari arah pintu luar.

Langkah kaki sang asisten yang berjalan terburu-buru masuk ke dalam ruangan membuat Raline refleks berdiri kembali dengan wajah yang memerah padam karena murka.

Suasana panas yang membakar akal sehatku seketika hancur berantakan ibarat kaca yang dihantam batu besar hingga hancur berkeping-keping.

Aku tersentak sadar dari kegilaan sesaat, buru-buru menarik ritsleting celanaku ke atas dan membalikkan badan menghadap jendela luar dengan napas memburu panik.

“Ma–Maaf Nyonya, sebaiknya aku pulang dulu…”

Dengan cepat, aku langsung melangkah dengan cepat keluar dari ruangan, diikuti tatapan kebingungan dari sang asisten.

Namun, saat tatapanku bertemu dengan Nyonya Raline, lidahnya menyapu bibir bawah dan bibirnya atasnya secara perlahan.

Gestur menantang itu seperti janji bahwa urusan kami belum benar-benar selesai sore ini. 

Aku setengah berlari menuju lift privat dengan kikuk, berusaha menyembunyikan tonjolan celanaku yang masih tegang  di depan resepsionis gedung. 

Saat pintu lift tertutup, aku mendesah frustrasi sambil menyandarkan kepala pada dinding lift yang dingin.

Langkah kakiku terasa berat saat menuju basemen parkiran. 

“Sialan…!” umpatku seketika, segera masuk ke dalam mobil, membanting pintu dengan emosi yang tertahan di dada. 

Setelah menyalakan mesin, aku langsung menginjak pedal gas dalam-dalam untuk segera beredar dari tempat itu.

Aku menyetir pulang ke apartemen dengan cengkeraman tangan yang begitu kuat pada roda kemudi. Kepalaku rasanya mau pecah akibat gairah gila yang terus-menerus digantung sepanjang hari ini.

Sialnya, milikku yang menegang sejak di penthouse tadi sama sekali tidak mau turun dan masih berdiri kokoh di dalam celana.

Denyutan kerasnya yang bergesekan dengan kain tebal kemeja dan celana kerjaku benar-benar terasa menyiksa.

Saat mobil terhenti di lampu merah yang cukup lama, aku tidak tahan lagi untuk tidak menyentuhnya. Melalui balik kain celana, telapak tanganku perlahan bergerak mengelus ukurannya yang masih keras membatu demi meredakan rasa sesak yang tertahan.

"Ahhh... apes benar aku hari ini!" umpatku kasar sambil memukul setir mobil dengan jengkel.

Rasa frustrasi karena pengabaian Karina kini bercampur aduk dengan denyutan panas yang menuntut pelampiasan segera malam ini juga.

Gairahku sudah berada di ubun-ubun, dan aku bersumpah akan menuntaskannya pada siapa saja begitu sampai di apartemen nanti.

Aku membuka pintu apartemen dengan kasar, berniat langsung mengunci diri di kamar mandi untuk mengguyur kepalaku dengan air es. 

Namun, begitu kakiku melangkah melewati koridor depan, pemandangan di ruang tengah langsung menghentikan gerakanku seketika. Seluruh pasokan udara di paru-paruku seolah menguap begitu saja melihat apa yang tersaji di atas ubin.

Elena sedang berada di sana, melakukan gerakan peregangan yoga di atas matras tipis mengikuti arahan instruktur online privatnya.

Wanita muda itu tampil nyaris tanpa busana, hanya mengenakan pakaian dalam minim sewarna kulit yang mencetak jelas setiap jengkal lekuk sensual tubuhnya.

Sorot lampu ruang tengah yang temaram memperlihatkan kilatan keringat tipis di permukaan kulit eksotisnya yang sangat memikat.

"Eh, Mas Julian sudah pulang?" sapa Elena tanpa mengubah posisinya yang sedang meliukkan tubuh ke belakang.

Alih-alih merasa malu atau buru-buru mengambil kain untuk menutupi tubuh polosnya, dia malah melempar senyuman nakal ke arahku. Matanya yang sayu menatap langsung ke dalam pandanganku yang sudah mulai kehilangan kendali fokus.

"Kebetulan banget Mas, aku sedang kesulitan menahan pose yoga yang ini," lanjutnya dengan suara yang sengaja dibuat mendesah halus.

"Aku capek, El, mau langsung istirahat ke kamar," jawabku bohong sambil mencoba memalingkan wajah ke arah lain.

"Sebentar saja, Mas Julian, tolong pegangi pinggangku dari belakang agar tubuhku tidak limbung," tantang Elena dengan nada manja yang sangat provokatif.

"Tinggal tahan beberapa detik saja kok, Mas, masa tega lihat aku kesakitan begini?" bujuknya lagi sambil memberikan tatapan memelas yang sangat mengunci akal sehatku.

Langkah kakiku yang semestinya berjalan menuju kamar utama justru bergerak maju seperti ditarik oleh kekuatan gaib.

