ホーム / Fantasi / BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR / 79. STRATEGI MENTALITAS SANG JENDERAL MANULLANG

共有

79. STRATEGI MENTALITAS SANG JENDERAL MANULLANG

作者: Lampard46
last update 最終更新日: 2026-02-07 15:42:04

Sore Berikutnya

Raja Doli tampak tertidur keletihan di atas meja administrasi, tempat di mana puluhan data penduduk baru tadi diproses. Suara dengkurannya halus, menandakan betapa terkurasnya energi mental untuk mengurus drama keluarga besar ini.

"Tuan Doli..." sapa Jasmin. Suaranya lirih, memanggil dengan penuh rasa segan sembari berjalan mendekat perlahan.

Aku membuka mata sedikit, melihat Jasmin berdiri di sana. Ekspresinya penuh penghormatan, namun ada sikap kikuk dan kaku yang tak bisa ia
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   95. JENDERAL YANG MENJADI BANDIT

    Waktu seolah membeku. Di tengah sorakan "Horas!" yang membahana, sebuah layar hologram transparan muncul di hadapanku, berkilat-kilat dengan efek api yang dramatis."Mantap juga, ada cutscene-nya segala," gumamku sambil menyilangkan tangan, menanti hadiah kemenangan atas si monster Dumang.[NOTIFIKASI SISTEM: HADIAH KEMENANGAN]Nama: Zhang Fei si Pembuat AnggurUsia: 18 TahunSkill: Pembuat Anggur (Kualitas: Dipertanyakan)Atribut Tersembunyi: Tidak AdaAku melongo menatap layar itu. "Bah! Zhang Fei?" teriakku dalam hati. "Jenderal ganas dari Zaman Tiga Kerajaan itu masuk ke sini jadi pembuat anggur? Bukannya ahli tombak perkasa, malah disuruh bikin minuman!"Lebih parahnya lagi, deskripsi sistem menyebutkan kualitas anggurnya buruk. Ini mah bukan dapet aset, tapi dapet tukang b

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   94. PENAKLUKAN MONSTER GILA

    "SEKARANG!"Teriakan itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan markas Dumang. Dalam sekejap, jerami-jerami di sudut markas berhamburan. Para pria yang tadinya tampak lemah, mabuk, dan konyol dengan plester di kening, tiba-tiba berdiri tegak dengan tatapan dingin dan otot yang mengeras. Akting mereka berakhir; yang tersisa hanyalah predator yang siap menerkam."Desa Parombunan di sini! Orang yang tidak berkepentingan, segera menyingkir!" teriakku lantang, memberikan perintah yang menggelegar di tengah kekacauan."Semuanya! Kumpulkan mereka!"Mata Birong hampir keluar dari kelopaknya. Dalam kondisi mabuk berat, ia hanya bisa melongo melihat rekan-rekannya yang pingsan diseret dan diikat menjadi dua titik tumpukan besar. Namun, Sang Harimau tidak semudah itu dijinakkan."MAJU...!"Pasukan Parombunan bergerak serentak, golok di tangan mereka be

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   93. SERANGAN KEJUTAN

    Suasana di dalam markas mendadak riuh saat rombongan itu masuk. Dumang Saruksuk, yang masih bersantai menikmati tuaknya di bawah pohon, mengernyitkan dahi melihat iring-iringan yang dibawa bawahannya."Birong, aku menyuruhmu hanya untuk mengusir mereka, tidak perlu sampai menangkap dan membawa semuanya ke sini...!" seru Dumang dengan nada malas, mengira Birong sedang berlebihan menjalankan tugas."Kakak Tertua, dengar dulu! Pria tua ini adalah penjual anggur," sahut Birong sambil menunjuk Torop. "Ia menjual anggur seharga 100 koin tembaga per mangkuk. Tapi ada tantangannya: jika kau bisa minum sepuluh mangkuk, kau tidak perlu membayar sepeser pun!""Ho... itu agak menarik," gumam Dumang, matanya mulai berkilat rasa tahu. "Anggur macam apa itu sampai ia berani berbisnis dengan cara gila seperti itu?""Birong, melihat penampilanmu, sepertinya kau sudah mencicipinya. Apa kau tidak kuat?" ejek salah satu rekan mereka

