تسجيل الدخولReno membimbing Winda menuju area peralatan angkat beban yang terletak di sudut ruangan, di bawah pencahayaan lampu downlight yang temaram. Dia meminta Winda untuk berdiri membelakangi cermin besar yang menutupi seluruh dinding, sementara Reno mengambil posisi tepat di hadapannya.
"Sekarang kita akan melatih otot punggung dan postur, Nyonya. Gunakan resistance band ini," ucap Reno dengan suara rendah yang berwibawa. Reno melingkarkan tali karet elastis itu ke bahu Winda, lalu dia berdiri di belakang wanita itu. Reno meletakkan kedua telapak tangannya di atas tangan Winda, membimbing jemari lentur itu untuk mencengkeram alat tersebut dengan benar. Sentuhan kulit Reno yang kasar, tapi hangat membuat Winda sedikit gemetar. "Tarik perlahan ke arah dada, Nyonya. Rasakan kontraksi ototnya," bisik Reno tepat di samping telinga Winda. Setiap kali Winda menarik napas dan menarik tali itu, tubuh mereka bergesekan. Reno sengaja menempelkan dadanya ke punggung Winda untuk memastikan tulang belakang wanita itu tetap tegak. Kehangatan tubuh Reno menjalar menembus pakaian olahraga Winda yang tipis. Reno kemudian beralih ke depan, dia berlutut dengan satu kaki di hadapan Winda untuk membetulkan posisi kakinya. Jari-jari Reno merayap perlahan dari pergelangan kaki hingga ke betis Winda, memberikan tekanan-tekanan kecil yang seolah-olah adalah teknik pijatan atlet. Namun gerakan itu terasa sangat intim. Winda menatap puncak kepala Reno dengan napas yang mulai tidak teratur. "Reno... Kenapa sentuhannya rasanya sangat berbeda?," desah Winda lirih. Reno mendongak, menatap mata Winda dari posisi berlututnya. Ia bangkit berdiri dengan perlahan, mengikis jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Dia tidak segera melepaskan pegangannya pada pinggang Winda, justru menariknya sedikit lebih dekat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Di sinilah, di antara deretan alat gym yang dingin, Reno melihat pertahanan Winda benar-benar runtuh, sebelum akhirnya ia mendaratkan ciuman yang membungkam segala keraguan wanita itu. Udara di dalam ruang gym pribadi itu terasa berbeda. Bukan lagi sekadar bau harum pengharum ruangan atau dinginnya AC sentral, melainkan sebuah tegangan listrik yang tak kasat mata, tapi sanggup menyengat kulit. Winda kini telah mengenakan kembali pakaian olahraganya yang ketat. Namun kegarangannya sebagai serigala betina telah luruh, digantikan oleh kecemasan yang manis. Reno melangkah mendekat, auranya kini berubah. Kepolosan yang tadi dia tunjukkan seolah tersimpan rapi di balik topeng profesionalisme yang baru. Dia berdiri di belakang Winda yang sedang bersiap di atas matras. "Kita mulai dengan peregangan otot statis, Nyonya Winda. Fokus pada napas. Jangan tegang,” seru Reno dengan suara yang terdengar berat dan stabil, menggema di ruangan yang kedap suara itu. Reno mengulurkan tangannya, menyentuh pinggang Winda untuk membetulkan posisi berdirinya. Saat telapak tangan Reno yang lebar dan hangat bersentuhan dengan kain tipis yang membungkus kulit Winda, wanita itu tersentak kecil. Bahunya sedikit terangkat, dan napasnya tertahan. "Reno… Tanganmu... hangat sekali.,” bisik Winda, suaranya bergetar. "Konsentrasi, Nyonya. Ini bagian dari teknik," jawab Reno tenang, meski sebenarnya jantungnya pun mulai berpacu. “Kenapa masih selalu memanggilku Nyonya? Panggil aku Mbak, atau sebut namaku saja!” protes Winda. “Maaf, Mbaak…Windax,” sahut Reno sembari melemparkan senyuman maskulin. Reno membimbing