Home / Romansa / Ayah Untuk Danish / Bab 3 Pertengkaran Orangtua?

Share

Bab 3 Pertengkaran Orangtua?

last update Last Updated: 2021-10-28 08:57:09

"Sayang, kalau misal kita ... nggak tinggal bareng Ayah lagi, Danish nggak apa-apa?"

Deg.

Di balik pintu, Fais juga menunggu jawaban bocah kecil itu dengan hati berdebar. Entah kenapa, rasa khawatir tiba-tiba bersarang? Entah atas dasar apa, Fais merasa tidak rela jika Danish memilih bertahan.

"Bener, nanti kita nggak akan tinggal bareng Ayah lagi, Bun?" tanya bocah kecil itu yang sudah tampak lebih sehat dari sebelumnya. 

"Ya ... menurut Danish gimana? Pokoknya ya Sayang, apapun keputusan Danish, Bunda ikut aja. Tapi, Danish harus jawab jujur ya, Danish masih mau tinggal bareng Ayah atau enggak?" 

Senja mengusap tangan putranya sembari tersenyum, seolah memberi tanda, Danish punya hak penuh untuk memutuskan pa yang akan mereka jalani selanjutnya.

"Eum, itu ... nggak apa-apa, kan Bunda?" tanya Danish sekali lagi sembari berusaha untuk duduk.

"Sini, Bunda bantu."

"Enggak, Sayang. Mulai sekarang, Bunda cuma pengen lihat Danish bahagia. Nggak apa-apa, jawab aja. Heum?"

Bocah itu masih meragu. Namun, anggukan Senja membuatnya tersadar, sang Bunda memang sepenuhnya memberi restu.

"Sebenarnya ... Danish nggak mau tinggal sama Ayah. Danish nggak suka, Ayah suka jahat sama Danish sama Bunda. Danish nggak mau kita tinggal di sana, Bun. Ayah nggak pernah sayang sama kita. Ayo, kita pindah aja, Bun. Danish nggak mau punya Ayah jahat. Huhu!" 

Deg.

Tangisan Danish seketika pecah dalam ruangan serba putih itu. Membuat Senja panik bukan kepalang. Tak terkecuali seseorang yang tengah berdiri di luar. 

'Seiblis itukah Gibran selama ini?'

"Danish nggak mau punya Ayah jahat, Bunda. Danish takut. Huhu!" 

"Sayang, maafin Bunda. Sekarang tenang ya, jangan nangis lagi. Danish nggak usah takut, ada Bunda di sini," bujuk Senja sembari memeluk erat buah hatinya. 

'Maaf, Sayang. Selama ini Bunda bertahan, karena Bunda kira setidaknya kamu punya orang tua yang utuh, Nak. Bunda nggak tahu, ternyata kamu lebih menderita dari Bunda. Maafin, Bunda, Nak.' 

Saat dirasa Danish mulai tenang, Senja melepas pelukannya dengan perlahan. Tangan Senja bergerak, menghapus sisa-sisa air mata di pipi chubby putranya. Hampir 80% wajah Danish fotokopi ayahnya. Tapi, akibat salah sangka pada sang istri, membuat Gibran tidak mau mengakui Danish sebagai putranya. 

Memang tak sampai bermain tangan, tapi makian dan suara bentakan yang menggelegar sudah lebih dari cukup membuat Danish membenci ayahnya. 

"Bunda janji, kan. Kita bakal pergi jauh dari hidup Ayah?" 

'Segitu parahnya efek buruk kelakuanmu untuk anak kita, Mas. Benar-benar tidak punya hati,' batin Senja tidak menyangka.  

"Iya, Sayang. Bunda janji, tapi Danish juga janji harus cepat sembuh, ya?" 

"Danish udah sembuh tuh. Kan, tadi kata Bu dokter besok Danish udah boleh pulang," sahut Danish sembari mengangkat sebelah tangannya. 

"Oh iya, Bunda lupa. Pinter banget, sih, anak Bunda. Hehe." 

"Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam," jawab ibu dan anak itu bersamaan sembari menoleh ke arah pintu yang baru terbuka. 

