Share

Bab 6

Author: Mr. Kis
last update publish date: 2026-04-17 21:53:58

Malam semakin larut. Namun suasana di ruang tengah yang megah itu justru terasa semakin intim, bukan dalam artian seksual, melainkan sebuah keintiman emosional yang tak terduga. Winda perlahan melepaskan pelukannya. Meski dia masih berdiri sangat dekat dengan Reno. Dia menyeka sisa air matanya dengan ujung jari, lalu mengajak Reno duduk di sofa beludru yang empuk.

​Reno duduk dengan kaku, menjaga jarak yang sopan. Tapi dia memberikan perhatian penuh pada wanita di sampingnya. Dia bisa melihat guratan kelelahan mental yang nyata di balik wajah cantik Winda yang biasanya terlihat angkuh.

​"Maafkan aku, Reno. Kamu pasti bingung melihatku seperti ini. Orang-orang di luar sana mungkin menganggapku wanita paling beruntung. Istri seorang jenderal besar, tinggal di rumah bak istana, dan memiliki uang yang tak akan habis tujuh turunan. Tapi mereka tidak tahu, rumah ini hanyalah sebuah makam yang sangat mewah bagiku,” ucap Winda dengan suara yang masih serak. Dia menatap kosong ke arah lampu kristal yang berpijar di langit-langit.

​Reno berdehem pelan, berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Winda.

"Nyonya... jika boleh saya bertanya, apa yang membuat Nyonya merasa seburuk itu? Bukankah Nyonya memiliki segalanya?" tanya Reno dengan hati hati.

​Winda tersenyum pahit, sebuah senyum yang penuh dengan luka yang terbungkus dalam tawa dan kemewahan.

"Uya benae. Aku punya Segalanya, kecuali kehadiran seorang suami. Suamiku... dia selalu punya alasan untuk tidak pulang. Tugas di luar kota berbulan bulan. Dan saat dia pulang pun, suasana justru semakin menyakitkan. Kamu tahu apa yang dia katakan padaku? Dia bilang aku ini wanita yang punya kelainan,” lanjut Winda.

​Reno tersentak kecil, matanya membulat mendengar pernyataan itu. Dia bahkan sama sekali tidak menyangka jika perempuan sempurna yang ada di hadapannya itu menyimpan banyak rahasia dan luka.

"Kelainan? Kenapa beliau bicara begitu?" Lagi lagi Reno bertanya dengan sangat hati hati.

​"Karena aku menginginkan kasih sayang pada umumnya, Reno. Tapi menurut suamiku itu berlebihan. Setiap kali dia pulang setelah berbulan bulan bertugas, aku menyambutnya dengan rindu yang meluap. Aku ingin dimanjakan, aku ingin dia memelukku, aku ingin dia menyentuhku sebagai istrinya. Tapi dia? Dia selalu mengeluh capek. Dia bilang gairahku berlebihan, dia bilang aku tidak seperti perempuan pada umumnya yang bisa mengerti kesibukan suami. Dia membuatku merasa aku seperti monster karena aku punya perasaan dan keinginan biologis yang tidak wajar menurutnya, " Lanjut Winda dengan amarah yang meluap luap.

​Reno menunduk, merasa iba sekaligus tak percaya. Dia teringat bagaimana Winda sangat agresif di kamar tadi. Kini dia paham, itu bukanlah nafsu yang liar tanpa sebab, melainkan sebuah bentuk pelarian dari rasa haus akan divalidasi sebagai seorang wanita.

Reno memilih untuk tetap diam mendengarkan semua keluhan Winda.

​"Suami saya selalu menganggap bahwa memberikan uang bulanan yang besar sudah cukup untuk membuatku diam. Dia tidak tahu, aku lebih memilih hidup di rumah sederhana asalkan ada seseorang yang mendengarkan ceritaku sebelum tidur. Ada yang memperhatikanku. Tapi di sini? Aku hanya bisa bicara pada Erma dan Helen. Tapi mereka pun sama malangnya denganku. Kami bertiga adalah sekumpulan istri kesepian yang mencoba tertawa di atas tumpukan harta yang dingin,” ungkap Winda dengan senyum getir.

​Winda kemudian menoleh ke arah Reno, menatap pemuda itu dengan tatapan yang sangat dalam, seolah mencari sesuatu di sana.

"Aneh ya? Aku baru mengenalmu beberapa jam, Reno. Tapi entah mengapa, aku merasa begitu percaya padamu. Mungkin karena matamu... matamu sangat jujur. Kamu tidak menatapku dengan tatapan mesum seperti pria-pria di klub malam, tapi kamu juga tidak menatapku dengan tatapan takut seperti para pelayanku. Kamu bisa menghormati perempuan,” puji Winda pada Reno.

​Reno terdiam cukup lama, meresapi setiap kata-kata Winda. Di balik kepolosannya, Reno memiliki kepekaan yang kuat.