Harga diriku yang sama sekali belum pulih akibat ulah Karina kini menuntut gairah dari wanita di depanku ini. Aku berjalan mendekati matras yoganya, lalu memosisikan tubuhku tepat di belakang punggung Elena yang sedang meliuk pasrah.

"Di bagian mana yang harus aku pegang, El?" tanyaku dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat serak.

"Di sini, Mas... cengkeram yang kuat ya," bisik Elena sambil meraih kedua tanganku dan menempelkannya tepat di atas pinggulnya yang tak terbuka.

Begitu telapak tanganku bersentuhan langsung dengan kulitnya yang licin karena keringat, sebuah sengatan halus langsung merusak otakku.

Elena merespons dengan sengaja memundurkan pinggulnya, membuat bagian belakang tubuhnya menghimpit bagian depan celanaku dengan sangat intens. 

Kontak fisik yang luar biasa rapat ini seketika memicu kembali denyutan hebat di balik ritsleting celana kain yang belum sempat aku ganti sejak dari penthouse tadi.

Begitu bokongnya merasakan sesuatu yang besar, keras, dan menonjol menyentuh tubuh bagian belakangnya, sebuah desahan sensual langsung lolos dari bibir Elena. 

"Ahhh... Mas Julian sudah siap banget ya ternyata," bisiknya dengan suara serak memburu.

Sentuhan itu justru membuatnya semakin liar dan berani bergerak mundur untuk menekan milikku lebih dalam lagi. 

Kulit kami yang terbuka kini saling bergesekan tanpa ada pembatas berarti, menciptakan hawa panas yang membakar seluruh sisa moralitas di dalam dadaku.

Keringat kami mulai bercampur menjadi satu di atas matras yoga, menciptakan aroma erotis yang mengunci seluruh indra penciumanku malam ini. 

Pikiran aku benar-benar runtuh total, tidak ada lagi memori tentang janji suci pernikahan atau rasa takut akan dosa terlarang di rumah ini.

Aku kehilangan seluruh akal sehat, lalu membalikkan tubuh Elena dengan gerakan kasar hingga wanita itu telentang di atas lantai. 

Detik berikutnya, aku langsung menjatuhkan tubuhku ke bawah, menindih seluruh bobot badannya di atas matras dengan napas yang memburu laksana binatang buas.

Gilanya Elena tidak terkejut, dia justru tertawa nakal dan langsung melilitkan kedua kaki jenjangnya ke pinggangku untuk mengunci pergerakan kami.

"Tuntaskan sekarang, Mas Julian... jangan ditahan lagi ya…" bisik Elena tepat di depan bibirku sambil menarik kerah kemejaku ke bawah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 10: Perjalanan Mencekam

    Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata sedikit pun setelah rentetan teror video Karina itu. Bayangan punggung istriku dengan tanda lahir lingkaran kecil di kamar hotel mewah terus berputar di otakku. Pukul dua siang, sebuah pesan singkat masuk dari Nyonya Raline yang memintaku segera turun ke lobi.Sebuah limosin hitam panjang yang sangat mewah sudah terparkir megah di depan pintu lobi apartemen. Pintunya terbuka otomatis begitu langkah kakiku yang lemas dan berantakan mendekat ke arah mobil tersebut. Nyonya Raline sudah duduk manis di dalam dengan setelan blazer formal sewarna marun yang sangat elegan. Senyuman tipis terpancar dari bibirnya yang merah menyala, seolah dia tahu persis kondisi mentalku yang hancur."Mas…,, masuklah. Kita harus segera berangkat sekarang juga," ujar Nyonya Raline dengan nada suara yang penuh wibawa."Baik, Nyonya. Ke mana tujuan kita siang ini?" tanyaku sambil mendudukkan diri di kursi kulit yang empuk."Kita akan meninjau lokasi proyek resor baru kit

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 9: Hati yang Terasa Mulai Mati

    "Kau mau menghiburku, Bianca? Benar-benar mau melayaniku?" tanyaku sambil mencengkeram kedua bahunya dengan kasar."Iya, Mas... lakukan apa saja yang Mas mau padaku malam ini," desah Bianca sambil memejamkan matanya pasrah.Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung menyambar permukaan bibirnya dengan ciuman yang sangat kasar. Rasa sakit hati yang diberikan Karina kini kuubah menjadi gairah liar yang menuntut pelampiasan seketika. Aku mendorong tubuh Bianca hingga kami berdua ambruk bersamaan di atas kasur yang empuk. Tanganku bergerak agresif, melucuti sisa pakaian yang menghalangi kulit kami hingga tubuh mulusnya terekspos sempurna.Milikku yang sejak sore di dapur dan di atas matras yoga Elena sudah menegang, kini semakin berdenyut hebat. Bianca merespons dengan sangat liar, melilitkan kedua kaki jenjangnya ke pinggangku untuk mengunci pergerakan kami. Dia menuntun milikku yang mengeras kokoh untuk bersiap melakukan eksekusi akhir di atas ranjang pernikahanku dengan Karina. Jarak d