"Mas Fais?" tanya Senja terkejut. 

"Horeee! Ayah Fais beneran datang!" 

"Iya, dong. Kan, tadi Ayah Fais udah janji sama Danish." Fais mendekat ke samping ranjang yang berseberangan dengan Senja. 

"Kata Bu Dokter, besok Danish udah boleh pulang loh, Yah," celoteh bocah itu tampak bersemangat. Dengan khadiran Fais, putra semata wayang Senja dapat merasakan, seperti inikah memiliki Ayah. 

"Oh, ya? Bagus, dong. Ni, Ayah Fais bawain sesuatu sebagai hadiah. Karena Fais baru saja menang melawan penyakit." Fais menyodorkan paper bag berisi kotak berukuran sedang pada Danish. 

"Apa ini, Yah?"

"Coba dibuka, Danish pasti suka."

"Wah, robot spiderman! Bagus banget, Yah! Danish suka!" Danish menatap benda di tangannya dengan mata berbinar. 

Melihat interaksi keduanya, hati Senja menghangat seketika. 'Andaikan itu Mas Gibran.'

"Oh iya. Besok Ayah Fais bakal ke sini lagi, nggak? Jemput Danish pulang." Pertanyaan Danish yang tampak sibuk dengan mainan barunya, membuat Senja terkejut. Dia merasa tidak enak pada Fais. Menurutnya, Danish sudah sangat berlebihan. 

"Danish! Nggak boleh gitu, Sayang. Om Fais kerja, kita nggak boleh ngerepotin Om Fais terus," tegas Senja terdengar sedikit membentak. 

Otomatis Fais terkejut, apalagi putranya. Bocah itu menatap takut pada Senja. Belum pernah Danish melihat bundannya semarah itu.

"Maaf, Bunda. Danish janji nggak bakalan bikin Ayah Fais repot lagi," ujar Danish sembari menunduk, menahan tangis. 

"Nggak kok, Sayang. Danish sama sekali nggak ngerepotin, Ayah Fais. Besok Ayah pasti ke sini buat jemput Danish."

"Mas."

Wanita dalam balutan hijab instan itu seketika terbungkam. Saat Fais menatap tajam ke arahnya. Layaknya seorang ayah yang tidak terima ketika sang anak dimarahi ibunya. 

"Beneran, Yah? Tapi, nanti Bunda marah," keluh Danish dengan sembari memanyunkan bibir. Seketika Fais merasa kasihan, namun juga merasa pemandangan di depannya tampak menggemaskan. 

"Enggak kok, Sayang. Bunda nggak marah. Maaf ya, tadi Bunda nggak sengaja. Danish tunggu di sini dulu ya, Bunda mau ngomong sama Om Fais," bujuk Senja. 

"Ayah Fais, Bunda. Bukan Om Fais," protes bocah kecil itu. Tanpa Senja sadari, Fais menyunggingkan senyumnya sekilas. 

"Mas, sebaiknya kita bicara di luar."

.

"Mau ngomong, apa?" tanya Fais setelah mereka berada di luar, yang sedikit menjauh dari ruangan Danish di rawat. Agar pembicaraan mereka tidak sampai terdengar olehnya.

Terlihat Senja menarik nafas beberapa kali sebelum memulai pembicaraan, sementara Fais menunggu dengan bersedekap dada. 

"Eum, sebelum makasih banyak ya, Mas, udah bantu aku sama Danish. Maaf, udah banyak ngerepotin Mas Fais dari semalam. Dan aku juga minta maaf sekali atas sikap Danish. Mas pasti ngerasa nggak nyaman. Eum, gimana ya ngomongnya ... sebaiknya Mas jangan terlalu dekat dengan Danish. Bukannya aku nggak suka, tapi Mas tahu sendiri, kan, Mas Gibran gimana? Aku cuma nggak mau Mas Fais dalam masalah," jelas Senja hati-hati, agar laki-laki pemilik wajah paripurna itu tidak tersinggung. 

"Kalau cuma itu yang mau diomongin, kamu nggak usah khawatir, aku bisa mengatasinya." 

