Share

CAP CIP CUP

Author: Fredy_
last update publish date: 2026-05-05 05:32:08

"Aku sayang kamu, Ibu Mayang Sari Indriani ..." bisik Gilang di sela ciuman itu. Napasnya mulai memburu. Perlahan, tangannya bergerak, hendak menggapai dada Mayang yang bebas.

Namun saat Gilang mulai akan meremas dadanya, Mayang segera melayangkan protes. "Ingat jatah anak, Lang."

"Iya, bu ... iya ..." Gilang manyun.

Matanya kembali menatap anak ketiganya yang mulai kekenyangan. Mulut bayi mungil itu melepaskan pucuk dada ibunya yang memerah. Persis seperti kalau Gilang keasikan bermain-main di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   CAP CIP CUP

    "Aku sayang kamu, Ibu Mayang Sari Indriani ..." bisik Gilang di sela ciuman itu. Napasnya mulai memburu. Perlahan, tangannya bergerak, hendak menggapai dada Mayang yang bebas.Namun saat Gilang mulai akan meremas dadanya, Mayang segera melayangkan protes. "Ingat jatah anak, Lang.""Iya, bu ... iya ..." Gilang manyun.Matanya kembali menatap anak ketiganya yang mulai kekenyangan. Mulut bayi mungil itu melepaskan pucuk dada ibunya yang memerah. Persis seperti kalau Gilang keasikan bermain-main di sana. Hanya saja sekarang bentuknya lebih besar dan ..."Sesek, Mayang ..." ucap Gilang sembari merapatkan pahanya.Mayang tertawa. Ketiga bayinya memang sangat menggemaskan. Tapi lebih menggemaskan lagi ayah mereka kalau sudah merajuk. Wajah memelasnya itu selalu saja berhasil membuat Mayang mengangkangkan kedua pahanya. Karena kalau tidak, Gilang akan terus merajuk sampai dapat.Sungguh tak terbayang setelah 40 hari berlalu, Gilang akan membolak-balik dirinya seperti apa nanti. Sepertinya May

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   BAHAGIA PENUH

    Seorang perawat yang membantu mendorong bayi-bayi mereka sampai ke ruang perawatan, berdiri di dekat Mayang."Maaf, apa ibu mau menyusui bayinya?" tanya perawat itu."Mau," ucap Mayang dengan wajah sumringah.Selain mengandung dan melahirkan, peristiwa menyusui bayi juga merupakan kejadian yang sangat ia nanti-nantikan. Sebelum menyodorkan bayi yang lahir lebih dulu, perawat memberi penjelasan singkat tentang beberapa jenis makanan yang dapat memperlancar produksi asi."Saya bantu melepaskan bagian atas pakaian ibu supaya bisa menyusui dengan mudah," tukas perawat wanita berkulit gelap dengan rambut berombak yang digulung ke atas.Perawat itu mengatur posisi sandaran ranjang Mayang hingga 45 derajat. Gilang dengan sigap membantu membetulkan bantal untuk menjadi tempat bersandar Mayang. Pakaian Mayang terlepas saat perawat menarik tali baju bersalinnya.Gilang pura-pura mengalihkan pandangannya saat sepasang dada Mayang yang bengkak terpampang di depannya. Perawat memencet dada Mayang,

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   TIGA JAGOAN MINI

    Pagi itu, begitu terbangun dari tidur, Pertiwi merasakan kerinduan yang begitu dalam terhadap putrinya. Ia menyeduh teh melati kesukaan Mayang, lalu menghirup aromanya perlahan, seolah mencoba mendekatkan jarak yang kini terbentang.Di dekatnya, Amanda duduk manis, sibuk menghias roti tawar bersama ibunya.Gadis kecil itu kini semakin besar. Ketertarikannya pada musik pun semakin terlihat-semua itu pasti tak lepas dari doa eyang kakungnya yang selalu ingin memiliki cucu seorang seniman."Bu, foto pernikahan Mayang dan Gilang mau dipindahkan ke mana?" tanya Surya. Hari itu, ia ditugaskan oleh Pertiwi untuk menata ulang dekorasi ruang tamu."Sebelah kiri itu kan foto pernikahan kalian. Jangan dipindah lagi. Di tengah, foto Ibu dan Bapak waktu menikah. Nah, yang kanan, dekat jendela, baru taruh foto pernikahan Mayang dan Gilang. Foto cucu pertama Eyang letakkan di bawah foto kalian. Cantik, kan, susunannya..." jelas Pertiwi sambil menyesap teh melatinya."Tapi nanti kita juga harus sedia

