Compartir

TEKAD BARU

Autor: Fredy_
last update Última actualización: 2026-01-02 21:57:01

"Hei! Kita jadi nganter Bu Mayang pulang nggak sih?" tanya Sabrina yang merasa dicuekin karena kedua orang yang berada di depannya itu terus saja mengobrol dengan asyik seolah melupakan keberadaan dirinya.

"Ehhh ... jadi lah, Sab ... tunggu... aku minta kursi roda dulu ke perawat ..." sahut Gilang.

"Eiitttsss ... nggak usah, Lang. Aku bisa sendiri kok. Jahitan di perut aku sudah nggak sakit."

"Beneran? Aku kadang suka kesal kalau kamu mulai sok kuat lagi," ujar Gilang, tangannya menjinjing dua buah tas besar punya Mayang.

"Aku bisa, Lang ... bisa ... aaaww!!"

"Bu Mayang ..." Sabrina memekik sembari menahan tubuh Mayang.

"Tuhh kan ... bandel sih ..." Gilang menarik sudut bibirnya dengan gaya menggoda, lalu menoleh pada Sabrina. "Kayaknya kelamaan deh kalau aku nunggu kursi roda. Sab, tolong bawain tas Bu Mayang nih."

Sabrina melotot. "What?? Kamu yang cowok, kenapa malah aku yang bawa? Terus aku juga yang nyetir, gitu?! Dasar ke-ter-la-lu-"

Kata-katanya terhenti begitu saja. Rahangnya
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   PROFESI YANG DIPERTARUHKAN

    "Bu Mayang ... bu ..." panggil seorang dosen wanita.Namun, Mayang terus saja berjalan menuju ruang dekan, tanpa ada niat menghentikan langkahnya, menanggapi orang yang memanggilnya. Demi Tuhan! Kepalanya sudah cukup sakit mendapati gossip yang beredar di kampus, mengenai dirinya dan Gilang."Bu, saya minta maaf ... sungguh saya nggak nyangka kalau beritanya akan jadi seheboh ini," lanjut wanita di belakangnya.Langkah Mayang sama sekali tak melambat. Ia terus berjalan menjauh, sambil menahan emosi yang bergolak di dadanya. Fokusnya kini hanya satu-meyakinkan Pak Dekan agar Gilang tetap mendapatkan beasiswanya. Bagaimanapun juga, pemuda itu adalah salah satu mahasiswa berprestasi yang bisa mengharumkan nama universitas."Bu Mayang... saya berani sumpah. Saya cuma pernah bertanya sama satu dosen dan satu mahasiswa saja, pendapat mereka tentang kedekatan Ibu dengan Gilang. Cuma dua orang itu saja, kok.""Bu Jenny!" bentak Mayang akhirnya. "Mau dua orang atau dua ratus orang, sekarang su

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   BERCINTA DI RUMAH IBU

    Malam itu, percakapan mereka ditutup dengan pertanyaan yang terus Gilang ingat sampai dengan keesokan paginya. Akan tetapi, Dahlia memang bukan tipe wanita yang terlalu sulit untuk didekati. Terbukti pagi ini, Gilang sudah dapat menyaksikkan keakraban yang terjalin di antara dua wanita favoritnya itu."Waahh... ibu seneng deh, Lang. Mayang ternyata lebih mengerti dapur ketimbang Ibu. Masakan Mayang juga lebih enak dari masakan Ibu. Berarti kamu udah kena pelet dari lidah turun ke hati ya, Lang?" canda Dahlia."Yah, kurang lebih begitu, Bu," sahut Gilang, melirik Mayang yang tersipu malu.Namun ketika ibunya menghilang dan meninggalkan mereka berdua saja di dalam kamar, Gilang berbisik kepada Mayang, "Ibu aku sok tahu, ya. Mana ada dari lidah turun ke hati? Yang ada itu dari dada, turun ke lutut. Aku suka lemes kalau lihat Bu Dosen seksi, pakai kemeja ketat, ngajar di depan kelas.""Ehhh ... hati-hati kamu kalau ngomong. Nanti ibu kamu denger," protes Mayang."Ya, nggak apa-apa lah. Bi

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   ISTRI ORANG?

