登入Almira menatap Ziandra dengan sorot mata sendu. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu sebelum ia menjadi istri Ziandra. "Ini surat tagihan pasien atas nama Nenek Sarmila,” ucap salah satu pegawai rumah sakit bagian administrasi.“Makasih, Mbak,” jawab seorang gadis cantik meski wajahnya tanpa make-up dan rambut di kuncir seadanya.Lembaran kertas berlogo Rumah Sakit Medika itu tampak seperti vonis hukuman mati di mata Qiana. Deretan angka yang tercetak di sana membuat matanya yang besar semakin melotot, nyaris keluar dari sarangnya.Rp. 185.000.000,00.Almira menelan ludah. Tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Ia memandang pintu ruang ICU tempat Nenek Sarmila terbaring.Nenek Sarmila, satu-satunya manusia di bumi ini yang memberinya nama, memberinya rumah, dan memberinya alasan untuk tetap bernapas setelah ia mengalami kecelakaan setahun lalu tanpa satu pun ingatan di kepalanya."Seratus delapan puluh lima juta..." gumam Almira pada udara kosong. "Gimana cara bayarnya? K
"Ya ampun, Bang Komandan kenapa?!" teriak Almira panik setengah mati melihat tubuh tegap suaminya terjerembab ke atas lantai lobi dalam rumah.Almira langsung berlutut, tangannya menyentuh kening Ziandra yang biasanya sejuk sekeras batu es. "Aduh, panas banget badannya kayak pantat wajan di atas kompor! Ini Abang habis ikut latihan militer apa habis ikut lomba debus di gurun pasir sih?!"Dengan susah payah, Almira memapah dan mengangkat tubuh berat Ziandra naik ke atas sofa panjang di ruang tengah. Napasnya tersengal-sengal."Aduh, mana Bi Sumi udah pulang ke rumahnya lagi," gumam Almira celingukan bingung. "Ok, tenang Almira, rileks. Anggap aja ini lagi evakuasi korban perang ganteng."Almira bergegas mencari kotak obat di lemari ruang tengah. Setelah membongkar isinya, ia mengeluarkan sebotol obat penurun panas dosis tinggi. Ia kembali ke sisi sofa, berlutut di samping wajah suaminya yang tampak luar biasa pucat namun tetap terlihat menawan."Bang, bangun, Bang, " bisik Almira, mene
"Jika kamu terbukti terlibat kriminal, mungkin aku akan melakukannya," sahut Ziandra tanpa keraguan, nadanya sedingin es yang membekukan atmosfer di dalam mobil.Kalimat itu menghantam dada Almira, menciptakan getaran dramatis yang menguras emosi di balik senyumnya yang mendadak kaku. Detik itu, sebuah dilema besar mulai berakar di hatinya, haruskah ia terus mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya, atau tetap menjadi 'Almira yang amnesia' demi bisa tetap berada di sisi pria ini?Almira langsung mengerucutkan bibirnya, menutupi rasa sesak yang sempat mampir dengan celetukan konyolnya yang khas. "Abang tega banget sih! Nggak ada romantis-romantisnya pisan jadi suami. Jawab yang enakan didenger gitu napa, Bang. Anggap aja ini lagi main sinetron azab!""Misalnya?" Ziandra mengerutkan kening, menatap istrinya dengan tatapan bingung sekaligus lelah."Aku akan menjagamu dengan segenap jiwaku, Sayang, bahkan jika seluruh dunia memburumu!" sambung Almira dengan nada yang sengaja dibuat me
Bisikan Ziandra di dekat telinganya terasa hangat, namun sekaligus mengirimkan sinyal bahaya yang membuat bulu kuduk Almira meremang. Di dalam kabin mobil taktis yang kedap suara itu, suasana mendadak berubah menjadi sebuah ruang interogasi berjalan yang sangat dramatis."Aku nggak tahu. Aku nggak sempat kenalan," jawab Almira sekenanya, mencoba memasang wajah sepolos mungkin sambil mengeratkan pelukannya di leher Ziandra, berpura-pura masih lemas. "Bang, aku masih syok berat, jangan diinterogasi dulu dong. Ini jantung aku masih jedag-jedug kayak speaker hajatan tahu."Ziandra menghembuskan napas berat. Karakter dinginnya tidak mudah luntur oleh akting sang istri. Dengan gerakan efisien, ia meraih sebotol air mineral dari holder di dekat kemudi lalu membukakan tutupnya."Ini, minum," Ziandra menyodorkan air mineral itu ke depan wajah Almira.Mata Almira langsung berbinar-binar menggemaskan. Ia menerima botol itu dengan kedua tangan, lalu menatap Ziandra dengan tatapan penuh binar cint
