Share

Bab 2

Author: Mr. Kis
last update publish date: 2026-04-06 03:23:12

Pagi itu, matahari merangkak naik dengan malas, seolah sengaja memperlambat waktu yang dirasakan Reno. Sejak bangun tidur, pemuda itu tidak pernah melepaskan ponsel retaknya dari genggaman. Setiap ada getaran kecil atau lampu notifikasi yang berkedip, jantungnya mencelos, mengira itu adalah perintah dari Nyonya Winda. Namun, hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh, layar ponselnya tetap gelap. Tak ada pesan masuk.

​Reno duduk di kursi kayu ruang tamu, berpura-pura sibuk memeriksa tali sepatunya yang sebenarnya sudah rapi. Ia mengenakan kaus polo hitam yang paling layak ia miliki, yang mencetak jelas lekuk otot dadanya yang bidang. Ia ingin terlihat profesional, meski jiwanya yang polos terus-menerus dirundung kecemasan.

​Reni, yang baru saja pulang sekolah, duduk mendekat ke sisi kakaknya. Gadis itu kemudian bertanya.

​"Kak Reno... katanya hari ini mulai kerja?"

​Reno tersentak, hampir saja menjatuhkan ponselnya. Ia memaksakan senyum tipis yang tampak kaku.

"Iya, Ren. Ini... kakak lagi nunggu pesan dari bos. Katanya disuruh siap-siap saja dulu,” jawabnya terbata bata.

​Reni mengernyitkan dahi, menatap pakaian kakaknya yang rapi tapi tidak seperti orang kantor atau kerja di pabrik pada umumnya.

"Bosnya belum telepon? Ini sudah lebih dari jam sebelas, Kak. Memangnya disuruh datang kerja jam berapa?" tanya Reni lagi.

​"Katanya sewaktu-waktu, Ren. Namanya juga orang sibuk, mungkin jadwalnya berubah," jawab Reno, mencoba terdengar meyakinkan meski hatinya sendiri bertanya-tanya apakah Winda hanya mempermainkannya kemarin.

​Reni terdiam sejenak, lalu mendekat dan duduk di bangku kecil di samping kakaknya. Rasa ingin tahunya yang murni sebagai seorang adik mulai muncul.

"Sebenarnya... Kakak kerja apa sih? Kok panggilannya mendadak begitu?"

​Pertanyaan itu membuat Reno membeku. Lidahnya terasa kelu. Tidak mungkin ia jujur bahwa ia menjadi pelatih privat untuk seorang istri Jenderal di rumah mewahnya, apalagi dengan iming-iming gaji sepuluh juta yang tidak masuk akal. Ia tahu adiknya cerdas. Cerita yang terlalu muluk justru akan mengundang kecurigaan.

​Reno memutar otak, mencari profesi yang paling masuk akal dengan postur tubuhnya yang besar dan tegap.

​"Kakak... Kakak diterima jadi sopir sekaligus pengawal pribadi, Ren. Bosnya orang penting, jadi keamanannya harus dijaga. Makanya Kakak harus siap siaga kapan pun dia butuh diantar atau dijaga,” ucap Reno akhirnya setelah jeda yang cukup lama.

​Reni memandangi pundak kakaknya yang lebar dan lengan yang kokoh. Penjelasan itu masuk akal baginya. Di matanya, Reno memang selalu terlihat seperti pelindung yang tangguh.

​"Oh... pantas saja. Tubuh Kakak kan memang cocok jadi bodyguard. Seperti di film-film yang kita tonton ya, Kak?" Reni tersenyum lebar, tampak bangga dan percaya sepenuhnya pada kebohongan kecil itu.

“Iya Ren,” jawab ​Reno sambil mengusap rambut adiknya dengan sedikit perasaan bersalah. Tapi dia kembali teringat pada niat awalnya, semua itu dia lakukan agar adiknya tidak jadi tumbal hutang oleh para rentenir.

​Siang berganti sore, dan Reno masih terpaku pada ponselnya. Kebungkaman Winda justru membuatnya semakin merinding. Apakah ini bagian dari permainan wanita itu? ​Baru saat langit mulai berubah jingga keunguan, ponsel di tangannya bergetar panjang. Sebuah pesan singkat masuk dari Winda, yang memintanya segera datang ke rumahnya.

Reno menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kian liar tiap kali mengingat pekerjaan dan juga bos barunya itu. Dia lalu menoleh ke arah Reni yang sedang memasak di dapur. Mereka hanya tinggal berdua. Ayah mereka sudah meninggal. Sementara Ibunya sudah lama pergi entah kemana sejak ayah mereka meninggal.

