FAZER LOGIN"Target mereka bukan nyawa Nyonya, Tuan Muda," ujar Roland dengan suara rendah yang mencekam. "Mereka ingin menghancurkan reputasinya."Bara tertegun di tempatnya berdiri. "Jelaskan lebih detail."Roland menyodorkan tablet miliknya, menampilkan jaringan koneksi yang mencurigakan antara Jodi dan salah satu paman Bara di keluarga Arthur."Rencananya sistematis. Mereka akan menyebarkan narasi bahwa Nyonya Anjani masih terikat perasaan dengan Jodi," jelas Roland. "Mereka akan memutarbalikkan fakta tentang pertukaran pasangan yang terjadi, lalu menuduh Anda sebagai pria yang merebut istri orang demi harta. Jika isu itu meledak sebelum rapat direksi besok pagi, legitimasi Anda akan runtuh seketika."Bara mengepalkan tangannya. Ia paham sekarang. Musuh tidak ingin darah; mereka ingin kehancuran martabat. Mereka menyerang dari sisi yang paling ia lindungi: Anjani.Setelah Roland pergi, Bara menghampiri Anjani yang masih mematung di sisi ranjang. Ia menceritakan semuanya dengan jujur, ta
Malam di kediaman utama keluarga Arthur terasa begitu asing bagi Bara. Langit-langit kamar yang tinggi, dinding yang dilapisi kayu jati tua, dan aroma kemewahan yang mengintimidasi membuat setiap langkah Bara terasa berat. Setelah melewati koridor panjang yang sunyi, seorang pelayan tua berhenti di depan pintu kayu jati berukir, lalu membukanya dengan sopan."Silakan, Tuan Muda. Kamar ini telah disiapkan untuk Anda dan Nyonya," ucap pelayan itu sebelum berlalu.Bara melangkah masuk, namun ia sontak berhenti tepat di ambang pintu. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Di sana, di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang kediaman Arthur, Anjani berdiri. Wanita itu tampak canggung, jemarinya bertaut erat di depan gaunnya. Ruangan yang luas itu seketika terasa menyesakkan oleh keheningan yang tebal.Kita benar-benar telah sampai di titik ini, batin Bara. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan aliran darah yang berdesir liar. "Anjani," suaranya serak. "Jika k
Suasana di halaman belakang rumah Braja berubah menjadi ruang hampa udara. Kalimat yang tertera di kertas tua itu seolah memiliki bobot yang mampu menekan dada siapa pun yang membacanya. Anjani... maafkan Ibu karena telah merampas laki-laki yang seharusnya menjadi suamimu.Bara membaca ulang kalimat itu. Matanya menyipit, memindai setiap guratan tinta yang mulai memudar dimakan usia. Ia membacanya sekali lagi, berharap penglihatannya salah, berharap ada lelucon kejam di balik ini semua. Namun, tulisan tangan itu konsisten. Ia sampai tidak percaya, dadanya terasa sesak oleh kejutan yang tidak bisa ia definisikan.Di sampingnya, Helena memucat hingga wajahnya hampir menyamai warna dinding rumah yang mulai mengelupas. Tubuhnya limbung, seolah tulang-tulangnya baru saja kehilangan kekuatannya. Anjani berdiri mematung, jemarinya yang tadi memutar tasbih kini berhenti total, napasnya tertahan di tenggorokan. Jodi, yang berdiri tak jauh dari mereka, mulai menunjukkan kegelisahan yang kenta
Suasana di dalam kabin mobil yang gelap itu terasa sangat mencekam. Roland memegang potongan kertas yang robek dari map dokumen tadi, matanya menyipit saat membaca satu nama yang tertulis jelas di sana: Anjani. Roland menoleh perlahan ke arah Bara, menanti reaksi. Namun, Bara justru menggeleng pelan, menolak untuk menelan mentah-mentah kesimpulan yang tersirat."Anjani tidak mungkin melakukan ini," suara Bara terdengar tegas, memutus keraguan Roland. "Selama ini, hanya dia satu-satunya orang yang memperlakukanku dengan manusiawi di tengah kekacauan ini."Roland terdiam sejenak sebelum mengangguk. Ia mengerti bahwa memicu konflik saat ini bukanlah langkah yang bijak. "Baik, Tuan Muda. Saya akan menyelidiki asal-usul kertas ini secara diam-diam."Bara memutuskan untuk kembali masuk ke rumah Braja. Ia merasa ada sesuatu yang janggal dalam dokumen itu. Saat kakinya menginjak lantai rumah yang dulu ia huni sebagai pesuruh, segalanya terasa ganjil. Dulu, langkah kakinya di sini selalu di
Kediaman utama keluarga Arthur kini telah berubah menjadi sangkar emas yang menyesakkan bagi Bara. Sejak matahari menyapa ufuk timur, ia dipaksa berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain dengan ritme yang memuakkan. Dokter berpakaian putih bersih memeriksa fisik menyeluruh, memastikan tidak ada satu pun sel dalam tubuhnya yang luput dari pengawasan. Di ruangan lain, penjahit profesional dengan pita pengukur yang melingkar di lehernya, mencatat setiap detail tubuh Bara untuk setelan jas yang harganya setara dengan upah kerja kasar Bara selama satu dekade.Semuanya bergerak serba cepat, dingin, dan kaku. Di tengah deretan pelayan yang menunduk setiap kali ia melintas, Bara merasa bukan lagi seorang manusia, melainkan benda mati yang sedang dipoles untuk dipajang. Pikirannya melayang kembali ke rumah sederhana di pinggiran kota, ke tempat di mana debu menempel di perabotan tua, namun ia masih bisa menghirup udara tanpa harus diawasi oleh dua pengawal bertubuh kekar di balik pintu."A
Ruangan itu mendadak beku. Kakek Arthur terhuyung, bahunya merosot saat surat itu terlepas dari jemarinya yang keriput, melayang jatuh ke atas lantai marmer. Roland, yang biasanya berdiri tegak layaknya patung, kini mematung dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Semua pasang mata di ruangan itu beralih ke selembar kertas yang tergeletak di lantai, lalu bergantian menatap wajah Kakek Arthur yang memucat seperti mayat hidup. Paman tertua Bara melangkah maju, sepatunya menghentak lantai marmer dengan irama yang kasar. Tangan pria itu terulur, jemarinya hampir menyentuh ujung kertas, namun sebelum ia sempat menguasai dokumen itu, bayangan hitam melesat di hadapannya. Roland sudah berdiri di sana, mencengkeram pergelangan tangan sang paman hingga buku-buku jarinya memutih. Suara tulang yang berderak halus terdengar di tengah kesunyian. "Dokumen pribadi mendiang Tuan Muda, Tuan," desis Roland. Tatapannya setajam belati yang siap menghujam. Ruangan itu meledak. Kursi-kursi digeser







