LOGINGilang menyusul ikut bersimpuh di kaki calon mertuanya. Pertiwi masih mengeraskan hatinya. Sedikitpun tangannya tidak mau menyentuh Mayang dan juga Gilang. Dia memalingkan wajahnya ke sembarang arah, menghindari tatapan Surya yang juga sedang menyorotnya."Mimpi apa ibu semalam? Tiba-tiba mendapat pengakuan seperti ini?" Pertiwi mendongakkan wajahnya, menahan air mata yang hampir terjatuh di pipinya. "Pasti ini semua balasan atas kesalahan masa lalu ibu yang tidak bisa mempertahankan rumah tangga. Sekarang semua harus terulang sama putri ibu.""Kalau begitu jangan membuat Mayang semakin merasa bersalah, Bu ..." ucap Surya sebagai upaya terakhirnya untuk meyakinkan ibunya.Pembicaraan yang berlangsung menegangkan itupun meluputkan mereka dari kehadiran seorang pria lain di dalam rumah itu. Pria berbadan tegap dengan kulit sawo matang yang perlente sudah menguping pembicaraan mereka sejak lima menit yang lalu. Dan setelah dirasa sudah waktunya dia memunculkan diri, pria itupun berjalan
Di panti itu, Sabrina merasa telah menemukan keluarga baru. Ia juga memiliki banyak kegiatan yang membuat hari-harinya terasa penuh dan bermakna. Karena itulah, setelah berdiskusi panjang dengan Bu Rossy, ia akhirnya mengambil sebuah keputusan."Mommy... Daddy... Sab nggak bisa ikut kalian ke luar negeri."Helena dan suaminya terdiam."Aku ingin tetap tinggal di sini. Bersama Bu Rossy... dan membantu merawat pasien-pasien yang juga sedang menjalani pemulihan."Sabrina berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Setelah melahirkan nanti, aku juga ingin melanjutkan kuliah di Universitas Jayakarta."Ia kembali melirik Rossy, yang membalas dengan anggukan kecil penuh dukungan."Hanya saja..." suara Sabrina sedikit melemah. "Aku mau minta ijin untuk pindah fakultas. Sab mau masuk fakultas psikologi agar bisa melanjutkan profesi yang sama dengan Bu Rossy. Sab ingin menolong banyak orang yang juga mengalami masalah kejiwaan yang sama. Bo - boleh, kan ...?" suara Sabrina tiba-tiba tercekat.Dadany
Sabrina menggigit roti gandum sarapannya dengan tangan yang gemetar. Sudah dua kali orang tuanya menunda kedatangan mereka ke Indonesia. Alasannya selalu sama-pekerjaan yang belum selesai, jadwal yang belum bisa disesuaikan, hingga tiket pesawat yang belum didapatkan.Alasan-alasan itu terasa terlalu klasik bagi Sabrina. Dan semakin lama, semakin membuatnya muak.Penundaan itu kembali memicu rasa cemas berlebih di dalam dirinya. Dalam bayangan liarnya, Sabrina mulai merasa seolah-olah orang tuanya tidak akan pernah lagi datang menemuinya lagi.Apalagi Rossy sudah memberi tahu mereka tentang kondisinya... tentang alasannya berada di panti rehabilitasi itu.Sabrina menelan ludah dengan susah payah. Di dalam kepalanya, semua pikiran buruk terus berputar. Pasti... pasti orang tuanya merasa malu, merasa jijik memiliki anak yang dianggap mengalami gangguan kejiwaan.PRANG!"Sab?!"Rossy yang sedang berjalan santai mengelilingi area panti langsung terkejut ketika mendengar suara benda pecah
BIM! BIM! BIM!Keluarga kecil itu baru saja selesai makan siang di teras ketika sebuah mobil boks berlogo toko furnitur terkenal berhenti tepat di depan rumah kontrakan mereka.Tak lama kemudian, sebuah Civic hitam mengilap ikut berhenti tak jauh dari sana. Jendela mobil itu perlahan turun. Dan begitu wajah pengemudinya terlihat, Amira langsung terbelalak."Mbak Mayang?!" serunya kaget, lalu buru-buru menoleh kepada suaminya. "Mas, kok Mbak Mayang bisa tahu kita pindah ke sini?""Kejutan, Mira..." jawab Sigit kikuk.Ia menggaruk tengkuknya sebelum melanjutkan, "Kemarin Mbak Mayang menelepon Mas. Katanya mau mencarikan kita kontrakan. Tapi Mas bilang kalau kita sudah dapat tempat yang dekat dengan sekolah Aksa."Amira mengerutkan dahi."Terus Mbak Mayang tetap maksa mau bantu. Jadi... ya... akhirnya Mas bilang saja kalau kita belum punya dana buat beli perabotan rumah tangga," tambah Sigit dengan wajah semakin canggung."Mas?!" Amira langsung melotot. "Bisa-bisanya Mas bilang begitu sa