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   92. JEBAKAN ANGGUR

    Uli perlahan membuka cadarnya, menampakkan wajah yang masih pucat karena terkejut sekaligus bingung. "Eh... Kenapa kamu ke sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar."Nona Sinaga, ada yang harus aku lakukan di sini. Lagipula, mana mungkin aku tenang-tenang saja di gunung sementara kau ada di Kota Tarutung menghadapi masalah ini," sahutku sambil melemparkan senyum tipis dan memberi sedikit penghormatan ala bangsawan gunung."Orang yang masih hidup tidur di dalam peti mati itu akan membawa sial!" ujar Uli dengan ekspresi wajah sangat serius, mencoba memberikan peringatan keras. Namun, aku hanya mengedikkan bahu, pura-pura tidak mendengar ceramahnya soal takhayul."Kau! Cepat bereskan ini," seruku kepada pelayan tua di depan restoran. "Jangan biarkan peti mati ini teronggok di halaman, bisa membuat pelanggan tidak senang. Dan jangan lupa, bawa masuk semua guci anggur yang ada di gerobak itu!""Baik, Tuan!" s

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   91. PENYAMARAN SEMPURNA

    Suasana di pinggir Sungai Aek Doras begitu tenang, hanya suara gemericik air dan desau angin yang menemani para pemuka Desa Martinju menghabiskan waktu dengan memancing. Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar dari kekecewaan yang mendalam di hati sang Kepala Desa."Kupikir kita punya harga diri di sana. Tak disangka, wajah kita ternyata dianggap seperti pantat baginya!" seru Tahan Sagala dengan nada getir.Ia benar-benar kecewa. Ia ingat betul bagaimana dulu, saat Dumang Saruksuk nyaris tewas dengan luka fatal setelah bertarung melawan harimau sendirian, Martinju-lah yang menjadi penyelamatnya. Tahan Sagala sendiri yang merawatnya hingga sembuh total. Namun kini, kebaikan itu seolah sirna tertutup angkuhnya Kota Tarutung."Abang, sekarang bukan lagi masa lalu," sahut Garau, mencoba memprovokasi suasana. "Bos Dumang sudah tidak lagi bergantung pada kita untuk makan. Orang itu sudah tidak melihat kita sebagai saudara lagi!"

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   90. PENOLAKAN DAN PENGHINAAN

    Suasana di dalam markas mendadak menjadi sangat berat. Tekanan mental dari Bonaga tadi dibalas oleh kehadiran Dumang Saruksuk yang kini duduk tegak, memancarkan aura predator yang haus darah."Bos Dumang, Bos kami menyuruh kami ke sini... kami ingin menjalin persahabatan dengan Anda," sahut Bondut Jolma sembari melangkah maju.Ia membuka bungkusan kain putih, menampakkan sebuah patung Debata Raja Mula Jadi Nabolon yang diukir dengan sangat detail. Di zaman ini, saat keyakinan kuno masih mengakar kuat di Tanah Batak, patung itu adalah simbol penghormatan tertinggi."Dumang tidak melafalkan Ketuhanan dan tidak mempersembahkan sesajian," sahut Dumang dengan suara parau yang dingin. "Tuan Raja memberiku patung itu? Dia ingin aku menjadi orang baik di masa depan? Lucu sekali."Mata Dumang menyipit, menatap patung itu dengan hina. "Ambil kembali. Dumang Saruksuk tidak kekurangan teman."Ia kemudian menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah Bonaga. "Anjing memiliki jalannya sendiri, hari

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status