LOGIN"Oh ya, Mayang katanya bakalan operasi caesar?" tanya Camelia. Jiwa emak-emaknya seketika tergelitik kalau ada ibu hamil yang dikenalnya."Kelihatannya begitu, Tante. Selain karena sudah usia, yang mau dikeluarin juga banyak." Gilang menggaruk-garuk kepalanya. Dia juga masih tidak menyangka kalau peluru yang ia tembakkan, bisa langsung menghasilkan calon bayi lebih dari satu."Iya, deh. Biar aman begitu, Lang. Ibu dan anak bisa selamat semuanya. Kalian nggak ada keluarga loh di Australia. Nanti tante bantu carikan asissten rumah tangga deh untuk nemenin istri kamu. Aku jadi ikutan was was kalau ngebayangin perut Mayang yang makin gede.""Thanks, Tante Lia yang cantik dan baik hati. Tante juga boleh kok main-main ke Australia. Aku... eehh, Mayang pasti senengm" ucap Gilang dengan wajah manis."Bisa saja kamu. Iya, deh. Tante lihat jadwal dulu. Kalau lagi tidak ada seminar nanti main-main ke Australia mengunjungi kalian," ucap Camelia tersipu.Irawan sudah menghabiskan nasi goreng dan t
Beberapa saat kemudian gerakan Gilang semakin cepat dan dia menghujam berkali-kali seraya mencengkeram pinggul Mayang. Semenit hampir berlalu setelah gerakan cepat Gilang, Mayang merasakan pusaka suaminya mengeluarkan muntahan hangat ke dalam tubuhnya."Makasih ya, Sayang ..." Gilang melepaskan pusakanya yang sudah lemas lalu menyeruput kedua puncak dada Mayang bergantian dan berdiam di sana beberapa saat.Kegiatan yang paling disukai Gilang adalah memainkan lidahnya di pucuk-pucuk dada Mayang dan menyapukan lidahnya di sekeliling dada montok itu. Mayang seketika membayangkan, apa jadinya nanti kalau bayi mereka telah lahir dan dia harus menyusui anaknya. Apa Gilang bisa berbagi dengan bayi mereka?Gilang itu anak tunggal. Kadang manjanya suka keterlaluan. Kalau sudah ada maunya terkadang harus dituruti. Tapi sejauh ini permintaan Gilang memang tidak pernah aneh-aneh. Paling hanya minta jatah tengah malam yang seringkali membuat Mayang terlambat bangun pagi."Mandi besar yuk, Mayang.
"Mayang... kamu nggak capek?" bisik Gilang, yang mulai tak kuat menahan kantuk sambil mendengarkan dongeng panjang bapak mertuanya.Sejak pukul tujuh malam, panggung dan peralatan katering telah dibereskan. Surya dan Nia pun sudah lebih dulu pulang karena Amanda mendadak rewel. Mungkin gadis kecil itu kewalahan dengan banyaknya orang yang mencubit gemas dan mengajaknya bicara, seolah-olah dia bintang utama di pesta hari itu.Rombongan musisi Hendro juga satu per satu pamit meninggalkan lokasi acara. Hingga akhirnya, hanya tersisa Hendro yang masih betah bercengkerama dengan menantu barunya. Maklum, baru kali ini ia merasa menemukan sosok menantu yang sefrekuensi dengannya."Jadi begitu, Nak Gilang... waktu muda, Bapak ini bukannya playboy. Cuma... yaa, penggemar Bapak memang banyak sekali. Namanya juga musisi-ganteng, romantis... gadis mana yang nggak kelepek-kelepek, coba?" Hendro terkekeh bangga. "Iya, kan, Mayang? Eh, Gilang... Mayang...?"Tak ada sahutan.Menyadari kedua lawan bic
Menjelang sore hari, sesudah menghabiskan dua piring nasi goreng dengan lauk rendang, dua gelas es buah dan puding aneka rasa yang seperti tidak ada habisnya, Raka dan Olivia berpamitan dari acara pernikahan Gilang dan Mayang."Aa Raka masih teu nyangka kalau brother Gilang akhirnya nikah sama Bu Dosen. Kirain teh gossip-gossip itu semua bohong. Ternyata beneran mereka menjalin sesuatu sampe tekdung kitu Bu Dosen," ucap Raka setelah keduanya berada di taxi online menuju Hotel Brawijaya."Livi juga nggak nyangka kalau Aa Raka bisa nyanyi lagu romantis kayak gitu. Jantung Livi jadi berdebar-debar pas Aa nyanyi tadi.""Berdebar? Masa aah? Mana? Aa nggak percaya ..." Raka menggigit bibirnya sembari pura-pura melihat keluar jendela taxi."Ini... Aa rasain sendiri aja kalau nggak percaya," Olivia mengangkat sebelah tangan Raka untuk menyentuh dadanya."Neng ..." Raka terkejut, tapi tidak serta merta menarik tangannya untuk menjauh dari dada Olivia.Tangan Raka malah membelai lembut dada Oli