"Ren, Kakak berangkat sekarang. Kamu makan duluan ya, jangan tunggu Kakak. Langsung istirahat kalau sudah selesai belajar," ucapnya dengan nada yang diusahakan setenang mungkin.

​Reni mendongak, matanya yang jernih menatap sang kakak dengan binar bangga. "Hati-hati ya, Kak. Semangat kerjanya! Biar dapat duit banyak. Karena aku nggak mau dijual kak," sahut Reni dengan raut wajah yang sayu.

“Tidak akan Ren. Kakak tidak akan biarkan itu terjadi!” jawab Reno dengan yakin.

​Kata-kata itu terasa seperti sembilu yang mengiris hati Reno. Ia mengangguk kaku, lalu segera menyambar jaket kusamnya dan memacu motor bebek tua itu membelah jalanan kota yang mulai remang.

​Sesampainya di depan gerbang kompleks perumahan elite yang dijaga ketat, Reno merasa seperti alien. Motor bututnya yang berisik mengeluarkan suara preeet-preeet yang kontras dengan kesunyian lingkungan mewah itu. Ia berhenti di depan pos satpam yang megah, bersiap untuk diinterogasi. Namun, di luar dugaan, palang pintu otomatis langsung terangkat.

​Seorang satpam paruh baya keluar dari pos, menatap Reno dari ujung kaki hingga ujung kepala. Matanya terpaku pada otot lengan Reno yang tercetak jelas di balik kaus polonya, lalu beralih ke motor tua yang diparkir asal di dekat pos. Satpam itu hanya memberikan gestur agar Reno masuk. Namun sambil berjalan kembali ke posnya, ia bergumam sangat lirih.

​"Beruntung sekali anak muda ini... modal badan saja sudah bisa jadi peliharaan Nyonya Winda," bisiknya pelan, penuh sinisme yang tak tertangkap oleh telinga Reno.

​Reno kemudian lekas berjalan masuk. Di halaman rumah mewah milik Winda, berderet mobil-mobil mewah berlogo kuda jingkrak dan huruf B besar yang harganya mungkin bisa membeli satu kampung halaman Reno.

​"Kenapa ada banyak mobil? Apa ada tamu?" tanya Reno dalam hati. Dia mulai ragu untuk masuk. Namun, ponselnya kembali bergetar di saku celana.

​“Jangan diam di situ seperti patung. Langsung masuk lewat pintu samping yang terbuka. Jangan buat aku menunggu lagi, Reno.” tulis Winda yang mengamati kedatangan Reno dari CCTV.

​Dengan langkah yang berat dan kikuk, Reno memasuki rumah itu. Langit-langit yang tinggi, lampu kristal yang menyilaukan, dan aroma pengharum ruangan mahal membuatnya merasa semakin kerdil. Baru saja ia melangkah ke ruang tengah, suaranya terhenti oleh gelak tawa wanita yang terdengar sangat renyah namun penuh rahasia.

​Di sana, di atas sofa beludru, Winda tidak sendirian. Ada dua wanita lain yang penampilannya tak kalah menggoda iman. Erma, dengan gaun sutra ketat berwarna merah bata, dan Helen, yang mengenakan setelan satin transparan di bagian bahu. Keduanya tampak sedang menyesap cairan keemasan dari gelas tinggi.

​Begitu Reno muncul, suasana mendadak hening. Enam pasang mata wanita dewasa itu tertuju padanya dengan intensitas yang mengerikan. Reno merasa seperti seekor domba yang baru saja masuk ke kandang serigala betina yang lapar.

​"Nah, ini dia yang aku ceritakan. Perkenalkan, ini Reno. Trainer privatku!” seru Winda dengan nada riang yang dibuat-buat. Ia langsung bangkit dan menghambur ke arah Reno, tanpa ragu merangkul lengan kekar pemuda itu dan menyandarkan kepalanya di bahu Reno.

​Erma meletakkan gelasnya, matanya menatap Reno dengan tatapan yang sangat tidak sopan, seolah sedang memindai setiap jengkal otot perut Reno di balik baju.

"Ya ampun, Winda... Kamu tidak bilang kalau koleksi barumu ini selevel atlet olimpiade. Lihat dadanya, sangat kokoh," ucap Erma dengan nada haus.

​Helen ikut berdiri, mendekati Reno hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma alkohol dan parfum menyengat menusuk hidung Reno.

"Winda, kamu curang! Kamu mau menyimpan berlian seperti ini sendirian? Reno… Aku juga butuh trainer privat. Badanku terasa kaku semua akhir-akhir ini. Berapa pun yang Winda bayar, aku bisa beri dua kali lipat,” sahut Helen sambil menyentuh pundak Reno, jarinya yang berkuku panjang mengusap pelan otot leher Reno yang menegang.

