LOGINSementara aku sedang bertarung nyawa di tepi jurang, pemandangan di atas Bukit Parombunan justru jauh berbeda.
Bonaga Simamora tampak berlari kencang menanjak lereng, napasnya tersengal-sengal seperti dikejar setan. Ia berlari lurus menuju gerbang benteng desa yang tampak sunyi tanpa penjagaan. Begitu jaraknya cukup dekat, ia berteriak dengan suara parau yang menggema ke seluruh penjuru bukit.
"Butet! Butet...!!"
"Butet, tutup pintu gerbangnya cepat! Cepat!!" suaranya bergetar hebat, tangannya melambai-lambai panik seolah-olah seluruh pasukan kerajaan sedang berada tepat di belakang punggungnya.
Mendengar teriakan ayahnya, seorang gadis cantik dengan gaun kuning yang kini sudah sedikit kotor berlari keluar dari dalam benteng. Ia menatap heran ke arah jalan setapak di belakang ayahnya yang kosong melompong.
"Ayah? Kenapa Ayah pulang sendiri?" Butet mengernyitkan alisnya yang indah. "Di mana Tuan Muda Kepala Desa?"
"Aish! Si idiot itu sudah mati!" sembur Bonaga sambil bertumpu pada lututnya, berusaha meraup oksigen sebanyak-mungkin. "Kalau aku tidak pintar dan tidak lari secepat kilat, kamu mungkin tidak akan pernah melihat ayahmu lagi, Butet!"
Bonaga tiba-tiba terdiam, menundukkan kepalanya, lalu menghela napas panjang yang sangat dalam. Raut wajahnya berubah muram, penuh dengan penyesalan yang tampak begitu tulus.
Melihat ayahnya yang mendadak melankolis, Butet merasa iba. Ia mendekat dan mengusap bahu ayahnya dengan lembut. "Ayah... orang yang sudah mati tidak akan bisa hidup kembali. Jadi, Ayah tidak perlu sesedih itu. Tuan Muda pasti sudah tenang di sana."
Bonaga mendongak, menatap putrinya dengan tatapan bingung. "Siapa yang sedih karena dia?"
"Eh?" Butet bengong.
"Aku sedih karena teringat suara kuda itu, Butet! Kuda itu mendesah kesakitan karena bokongnya datusuk... Kasihan sekali dia, pasti sangat perih," lanjut Bonaga sambil memegangi dadanya, seolah-olah ia bisa merasakan kepedihan si kuda, sementara nasibku yang sedang bertaruh nyawa sama sekali tidak masuk dalam daftar kekhawatirannya.
Butet hanya bisa berdiri mematung, nyaris tak percaya dengan respon ayahnya. Di saat pemimpin mereka kemungkinan besar sedang dicincang menjadi daging cincang, ayahnya justru menangisi bokong seekor kuda.
"Desa ini sudah tidak bagus untuk kita tinggali.." ujarnya sambil melangkahkan kakinya
"Ambil semua yang kamu lihat, ayah ingat ada bawang putih di dapur.." serunya memberikan perintah kepada putrinya.
Kembali ke Jalur Maut
Di saat Bonaga sibuk bersimpati pada kuda, aku—Raja Doli—baru saja melintasi tikungan terakhir sebelum tanjakan menuju gerbang desa.
Hiya.....
Kereta kuda yang kubawa melompat-lompat liar karena jalanan yang berbatu. Di belakangku, Ribak Sinambela dan para pengawal sudah sangat dekat. Aku bisa melihat gerbang benteng Parombunan di atas sana, tapi gerbang itu perlahan mulai menutup!
"BONAGA! JANGAN TUTUP GERBANGNYA, TUA BANGKA SIALAAANN!!" teriakku dengan sisa tenaga yang ada.
Di tengah kepanikan luar biasa—dengan kuda yang mengamuk, kereta yang hampir terbalik, dan pasukan Ribak Sinambela yang tinggal beberapa meter di belakang—sang Dewi Celestial mendadak muncul. Ia melayang santai tepat di sisi kananku, mengikuti kecepatan kereta seolah gravitasi dan angin kencang tak berpengaruh padanya.
"Hei! Selamat, kamu sudah menyelesaikan sebuah misi!" serunya riang. Suaranya lembut dan halus, berbanding terbalik dengan suasana maut di sekitarku. Ia tersenyum lebar, seakan sangat menikmati pemandangan wajahku yang pucat pasi. "Kamu memperoleh kesempatan untuk melakukan undian lotre. Apakah kamu ingin mengundinya sekarang?"