Menjelang sore, Pak Dekan sengaja menunggu suasana kampus agak sepi sebelum diam-diam melipir ke toko kue yang diinformasikan Mayang. Ia berjalan dengan langkah agak kikuk saat memasuki toko itu, sambil berharap tidak ada satu pun mahasiswa yang mengenalinya.Begitu pintu kaca didorong, wangi manis langsung menyambar hidungnya."Selamat sore, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang pelayan toko dengan ramah.Pak Dekan berdeham kecil. "Sa-saya mau beli kue krim dengan stroberi.""Oh, ada, Pak. Sebentar ya, saya ambilkan dulu."Pelayan itu baru saja hendak berbalik ke arah dapur ketika Pak Dekan buru-buru memanggilnya dengan suara pelan."Dek... dek... kalau bisa buah stroberinya jangan terlalu besar..."Pelayan itu menoleh kembali dengan wajah bingung. "Maaf, Pak. Besar buah stroberinya sudah standar toko kami. Bagaimana?"Pak Dekan mengangguk cepat, sedikit salah tingkah. "Oh... oke deh. Tidak apa-apa. Saya ambil satu.""Baik, Pak. Mohon ditunggu sebentar."Semenit kemudian, pela
Sebuah nasihat kuno pernah mengatakan: jika seorang wanita ingin mengetahui bagaimana dirinya akan diperlakukan oleh suaminya kelak, lihatlah bagaimana pria itu memperlakukan ibunya.Mayang sudah menyaksikannya sendiri.Ia melihat bagaimana Gilang memeluk ibunya, cara pemuda itu berbicara dengan penuh hormat, serta perhatian kecil yang selalu ia berikan kepada wanita yang telah melahirkannya.Karena itulah Mayang yakin, ia tidak salah memilih Gilang Pratama sebagai tambatan hati terakhirnya."Sudah, sana siap-siap. Kamu kan mau ujian susulan. Nanti Pak Sidik ngambek kalau kamu datang terlambat," ujar Mayang sambil menepuk bahu Gilang."Tenang aja," jawab Gilang santai. "Aku udah berkirim pesan sama Pak Sidik. Hari ini beliau ada keperluan mendadak, jadi kertas ujian buat aku dititipkan ke Pak Kartono di ruang dosen. Nanti aku ngerjainnya di sana."Ia melepaskan pelukannya, lalu mengecup kening Mayang dengan lembut."Wahh... kamu nggak grogi tuh ujian sambil dilihatin dosen-dosen?" god
Karena berencana membeli kue dan hadiah untuk ibunda Gilang, Mayang sekalian saja berinisiatif mengantar pemuda itu ke kampus. Lagipula, tangan kanan Gilang masih sedikit bengkak—jelas belum ideal untuk kembali mengendarai motor sport kesayangannya.Mobil mereka berhenti di depan area kampus. Sebel
"Aku tidak mau, Bu! Aku tidak mau bercerai dengan Mayang!" Cipto balas meneriaki ibunya. Meskipun sesungguhnya ia telah pasrah dengan perceraian yang ada di depan matanya. Tapi untuk sekali ini saja, dia ingin Gayatri tahu kalau ia sudah benar-benar marah."Surga itu di telapak kaki ibu! Durhaka ka
"Mayang... aku nggak yakin ada pria lain yang mau sama kamu setelah bercerai nanti, Mayang ..." ucap Gilang setelah mengeluarkan jari telunjuk Mayang dari mulutnya dan menatap dalam manik mata Mayang."Kenapa? Karena aku sudah tua, ya?" tanya Mayang, hatinya sedikit menciut."Bukan. Karena aku sela
"Hei! Kita jadi nganter Bu Mayang pulang nggak sih?" tanya Sabrina yang merasa dicuekin karena kedua orang yang berada di depannya itu terus saja mengobrol dengan asyik seolah melupakan keberadaan dirinya."Ehhh ... jadi lah, Sab ... tunggu... aku minta kursi roda dulu ke perawat ..." sahut Gilang.