​"Aku juga! Aku mau jadwal privat tiga kali seminggu. Mulai besok!" Erma menimpali, suaranya meninggi penuh persaingan.

“Aku mau setiap hari!” imbuh Helen yang tidak mau kalah.

​Reno terperangah, lidahnya benar-benar kelu. Ia menatap Winda, mencari pertolongan. Namun wanita itu justru tersenyum puas sambil terus mengeratkan pelukannya di lengan Reno. Di tengah kemewahan itu, Reno menyadari satu hal pahit. Sepertinya, bagi para wanita kesepian ini, dia bukanlah seorang pelatih. Melainkan mainan baru yang sedang diperebutkan.

“Sudah, sudah jangan berebut. Nanti kita jadwalnya harus bergilir ya. Jangan rebutan. Kamu siap kan Reno?” tanya Winda pada Reno dengan nada yang manja.

Reno seketika menjadi gagap. Tapi, dia ingat akan satu hal. “Waktumu tinggal satu bulan saja Reno. Setelah hutang lunas, kamu bisa akhiri pekerjaan ini!” seru Reno di dalam hati, mencoba menguatkan diri di tengah kepungan para nyonya besar yang mulai berebut menyentuhnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 105

    Dalam kondisi fisik yang lemah dan mental yang terpuruk, Helen tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengelak kemauan orang tuanya. Gelombang peristiwa yang menghantamnya bertubi-tubi, mulai dari perceraian yang menguras emosi, ancaman mantan suami, hingga puncaknya kehilangan janin yang sempat menjadi harapan barunya, membuat pertahanan dirinya runtuh. Bagai kapal yang kehilangan kemudi di tengah badai, Helen akhirnya hanya bisa pasrah dan menurut pada garis takdir yang telah digariskan oleh kedua orang tuanya.​Rencana kepergian itu berjalan dengan sangat senyap dan cepat. Pihak keluarga benar-benar menutup rapat semua akses informasi. Seminggu setelah akta cerai fisiknya keluar dari pengadilan agama, Helen resmi meninggalkan tanah air, terbang menuju sebuah kota di belahan bumi lain untuk memulihkan luka batinnya dan memulai lembaran hidup yang baru, jauh dari hiruk-pikuk masa lalu yang kelam di Indonesia.​Namun, rupanya takdir kepindahan ini bukan hanya milik Helen. Di tempat lain,

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 104

    ​Berita tentang musibah yang menimpa Helen akhirnya sampai juga ke telinga Reno melalui pesan singkat yang dikirimkan oleh Winda. Tanpa membuang waktu, dengan pakaian yang masih seadanya, kaus oblong hitam dan jaket jins yang biasa ia gunakan di gym, Reno langsung memacu sepeda motornya membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Hatinya tidak tenang. Bukan karena ia kehilangan calon anak dari wanita yang dicintainya, melainkan karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab moralnya sebagai pria yang telah menanamkan benih di rahim Helen. Ia tahu betapa hancurnya mental Helen saat ini.​Namun, langkah kaki Reno yang tergesa-gesa mendadak terhenti tepat di area lobi utama rumah sakit, beberapa meter sebelum ia mencapai lift menuju ruang VIP.​Dua orang berwibawa dengan pakaian formal yang sangat elegan sudah berdiri di sana, seolah-olah memang sengaja menunggu kedatangannya. Mereka adalah Ayah dan Ibu Helen. Kehadiran Reno yang kontras dengan lingkungan rumah sakit mewah itu langsung menarik

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 103

    Prosedur kuretase itu akhirnya selesai setelah melewati satu jam yang terasa bagai selamanya. Helen perlahan-lahan sadar dari pengaruh obat bius total. Ia dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sepi, dingin, dan didominasi warna putih yang menyakitkan mata.​Saat matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dilakukan Helen adalah menggerakkan tangan kanannya yang gemetar, meraba perutnya sendiri. Perut yang beberapa jam lalu masih terasa penuh dan hangat, kini terasa kosong, kempis, dan menyisakan rasa nyeri yang tumpul di bagian dalamnya.​"Len... kamu sudah sadar?" tanya Winda yang dari tadi duduk di sisi ranjang langsung menggenggam jemari Helen yang dingin. Di sebelah Winda, Ratna berdiri dengan mata yang masih sembab.​Helen menatap kedua sahabatnya dengan pandangan kosong, sebelum air matanya meluncur deras membasahi bantal hospital tersebut. "Bayiku, Win... Rat... Anakku sudah tidak ada, ya?" tanyanya dengan suara yang teramat lirih, parau, dan hancur.​"Len, tolong dengerin ka