"Nyonya Winda, saya mungkin tidak tahu banyak tentang kehidupan rumah tangga, apalagi di kalangan atas seperti ini. Karena saya tidak pernah menjalaninya. Tapi satu hal yang saya tahu dari mendiang ibu saya... wanita itu bukan hanya butuh dipenuhi kebutuhan fisiknya, tapi juga jiwanya. Apa yang Anda rasakan bukan kelainan, Nyonya. Itu hanya bukti bahwa Anda masih punya hati yang ingin dicintai,” ucap Reno menanggapi keluhan Winda.

​Mendengar kata-kata tulus dari Reno, Winda kembali meneteskan air mata. Namun kali ini dia tersenyum.

"Terima kasih, Reno. Kamu pria pertama yang tidak menghakimiku setelah aku bersikap memalukan tadi,” ucap Winda dengan lirih.

​Reno tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana yang sempat menegang dan membeku.

"Jadi, apakah kita tetap akan mulai latihan olahraganya, Nyonya? Saya rasa, melepaskan stres dengan latihan fisik yang benar akan jauh lebih baik daripada hanya menangis,” ucap Reno.

​Winda tertawa kecil. Seketika dia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat.

"Kamu benar. Tapi jangan panggil aku Nyonya lagi jika kita hanya berdua. Panggil saja Mbak Winda. Anggap ini rahasia kecil kita di tengah latihan privat ini,” sahut Winda.

"Baik, Mbak Winda. Kalau begitu, mari kita mulai pemanasannya di ruang gym bawah. Saya akan pastikan Mbak tidak hanya sehat fisiknya, tapi juga tenang pikirannya,” jawab Bayu.

​Malam itu, Reno menyadari bahwa apa yang dia lakukan itu telah masuk ke tahap yang lebih dalam dari sekedar pelatih olahraga privat untuk Winda. Bahkan Reno sempat terpikir jika suami Winda, menyimpan rahasia besar juga di balik tidak kepulangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 105

    Dalam kondisi fisik yang lemah dan mental yang terpuruk, Helen tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengelak kemauan orang tuanya. Gelombang peristiwa yang menghantamnya bertubi-tubi, mulai dari perceraian yang menguras emosi, ancaman mantan suami, hingga puncaknya kehilangan janin yang sempat menjadi harapan barunya, membuat pertahanan dirinya runtuh. Bagai kapal yang kehilangan kemudi di tengah badai, Helen akhirnya hanya bisa pasrah dan menurut pada garis takdir yang telah digariskan oleh kedua orang tuanya.​Rencana kepergian itu berjalan dengan sangat senyap dan cepat. Pihak keluarga benar-benar menutup rapat semua akses informasi. Seminggu setelah akta cerai fisiknya keluar dari pengadilan agama, Helen resmi meninggalkan tanah air, terbang menuju sebuah kota di belahan bumi lain untuk memulihkan luka batinnya dan memulai lembaran hidup yang baru, jauh dari hiruk-pikuk masa lalu yang kelam di Indonesia.​Namun, rupanya takdir kepindahan ini bukan hanya milik Helen. Di tempat lain,

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 104

    ​Berita tentang musibah yang menimpa Helen akhirnya sampai juga ke telinga Reno melalui pesan singkat yang dikirimkan oleh Winda. Tanpa membuang waktu, dengan pakaian yang masih seadanya, kaus oblong hitam dan jaket jins yang biasa ia gunakan di gym, Reno langsung memacu sepeda motornya membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Hatinya tidak tenang. Bukan karena ia kehilangan calon anak dari wanita yang dicintainya, melainkan karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab moralnya sebagai pria yang telah menanamkan benih di rahim Helen. Ia tahu betapa hancurnya mental Helen saat ini.​Namun, langkah kaki Reno yang tergesa-gesa mendadak terhenti tepat di area lobi utama rumah sakit, beberapa meter sebelum ia mencapai lift menuju ruang VIP.​Dua orang berwibawa dengan pakaian formal yang sangat elegan sudah berdiri di sana, seolah-olah memang sengaja menunggu kedatangannya. Mereka adalah Ayah dan Ibu Helen. Kehadiran Reno yang kontras dengan lingkungan rumah sakit mewah itu langsung menarik

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 103

    Prosedur kuretase itu akhirnya selesai setelah melewati satu jam yang terasa bagai selamanya. Helen perlahan-lahan sadar dari pengaruh obat bius total. Ia dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sepi, dingin, dan didominasi warna putih yang menyakitkan mata.​Saat matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dilakukan Helen adalah menggerakkan tangan kanannya yang gemetar, meraba perutnya sendiri. Perut yang beberapa jam lalu masih terasa penuh dan hangat, kini terasa kosong, kempis, dan menyisakan rasa nyeri yang tumpul di bagian dalamnya.​"Len... kamu sudah sadar?" tanya Winda yang dari tadi duduk di sisi ranjang langsung menggenggam jemari Helen yang dingin. Di sebelah Winda, Ratna berdiri dengan mata yang masih sembab.​Helen menatap kedua sahabatnya dengan pandangan kosong, sebelum air matanya meluncur deras membasahi bantal hospital tersebut. "Bayiku, Win... Rat... Anakku sudah tidak ada, ya?" tanyanya dengan suara yang teramat lirih, parau, dan hancur.​"Len, tolong dengerin ka

