LOGIN
Bau tajam Sandalwood bercampur aroma darah yang hampir membusuk adalah hal pertama yang menusuk indra Elara.
Ia tersentak, mata terbelalak, tubuhnya menjerit dalam kebingungan. Dinginnya lantai batu di sel penjara terasa nyata di punggungnya, namun sentuhan yang ia rasakan kini adalah kelembutan sutra. Telinganya masih berdenging oleh gema cambukan terakhir. "Aku mati..." bisiknya, suaranya kering seperti padang pasir. Ia memaksa dirinya duduk. Kengerian yang ia rasakan adalah memori sempurna dari eksekusi yang seharusnya baru saja ia alami: difitnah, dilucuti gelar Permaisuri, dan dibiarkan membusuk di sel hingga napas terakhirnya direnggut oleh tangan Algojo yang dibayar Valerian. Di mana luka tusukan itu? Di mana ikatan borgol yang telah merobek kulitnya? Elara menatap tangannya. Jari-jari lentik dan putih tanpa bekas luka sedikit pun. Matanya tertuju pada cermin perunggu besar di sudut ruangan. Di sana, terpantul sosok seorang gadis. Rambutnya hitam legam, terurai indah. Matanya yang besar dan jernih memancarkan kepolosan yang dulu pernah ia miliki. Pipi itu masih merona sehat, belum ditumpahi air mata dan kesedihan yang tak berujung. Ini adalah wajahnya saat berusia tujuh belas tahun. Jantung Elara berdetak seperti genderang perang di dalam dadanya. Ia segera bangkit, berlari ke cermin. Baju tidur sutra merahnya jatuh longgar di bahu. Ia menyentuh wajahnya. Tidak ada kerutan kesedihan yang mengukir di sudut mata. “Ini nyata… ini bukan ilusi… bukan siksaan akhirat,” gumamnya, suara yang keluar terdengar jauh lebih kasar dan berat dari suara Putri Elara yang manja. Ia menoleh ke sekeliling ruangan. Kemewahan yang memuakkan ini adalah Istana Musim Semi, kediamannya sebagai Putri Pertama Wangsa Kaira. Jendela besar terbuka ke arah Taman Kemakmuran. Ia mengenali ukiran naga perak pada tiang ranjang dan lukisan burung Phoenix yang dibingkai emas di dinding utara. Ia kembali. Elara berlari menuju kalender dinding yang mewah, yang dihiasi batu giok dan mutiara. Tangannya gemetar saat menyentuh angka yang terukir di sana. Bulan Keempat, Hari ke-21, Tahun ke-9 Era Kekaisaran. Momen itu menghantamnya seperti palu godam. Itu adalah tiga bulan sebelum perayaan ulang tahun Kaisar Valerian, yang berujung pada pengangkatannya sebagai Permaisuri. Tiga bulan sebelum ia menyaksikan kepala Ayahandanya dipenggal di depan alun-alun. Tiga bulan sebelum Wangsa Kaira dihancurkan dan kekayaan mereka dirampas. Tiga bulan sebelum ia diseret ke ruang penyiksaan hanya karena cinta butanya. Tiba-tiba, ia tidak bisa bernapas. Siksaan dari kehidupan masa lalu terasa begitu hidup. Ia ingat bagaimana Valerian, dengan mata dingin yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, menjatuhkan hukuman mati. Ia ingat bisikan Adelia, adik perempuannya yang berlumur madu dan racun, yang mengatakan bahwa dia adalah pihak yang menang. "Dasar bodoh," Elara meremas kain sutra di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Bagaimana aku bisa sebodoh itu? Buta karena cinta yang tidak ada!" Ia tersungkur ke lantai. Selama beberapa detik, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kebencian yang mendalam. Kebencian terhadap Valerian, terhadap Adelia, dan yang paling utama, kebencian terhadap dirinya sendiri yang rapuh dan mudah ditipu. Namun, air mata tidak jatuh. Kebencian telah membakar semua kelembaban dalam dirinya. Ia menarik napas panjang, bau Sandalwood yang kini terasa ironis. Aku kembali. Aku punya kesempatan ini. Pengetahuan tentang masa depan adalah senjata yang lebih tajam dari pisau terbaik di Kekaisaran. Ia tahu setiap simpul intrik yang akan dimainkan oleh Adelia. Ia tahu setiap kelemahan Valerian. Ia tahu setiap jebakan yang mereka pasang untuk Wangsa Kaira. Ia tidak akan membiarkan sejarah terulang. Permaisuri Elara yang rapuh telah mati. Yang kembali adalah iblis yang lahir dari abu dendam, tanpa hati dan tanpa ampun. Ia mengangkat tangannya, menatap telapak tangannya yang polos. Bukan untuk cinta, Valerian. Kali ini, untuk pembalasan. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan dari balik pintu kayu berukir. "Putri? Apakah Anda sudah siap? Saya dengar Putra Mahkota Valerian akan datang sebentar lagi untuk jamuan teh sore. Bibi Lin menyiapkan Green Tea kesukaan Anda." Suara Bibi Lin, kepala pelayan yang setia dan hangat. Bibi Lin yang kemudian digantung oleh Valerian hanya karena menolak bersaksi melawan Elara. Mendengar nama Valerian, otot di rahang Elara mengeras. Valerian... Ia akan datang. Di garis waktu ini, Valerian masih berpura-pura jatuh cinta padanya, berusaha memenangkan hati dan mahar kekayaan Wangsa Kaira. "Aku akan menyambutmu, Valerian," pikir Elara. "Aku akan membiarkanmu berpikir bahwa aku masih boneka naifmu." Elara bangkit, merapikan gaun tidurnya. Dengan langkah tenang, ia berjalan menuju pintu, memaksakan senyum tipis yang dulu terlihat lugu, namun kini terasa dingin dan mematikan. "Ya, Bibi Lin," jawabnya, suaranya kembali manis dan lembut, hanya sedikit getar yang tersembunyi. "Tentu saja. Tolong siapkan gaun terbaikku. Gaun yang paling disukai oleh... Tuan Valerian." "Dan Bibi Lin," tambah Elara, sebelum Bibi Lin sempat bergerak, "Tolong pastikan tehnya sangat manis, seolah-olah tidak ada racun di dunia ini." Bibi Lin membungkuk, tidak menyadari perbedaan mencolok dalam sorot mata Putri kesayangannya. "Akan saya lakukan, Putri." Saat pintu tertutup, senyum Elara memudar. Ia berjalan ke jendela, menatap pemandangan Istana yang megah, yang sebentar lagi akan menjadi medan perangnya. Permainan sudah dimulai. Dan di akhir permainan ini, hanya ada satu pemenang.Enam bulan ketenangan pasca penobatan Kaisar Kenzo terasa seperti kedamaian palsu di tengah badai. Elara telah memenangkan perang internal, tetapi ia tahu bahwa stabilitas Kekaisaran yang baru dibangunnya akan segera diuji oleh dunia luar. Pagi itu, Aula Penasihat Agung terasa dingin dan formal. Cahaya pagi menyaring melalui jendela kaca patri, menerangi ketegangan di wajah para pemimpin Kekaisaran. Kaisar Kenzo, meskipun jujur dan baik hati, tampak cemas, sesekali meremas tangannya yang diletakkan di atas meja marmer. Tuan Kaira terlihat waspada, sementara Lord Kael duduk di sudut, auranya tenang namun tajam. "Laporan darurat dari Pintu Utara, Yang Mulia Permaisuri," kata kurir Jenderal Orion, menyerahkan gulungan berlambang api. "Pasukan Kerajaan Xiong telah melanggar perjanjian lama. Mereka telah menguasai tiga pos perbatasan kecil kita dan mengklaim bahwa tanah itu adalah milik mereka, karena 'Kaisar baru tidak mengakui perja
Gema Kekejian di CelahMalam di Celah Pegunungan Timur terasa mencekam dan dingin, tetapi di atas Tembok Naga, ada ketegangan yang lebih panas daripada api. Pasukan Kekaisaran, dipimpin oleh Jenderal Lio, berdiri siap, memegang senjata yang terasa tak berarti melawan monster dalam legenda.Kael berada di garis depan, di pusat kendali, memantau sistem Meriam Akustik dan Senjata Asam. Ia bisa merasakan kebencian yang terpancar dari kegelapan. Elara, di Pusat Komando rahasia, memimpin 20 siswa elit Akademi, termasuk Lena. Merekalah satu satu nya pertahanan sihir spiritual Kekaisaran.Di kegelapan, genderang perang tradisional Raja Naga Hitam tidak terdengar, tetapi suara lain yang jauh lebih menakutkan menguasai celah: deru rendah, gerutuan seragam, dan hentakan kaki tanpa ritme manusia yang datang dari gunung.Kael mengangkat teleskop sihir nya. Ia melihat Pasukan Super Fanatik: makhluk humanoid, tinggi, dengan otot-otot yang menggembung tidak wajar, kulit keungua
