Masuk"Kalau aku katakan yang sejujurnya, apa kamu menerima alasan itu, Ken?" ulang Devano dengan tatapan menuntut jawaban.
Kenanga justru memalingkan wajah dari laki-laki berwajah tampan itu. Menurut Kenanga, apa pun alasan mereka telah menjadikannya taruhan adalah sesuatu yang murahan. Dia bukanlah barang yang bisa dijadikan alat taruhan. Bi Ina yang tidak ingin terlibat pembicaraan dengan kedua orang itu, memberi isyarat keluar dari kamar. Kenanga menatap langkah Bi Ina, lalu berpaling pada Devano dengan tatapan sinis. "Kenapa diam, Ken? Aku melakukan itu karena aku ..." Karena kamu dan Dion sama saja, Kak! Aku mengenalmu dari kecil, tapi setelah kamu berteman dengan Dion, lantas mengabaikan pertemanan kita!" "Kenangaaaa ... bukan itu alasannya!" Devano menekan suaranya. "Aku tidak butuh alasan, Kak. Jadi, biarkan aku pergi dari sini. Aku benci kalian berdua!" ucap Kenanga ketus sembari bangkit. Devano ikut bangkit seraya meletakkan mangkuk ke atas meja. Dia segera menghalangi Kenanga yang mengambil paksa kopernya. Devano tidak menyerah. Dengan cepat, dia menutup pintu, lalu menguncinya dan mengantongi kunci itu. "Devano!" bentak Kenanga dengan tatapan tajam. "Buka pintunya! Kamu jangan seenaknya begini!" lanjutnya mulai ketakutan. Devano tidak menanggapi. Dia justru maju selangkah mendekati Kenanga hingga wanita itu semakin takut. Selama lebih dari dua puluh tahun berteman dengan Devano, baru kali ini Kenanga melihat laki-laki itu berbuat nekad. "Kak, apa yang kamu lakukan?" tanya Kenanga dengan suara bergetar menahan tangis. Devano menyeringai senang melihat ketakutan di wajah Kenanga. Kenanga terus mundur menghindari Devano hingga tubuhnya bersandar di dinding. Devano terkekeh penuh kemenangan dan semakin mendekati Kenanga. Kini, jarak keduanya hanya tinggal beberapa centi saja. Devano yang bertubuh jangkung itu, meluruskan kedua lengan di sisi tubuh Kenanga. Wajahnya menunduk, menatap dalam Kenanga yang mulai menangis. "Kak Dev, aku takut. Lepaskan aku!" pinta Kenanga memelas. Matanya terpejam rapat, membuat air matanya mengalir ke pipi. Devano semakin jahil dan terus menggoda Kenanga ."Kamu lucu sekali, Ken!" ucapnya santai. "Lepaskan aku! Ingat, Kak, aku istrinya Dion, temanmu!" "Aku sudah tahu. Berjanjilah kamu tidak akan keras kepala lagi! Maka aku akan melepaskanmu, Ken!" ucap Devano pelan. "Janji apa?" tanya Kenanga sembari membuka mata. Pandangannya berkabut, penuh ketakutan. Devano tersenyum dengan tatapan penuh arti pada Kenanga. "Jangan pergi dari rumah ini, setidaknya sebelum kamu dan Dion baikan!" pintanya. Devano segera beranjak menuju meja dan mengambil kotak tisu, lalu memberikan pada Kenanga. Dengan ragu, Kenanga mengambil benda itu dan mengusap air matanya. Dia menatap aneh pada Devano. Semenjak Kenanga menjadi istri Dion, Devano tidak pernah kontak fisik dengan wanita itu. "Kak ..." "Pikirkan tawaranku! Tenangkan dirimu di sini, sampai Dion datang menjemputmu, bersimpuh di kakimu, Ken!" "Tapi aku tidak akan kembali padanya, Kak. Pengkhianatan itu tidak bisa aku maafkan." "Kamu berkata begitu karena masih emosi, Ken!" sahut Devano sembari tersenyum miris. "Tidak!" Kenanga menggeleng berkali-kali. "Laki-laki yang selingkuh tidak akan sembuh, Kak. Apalagi, Kak Risma hamil. Dia