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   MENANTI GILANG MINI

    Bel apartemen berbunyi. Asisten yang membantu keseharian Mayang akhirnya datang. Wanita itu berusia lima tahun lebih muda dari Mayang dan selalu tiba dengan membawa sarapan untuk mereka."Tina... silakan masuk. Bawa sarapan apa hari ini?" tanya Gilang ramah.Wanita asal Australia itu menguasai lima bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan svenska (Swedia). Karena tahu dua tahun lagi pasangan itu akan pindah ke Swedia, Tina kerap menyelipkan percakapan sederhana dalam bahasa tersebut. Kehadirannya pun terasa seperti anggota keluarga baru bagi Gilang dan Mayang."Meat pie. Aku membuatnya agak terburu-buru, tapi aku jamin rasanya tetap enak," ujar Tina sambil meletakkan seloyang pai daging di atas meja makan. "Mana ibu hamil kita?" tanyanya lagi."Masih berbaring sambil main ponsel. Dari tadi sibuk memilih pakaian dan perlengkapan bayi. Mungkin takut yang sudah dibeli masih kurang... maklum, anaknya banyak," jawab Gilang sambil tersenyum tipis."Ah, benar juga. Kalau begitu, mumpung akhir p

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   AUSTRALIA NEGRI WOOL

    "Supir sudah datang, Mayang. Kamu siap?" tanya Gilang, memastikan.Ini adalah perjalanan terjauh pertama mereka dengan pesawat, terlebih dengan kondisi kehamilan Mayang yang sudah cukup besar."Minyak angin aku sudah masuk tas belum, Lang? Takut tiba-tiba pusing atau mual," ujar Mayang sambil berjalan pelan keluar dari kamar."Sudah, Sayang... aku minta tolong supir angkut koper dulu, ya...""Gilang!" Suara merdu Camelia tiba-tiba memanggil, menghentikan langkahnya yang hendak keluar rumah. "Mayang mana?!""Baru keluar kamar, Tante. Gilang mau angkut koper dulu...""Eh, bukannya bantuin istri yang lagi hamil besar, malah sibuk mikirin koper! Dasar anak kecil sudah bisa bikin anak kecil!" protes Camelia setengah gemas, setengah kesal.Tanpa menunggu jawaban, Camelia langsung menggandeng Mayang dengan penuh perhatian, menuntunnya berjalan pelan keluar rumah.Selama perjalanan menuju bandara, Camelia memberikan wejangan ini dan itu untuk Gilang agar menjaga ibu hamil yang sebentar lagi a

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   PERJALANAN BARU

    "Gilang... aku capek. Kamu bantuin, dong..." gumam Mayang. Perutnya kini sudah sebesar galon air mineral. Ia berjalan keluar dari kamar mandi sambil memegangi pinggangnya yang terasa nyeri.Sejak usia kandungannya memasuki enam bulan, bahkan kegiatan sederhana seperti mandi pun bisa terasa sangat melelahkan. Ajaibnya, Gilang selalu punya cara untuk manja-manjaan tanpa membuat Mayang semakin kelelahan. Memang ya, kalau rasa sayang sudah bercampur dengan nafsu memuncak, capek seperti apa pun hajar saja."Sini, aku bantu keringkan rambut kamu, Mayang. Jalannya pelan-pelan," ujar Gilang, menuntun Mayang duduk di depan meja rias. "Kalau disuruh gendong kamu sekarang, kayaknya aku sudah nggak kuat deh. Kamu sudah... gede banget.""Gede? Banget?" tanya Mayang, langsung cemberut."Maksud aku-perutnya yang gede, sayangku..." Gilang buru-buru meralat. "Kamu sih nggak gede... eh, maksudnya... ya dari dulu juga udah... eh..." ia mulai gugup sendiri."Apa? Gemuk? Iya, aku gemuk! Pahaku gede banget

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   AKSI PEMUDA LOLIPOP STOBERI

    Mayang mengepalkan tangannya, tak tahan mendengar ucapan Dewi. Namun, ketimbang berdebat panjang, Mayang memilih diam saja."Kamu nggak akan ngerti, Wi," batinnya.Mereka tenggelam dalam kesunyian, hanya saling lirik tanpa senyuman. Dewi tersadar kalau perkataanya telah menyinggung Mayang. Ia pun s

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   MAYANG PULANG

    "Nggak - nggak! Ibu nggak ngerti. Mas Surya, tolong kasih tahu ibu kalau Mayang udah nggak mau hidup bersama Cipto. Dia sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan Mayang dan sudah punya anak dari wanita itu, Mas," rintih Mayang pedih.Surya menyentuh bahu ibu mereka untuk menenangkan suasana yang menda

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   RINDU KAMU

    Senyum merekah di bibir Mayang, namun tidak di bibir sahabatnya. Dewi yang hari itu berpakaian kasual sudah ingin berkomentar melihat kedatangan Gilang yang tiba-tiba. Namun, ia tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun saat melihat rona bahagia terpancar jelas di wajah Mayang.Jadi benar...Pemuda

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   EMERGENCY

    Tiba-tiba fokus Mayang mendengarkan obrolan para dosen itu teralihkan bunyi ponselnya. Bunyi ponsel yang sebenarnya sudah dia atur dengan ringtone khusus yang tidak boleh dia angkat. Ringtone khusus untuk Cipto yang namanya telah diganti, bukan lagi 'Cinta' melainkan 'Orang Stress'."Teleponnya ken

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status