"Undi sekarang!!" teriakku tanpa pikir panjang. Tanganku gemetar menahan tali kekang, sementara mataku melirik spion gaib yang menunjukkan ujung tombak Ribak hampir menyentuh bagian belakang kereta.
Melihat aku yang sudah di ambang maut, sang Dewi malah menutup mulutnya dan terkikik, mulai mengajak bercanda di saat yang tidak tepat. "Oh? Kamu sedang buru-buru ya? Jadi, apakah kamu ingin mencambuk kudanya dulu atau menarik hadiahnya sekarang?"
"Aku akan mencambukmu kalau tidak cepat!!" sahutku geram, benar-benar habis kesabaran.
"Yo... galak sekali. Apakah kamu ingin mencambuk pantatku atau—"
"AKU INGIN MENARIK HADIAHNYA SEKARANG JUGA!" teriakku menggelegar, suaraku dipenuhi kegeraman tingkat tinggi. Secara refleks, aku mencoba meraih tubuh spiritualnya untuk mengguncang bahunya, tapi dengan gerakan seringan bulu, ia menghindar sambil tertawa mengejek.
"Eh, hei! Jangan kasar-kasar dong," ejeknya dengan tawa kecil yang menyebalkan.
"Aku sedang dalam situasi seperti ini, apakah kamu ingin membunuhku? Jika kamu ingin membunuhku, bunuh saja aku sekarang!" teriakku pasrah. Suaraku parau, air mata nyaris menetes karena kombinasi rasa takut, lelah, dan kesal pada takdir yang begitu mempermainkan.
Aku melepaskan satu tanganku dari tali kekang, membiarkan kapak beratku terkulai di samping. Aku sudah tidak peduli lagi jika kereta ini masuk jurang atau tombak Ribak menembus punggungku.
"Cih, dasar pria lemah. Baru begini saja sudah minta mati," gumam sang Dewi, namun kali ini nadanya tidak mengejek. Ada sedikit kelembutan—atau mungkin rasa kasihan—dalam suaranya.
Waktu seolah melambat secara ekstrem. Suara teriakan Ribak di belakang terdengar seperti dengungan lambat yang menjauh "Pencuri kecil aku akan membunuhmu!"
"Mulai mengundi"
Seketika, sebuah roda lotre emas muncul berputar di depan mataku, menutupi sebagian pandangan jalan yang jurangnya sudah di depan mata.
[LOTRE CELESTIAL SEDANG BERPUTAR...]
Tiktiktiktiktik...
"Ayo, ayo! Berikan aku sesuatu yang bisa menyelamatkan nyawaku sekarang juga!" batin penguasa warnet ini dengan penuh harap.
"Baiklah, Putra Langit yang malang," bisik sang Dewi tepat di telingaku. "Karena kamu sudah berani mempertaruhkan nyawamu demi misi 'cabul' ini, aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja. Lihatlah..."
"Bisakah kamu mempercepat dalam mengundinya? Aku tidak punya banyak waktu lagi yang tersisa!"
[SISTEM: UNDIAN BERHENTI!]
Sebuah cahaya keemasan meledak dari roda lotre, membutakan pandanganku sejenak. Di tengah kegelapan, muncul sebuah teks bercahaya yang menjawab keputusasaanku:
[HADIAH LOTRE: SELAMAT!!! ANDA TELAH MENDAPATKAN SEORANG PEMBURU "BONDUT JOLMA" YANG TIDAK DIKENAL]
Sepintas, bayangan bercahaya emas berwujud manusia kekar berkelebat di depan mataku. "Oh? Jadi hadiah undian kali ini bisa berupa manusia hidup?" gumamku, mulai merasa sedikit aman. Namun, aku celingukan ke sana kemari. "Di mana orang itu? Sekelilingku cuma ada batu dan jurang!"
Apakah dia akan jatuh dari langit seperti meteor? Atau aku harus merapal mantra tertentu? Otak wibu-ku mulai bekerja di luar kendali karena panik.
"Sasuke Uchiha! Muncul kau! Lindungi tuanmu!" teriakku ke arah langit.
Melihat reaksiku, sang Dewi Celestial hanya bisa memasang wajah "bodoh"—ekspresi datar yang seolah mempertanyakan kewarasanku.