tidak mungkin selingkuh kalau mencintaiku. Aku akan mendaftarkan gugatan cerai padanya." "Kamu serius? Tidak akan menyesali keputusanmu, Ken?" tanya Devano memastikan. Kenanga mengangguk lemah. Meskipun hatinya terlalu sakit dikhianati, Kenanga tidak munafik kalau dia begitu mencintai Dion. "Dengan jalan itu, aku akan memaafkannya, juga berhenti mencintai dia, Kak." "Cinta ... " Devano tersenyum masam. Laki-laki itu mengangguk, kemudian membuka pintu. Ketika sampai di ambang pintu, Devano menoleh pada Kenanga. Sudut bibir Devano melekuk tipis. Sebaris senyum yang menyimpan sebuah harapan. Namun, tiba-tiba Devano sadar. Harapan itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Devano tidak mau gegabah dan dibuai oleh harapan. Seketika, senyum di bibir Devano menghilang dan berganti tatapan sendu. "Baiklah, nanti sore kita jalan-jalan, ya. Kali ini aku tidak mengharapkan penolakan, Ken!" Kenanga terdiam, lalu mengangguk samar. "Baiklah, tapi ajak Bi Ina sekalian, ya!" pintanya. "Tentu saja!" jawab Devano kemudian berlalu. * Berulang kali, Kenanga menyunggingkan senyum. Pandangannya tidak lepas dari anak-anak yang berlarian. Taman flamboyan sore itu tampak ramai dengan anak-anak. Dari jarak beberapa meter, Devano ikut tersenyum melihat Kenanga. Rencana Devano berhasil, membuat Kenanga melupakan sejenak duka hatinya. Lensa kamera digital milik Devano, beberapa kali terarah pada Kenanga. Diam-diam Devano mengabadikan senyum wanita cantik itu di sana. Sesekali sudut bibir Devano melengkungkan senyum tipis. "Wah, rupanya, kamu mulai jatuh cinta lagi dengan istriku!" sindir suara dari belakang Devano. Mata Devano terpejam sejenak, lalu mengerutkan bibir geram. Kedatangan Dion sama sekali tidak diharapkan dan justru merusak suasana sore itu. Devano menoleh dan tersenyum miring pada Dion. "Sayang sekali, kehadiranmu tidak diharapkan, Dion!" sindirnya. "Ah, tentu saja. Kamu pasti senang, kan, di antara kondisi keluarga kami?" "Oh, pasti" jawab Devano santai, lalu menoleh ke arah Kenanga. "Bukankah itu bagian dari kesepakatan kita, Dion?" lanjutnya, lalu terkekeh. Kedua tangan Dion terkepal erat. "Shit!" umpatnya, lalu mendorong dada bidang Devano. Keributan kecil itu, terdengar hingga ke telinga Kenanga dan Bi Ina. Kenanga segera berdiri dan meninggalkan kedua orang yang masih adu argumen itu. "Kenanga, tunggu!" Kenanga tidak menghiraukan panggilan Dion. Wanita itu mempercepat langkah menuju mobil Devano. Namun, langkah Kenanga terhenti, ketika melihat Risma berdiri di depan pintu mobil Dion. Kakak tirinya itu menyunggingkan senyum satu sudut sembari bersidekap angkuh. Kenanga langsung membuang pandangan dan memegang tangan Bi Ina. Wajah angkuh Risma semakin membuat Kenanga muak. "Hei, kenapa terburu-buru, Kenanga? Apa kamu tidak kangen denganku?" tanya Risma, lalu mendekat. Bibirnya yang dipoles lipstik bold itu tersungging senyum kemenangan. "Kangen? Jangan mengejekku, Kak!" "Mengejek? Tanpa aku ejek pun kamu sudah menyedihkan, Ken?" Kenanga menghela napas, lalu melirik Bi Ina. Wanita itu mengisyaratkan pada Kenanga untuk tidak meladeni Risma. Mereka lantas melanjutkan langkah menuju mobil Devano. "Kenanga!" panggil Risma tidak terima Kenanga pergi begitu saja. "Aku yakin, kamu pasti tertarik dengan