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 102

    Ciiiiiittttt!​Suara lengkingan ban mobil yang bergesekan hebat dengan aspal basah seketika memecah ketegangan di dalam kabin Alphard tersebut. Tubuh Helen, Winda, dan Ratna terdorong keras ke depan akibat sang sopir yang menginjak pedal rem secara mendadak. Sebuah bayangan hitam baru saja melintas, menyeberang jalanan yang temaram secara sembarangan tanpa memperhatikan laju kendaraan.​"Ya ampun! Siapa sih itu? Kalau jalan pakai mata dong!" seru Ratna dari kursi belakang, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.​Sang sopir segera menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi. "Maaf, Ibu-ibu... Maaf sekali. Tadi ada orang menyeberang tiba-tiba, hampir saja ketabrak."​"Iya, Pak, tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang luka," sahut Winda sambil mengelus dadanya, mencoba menenangkan diri.​Namun, di tengah kepanikan kecil itu, Winda menyadari sesuatu yang aneh. Di sampingnya, Helen sama sekali tidak mengeluarkan suara. Winda menoleh dan seketika merasakan dingin menjalar ke seluru

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 101

    Mobil Alphard itu terus melaju pelan membelah jalanan yang basah, sementara keheningan kembali merayap, jauh lebih pekat dari sebelumnya. Kalimat Ratna tentang pernikahan formalitas masih menggantung di udara, memaksa isi kepala Helen berputar dengan sangat kencang.​Winda, yang awalnya menentang keras ide tersebut, perlahan-lahan memperbaiki posisi duduknya. Ia melepaskan pandangannya dari jendela luar dan menatap Helen dengan helaan napas panjang.​"Len..." panggil Winda, suaranya mengalun sangat lambat dan terdengar sedikit berat. "Setelah kupikir-pikir pakai kepala dingin... saran Ratna itu sebenarnya masuk akal."​Helen menoleh, menatap Winda dengan tatapan tidak percaya. "Win? Kamu mendukung ide gila ini?"​Winda tersenyum kecut, ada sedikit riak emosi yang coba ia sembunyikan di balik sepasang matanya. Jujur saja, sejak pertama kali menginjakkan kaki di gym milik Reno, Winda-lah yang paling terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada pria muda itu. Karakter Reno yang tegas

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 100

    Di dalam mobil Alphard milik Helen yang bergerak membelah kemacetan jalanan kota, suasana perayaan yang tadinya direncanakan penuh tawa mendadak menguap, digantikan oleh keheningan yang cukup pekat. Musik jazz yang mengalun pelan dari pengeras suara mobil seolah tak mampu mengusir kegelisahan yang menggelayuti pikiran Helen.​Meski akta cerai sudah di depan mata dan statusnya sebagai istri Surya akan segera berakhir, ada satu kenyataan besar yang kini menghantam kesadaran Helen: perutnya kian hari kian membesar.​Anak itu adalah anak Reno. Tapi di antara dirinya dan Reno tidak ada ikatan cinta sama sekali. Bahkan, Helen tahu betul bahwa Reno tidak memiliki perasaan asmara padanya. Semua yang dilakukan Reno selama ini, mulai dari menjadi pelatih privat, menemani mereka, hingga momen malam itu yang membuat Helen hamil. Itu murni terjadi karena Reno profesional mencari uang, menghargai Helen sebagai kliennya, dan yang paling penting: semua itu terjadi atas dasar perintah dan permintaan H

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 7

    Reno membimbing Winda menuju area peralatan angkat beban yang terletak di sudut ruangan, di bawah pencahayaan lampu downlight yang temaram. Dia meminta Winda untuk berdiri membelakangi cermin besar yang menutupi seluruh dinding, sementara Reno mengambil posisi tepat di hadapannya.​"Sekarang kita a

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 6

    Malam semakin larut. Namun suasana di ruang tengah yang megah itu justru terasa semakin intim, bukan dalam artian seksual, melainkan sebuah keintiman emosional yang tak terduga. Winda perlahan melepaskan pelukannya. Meski dia masih berdiri sangat dekat dengan Reno. Dia menyeka sisa air matanya deng

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 3

    Suasana di ruang tengah yang megah itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran aroma parfum mahal. Ketegangan terpancar jelas dari garis wajah Winda yang mulai mengeras. Ia melepaskan rangkulannya dari lengan Reno, lalu berdiri tegak dengan berkacak pinggang, menatap kedua temannya dengan tatapa

  • Awas Nyonya, Nanti Ketagihan!   Bab 1

    “Kalau mau jadi pelatih olahraga privatku, aku gaji kamu 10 juta untuk sekali pertemuan!" ​Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir merah menyala Nyonya Winda, istri seorang jenderal besar kepolisian yang pengaruhnya menjalar ke mana-mana. Ia mengucapkannya sambil menyandarkan punggung di sofa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status