"Tapi, Mas ...."

Senja memundurkan langkahnya,saat Fais berjalan mendekat. 

"Aku juga mau ngomong sesuatu, Senja. Aku tahu aku bukan siapa-siapa, dan nggak berhak atas Danish. Tapi, aku cuma mau minta satu hal, tolong jangan bicara seperti tadi di depan Danish. Apalagi sampai meninggikan suara. Dia itu masih kecil, belum ngerti apa-apa," tegas Fais. 

"Mas, aku tahu yang terbaik untuk Danish. Jadi, ...."

"Kamu nggak tahu, Senja. Danish cuma ingin merasakan gimana rasanya punya ayah. Di usianya segitu dia sangat butuh figur seorang ayah. Dan aku ingin menjadi sosok yang dibutuhkan Danish. Jadi, tolong jangan hancurkan lagi kebahagiaannya."

"Jadi, maksud Mas Fais, selama ini aku telah menghancurkan kebahagiaan Danish. Aku tidak tahu apa yang Danish butuhkan,begitu?!" cerca Senja yang mulai emosi. Tidak terima Fais menuduhnya seperti itu. Jahat sekali, pikir Senja.

"Kalau kamu tahu apa yang Danish butuhkan, kamu tidak akan bertahan dengan laki-laki br**ngsek seperti Gibran. Asal kamu tahu, Senja, itu saja sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan kebahagiaan Danish."

Pembicaraan mereka mulai memasuki tahap yang menegangkan. Dan apa yang baru saja Fais lontarkan, sangat menyakiti Senja. 

'Benarkah aku yang telah menghancurkan kebahagiaan Danish?' tanya wanita itu dalam hati. 

"Tidak! Aku tidak menghancurkan kebahagiaan Danish. Aku tidak melakukan itu, ibu macam apa yang tega menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri," ujar Senja sembari menggeleng-geleng kepala. 

"Ya Tuhan, Senja!"

"Aku jahat kan, Mas?"

Wanita itu terus meracau dengan tatapan kosong dan berkaca. Senja seperti kehilangan dirinya. Seperti bukan Senja. Fais yang merasa khawatir, tanpa berpikir panjang langsung meraihnya ke dalam pelukan. 

"Hei, tidak Senja. Bukan begitu maksudku. Maaf, aku salah bicara. Kamu ibu yang sangat baik untuk Danish."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ayah Untuk Danish   Bab 23 Teman Kecil Itu

    Bergetar tubuh Senja, getaran hebat begitu terasa sampai ke urat nadinya. Jantung wanita itu bertalu laksana genderang perang saat langkah Gibran perlahan semakin mendekatinya.Hanya beberapa puluh senti saja ruang yang tersisa. Bahkan saat Bunda Danish belum sempat bersiap-siap untuk bangkit, mantan suaminya itu sudah membungkukkan diri di hadapannya. Tentu saja dengan tatapan penuh amarah dan menghina.See, kamu tidak akan benar-benar bisa lolos dariku. Seolah begitu pesan tersirat dari tatapan elang milik Gibran."M-mas," lirih Senja terbata."Apa? Kau ingin bermain-main denganku, hem?""Kumohon jangan seperti ini, Mas. Tolong biarkan aku pulang untuk bertemu anakku" pinta wanita yang kerudungnya mulai basah tersebab deraian air mata."Tentu saja kita akan bertemu dengan anak kita. Tapi, setelah urusan kita berdua selesai, Senja. Bagaiman

  • Ayah Untuk Danish   Bab 22 Antara Hidup dan Mati

    Hawa nafsumu adalah induk segala berhala: berhala jasmani adalah ular, namun, berhala ruhani adalah naga.~Jalaluddin Rumi~.Dalam sebuah kamar tidur bernuansa kayu, Senja mengerjab perlahan. Pikirannya berkerja keras untuk mendapat jawaban bagaimana bisa dia berada di dalam ruangan itu.Kamar yang nyaman, yang pada lantainya, dinding serta ranjang yang sedang Senja tempati mengandung unsur kayu dari beberapa jenis pilihan, seperti jati, mahoni, cedar, pinus dan beberapa lainnya.Tiap-tiap dari mereka memiliki ciri khas masing-masing. Hingga wanita itu sampai terkesima untuk beberapa detik lamanya, karena aroma khas dari kayu yang menusuk indra penciumannya. Senja termasuk penyuka suasana alam, sehingga aroma itu menjadi candu.Pada dindingnya didominasi oleh kayu olahan sebagai panel dinding yang mengingatkan pada gaya Mid