Devano. Kenapa tidak dilanjutkan hubungan kalian?" "Aku bukan kamu yang tega berkhianat, Kak!" "Aku penghianat? Asal kamu tahu, Ken, kamulah yang pengkhianat! Apa salahnya aku mengambil milikku, hah?" teriak Risma penuh amarah. "Apa maksudmu, Kak?" "Ken, kita pergi! Tidak ada gunanya meladeni mereka berdua!" lerai Devano sembari membuka pintu mobil untuk Kenanga. "Jangan lupa juga, Dev! Tanpa campur tanganmu, pernikahan Dion dan Kenanga tidak pernah terjadi!" "Apa maksud kalian?" tanya Kenanga dengan tatapan menuntut jawaban dari keduanya. ****Kenanga tersenyum tulus. “Tentu aku ridha dan bahagia, Kak,” jawabnya, lalu mendongak menatap Devano. “Kita lanjutkan hidup ini dengan saling memaafkan dan menjadi keluarga, ya, Sayang!” lanjut Kenanga sambil mengusap lengan Devano dengan lembut. Dion bisa melihat tatapan penuh cinta Kenanga pada Devano. Tidak bisa dipungkiri, ada perasaan cemburu yang masih bercokol di hati menyaksikan kebahagiaan Kenanga dan Devano. Namun, berkali-kali Dion menyadarkan diri jika membiarkan rasa cemburu itu sesuatu yang salah. Kenanga benar, mereka harus melanjutkan hidup dengan pasangan masing-masing. Seketika, Devano mengangguk menyetujui ucapan istrinya. “Tentu saja. Tidak mungkin kita musuhan terus, apalagi ada Carla di antara keluarga ini, kan? Katakan padaku, Yon, kapan kalian menikah. Kami yang siapkan tempat resepsinya.” “Em, biar Risma yang menentukan, Dev,” jawab Dion sembari menatap Risma. “Aku tidak ingin pesta mewah, lebih baik uangnya untuk keperluan Carla nanti,” ucap Risma s
Tiba-tiba perasaan takut itu memenuhi relung hati Kenanga. Dia menunduk, menatap Dzevad yang masih menyusu. Sedangkan Mbak Ayu masih berdiri di ambang pintu menunggu perintah dari bosnya. Dia juga ikut sedih jika Carla dibawa pergi oleh orang tua kandungnya.Pasalnya, kehadiran Carla di dalam keluarga kecil Devano, menjadi hiburan tersendiri. Terlebih ketika Dzevad belum lahir. Merawat Carla dari usia bayi, tentu menimbulkan kedekatan batin pada Devano dan Kenanga. Itu juga yang dirasakan para ART.Mereka juga menganggap Carla seperti anak sendiri, tanpa memandang masa lalu orang tua bocah itu. Bahkan, Devano dan Kenanga dengan bangga memajang foto keluarga bersama Carla di dalamnya.“Apa yang harus kulakukan, Mbak?” tanya Kenanga lirih.Momen ini cepat atau lambat pasti terjadi. Namun, Kenanga tidak menyangka jika mereka datang begitu cepat. Rasanya Kenanga belum siap kehilangan Carla. Dan mungkin tidak pernah siap.“Bu, mungkin mereka hanya ingin melihat baby Dzevad. Rasanya tidak m
"Carla pas ulang tahun nanti minta kado apa, Sayang?” tanya Kenanga sambil mengusap rambut putri cantiknya.Beberapa hari lagi, usia Carla tepat tiga tahun. Bocah berwajah cantik itu menatap polos pada Kenanga, lalu jari telunjuknya mengetuk dagu dengan gerakan ala orang dewasa yang sedang berpikir.Melihat tingkah lucu Carla, Kenanga tertawa kecil, kemudian memeluk bocah itu. Seperti biasa, Carla selalu menghadiahi ciuman gemas di pipi setiap mendapat pelukan dari mamanya.Sejenak, senyum Kenanga memudar ketika teringat sesuatu. Hari ini Risma mendapat kebebasan bersyarat dari tahanan. Sedangkan Dion justru sudah bebas beberapa Minggu yang lalu. Itu artinya? Kenanga menggeleng tanpa sadar jika mengingat keberadaan Carla. Ya, sesuai perjanjian dulu, Dion dan Risma bisa mengambil Carla kapan pun setelah mereka bebas.Namun, hari ini menjelang ulang tahun yang ke-3 Carla, Kenanga akan kehilangan anak asuhnya itu. Ada rasa takut dan tidak rela Carla pergi dari kehidupan mereka. Kenanga