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 8: Bukti Video di Kamar Hotel

    Malam kian larut, namun gemuruh di dalam dadaku tidak kunjung reda. Hawa dingin dari pendingin ruangan sama sekali tidak mampu mendinginkan otakku yang rasanya mau meledak. Aku duduk di tepi ranjang dengan napas yang masih berat. Pandanganku menatap nanar ke arah pintu kamar yang sudah kukunci sejak sore tadi.Bayangan kode genit dari Bianca di dapur dan desahan sensual Elena di pantry masih terus berputar-putar. Semuanya merusak sisa kesadaran yang kupertahankan mati-matian seharian ini. Mengapa rumah tanggaku yang semula tenang kini berubah menjadi penuh jebakan hasrat? Aku memijat pelipis yang berdenyut kencang, mencoba mengusir bayangan sensual yang terus menggerogoti pikiranku.Drrrt… Drrrt…! Ponselku di atas meja mendadak bergetar keras, memutus keheningan. Jantungku seketika tersentak, mengira itu adalah pesan atau kabar penting dari Karina. Dengan tangan yang agak gemetar, aku meraih ponsel itu. Namun, bukan nama Karina yang muncul di layar, melainkan sebuah nomor asing.No

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 7: Terus Digoda, HasratKu Kian Menggila

    Posisi kami sudah sangat intim dan mengunci satu sama lain, siap untuk melakukan eksekusi gairah yang brutal di atas lantai ruang tengah apartemenku sendiri.Aku membuka kancing kemejaku sendiri hingga terlepas semua, lalu tanganku bergerak agresif menyingkirkan pembatas pakaian terakhir yang menutupi tubuh Elena sore hingga miliknya yang terbuka terlihat basah dan menuntut untuk dijelajahi. Kutanggalkan celana secepat kilat, milikku yang sudah menegang sempurna kini menjuntai panjang, lalu kuarahkan dengan tidak sabar ke arah milik Elena dan bergesekan langsung dengan titik paling sensitifnya itu.Aku memejamkan mata, memajukan pinggulku untuk melakukan satu dorongan bertenaga yang akan menghancurkan kesetiaanku pada Karina untuk selama-lamanya.Kehancuran rumah tanggaku rasanya sudah berada di ujung tanduk dan tinggal hitungan milidetik saja sebelum segalanya menjadi sah di atas matras ini."AAARRGGHH…. TOLOOONG….!!!" sebuah jeritan histeris yang sangat melengking mendadak meleda

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 6: Kelas Privat Elena

    Sentuhan itu seketika memicu reaksi instan tubuhku. Milikku yang sudah gersang berbulan-bulan perlahan menegang, mengeras hingga menekan ketat kain celana dalam yang kukenakan.Aku terpaksa memejamkan mata. Sensasi panas yang menjalar dari sentuhannya membuat kebekuan dan beban berat di kepalaku perlahan mulai mencair. Rasa frustrasi karena foto Karina mendadak luruh, berganti menjadi sensasi tenang dan relaks yang memabukkan.“Ahhh…!” Sebuah desahan kecil tanpa sadar lolos dari bibirku."Enak kan, Julian...?" bisik Raline, suaranya terdengar sangat dekat saat mendengar desahanku.Aku tidak mampu lagi berkata-kata. Dalam kepungan gairah yang pekat itu, aku hanya bisa mengangguk pasrah, mengiyakan permintaannya."Sialan... Karin saja bisa selingkuh, kenapa aku tidak?!" umpatku lagi dalam hati, sepenuhnya menyerah pada takdir yang menjebakku.Harga diriku yang sempat hancur lebur karena dikhianati Karin, mendadak melambung tinggi dalam sekejap. Ego kelelakianku terpenuhi.Milikku yang

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 5: Godaan Sang Investor

    Aroma wangi tubuh Bianca yang habis mandi langsung memenuhi seluruh indra penciumanku, menghancurkan akal sehatku tanpa sisa.Aku menindih tubuhnya, menatap wajahnya yang sudah pasrah menunggu sentuhan kasarku yang penuh dengan dendam pada Karina.Tanganku bergerak perlahan di atas kulit pahanya yang halus, naik menuju ke titik paling sensitif miliknya yang bisa kurasakan tidak mengenakan celana dalam.Jantungku berdegup hebat, siap meneteskan noda di dalam lembaran putih rumah tanggaku sendiri.Hubungan terlarang ini rasanya tinggal berjarak beberapa sentimeter saja sebelum segalanya benar-benar terhenti seketika….Drrrt… Drrrt…! Ponselku yang tergeletak di atas nakas mendadak berdering dengan sangat nyaring, memecah keheningan kamar yang pekat oleh gairah.Layar ponsel yang menyala terang itu menampilkan sebuah nama yang membuat dahiku mengernyit seketika: Nyonya Raline."Sialan!" kutukku dalam hati dengan amarah yang mendadak meluap karena interupsi jahanam di detik-detik kritis in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status