Pesta yang awalnya direncanakan sederhana, justru berubah menjadi meriah berkat totalitas rombongan musisi Hendro. Mereka mendirikan panggung di halaman rumah, lengkap dengan berbagai alat musik yang siap menghidupkan suasana di hari bahagia itu.Awalnya, keluarga Mahendra tampak sedikit kikuk menghadapi hiburan yang hingar bingar. Namun, ketika sang pembawa acara mulai menawarkan kesempatan bagi tamu untuk menyumbangkan lagu, suasana perlahan mencair. Mereka mulai saling lirik, bisik-bisik dan senggol-senggolan.Dan, Om Chandra menjadi yang pertama naik ke atas panggung. Dengan penuh percaya diri, ia mendendangkan lagu nostalgia."Tak sengaja... lewat depan rumahmu... ku melihat ada tenda biru..." suaranya mengalun berat khas bapak-bapak. "Dihiasi indahnya janur kuning... hati bertanya pernikahan siapa?"Penampilan itu langsung disambut sorakan. Tak mau kalah, Camelia ikut naik ke panggung, mengambil mikrofon dari tangan pembawa acara."Tanpa undangan diriku kau lupakan... tanpa bica
Semalaman Gilang nyaris tak bisa memejamkan mata. Rumah Mayang sudah dipenuhi tamu yang menginap, sehingga kamar pun harus dipisah antara pria dan wanita. Mayang berada satu kamar dengan Nia, Amanda, serta sepupu yang akan membantu merias dan mendandaninya.Sementara itu, Gilang tidur bersama Surya, Hendro, dan salah satu kerabat dari pihak ayah yang akan menjadi saksi pernikahan. Selain sulit tidur karena suasana yang ramai, Gilang juga sibuk berkomunikasi dengan keluarga Mahendra yang menginap di hotel bintang lima bersama ayah dan ibunya.Baru saja matanya hendak terpejam, terdengar ketukan di pintu kamar."Subuh dulu, Lang. Mayang sudah mulai didandani. Ibu juga sudah bangun. Kamu siap-siap sana," ujar Surya sambil melemparkan senyum, seolah ingin meredakan ketegangan Gilang. "Orang tua kamu sudah dihubungi? Mereka aman, kan?""Sudah, Mas. Aman. Mereka datang bareng keluarga Mahendra. Adik-adik ayah ikut semua sebagai perwakilan keluarga," jawab Gilang."Bagus. Kalau ada apa-apa,
"Selamat... eheem... selamat ulang... eheem... selamat ulang tahun ... aduuhh... gimana sih tadi nadanya, Lang? Aku payah banget deh kalau urusan nyanyi ..."Gilang tergelak mendengar suara Mayang yang ternyata sangat pas-pasan. Padahal tadi dia sendiri yang mengusulkan untuk memberikan kejutan kep
"Bu Mayang ... bu ..." panggil seorang dosen wanita.Namun, Mayang terus saja berjalan menuju ruang dekan, tanpa ada niat menghentikan langkahnya, menanggapi orang yang memanggilnya. Demi Tuhan! Kepalanya sudah cukup sakit mendapati gossip yang beredar di kampus, mengenai dirinya dan Gilang."Bu, s
Malam itu, percakapan mereka ditutup dengan pertanyaan yang terus Gilang ingat sampai dengan keesokan paginya. Akan tetapi, Dahlia memang bukan tipe wanita yang terlalu sulit untuk didekati. Terbukti pagi ini, Gilang sudah dapat menyaksikkan keakraban yang terjalin di antara dua wanita favoritnya i
"Hei! Kita jadi nganter Bu Mayang pulang nggak sih?" tanya Sabrina yang merasa dicuekin karena kedua orang yang berada di depannya itu terus saja mengobrol dengan asyik seolah melupakan keberadaan dirinya."Ehhh ... jadi lah, Sab ... tunggu... aku minta kursi roda dulu ke perawat ..." sahut Gilang.