“Kita harus pergi dari sini!”Dua pria yang menghadang Almira tadi berusaha berdiri dengan susah payah, wajah mereka babak belur. Tepat saat Almira melangkah hendak memastikan mereka tidak bisa kabur, sebuah mobil Van hitam pekat melaju mundur dengan kecepatan tinggi, mengerem mendadak di dekat mereka. Pintu geser terbuka, dan beberapa tangan dari dalam mobil menarik kedua tubuh pria itu dengan gerakan yang sangat cepat dan terorganisir.Sret! Brak!Mobil Van itu langsung melesat pergi, meninggalkan decitan ban yang membakar aspal."Hei! Tanggung jawab dong, main kabur aja! Ini properti restoran banyak yang rusak, entar dikira aku yang mecahin!" teriak Almira kesal sambil mengacungkan tinjunya ke arah mobil yang kian menjauh.Nyonya Stella berusaha duduk sambil memegangi dadanya yang masih berdebar kencang. "Almira... mereka... mereka sebenarnya siapa?" tanyanya dengan suara serak.Almira berbalik, membantu ibu mertuanya berdiri. "Aku nggak tahu, Ma. Mungkin saingan bisnis Nyonya
Tolong! Ada penculik kurang gizi mau bawa saya!" teriak Almira heboh.Ia menyentakkan lengannya, memanfaatkan kelengahan pria itu, lalu berlari sekencang mungkin menerobos pintu menuju restoran terbuka di area halaman depan."Kejar dia!" teriak pria berjaket kulit.Di area restoran, suasana yang semula tenang langsung pecah berantakan. Tubuh Irwan terlempar ke lantai dengan suara berdentum keras saat berusaha menghadang dua pria yang hendak mendekati Almira. Irwan mengerang kesakitan, memegangi dadanya yang sesak."Hei, jangan membuat keributan!" tegur tiga orang petugas keamanan restoran yang berdatangan dengan tongkat pemukul siap di tangan.Namun, ancaman itu sama sekali tidak berarti. Salah satu dari pria misterius itu maju dengan gerakan taktis yang sangat terlatih. Hanya dalam hitungan detik, ia melumpuhkan ketiga petugas keamanan tersebut menggunakan sapuan kaki dan pukulan telak di rahang. Mereka bertiga ambruk tak berdaya di atas lantai marmer. Melihat kengerian itu, nyali A
Tutup mulutmu!” geram Ziandra.Ia sudah membayangkan skenario pertempuran taktis melawan pembunuh bayaran internasional, tapi musuh aslinya ternyata hanyalah seekor cicak menyimpang."Aku salah prediksi."Di luar pintu, Bi Sumi yang ikut menyusul ke atas tampak mengulum bibirnya kuat-kuat, menahan
"Huahhhhhhh! Harusnya aku yang marah! Harusnya aku yang kesel, ternyata saingan aku nambah banyak!" pekik Almira tiba-tiba, menumpahkan kekesalannya sambil memukul dasbor mobil pelan.Ziandra mengernyit bingung. "Apa maksudnya?""Bek tengah belum selesai urusannya, sekarang nambah lagi Kunti Pohon
"Gandengan tangan, Bang, biar kayak orang-orang! Nanti kalau kita jauhan terus ada cowok lain yang godain aku gimana? Abang juga yang repot harus baku hantam," cerocos Almira beralasan, sambil mendongak memberikan senyum termanisnya. "Lagian, biar mereka tahu kalau tentara kaku ini udah ada yang pu
“Mereka benar-benar profesional.”Ziandra kembali melirik ke arah kaca spion tengah untuk memastikan posisi musuh. Namun, dahi sang komandan langsung berkerut dalam. Mobil sedan hitam itu sudah menghilang, melebur di antara padatnya arus kendaraan yang mengantri masuk ke kawasan pusat perbelanjaan