  • Ayah Untuk Danish   Bab 21 Penculikan

    Happy reading ❤️💝"Mas Gibran?" Wanita yang baru saja muncul di balik punggung laki-laki paruh baya itu terlihat panik."M—mas Gibran ... kenapa bisa ada di sini?"Dalam suaranya yang tergagap, terdapat getaran yang terdengar jelas menembus telinga dua laki-laki yang sedang bersitegang itu.Gibran menatap Natasya dengan mata menyala-nyala. Sementara paruh baya di sampingnya, tampak biasa saja. Tidak ada raut keterkejutan sama sekali di wajahnya yang terlihat mulai banyak garis kerutan.Kini Gibran menyadari satu hal, tentang suatu pertanda yang sebelumnya tidak pernah disangka akan terjadi, bahwa di sini hanya dirinya yang tidak tahu apa-apa. Hanya dia yang dibodohi, hanya dia yang dibohongi. Hanya dia yang diperlakukan dengan tidak layak begini. Tidak manusiawi. Begitu.Hingga satu pertanyaan sempat muncul d

  • Ayah Untuk Danish   Bab 20 Siapa yang Kotor Sebenarnya

    Happy reading 💗💓❤️Hukum tabur tuai sedang berlaku. Semesta sedang menunjukkan pembalasannya..Gibran menegang di tempatnya. Perasaannya campur aduk, antara takut dan penasaran.Benar. Meski sudah mendengar penjelasan Natasya sebelumnya tentang laki-laki yang kini berdiri di hadapannya, tapi hati kecil Gibran tidak bisa menyangkal. Ia ... ragu dengan wanita itu. Tidak yakin kalau bayi itu darah dagingnya."Maksud kamu apa?" tanya Gibran tak lagi menggunakan bahasa formal. Meski begitu, sorot matanya semakin tajam."Wah, rasa penasaran ternyata bisa membuat seseorang semakin akrab, ya?" ejek laki-laki asing itu.Laki-laki misterius yang menemui Natasya dan mengunjungi toko bunga milik Senja, tadi. Laki-laki yang berhasil membuat Fais harus merasa cemburu. Sebab belum pernah Fais temukan pembeli yang memberi bunga yang

  • Ayah Untuk Danish   Bab 19 Menemukan

    "Jika kamu menemukan seseorang yang kamu cinta dalam hidup, kamu harus mempertahankan dan merawatnya. Dan jika kamu cukup beruntung menemukan orang yang mencintaimu, kamu harus melindunginya."~Lady Diana~.Bugh!"Ayah!" pekik Danish saat melihat Fais yang tiba-tiba terkapar di atas tanah berpaving."Aissh!" Fais meringis merasakan nyeri di tulang rahangnya, sembari berusaha bangkit.Betapa terkejutnya laki-laki itu, setelah mengetahui siapa yang baru saja mendaratkan pukulan di wajahnya."Gibran?!"Sementara Danish, sudah berkacak pinggang dan mata yang menghunus tajam pada orang yang selama ini bocah kecil itu ketahui, benci dipanggil Ayah olehnya."Kenapa kamu memukul ayahku?!" teriak anak itu menggelegar. Terdapat amarah yang cukup besar dalam sepasang bola matan

  • Ayah Untuk Danish   Bab 18 Titik Terang

    HAPPY READING 💕💖Selain musim penghujan, juga sedang musim seseorang sangat jatuh cinta. Lalu, rasa cemburu juga ikut-ikutan ingin berbicara.Segalanya baru dimulai, hujan, cemburu, dan cinta.Sayangnya, hanya berlaku untuk satu pihak saja. Cinta tidak akan sempurna, kecuali dua telapak tangan bertemu dan menghasilkan suara dari tepukan mesra.."Maaf, Anda siapanya Natasya?"Terhenyak Natasya. Matanya menatap takut ke arah laki-laki yang baru saja menyapa mereka.Natasya menggeleng, saat laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya. Seolah meminta persetujuan pada istri Gibran sebelum membuka suara."Saya ...."" Ibu Natasya!" Panggilan suster dari balik kaca transparan menandakan keberuntungan sedang berpihak pada wanita itu."Ayo, Sayang, sekarang giliranku."