tangan Winda untuk meregang ke atas, lalu dia memposisikan tubuhnya tepat di belakang wanita itu, memberikan tekanan lembut pada punggung Winda agar otot-ototnya memanjang. Jarak mereka begitu rapat hingga Winda bisa merasakan panas yang memancar dari dada bidang Reno yang menempel pada punggungnya. Wangi tubuh Reno, perpaduan antara sabun mandi murah dan maskulinitas yang murni, mulai memabukkan indra penciuman Winda. Winda yang biasanya mendominasi, kini merasa kehilangan kendali. Setiap kali jari-jari Reno menyentuh titik nadi di lehernya atau mengoreksi posisi kakinya, Winda merasa lututnya melemas. Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap Reno yang sedang fokus memperhatikan postur tubuhnya. "Kenapa kamu menatapku begitu serius?" tanya Winda dengan napas yang mulai memburu. Reno tidak menjawab dengan kata-kata. Da justru menghentikan gerakan latihannya. Reno memutar tubuh Winda perlahan hingga mereka kini berdiri berhadapan. Jarak di antara mereka nyaris tidak ada. Reno menatap dalam ke mata Winda, sebuah tatapan yang bukan lagi milik seorang "pelatih miskin", melainkan tatapan pria yang tahu persis apa yang sedang ia hadapi. Dalam keheningan yang mencekam itu, Reno perlahan menundukkan wajahnya. Winda memejamkan mata, jemarinya meremas kaos hitam Reno. Dan kemudian, itu terjadi. Sebuah ciuman mendarat di bibir Winda. Awalnya lembut, sebuah sentuhan ragu yang menuntut kejelasan, namun dengan cepat berubah menjadi dalam dan menuntut. Winda merasa seolah dunianya meledak. Jantungnya berdebar tidak keruan, lebih kencang daripada saat dia melakukan latihan kardio paling berat sekalipun. Winda yang tadi berlaga begitu berani, kini mendadak menjadi seperti kelinci kecil yang pasrah di bawah dominasi Reno. Seluruh tubuhnya gemetar. Dia merasa dihargai sekaligus diinginkan dengan cara yang sangat maskulin, sesuatu yang tak pernah dia dapatkan dari suaminya yang dingin. Reno melepaskan ciuman itu perlahan. Namun wajah mereka masih sangat dekat hingga dahi mereka bersentuhan. Napas keduanya memburu, saling bersahutan di ruangan yang sunyi itu. "Ini... ini tidak ada dalam menu olahraga, kan?" bisik Winda dengan suara yang hampir habis, matanya yang sayu menatap Reno penuh pemujaan. "Ini adalah bagian dari pelepasan stres yang Mbak Winda butuhkan. Anda bilang ingin dihargai sebagai wanita, bukan?" sahut Reno sambil mengusap bibir Winda dengan ibu jarinya, gerakannya begitu posesi. Winda terengah. Kemampuan Reno dalam memperlakukannya, cara pria itu menyentuh, mencium, dan mendominasi ruang geraknya, benar-benar berada di level yang berbeda. Jauh di atas suaminya yang kaku dan selalu merasa lelah. Di mata Winda, Reno kini bukan lagi sekadar pelatih yang ia bayar. Reno adalah candu baru yang membuatnya tergila-gila. "Lagi, Reno... tolong," pinta Winda dengan suara memohon, menyerahkan seluruh martabatnya demi mendapatkan lebih banyak afeksi dari pemuda di hadapannya. Reno tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan rencana besar di baliknya. Ia tahu, mangsanya sudah benar-benar terjerat. "Sabar, Mbak Winda. Kita masih punya banyak waktu malam ini."Dalam kondisi fisik yang lemah dan mental yang terpuruk, Helen tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengelak kemauan orang tuanya. Gelombang peristiwa yang menghantamnya bertubi-tubi, mulai dari perceraian yang menguras emosi, ancaman mantan suami, hingga puncaknya kehilangan janin yang sempat menjadi harapan barunya, membuat