"Aku memanggilmu atas nama Sakura!" teriakku lagi, semakin tidak sabaran karena nyawaku di ujung tanduk. Dewi itu makin terlihat bingung. Aku tidak peduli, aku malah berpose dramatis mengayun-ayunkan kapak besarku layaknya sedang melakukan ritual pemanggilan tingkat tinggi.
"Harapan yang terkumpul mengarah ke cakrawala dan menjadi jalan yang bersinar! Muncul kau, pendekar pedang legendaris!" Aku membayangkan seorang samurai keren akan muncul. "Atas nama bulan, aku akan menghukummu! Prisma Bulan, beraksi!"
Huft... Sang Dewi hanya bisa menghela napas panjang, menatapku penuh iba.
SRAAAK!
Tiba-tiba, sebuah serangan tombak panjang melesat dari sisi kiriku. Ujung tajamnya nyaris merobek lengan bajuku. Mataku hampir keluar dari kelopaknya karena terkejut.
"Pencuri kecil! Jika aku tidak membunuhmu hari ini, aku bersumpah bahwa aku bukanlah seorang pria!" raung Parangan Bela yang sudah berhasil menyusul di samping kereta.
"Mampus aku!" jeritku.
Namun, di detik paling kritis itu...
"Kepala Desa! Jangan khawatir! Aku, BONDUT JOLMA, ada di sini untuk mendukungmu!"
Sebuah suara berat dan serak menggelegar dari arah depan kereta. Tiba-tiba, seorang pria bertubuh raksasa seolah muncul dari udara tipis. Tubuhnya tegap, otot-ototnya menyembul kaku, dan di dadanya terdapat bekas luka tebasan berbentuk silang (X) yang besar.
Ia mengenakan perisai duri yang mengerikan di kedua lengan dan bahunya, dengan pakaian bulu ala prajurit Mongolia yang gagah. Ia berdiri tegak di atas atap kereta yang sedang melaju kencang tanpa kehilangan keseimbangan sedikit pun.
"Eh? Bondut Jolma?" gumamku melongo. "Namanya kok lokal sekali? Tapi syukurlah, bukan Sailor Moon yang muncul!"
Bondut Jolma melirik ke arah Ribak Sinambela dengan tatapan predator. Ia mengepalkan lengannya yang berduri, siap menghancurkan siapa pun yang berani mengusik "Boss" barunya.
Mereka bertiga saling berpandangan, tampak tertegun sejenak mendengar pertanyaanku yang langsung menembak ke titik paling sensitif: alasan mereka memilih jalan kegelapan sebagai bandit.Guan Yu akhirnya melangkah maju. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, memberikan hormat yang sangat formal sebelum angkat bicara. "Sesampainya kami di sebuah desa tak jauh dari sini, kami melihat preman setempat melakukan kejahatan yang melampaui batas. Tanpa bisa ditahan, saudara kami membunuh mereka. Sekarang, pemerintah sedang memburu kami. Karena mendengar reputasi Tuan Raja yang disegani, kami sepakat untuk datang mengabdi ke sini."Aku mengangguk-angguk. Jujur saja, meski aku tahu mereka tokoh besar, aku tidak tahu detail sejarah mereka di garis waktu ini. Jadi aku sengaja memancing."Lalu, siapa di antara kalian bertiga yang membunuhnya?" tanyaku menyelidik.Liu Bei hanya terdiam seribu bahasa, wajahnya tetap tenang seperti ai
Waktu seolah membeku. Di tengah sorakan "Horas!" yang membahana, sebuah layar hologram transparan muncul di hadapanku, berkilat-kilat dengan efek api yang dramatis."Mantap juga, ada cutscene-nya segala," gumamku sambil menyilangkan tangan, menanti hadiah kemenangan atas si monster Dumang.[NOTIFIKASI SISTEM: HADIAH KEMENANGAN]Nama: Zhang Fei si Pembuat AnggurUsia: 18 TahunSkill: Pembuat Anggur (Kualitas: Dipertanyakan)Atribut Tersembunyi: Tidak AdaAku melongo menatap layar itu. "Bah! Zhang Fei?" teriakku dalam hati. "Jenderal ganas dari Zaman Tiga Kerajaan itu masuk ke sini jadi pembuat anggur? Bukannya ahli tombak perkasa, malah disuruh bikin minuman!"Lebih parahnya lagi, deskripsi sistem menyebutkan kualitas anggurnya buruk. Ini mah bukan dapet aset, tapi dapet tukang b