“Tunggu, Sayang!” pinta Devano ketika melihat Kenanga bersiap kembali turun.Devano meraih tangan Kenanga dan memintanya duduk di sisi tempat tidur. Laki-laki itu mengambil sesuatu dari dalam laci nakas sebelah kiri ranjang. Lantas dia ikut duduk di samping Kenanga.Pandangan Kenanga tertuju pada kotak berwarna biru navy di pangkuan Devano. Tidak ingin istrinya penasaran terlalu lama, Devano membuka kotak itu.Ternyata isinya satu set perhiasan emas putih dan sebuah display key mobil mewah. Devano meraih tangan Kenanga dan meletakkan kotak perhiasan itu di sana.“Ini hadiah pernikahan dariku, kamu yang simpan. Kamu nyonya rumah ini, jadi, mulai sekarang jangan canggung lagi!”Kedua mata Kenanga berkaca-kaca. Tidak hanya diperlakukan seperti ratu, tetapi dimanjakan dengan berbagai kemewahan dari Devano.“Aku akan mengikuti semua aturan kepala keluarga di rumah ini, selagi itu benar. Kuharap ini adalah pernikahan terakhir kita, Mas,” ucap Kenanga, lalu memeluk erat Devano.Di bahu Kenan
Langkah Risma diikuti oleh tatapan sendu Kenanga. Wanita itu mengusap matanya yang memanas. Devano merangkul bahu sang istri dengan perasaan bersalah.“Maafkan aku, Sayang,” ucap laki-laki itu lirih.“Aku tidak mempermasalahkan itu, Mas. Cuma merasa aneh saja, kenapa dia langsung menganggapmu special someone?” tanya Kenanga bingung.Memang aneh, jika Risma tidak mengenali Kenanga. Namun, justru merasa begitu dekat dengan Devano. Padahal, dulu Risma sangat membenci Kenanga dan selalu membuat ulah dengan Devano.“Aku juga merasa aneh.” Devano melirik sekitar, kemudian mengajak Kenanga memasuki mobil.Dia tidak ingin Risma kembali melihatnya dan membuat ulah. Sesampai di dalam mobil, Devano tidak juga menjalankan mobilnya. Namun, dia justru menatap ke arah bangunan rumah sakit jiwa itu.“Aku harus mencari cara supaya mendapatkan informasi detail mengenai Risma.”Kenanga langsung menoleh pada suaminya. “Maksud Mas apa?” tanya wanita itu heran.“Sayang, apakah kamu tidak melihat kejanggala
Deburan ombak di laut lepas sana yang tanpa henti, seolah ikut mengiringi kebahagiaan dua orang di atas tempat tidur itu. Seperti biasa, Devano selalu memuja setiap inci tubuh Kenanga dengan hati-hati. Dia perlakukan Kenanga begitu lembut. Itulah janji Devano, dia memang ingin memperlakukan Kenanga layaknya ratu hingga wanita itu melupakan semua rasa sakit yang pernah ada. Kenanga tersenyum dan sesekali memejamkan mata, ketika ciuman Devano menghujani wajah lembabnya. Udara di sekitar pantai memang dingin kala malam hari. Namun, tidak bagi pasangan suami istri itu. Tubuh mereka justru basah oleh keringat. Devano menyingkirkan anak rambut Kenanga yang terjuntai ke pelipis, lalu mencium kening wanita itu. “Terima kasih, ya, Mas,” ucap Kenanga dengan tatapan dalam. Sebelah tangan Kenanga memeluk bahu tegap Devano. Keduanya saling pandang penuh cinta dan sesekali balas tersenyum. Devano sedikit menoleh, melirik jam digital di atas nakas. Laki-laki itu terkekeh pelan menyadari waktu s