Ancaman yang Melampaui PerangKemenangan diplomatik atas Kerajaan Xiong hanya memberikan sedikit kelegaan bagi Elara dan Kael. Ancaman dari Daratan Tinggi, yang kini dipimpin oleh Raja Naga Hitam yang gila sihir, jauh lebih mendesak dan mengerikan.Laporan tentang Rekayasa Sihir Genetik pada pasukan Raja Naga Hitam bukanlah rumor; itu adalah konfirmasi kembalinya praktik sihir gelap yang dilarang ribuan tahun lalu. Pasukan ini, yang kebal terhadap rasa sakit dan didorong oleh fanatisme kultus yang ekstrem, tidak dapat dihentikan oleh meriam konvensional atau bahkan Tembok Naga yang diperkuat."Jika laporan ini benar, prajurit biasa kita akan hancur dalam pertarungan satu lawan satu. Kita akan mengirim mereka ke tempat pembantaian," kata Jenderal Lio, suaranya dipenuhi ketakutan yang langka.Kael, sebagai Kepala Strategi, memiliki tanggung jawab untuk menemukan cara untuk menghentikan mereka secara fisik, sementara Elara harus mencari penangkal spiritual.🔬
Ancaman di Lautan EsMeskipun Kekaisaran telah mengalahkan Atlantis dan Daratan Tinggi dalam pertempuran langsung, ancaman terdekat dan paling mengkhawatirkan datang dari sekutu mereka yang paling tidak stabil: Kerajaan Xiong. Laporan intelijen Kael mengenai pembangunan Armada Penyerang Es di Laut Utara membuktikan bahwa Raja Lu Xiong tidak mempercayai janji damai Wangsa Kaira.Armada Es ini dirancang untuk berlayar menembus rute laut yang ditutupi es tebal di musim dingin—jalur yang selama ini dianggap mustahil dan tidak dapat dijaga oleh Kekaisaran. Tujuannya adalah melancarkan serangan kejutan langsung ke pelabuhan utara Kekaisaran, memanfaatkan kelemahan Kekaisaran di perairan dingin."Raja Lu melihat kita berbagi teknologi pertahanan (Tembok Naga) dan bukan teknologi serangan (Kapal Baja dan Meriam)," analisis Kael kepada Elara. "Dia melihat kita sebagai kekuatan darat yang lemah di laut utara. Dia mencoba memeras kita atau menyerang saat kita lengah."Elar
Periode Emas dan Penciptaan WarisanKemenangan dramatis Elara di Tembok Naga (melawan Daratan Tinggi) dan di garis pantai (melawan Atlantis) membawa Kekaisaran ke era damai dan stabilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Elara, kini Wali Kaisar Berkuasa Penuh, bersama Adipati Wali Kael, fokus sepenuhnya pada pekerjaan yang paling penting: menciptakan warisan yang abadi.Mereka menyadari bahwa kemenangan militer dan politik hanya bersifat sementara. Warisan sejati adalah sebuah sistem yang akan menjaga Kekaisaran tetap kuat dan adil setelah mereka tiada.Langkah pertama mereka, dan yang paling revolusioner, adalah merealisasikan janji yang dibuat kepada rakyat: menciptakan Akademi Kekaisaran, Pilar Meritokrasi.Akademi Kael dan Elara: Meruntuhkan Kelas SosialAkademi Kekaisaran dirancang sebagai pusat pelatihan elit yang sepenuhnya berdasarkan meritokrasi. Tujuannya adalah untuk melatih generasi baru administrator, insinyur, dan komandan yang memiliki ke
Peringatan Terakhir di Garis Pantai Seluruh Kekaisaran diselimuti ketegangan, meskipun rakyat hanya mengetahui "Latihan Militer skala besar." Kael telah mengumumkan pengerahan besar-besaran di sepanjang garis pantai, termasuk senjata sihir angin eksperimental, sebagai persiapan menghadapi ancaman Kerajaan Atlantis yang datang dari laut dalam. Elara dan Kael berada di pantai rahasia yang terpencil, dekat dengan lokasi di mana Kael mendirikan garis pertahanan utama. Senjata sihir angin Kael—meriam besar yang dirancang untuk memanipulasi tekanan atmosfer—diposisikan di belakang bukit pasir. Elara telah mencapai kondisi spiritual puncak untuk melaksanakan Ritual Pengikat Lautan. "Mereka datang," kata Elara, tanpa melihat teleskop. Dia hanya merasakan energi lautan yang gelisah. "Bukan gelombang pasang, Kael. Mereka datang di bawah air, membawa kebencian dari kedalaman." Tiba-tiba, permukaan laut yang semula tenang, mulai meman