"SEKARANG!"Teriakan itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan markas Dumang. Dalam sekejap, jerami-jerami di sudut markas berhamburan. Para pria yang tadinya tampak lemah, mabuk, dan konyol dengan plester di kening, tiba-tiba berdiri tegak dengan tatapan dingin dan otot yang mengeras. Akting mereka berakhir; yang tersisa hanyalah predator yang siap menerkam."Desa Parombunan di sini! Orang yang tidak berkepentingan, segera menyingkir!" teriakku lantang, memberikan perintah yang menggelegar di tengah kekacauan."Semuanya! Kumpulkan mereka!"Mata Birong hampir keluar dari kelopaknya. Dalam kondisi mabuk berat, ia hanya bisa melongo melihat rekan-rekannya yang pingsan diseret dan diikat menjadi dua titik tumpukan besar. Namun, Sang Harimau tidak semudah itu dijinakkan."MAJU...!"Pasukan Parombunan bergerak serentak, golok di tangan mereka be
Suasana di dalam markas mendadak riuh saat rombongan itu masuk. Dumang Saruksuk, yang masih bersantai menikmati tuaknya di bawah pohon, mengernyitkan dahi melihat iring-iringan yang dibawa bawahannya."Birong, aku menyuruhmu hanya untuk mengusir mereka, tidak perlu sampai menangkap dan membawa semuanya ke sini...!" seru Dumang dengan nada malas, mengira Birong sedang berlebihan menjalankan tugas."Kakak Tertua, dengar dulu! Pria tua ini adalah penjual anggur," sahut Birong sambil menunjuk Torop. "Ia menjual anggur seharga 100 koin tembaga per mangkuk. Tapi ada tantangannya: jika kau bisa minum sepuluh mangkuk, kau tidak perlu membayar sepeser pun!""Ho... itu agak menarik," gumam Dumang, matanya mulai berkilat rasa tahu. "Anggur macam apa itu sampai ia berani berbisnis dengan cara gila seperti itu?""Birong, melihat penampilanmu, sepertinya kau sudah mencicipinya. Apa kau tidak kuat?" ejek salah satu rekan mereka
Uli perlahan membuka cadarnya, menampakkan wajah yang masih pucat karena terkejut sekaligus bingung. "Eh... Kenapa kamu ke sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar."Nona Sinaga, ada yang harus aku lakukan di sini. Lagipula, mana mungkin aku tenang-tenang saja di gunung sementara kau ada di Kota Tarutung menghadapi masalah ini," sahutku sambil melemparkan senyum tipis dan memberi sedikit penghormatan ala bangsawan gunung."Orang yang masih hidup tidur di dalam peti mati itu akan membawa sial!" ujar Uli dengan ekspresi wajah sangat serius, mencoba memberikan peringatan keras. Namun, aku hanya mengedikkan bahu, pura-pura tidak mendengar ceramahnya soal takhayul."Kau! Cepat bereskan ini," seruku kepada pelayan tua di depan restoran. "Jangan biarkan peti mati ini teronggok di halaman, bisa membuat pelanggan tidak senang. Dan jangan lupa, bawa masuk semua guci anggur yang ada di gerobak itu!""Baik, Tuan!" s
Suasana di pinggir Sungai Aek Doras begitu tenang, hanya suara gemericik air dan desau angin yang menemani para pemuka Desa Martinju menghabiskan waktu dengan memancing. Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar dari kekecewaan yang mendalam di hati sang Kepala Desa."Kupikir kita punya harga diri di sana. Tak disangka, wajah kita ternyata dianggap seperti pantat baginya!" seru Tahan Sagala dengan nada getir.Ia benar-benar kecewa. Ia ingat betul bagaimana dulu, saat Dumang Saruksuk nyaris tewas dengan luka fatal setelah bertarung melawan harimau sendirian, Martinju-lah yang menjadi penyelamatnya. Tahan Sagala sendiri yang merawatnya hingga sembuh total. Namun kini, kebaikan itu seolah sirna tertutup angkuhnya Kota Tarutung."Abang, sekarang bukan lagi masa lalu," sahut Garau, mencoba memprovokasi suasana. "Bos Dumang sudah tidak lagi bergantung pada kita untuk makan. Orang itu sudah tidak melihat kita sebagai saudara lagi!"