  • Ayah Untuk Danish   Bab 17 Keputusan

    HAPPY READING 💘☺️MAAF TYPO BERTEBARANSebagaimana maksud dari sebuah keikhlasan, yaitu kerelaan akan harapan yang tak pernah menjadi kenyataan, melainkan kenangan. Hanya untuk dikenang sebagai sebatas angan.Gibran tengah mengalaminya, laki-laki yang parasnya serupa jelmaan pangeran bagi seorang perempuan, di masa lalu, kini tengah merasa dirinya berada pada titik paling rendah dan curam.Terlempar dan tersandera di pusat bumi, dengan hanya kegelapan yang didapatinya ke mana arah tangan meraba, dan mata menerawang. Di setiap sudut, timur dan barat, selatan dan utara. Gibran merasa dirinya paling tersiksa dan terluka. Hanya dirinya.Mengira Senja wanita paling kejam, bisa melupakannya begitu saja. Senja dianggap begitu jahat, sebab tak pernah hadir pada sidang gugatan perceraian yang wanita itu layangkan di pengadilan, hingga saat perkara diputuskan.Yang data

  • Ayah Untuk Danish   Bab 16 Menghadiri Sidang Perceraian

    Terhitung dari segala hari yang telah dilalui tanpa Senja dan buah hati yang sempat tak sudi 'tuk diakui. Baru sekarang, Gibran terlihat sangat berantakan. Untuk pertama kalinya.Baru kali ini, air matanya mengucur tak henti. Baru kali ini, foto Danish yang terletak di atas meja di kamar bekas bocah itu, menjadi perhatiannya.Gibran menatapnya lekat-lekat. Menyentuh permukaan bingkai kaca itu dengan tangan gemetar. Mengukur setiap inci wajah anak kecil di balik bingkai kaca itu dengan seksama. Yang hampir 80 persen mewarisi dirinya. Sisanya milik Senja. Laki-laki itu tersadar, Danish adalah murni perpaduan mereka berdua."Anakku. Maafkan Ayah, Nak. Maaf. Selama ini Ayah bod0h.""Ya Tuhan, aku telah menghancurkan rumah tanggaku dengan keegoisan dan kebod0han. Aku telah menyakiti istriku dan mengkhianatinya. Perbuatanku sangat hina. Aku tidak pantas untuk dimaafkan

  • Ayah Untuk Danish   Bab 15 Tragedi di Hari Pernikahan

    Telah bertekad untuk melepaskan diri, namun, tali takdir terus membelit tanpa henti.."Anak Ayah, kenapa? Kok kelihatan lesu? Danish sakit?" Di seberang sana, suara Fais terdengar khawatir."Nggak, Yah. Danish habis main hujan tadi. Ayah lagi apa? Danish kangen sama Ayah Fais. Kapan Ayah ke sini, lagi?""Ya ampun jagoan, Ayah. Jangan sering-sering main hujan ya, Nak. Nanti Danish bisa demam. Eum, Ayah baru pulang dari kantor, sekarang lagi istirahat. Ayah juga kangeennn banget sama Danish. Beberapa hari lagi Ayah ke sana, ya, sekalian jemput Danish pulang sekolah. Kan, nanti hari Senin, kata Bunda, Danish mau sekolah.""Jadi, Ayah mau jemput Danish di sekolah?""Iya, dong. Boleh nggak nih, Ayah, jemput?""Yeee! Asik! Boleh, Yah. Danish sih maunya setiap hari dijemput sama Ayah!""Kan, Ayah harus kerja

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status