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 102

    Ciiiiiittttt!​Suara lengkingan ban mobil yang bergesekan hebat dengan aspal basah seketika memecah ketegangan di dalam kabin Alphard tersebut. Tubuh Helen, Winda, dan Ratna terdorong keras ke depan akibat sang sopir yang menginjak pedal rem secara mendadak. Sebuah bayangan hitam baru saja melintas, menyeberang jalanan yang temaram secara sembarangan tanpa memperhatikan laju kendaraan.​"Ya ampun! Siapa sih itu? Kalau jalan pakai mata dong!" seru Ratna dari kursi belakang, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.​Sang sopir segera menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi. "Maaf, Ibu-ibu... Maaf sekali. Tadi ada orang menyeberang tiba-tiba, hampir saja ketabrak."​"Iya, Pak, tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang luka," sahut Winda sambil mengelus dadanya, mencoba menenangkan diri.​Namun, di tengah kepanikan kecil itu, Winda menyadari sesuatu yang aneh. Di sampingnya, Helen sama sekali tidak mengeluarkan suara. Winda menoleh dan seketika merasakan dingin menjalar ke seluru

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 101

    Mobil Alphard itu terus melaju pelan membelah jalanan yang basah, sementara keheningan kembali merayap, jauh lebih pekat dari sebelumnya. Kalimat Ratna tentang pernikahan formalitas masih menggantung di udara, memaksa isi kepala Helen berputar dengan sangat kencang.​Winda, yang awalnya menentang keras ide tersebut, perlahan-lahan memperbaiki posisi duduknya. Ia melepaskan pandangannya dari jendela luar dan menatap Helen dengan helaan napas panjang.​"Len..." panggil Winda, suaranya mengalun sangat lambat dan terdengar sedikit berat. "Setelah kupikir-pikir pakai kepala dingin... saran Ratna itu sebenarnya masuk akal."​Helen menoleh, menatap Winda dengan tatapan tidak percaya. "Win? Kamu mendukung ide gila ini?"​Winda tersenyum kecut, ada sedikit riak emosi yang coba ia sembunyikan di balik sepasang matanya. Jujur saja, sejak pertama kali menginjakkan kaki di gym milik Reno, Winda-lah yang paling terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada pria muda itu. Karakter Reno yang tegas

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 100

    Di dalam mobil Alphard milik Helen yang bergerak membelah kemacetan jalanan kota, suasana perayaan yang tadinya direncanakan penuh tawa mendadak menguap, digantikan oleh keheningan yang cukup pekat. Musik jazz yang mengalun pelan dari pengeras suara mobil seolah tak mampu mengusir kegelisahan yang menggelayuti pikiran Helen.​Meski akta cerai sudah di depan mata dan statusnya sebagai istri Surya akan segera berakhir, ada satu kenyataan besar yang kini menghantam kesadaran Helen: perutnya kian hari kian membesar.​Anak itu adalah anak Reno. Tapi di antara dirinya dan Reno tidak ada ikatan cinta sama sekali. Bahkan, Helen tahu betul bahwa Reno tidak memiliki perasaan asmara padanya. Semua yang dilakukan Reno selama ini, mulai dari menjadi pelatih privat, menemani mereka, hingga momen malam itu yang membuat Helen hamil. Itu murni terjadi karena Reno profesional mencari uang, menghargai Helen sebagai kliennya, dan yang paling penting: semua itu terjadi atas dasar perintah dan permintaan H

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 7

    Reno membimbing Winda menuju area peralatan angkat beban yang terletak di sudut ruangan, di bawah pencahayaan lampu downlight yang temaram. Dia meminta Winda untuk berdiri membelakangi cermin besar yang menutupi seluruh dinding, sementara Reno mengambil posisi tepat di hadapannya.​"Sekarang kita a

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 5

    Suasana yang semula tegang dan penuh intimidasi itu mendadak luruh, hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Reno, yang sudah bersiap menerima amarah atau pengusiran, justru terpaku saat melihat bahu Winda mulai berguncang hebat. Sebutir air mata jatuh melintasi pipi mulus berhias riasan mahal

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 2

    Pagi itu, matahari merangkak naik dengan malas, seolah sengaja memperlambat waktu yang dirasakan Reno. Sejak bangun tidur, pemuda itu tidak pernah melepaskan ponsel retaknya dari genggaman. Setiap ada getaran kecil atau lampu notifikasi yang berkedip, jantungnya mencelos, mengira itu adalah perinta

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 1

    “Kalau mau jadi pelatih olahraga privatku, aku gaji kamu 10 juta untuk sekali pertemuan!" ​Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir merah menyala Nyonya Winda, istri seorang jenderal besar kepolisian yang pengaruhnya menjalar ke mana-mana. Ia mengucapkannya sambil menyandarkan punggung di sofa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status