    Sementara itu, di dalam sebuah rumah sederhana dengan halaman yang dipenuhi sayuran hidroponik, Dahlia-ibunda Gilang-tampak gelisah menantikan kepulangan putra tunggalnya. Ia sudah menyiapkan sirup stroberi kesukaan Gilang dan menyimpannya di dalam lemari pendingin. Tak hanya itu, semur daging spesial pun telah tersaji, khusus untuk menyambut anak kesayangannya."Ayah belum tidur? Nungguin Gilang juga, ya?" tanya Dahlia sambil melongok ke dalam kamar.Irawan Mahendra-pria yang selalu tersenyum setiap kali mendengar nama putranya-terbaring di ranjang dengan jemari saling bertaut di atas perut. Pagi tadi, saat mendengar suara Gilang di telepon yang mengabarkan akan pulang, semangat Irawan langsung meletup. Dia berhasil menghabiskan satu mangkuk bubur organik sarapannya sampai tandas.Kini, pria yang biasanya sudah terlelap pukul tujuh malam itu masih terjaga, setia menanti kepulangan Gilang. Dahlia duduk di tepi ranjang, mengupas sebuah pisang sambil menemani suaminya. Biasanya, Irawan

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   PULANG KAMPUNG

    "Selamat... eheem... selamat ulang... eheem... selamat ulang tahun ... aduuhh... gimana sih tadi nadanya, Lang? Aku payah banget deh kalau urusan nyanyi ..."Gilang tergelak mendengar suara Mayang yang ternyata sangat pas-pasan. Padahal tadi dia sendiri yang mengusulkan untuk memberikan kejutan kepada ibunda Gilang dengan menyalakan lilin dan menyanyikan lagu 'selamat ulang tahun'. Tapi, kelihatan dari raut wajahnya sekarang sepertinya Mayang hampir menyerah."Aku nggak nyangka, Mayang. Dibalik semua sikap kamu yang selalu terlihat sempurna itu, ternyata masih bagusan suara Raka kalau nyanyi." Gilang tertawa hingga menitikkan air mata. "Aduh, maaf, Mayang...""Iihh, malah ngeledek ... aku dari jaman sekolah nilai terendah itu pelajaran kesenian, Lang. Nggak tau kenapa, kayaknya aku nggak berbakat aja gitu ...""It's okay, Mayang. Semua orang punya keunggulannya masing-masing. Nggak musti semua dikuasai, kan? Aku juga nggak akan bisa kalau disuruh multi-tasking kayak kamu ..." Gilang m

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   SUAMI TAK TAHU DIRI

    Cinta?Pengakuan menjijikkan Cipto seketika menyulut amarah Mayang hp sampai ke ubun-ubun. Dadanya naik turun, rahangnya mengeras, matanya berkilat menahan luapan emosi.“Omong kosong!” bentaknya tajam. “Kamu bilang nggak cinta, tapi bisa punya anak dari dia?” Suaranya bergetar, namun tetap menusuk. “Kamu pasti sudah tidur sama dia—lebih dari sekali, kan, Cipto?!”Napas Mayang tersengal, menahan tumpukan kecewa, dan rasa dikhianati yang bercampur jadi satu."Terus... otak kamu di mana, hah?!" lanjutnya. "Hampir setahun kamu menghilang, ternyata kamu sudah nikah sama dia! Kamu bohongin aku, Cipto! Kamu tidur sama dia sampai dia hamil-"Suaranya meninggi, nyaris menjerit."-tapi di waktu itu kamu pulang, bisa-bisanya kamu masih minta jatah sama aku?"Mayang tertawa getir, matanya memerah. "Enak ya... bisa ngegilir dua istri? Kamu pikir kamu siapa? Raja minyak? Sultan Baghdad?""Mayang, apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan hati kamu lagi?" tanya Cipto masih dengan suara memel

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   TUMPUKAN MASALAH

    Mayang mengintip kursi belakang melalui kaca spion. Dia tersenyum puas melihat banyaknya kue dan barang-barang yang telah dibeli untuk keluarga berondong gantengnya itu.Dia membeli banyak obat-obatan herbal untuk ayah Gilang, minyak pijat, serta berlembar-lembar daster batik untuk ibu Gilang. Selain itu ia juga sudah menyusun kata-kata perkenalan agar tidak terkesan kaku dan memalukan di depan calon mertuanya."Calon mertua? Astaga..." Mayang tertawa dalam hati membayangkan akan seperti apa akhir cerita cintanya nanti dengan Gilang Pratama.Mayang membelok ke arah belakang kampus lama, lalu memperlambat laju mobilnya sebelum berhenti tepat di titik tempat janjian mereka. Ia tiba satu jam lebih awal, karena di luar dugaan, kue dan hadiah yang ia incar berhasil didapatkan jauh lebih cepat dari perkiraannya.Untuk membunuh waktu sambil menunggu Gilang, Mayang akhirnya meraih ponselnya yang selama berbelanja tadi ia simpan di dalam tas. Setelah hampir seharian penuh mengabaikannya, kini

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status