MasukIbu Helen melangkah pelan mendekati Reno. Langkah kakinya terasa begitu berat, beradu dengan sunyinya lorong rumah sakit yang dingin. Helen yang berdiri beberapa langkah di belakang ibunya menahan napas, meremas ujung blusnya dengan cemas. Ia sangat takut jika ibunya akan langsung mengonfrontasi Reno atau melayangkan tamparan akibat hasutan Surya tadi.Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Ibu Helen berhenti tepat satu langkah di depan Reno. Beliau mendongak, menatap mata pria muda yang tingginya jauh di atasnya itu. Detik berikutnya, air mata wanita paruh baya itu kembali luruh."Mas Reno..." suara Ibu Helen bergetar hebat, mengalun lambat penuh emosi yang campur aduk. "Ibu... Ibu tidak tahu harus bicara apa lagi. Di saat telinga Ibu masih terngiang-ngiang makian Surya yang menyumpahi suami saya agar cepat mati, kamu... kamu justru yang bertaruh nyawa membawa suamiku ke sini. Kamu yang menyelamatkan nyawa Papanya Helen."Reno menurunkan pandangannya, lalu menggeleng pelan den
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Reno langsung menyusupkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh ayah Helen yang sudah terkulai lemas. Dengan satu sentakan yang terukur, ia mengangkat tubuh pria paruh baya itu ke dalam dekoran dadanya. Otot-otot tubuh Reno menegang, namun langkah kakinya tetap stabil dan cepat saat bergegas membawa ayah Helen keluar melewati pintu depan menuju mobil mewah yang terparkir di halaman.Di belakangnya, Ibu Helen berjalan terseok-seok sambil terus menangis, sementara Helen berlari di samping Reno dengan tangan gemetar memegang kunci mobil.Melihat mertuanya yang sekarat diangkat oleh Reno, Surya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atau ketakutan. Alih-alih menolong, egonya yang sudah terlanjur terluka dan terbakar amarah justru membuat mulutnya semakin kehilangan kendali. Ia berdiri di ambang pintu dengan senyuman sinis yang mengerikan."Baguslah kalau mati sekalian! Mati saja sekalian tua bangkai! Biar kalian sekeluarga tahu rasa bagaimana ra
Tuduhan yang keluar dari mulut Surya bak petir yang menyambar di tengah keheningan malam. Kata selingkuhan menggema di langit-langit ruang tamu yang megah itu, menciptakan atmosfer yang mendadak terasa begitu pekat dan mencekam.Ayah dan ibu Helen terpaku di tempat mereka berdiri. Wajah mereka berdua seketika berubah pias. Pandangan mata mereka perlahan beralih dari Surya, lalu tertuju sepenuhnya pada Helen, dan akhirnya mendarat pada Reno yang masih berdiri dengan posisi tegak dan tenang. Ada riak kekecewaan yang sangat mendalam yang terpancar dari sepasang mata orang tua Helen. Mereka tidak menyangka bahwa putri mereka yang selama ini dikenal santun dan selalu menjadi korban, ternyata menyembunyikan sebuah rahasia sebesar ini di belakang mereka."Helen..." suara ibunya mengalun sangat lambat, bergetar menahan rasa tidak percaya yang amat sangat. "Apa... apa maksud perkataan Surya? Laki-laki ini... Mas Reno ini... selingkuhanmu?"Helen menggelengkan kepalanya dengan cepat, air ma
Kata-kata dingin dari ayah Helen seolah membekukan udara di ruang makan tersebut. Sebuah tamparan tak kasat mata baru saja dilayangkan tepat ke arah harga diri Reno. Di kalangan elite seperti mereka, batas kasta adalah hal yang mutlak, dan ayah Helen baru saja mempertegas posisi Reno: hanya seorang pekerja jasa, orang luar yang tidak boleh masuk terlalu dalam ke lingkaran kehidupan mereka.Ibu Helen tampak tidak enak hati, wajahnya memerah karena teguran suaminya yang dirasa terlalu kasar di depan tamu. "Bapak.. jangan bicara begitu di depan meja makan. Mas Reno ini…""Tidak apa-apa, Ibu," sela Reno, memotong kalimat Ibu Helen dengan sangat lembut.Reno tetap tenang. Sama sekali tidak ada gurat amarah atau tersinggung di wajahnya. Sebagai pria yang pernah hidup di jalanan sebagai tukang parkir hingga kini mengelola bisnis sendiri, mental Reno sudah sekeras baja. Ia menurunkan pandangannya sebentar, lalu mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata ayah Helen dengan tatapan yang
Mangkuk sup besar yang ada di tangan Helen terasa begitu berat, seolah seluruh tenaganya mendadak lenyap digantikan oleh rasa panik yang menjalar hingga ke ujung jari. Jantungnya berdegup sangat kencang, bertalu-talu di dalam dada. Pikiran Helen langsung melayang pada rahasia terbesar yang sedang ia sembunyikan di dalam rahimnya, bahwa janin itu adalah anak Reno.Jika sampai kedua orang tuanya tahu bahwa pemuda yang berdiri di depan mereka ini adalah ayah biologis dari cucu yang sedang mereka nantikan, badai besar pasti akan langsung meruntuhkan rumah ini. Reputasi, harga diri, dan keselamatan Reno akan berada di ujung tanduk.Namun, kontras dengan kepanikan Helen yang nyaris meledak, sikap ibunya justru berbanding terbalik. Wajah wanita paruh baya itu tampak begitu cerah dan gembira. Beliau melangkah mendekati Reno dengan senyuman hangat, sama sekali belum tahu kenyataan pahit bahwa pemuda sopan di depannya inilah yang telah menanam benih di rahim putrinya."Lho, Helen? Kamu kok m
Reno duduk di tepi ranjangnya, memandangi kartu nama elegan bertekstur mahal yang sejak kemarin tersimpan di saku jaket kulitnya. Dia mulai menghubungi nomor yang tertera untuk menanyakan alamat. Dan setelah Ibunda Helen memberikan alamat, Reno mulai merasa ada yang aneh. Alamat kompleks perumahan elite dan nomor kavling yang tertera di sana terasa sangat familier di kepalanya."Tunggu dulu... ini kan alamat rumah Mbak Helen?" gumam Reno lirih, dahinya berkerut dalam.Rasa bingung sekaligus penasaran mulai menjalar di benaknya. Demi memastikan bahwa ia tidak salah membaca atau salah mengira, Reno kembali meraih ponselnya. Ia kembali menekan nomor telepon yang ada di kartu nama tersebut untuk melakukan konfirmasi ulang.Nada sambung berbunyi dua kali sebelum suara ramah wanita paruh baya yang ditolongnya kemarin menyahut di seberang telepon."Halo, dengan Ibu di sini. Eh, Mas Reno ya?" tanya suara di seberang sana dengan nada riang."Iya, betul Ibu. Ini saya, Reno. Maaf menggangg