pertahanan dirinya runtuh. Bagai kapal yang kehilangan kemudi di tengah badai, Helen akhirnya hanya bisa pasrah dan menurut pada garis takdir yang telah digariskan oleh kedua orang tuanya.Rencana kepergian itu berjalan dengan sangat senyap dan cepat. Pihak keluarga benar-benar menutup rapat semua akses informasi. Seminggu setelah akta cerai fisiknya keluar dari pengadilan agama, Helen resmi meninggalkan tanah air, terbang menuju sebuah kota di belahan bumi lain untuk memulihkan luka batinnya dan memulai lembaran hidup yang baru, jauh dari hiruk-pikuk masa lalu yang kelam di Indonesia.Namun, rupanya takdir kepindahan ini bukan hanya milik Helen. Di tempat lain,
Berita tentang musibah yang menimpa Helen akhirnya sampai juga ke telinga Reno melalui pesan singkat yang dikirimkan oleh Winda. Tanpa membuang waktu, dengan pakaian yang masih seadanya, kaus oblong hitam dan jaket jins yang biasa ia gunakan di gym, Reno langsung memacu sepeda motornya membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Hatinya tidak tenang. Bukan karena ia kehilangan calon anak dari wanita yang dicintainya, melainkan karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab moralnya sebagai pria yang telah menanamkan benih di rahim Helen. Ia tahu betapa hancurnya mental Helen saat ini.Namun, langkah kaki Reno yang tergesa-gesa mendadak terhenti tepat di area lobi utama rumah sakit, beberapa meter sebelum ia mencapai lift menuju ruang VIP.Dua orang berwibawa dengan pakaian formal yang sangat elegan sudah berdiri di sana, seolah-olah memang sengaja menunggu kedatangannya. Mereka adalah Ayah dan Ibu Helen. Kehadiran Reno yang kontras dengan lingkungan rumah sakit mewah itu langsung menarik
Prosedur kuretase itu akhirnya selesai setelah melewati satu jam yang terasa bagai selamanya. Helen perlahan-lahan sadar dari pengaruh obat bius total. Ia dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sepi, dingin, dan didominasi warna putih yang menyakitkan mata.Saat matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dilakukan Helen adalah menggerakkan tangan kanannya yang gemetar, meraba perutnya sendiri. Perut yang beberapa jam lalu masih terasa penuh dan hangat, kini terasa kosong, kempis, dan menyisakan rasa nyeri yang tumpul di bagian dalamnya."Len... kamu sudah sadar?" tanya Winda yang dari tadi duduk di sisi ranjang langsung menggenggam jemari Helen yang dingin. Di sebelah Winda, Ratna berdiri dengan mata yang masih sembab.Helen menatap kedua sahabatnya dengan pandangan kosong, sebelum air matanya meluncur deras membasahi bantal hospital tersebut. "Bayiku, Win... Rat... Anakku sudah tidak ada, ya?" tanyanya dengan suara yang teramat lirih, parau, dan hancur."Len, tolong dengerin ka
Ciiiiiittttt!Suara lengkingan ban mobil yang bergesekan hebat dengan aspal basah seketika memecah ketegangan di dalam kabin Alphard tersebut. Tubuh Helen, Winda, dan Ratna terdorong keras ke depan akibat sang sopir yang menginjak pedal rem secara mendadak. Sebuah bayangan hitam baru saja melintas, menyeberang jalanan yang temaram secara sembarangan tanpa memperhatikan laju kendaraan."Ya ampun! Siapa sih itu? Kalau jalan pakai mata dong!" seru Ratna dari kursi belakang, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.Sang sopir segera menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi. "Maaf, Ibu-ibu... Maaf sekali. Tadi ada orang menyeberang tiba-tiba, hampir saja ketabrak.""Iya, Pak, tidak apa-apa. Yang penting tidak ada yang luka," sahut Winda sambil mengelus dadanya, mencoba menenangkan diri.Namun, di tengah kepanikan kecil itu, Winda menyadari sesuatu yang aneh. Di sampingnya, Helen sama sekali tidak mengeluarkan suara. Winda menoleh dan seketika merasakan dingin menjalar ke seluru
Mobil Alphard itu terus melaju pelan membelah jalanan yang basah, sementara keheningan kembali merayap, jauh lebih pekat dari sebelumnya. Kalimat Ratna tentang pernikahan formalitas masih menggantung di udara, memaksa isi kepala Helen berputar dengan sangat kencang.Winda, yang awalnya menentang keras ide tersebut, perlahan-lahan memperbaiki posisi duduknya. Ia melepaskan pandangannya dari jendela luar dan menatap Helen dengan helaan napas panjang."Len..." panggil Winda, suaranya mengalun sangat lambat dan terdengar sedikit berat. "Setelah kupikir-pikir pakai kepala dingin... saran Ratna itu sebenarnya masuk akal."Helen menoleh, menatap Winda dengan tatapan tidak percaya. "Win? Kamu mendukung ide gila ini?"Winda tersenyum kecut, ada sedikit riak emosi yang coba ia sembunyikan di balik sepasang matanya. Jujur saja, sejak pertama kali menginjakkan kaki di gym milik Reno, Winda-lah yang paling terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada pria muda itu. Karakter Reno yang tegas
Di dalam mobil Alphard milik Helen yang bergerak membelah kemacetan jalanan kota, suasana perayaan yang tadinya direncanakan penuh tawa mendadak menguap, digantikan oleh keheningan yang cukup pekat. Musik jazz yang mengalun pelan dari pengeras suara mobil seolah tak mampu mengusir kegelisahan yang menggelayuti pikiran Helen.Meski akta cerai sudah di depan mata dan statusnya sebagai istri Surya akan segera berakhir, ada satu kenyataan besar yang kini menghantam kesadaran Helen: perutnya kian hari kian membesar.Anak itu adalah anak Reno. Tapi di antara dirinya dan Reno tidak ada ikatan cinta sama sekali. Bahkan, Helen tahu betul bahwa Reno tidak memiliki perasaan asmara padanya. Semua yang dilakukan Reno selama ini, mulai dari menjadi pelatih privat, menemani mereka, hingga momen malam itu yang membuat Helen hamil. Itu murni terjadi karena Reno profesional mencari uang, menghargai Helen sebagai kliennya, dan yang paling penting: semua itu terjadi atas dasar perintah dan permintaan H
Malam semakin larut. Namun suasana di ruang tengah yang megah itu justru terasa semakin intim, bukan dalam artian seksual, melainkan sebuah keintiman emosional yang tak terduga. Winda perlahan melepaskan pelukannya. Meski dia masih berdiri sangat dekat dengan Reno. Dia menyeka sisa air matanya deng
Suasana yang semula tegang dan penuh intimidasi itu mendadak luruh, hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Reno, yang sudah bersiap menerima amarah atau pengusiran, justru terpaku saat melihat bahu Winda mulai berguncang hebat. Sebutir air mata jatuh melintasi pipi mulus berhias riasan mahal
Suasana di dalam kamar utama yang luas itu mendadak terasa begitu menyesakkan bagi Reno. Wangi aromaterapi melati yang lembut kini justru terasa seperti kabut yang mencekik paru-parunya. Reno tetap berdiri mematung di dekat pintu yang baru saja dikunci oleh Winda, kedua tangannya mengepal erat di s
Suasana di ruang tengah yang megah itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran aroma parfum mahal. Ketegangan terpancar jelas dari garis wajah Winda yang mulai mengeras. Ia melepaskan rangkulannya dari lengan Reno, lalu berdiri tegak dengan berkacak pinggang, menatap kedua temannya dengan tatapa







